8 Siapakah Perempuan Itu?

Pagi itu Bram dan Ayra pulang ke kediaman mereka. Sedangkan Ammar dan Qiya masih bersama Nyonya Lukis.

"Dan kamu pastikan Son. Besok jika selesai tujuh hari Kakek. Papa minta kamu ke Australia dulu. Perusahaan biar papa yang urus." Ucap Bram sambil berlalu meninggalkan putranya yang sedang sibuk menganggu adiknya yang sedang masak bubur ayam untuk sang nenek.

"Siap Pa. Dan Mama nanti mau Ammar jemput atau diantar sopir?" Tanya Ammar

"Biar menunggu Papa sore nanti saja. Mama sekalian mau dirumah dulu. Qiyam berapa hari ini katanya mengalami penurunan omsetnya. Papa mu ada kamu yang menemani. Tetapi untuk bisnis Mama sepertinya tak ada yang meneruskan." Ucap Ayra pelan.

"Tenanglah Ma. Siapa tahu jodoh ku besok bisa membantu Mama mengurus Qiyam." Ucap Ammar sambil menggoda Qiya.

Akhirnya sepasang suami istri itu pun meninggalkan kediaman Pak Erlangga. Ammar duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu. Qiya pun penasaran duduk di dekat kakaknya.

"Memangnya Kakak itu punya hati ga sih kak sama Alma dan Bilqis?" Tanya Qiya polos.

"Wuih.... Bu dokter mau jadi ditektif? atau nek comblang?" Ammar menyipitkan kedua matanya.

"Kak... Qiya serius." Ucap Qiya sambil cemberut.

Ia kembali melanjutkan untuk menyelesaikan membuat menu favorit sang nenek.

"Dan kamu apakah kamu betul-betul tak menaruh hati dengan Hilman? Kakak lihat kamu biasa saja?" Tanya Ammar penasaran.

Lelaki itu masih sibuk memakan suwiran ayam goreng yang ada di mangkuk tepat di depannya. Qiya melihat suwiran itu makin berkurang. Ia menarik mangkuk itu.

"Ih.... Buat buburnya nanti habis." Gerutu Qiya.

"Kamu belum menjawab pertanyaan kakak."

"Yang jelas daripada merasa insecure dengan kondisi sekarang, aku lebih fokus ke Hikmahnya. Dimana mungkin aku punya waktu untuk Eyang. Karena mau tidak mau eyang butuh yang menghiburnya. Kedua mungkin aku akan melanjutkan internship ku."

Ammar mengangkat kedua jempolnya Ia tersenyum lebar.

"T-O-P. ini baru anak dari Pak Bramantyo dan Bu Ayra Khairunnisa." Ucap Ammar tersenyum lebar.

"Sebenarnya aku ingin memilih di luar provinsi karena untuk sedikit refresh kejadian ini. Jelas akan banyak yang bertanya batalnya aku menikah kak. Tapi kasihan nenek kalau jauh dari sini." Jelas Qiya kembali.

Qiya memang telah menyandang gelar dokter. Akan tetapi ia masih harus menjalani yang namanya Internship.

Internship adalah pendidikan profesi untuk pemahiran dan pemandirian dokter setelah lulus pendidikan dokter guna untuk penyelarasan hasil pendidikan dengan kondisi di lapangan. Barulah setelah menjalani program internship Qiya bisa memiliki hak untuk mengajukan surat izin praktik secara mandiri atau melamar pekerjaan di rumah sakit karena telah memperoleh Sertifikat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktik (SIP) yang merupakan syarat untuk melakukan praktik kedokteran di Indonesia.

"Berapa lama Qi waktunya?" Tanya Ammar.

"Satu tahun Kak." Ucap Qiya yang telah memindahkan bubur ke dalam mangkuk.

"Mudah-mudahan dipermudah ya."

"Aamiin... " ucap Qiya

"Kenapa sedih lagi? Mikirin Hilman?"

"Bukan... Padahal Baim adalah orang yang paling mendukung Ku untuk masuk kedokteran. Tetapi dia belum sempat melihat aku menyandang gelar dokter ini."

"Tenanglah. Aku yakin jika Ibra tak mungkin terlibat kelompok radikal. Dan Kakak yakin ada yang disembunyikan oleh pihak Australia. Maka kakak akan memastikan sendiri apa yang terjadi di Australia."Ucap Ammar sambil menyematkan rokok nya di antara bibirnya.

"Kak.. Kasihan Paru-parunya."

"Kakak hanya membantu negara untuk menghabiskannya. Ya salah satunya kakak bakar satu-satu." Ucap Ammar setengah tersenyum.

"Omong kosong... Hehehe..." Gurau Qiya sambil menirukan salah satu gaya penyanyi sekaligus komedi Mak e Soimah.

Ia sempat beberapa kali bertemu artis itu disaat ada pergelaran seni di kampusnya. Sosok yang humble di tengah kesuksesannya.

Qiya pun membawa nampannya ke ruangan Nyonya Lukis.

Siang hari di satu tempat, Bram menemui Rafi yang baru datang bersama supirnya. Kini Bram telah memiliki asisten baru. Rafi telah mengundurkan diri karena ingin istirahat di usianya yang tak lagi muda. Namun untuk pekerjaan yang sangat rahasia. Bram hanya percaya pada mantan asistennya yang telah teruji kesetiaannya.

"Ini siapa Bram?" Tanya Rafi.

Bram hanya memandangi foto dan berkas itu. Bram pun meminta Rafi menyiapkan dokumen dan sebuah villa di salah satu desa. Rafi melotot tak percaya kala pertanyaannya belum di jawab tetapi ia diberikan berkas yang membuat ia melongo tak percaya.

"Aku harap kamu tidak bermain api Bram. Jangan gila. Media sedang menyorot dirimu dan keluargamu dengan kejadian dan berita Ibrahim. Dan ini.... Kamu sehat kah?" Tanya Rafi sedikit geram.

"Sejak kapan kamu mengatur ku?"

"Baik. Sekarang kenapa kamu meminta ku bukan Aspri mu yang mengerjakan nya? Maka jangan bilang.... "

"Diamlah. Jangan ikut campur urusan ku. Ingat! lakukan sesuai yang aku perintahkan."

"Apa kamu gila? Bagiamana Ayra? Tega kamu menyakiti dirinya?" Ucap Rafi penuh amarah.

"Kamu bukan aku. Dan Aku bukan kamu. Maka kamu tidak akan tahu apa yang terjadi dalam rumah tanggaku. Maka biarkan aku melakukan apa yang menurut ku bisa menjadi solusi untuk masalah ku ini." Jelas Bram sambil memberi makan burung merpati yang ada di Vila itu.

"Apa kamu tak malu? Bagiamana jika Ammar dan Qiya tahu?" Tanya Rafi sedikit gusar.

"Mereka anak ku. Urusan ku. Kamu urus saja Bilqis." Ucap Bram ketus. Ia pun meninggalkan Rafi.

Rafi menatap punggung Bram tak percaya. Bagaimana bisa Bram menjadi orang yang baru. Ia seperti tak mengenal mantan bosnya itu.

"Apa ini yang orang bilang, Tua-tua keladi." Ucap Rafi bermonolog sendiri.

Bram pun meninggalkan Rafi di vila itu. Ia menuju satu tempat. Ia menemui seorang perempuan muda. Ia pun bersama Asisten pribadinya yang bernama Alan.

"Alan. Kamu tahu pasal terakhir di surat kontrak mu bukan?" Tanya Bram pada sang asisten

"Siap Pak. Saya paham."

Alan tahu jika pada surat kontrak kerjanya, ia tak boleh mengatakan pada orang apapun informasi ketika ia pergi bersama saat tak mengerjakan urusa perusahaan.

Tampak Bram menjemput seorang perempuan dan ia membawa perempuan itu ke vila yang telah di siapkan oleh Rafi.

"Tunggulah disini. Beri saya waktu, saya harus berbicara dulu dengan Ayra dan Kedua anak ku. Tidak mudah berada di posisi seperti ini dan posisi mu. Kamu tinggal disini dulu ya. Ada asisten rumah tangga yang sudah aku siapkan untuk menemani kamu disini. Dan hubungi saya jika kamu butuh apa-apa." Ucap Bram pelan.

"Baiklah. Nur Berharap waktunya tak lama. Karena...." ucap gadis bernama Nur itu.

"Karena apa sayang?" Bram penasaran. Wanita itu terlihat manja namun seolah menahan rasa manjanya di hadapan Bram.

"Pagi tadi Nur cek pakai tes urin. Sepertinya Nur Positif...." Ucap perempuan berkerudung asal Malaysia itu.

Ia bertubuh yang tingginya hampir mirip dengan Ayra. Hanya saja kulitnya kuning Langsat tidak putih seperti perempuan nomor satu bagi Ammar.

Bram mendengar kabar bahwa Nur hamil merasa bingung. Ia ingin bahagia juga bersedih dan bingung. Ia terlihat memijat dahinya yang terasa penat.

"Maafkan Saya. Semua ini terjadi bukan kehendak kita. Bersabarlah. Bukan hal yang mudah menjelaskan pada keluarga ku. Begitupun dengan kehadiran dirimu. Terlebih ada janin yang harus kita jaga. Ia harus melihat dunia dengan status yang jelas...." Ucap Bram pelan. Ada beban di hembusan napasnya. Dan masih ia pendam Sendiri.

"Semoga Bu Ayra bisa menerima dan sementara biarlah begini dulu sampai keadaan keluarga Bapak baik-baik saja." Ucap Nur lirih.

""Ini dokumen mu selama di sini. Dan maaf belum bisa memberikan kamu status jelas di pernikahan kare-"

Suara telepon dari saku Bram membuat lelaki itu sedikit menjauh dari Nur. Ternyata Ayra menelpon suaminya untuk mengingatkan jika dirinya harus tiba sebelum pukul empat sore.

"Baiklah sayang. Tunggu ya. Mas akan segera pulang ini. Love you Ay..." Suara Bram setengah berbisik. Lalu ia menyimpan ponselnya ke saku.

"Bu Ayra ya Pak?" Tanya Nur masih menundukkan pandangannya.

"Iya.... Hhhh.. jaga kesehatan mu. Dan beberapa hari lagi kita kontrol ke dokter kandungan. Jangan ke Bidan desa. Untuk urusan laporan ke pihak desa. Saya sudah minta anak buah saya yang urus." Ucap Bram sambil menatap wajah cantik Nur yang masih saja menunduk sejak ia jemput di sebuah terminal Bis.

"Sementara ini kamu disini dulu ya. Di tanah air, media sedang tidak baik-baik saja. Bik Inah, saya titip Nur. Kalau ada apa-apa hubungi saya dengan nomor yang sudah saya berikan." Ucap Bram pelan.

Lelaki itu pun keluar rumah. Saat akan pergi, Nur mencium punggung tangan Bram. Lelaki itu dengan rasa sedih mengusap kepala yang terbungkus jilbab itu. Ia menatap sendu Nur sebelum pergi meninggalkan kediaman baru untuk Nur. Bram membeli Vila itu untuk perempuan yang tak lagi gadis. Jika dari wajah, ia terlihat sama dengan Qiya. Namun untuk usia ia lebih tua 3 tahun dari Qiya.

Iya pun pergi meninggalkan tempat itu menuju rumahnya. Ia telah berjanji akan tiba sore hari dan langsung ke kediaman Pak Erlangga.

Saat tiba dirumah pukul lima sore Bram pun mengirim pesan pada Nur jika ia telah tiba di Jakarta. Ia selama ini berkomunikasi dengan Nur melalui ponsel yang biasa ia gunakan untuk bekerja. Agar Ayra tak curiga jika lelaki yang sekarang sedang memeluknya dari belakang baru saja menemui seorang perempuan bahkan membelikan vila untuk perempuan itu.

"Sudah pulang Mas?" Mobilnya tak terdengar.

"Kamu yang terlalu fokus dengan hapalan mu...." Ucap Bram saat pulang dan sang istri masih berada di ruangan yang akan digunakan Ayra untuk mengulang hapalannya.

Biasanya disana akan ada Qiya dan Ibrahim jika mereka sedang berkumpul. Mereka akan saling menyimak bacaan mereka.

Terpopuler

Comments

solihin 78

solihin 78

wah siapa dia ya

2024-07-29

0

Aira Azzahra Humaira

Aira Azzahra Humaira

wah parah si bram bener kata si rafi tua" keladi

2024-03-17

0

asiah puteri mulyana

asiah puteri mulyana

OMG...bisa patah hati berkeping ini klo beneran bram selingkuuh..tolooooong..aku yg patah hatii /Puke//Puke//Puke/

2024-03-06

0

lihat semua
Episodes
1 Duka Keluarga Bramantyo
2 2 Ayra Terjatuh
3 3 Hilman dan Qiya
4 Ayra dan Keluarganya.
5 5 Hilman dan Pak Toha
6 6 Keputusan Qiya
7 7 Dua Keluarga Dua Rasa
8 8 Siapakah Perempuan Itu?
9 9. Nur Hasanah
10 10 Memilih Wahana Internship
11 11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12 12 Menanti Kejujuran
13 13 Kejujuran Bram
14 14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15 15 Qiya di Rumah Sakit
16 16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17 17 Isi Hati Si Kembar
18 18 Rasa Yang berbeda
19 19 Dokter Gede dan Qiya
20 20 Hati Qiya Yang Terusik
21 21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22 22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23 23 Qiya dan rasa dihatinya
24 24 Kedatangan Ayra dan Bram
25 25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26 26 Kembali Bertemu
27 27 Ammar dan Kepribadian nya
28 28 Apakah Ini Cinta?
29 29 Keputusan Ayra dan Bram
30 30 Keluarga Bram dan Ayra
31 Berita Tentang Ibrahim
32 32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33 33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34 34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35 35 Keresahan Hati Ammar
36 36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37 37 Lelaki Itu Ibrahim
38 38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39 39 Jantung Dokter Gede
40 40 Dokter Gede
41 41 Ammar dan Cintanya
42 42 Dokter Gede dan Qiya
43 43 Dua Hati Satu Cinta
44 44 Dua Hati Satu Cinta 2
45 45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46 46 Status Qiya dan Dua Pria
47 47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48 48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49 49 Kejujuran Ammar
50 50 Siapa Kamu?
51 51 Arumi Mayang Dahayu
52 52 Rasa Kecewa Ammar
53 53 Kebimbangan Ammar
54 54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55 55 Musyawarah Keluarga
56 56 Hati Qiya dan Arumi
57 57 Menanti Jawaban Arumi
58 58 Jawaban Arumi
59 59 Keputusan Bram
60 60 Dokter Gede PDKT
61 61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62 62 Ternyata dia Muslim
63 63 Perjuangan Dokter Gede 1
64 64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65 65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66 66 Habis Di Goda Ammar
67 67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68 68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69 69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70 70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71 71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72 72 Tamu tak diharapkan
73 73 Datang Disaat yang Tepat
74 74 Maksud dua Lelaki
75 75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76 76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77 77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78 78 Kedatangan Dua Lelaki
79 79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80 80 "Dek Qiya"
81 81 Dek Qiya Menangis?
82 82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83 83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84 84 Lamaran Gede untuk Qiya
85 85 Separuh Jiwa Nur
86 86 Calon Kakak Ipar
87 87 Kekhawatiran Bu Ratih
88 88 Ammar & Arumi "Sah"
89 89 Hati Ammar dan Arumi
90 90 Air mata Di Hari Bahagia
91 91 Malam Yang Dingin
92 92 Kompetisi Meraih Cinta
93 93 Ijab Gede dan Qiya
94 94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95 95 Satu Nama Dua Hati
96 96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97 97 Munajat Cinta
98 98 Gede dan Masalalunya
99 99 Gadis itu Siapa
100 100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101 101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102 102 Tiga Bulan Pernikahan
103 103 Kelembutan Hati
104 104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105 105 Arumi Dan Ammar
106 106 Flashback Arumi bersama Ayra
107 107 Dinginnya Australia
108 108 Apakah Aku ada Disana?
109 109 "Mas Ammar"
110 110 Kamu Dimana?
111 111 "I love you Arumi."
112 112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113 113 Saling Membuka Diri
114 114 Hati Yang Masih Tersakiti
115 115 Masalalu Pak Rendra
116 116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117 117 Cinta Penuh Kelembutan
118 118 Belajar dari Kisah
119 119 Keegoisan Pak Rendra
120 120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121 121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122 122 Kebahagiaan Putra Ayra
123 123 Luka Hati Bu Ratih
124 124 Penolakan Ratih
125 125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126 126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127 127 Dua Menantu Yang Bahagia
128 128 Ungkapan Hati Gede
129 129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130 130 Peran Qiya Sebagi Istri
131 131 Pesona The Twins
132 132 Siapa Kamu Arumi?
133 133 Skenario Allah
134 134 Kebenaran Untuk Arumi
135 135 Kebesaran Hati Gede
136 136 Kebahagiaan Pak Subroto
137 137 Arumi Koma
138 138 Tiga Keluarga
139 139 Kesedihan Ammar
140 140 Ikhtiar Ammar
141 141 Hasil Pemeriksaan
142 142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143 143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144 144 Flashback Bram dan Ayra
145 145 Rendra dan Masalalunya
146 146 Watak yang Keras
147 147 Permohonan maaf Pak Rendra
148 148 Kabar Duka
149 149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150 150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151 151 Semua karena Cinta
152 152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153 153 Mantan
154 154 Prasangka
155 155 Pesona Ammar
156 156 Otw Ending.
157 Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158 158 Kembar 3
159 159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160 160 Pemotretan
161 161 Keakraban keluarga Ayra
162 162 Perkenalan Zhafirah
163 163 Intermezo Zhafirah
164 164 Firasat Ayra
165 165 Ayra dan Kelima Cucunya
166 166 THE END
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Duka Keluarga Bramantyo
2
2 Ayra Terjatuh
3
3 Hilman dan Qiya
4
Ayra dan Keluarganya.
5
5 Hilman dan Pak Toha
6
6 Keputusan Qiya
7
7 Dua Keluarga Dua Rasa
8
8 Siapakah Perempuan Itu?
9
9. Nur Hasanah
10
10 Memilih Wahana Internship
11
11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12
12 Menanti Kejujuran
13
13 Kejujuran Bram
14
14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15
15 Qiya di Rumah Sakit
16
16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17
17 Isi Hati Si Kembar
18
18 Rasa Yang berbeda
19
19 Dokter Gede dan Qiya
20
20 Hati Qiya Yang Terusik
21
21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22
22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23
23 Qiya dan rasa dihatinya
24
24 Kedatangan Ayra dan Bram
25
25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26
26 Kembali Bertemu
27
27 Ammar dan Kepribadian nya
28
28 Apakah Ini Cinta?
29
29 Keputusan Ayra dan Bram
30
30 Keluarga Bram dan Ayra
31
Berita Tentang Ibrahim
32
32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33
33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34
34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35
35 Keresahan Hati Ammar
36
36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37
37 Lelaki Itu Ibrahim
38
38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39
39 Jantung Dokter Gede
40
40 Dokter Gede
41
41 Ammar dan Cintanya
42
42 Dokter Gede dan Qiya
43
43 Dua Hati Satu Cinta
44
44 Dua Hati Satu Cinta 2
45
45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46
46 Status Qiya dan Dua Pria
47
47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48
48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49
49 Kejujuran Ammar
50
50 Siapa Kamu?
51
51 Arumi Mayang Dahayu
52
52 Rasa Kecewa Ammar
53
53 Kebimbangan Ammar
54
54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55
55 Musyawarah Keluarga
56
56 Hati Qiya dan Arumi
57
57 Menanti Jawaban Arumi
58
58 Jawaban Arumi
59
59 Keputusan Bram
60
60 Dokter Gede PDKT
61
61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62
62 Ternyata dia Muslim
63
63 Perjuangan Dokter Gede 1
64
64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65
65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66
66 Habis Di Goda Ammar
67
67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68
68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69
69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70
70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71
71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72
72 Tamu tak diharapkan
73
73 Datang Disaat yang Tepat
74
74 Maksud dua Lelaki
75
75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76
76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77
77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78
78 Kedatangan Dua Lelaki
79
79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80
80 "Dek Qiya"
81
81 Dek Qiya Menangis?
82
82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83
83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84
84 Lamaran Gede untuk Qiya
85
85 Separuh Jiwa Nur
86
86 Calon Kakak Ipar
87
87 Kekhawatiran Bu Ratih
88
88 Ammar & Arumi "Sah"
89
89 Hati Ammar dan Arumi
90
90 Air mata Di Hari Bahagia
91
91 Malam Yang Dingin
92
92 Kompetisi Meraih Cinta
93
93 Ijab Gede dan Qiya
94
94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95
95 Satu Nama Dua Hati
96
96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97
97 Munajat Cinta
98
98 Gede dan Masalalunya
99
99 Gadis itu Siapa
100
100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101
101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102
102 Tiga Bulan Pernikahan
103
103 Kelembutan Hati
104
104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105
105 Arumi Dan Ammar
106
106 Flashback Arumi bersama Ayra
107
107 Dinginnya Australia
108
108 Apakah Aku ada Disana?
109
109 "Mas Ammar"
110
110 Kamu Dimana?
111
111 "I love you Arumi."
112
112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113
113 Saling Membuka Diri
114
114 Hati Yang Masih Tersakiti
115
115 Masalalu Pak Rendra
116
116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117
117 Cinta Penuh Kelembutan
118
118 Belajar dari Kisah
119
119 Keegoisan Pak Rendra
120
120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121
121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122
122 Kebahagiaan Putra Ayra
123
123 Luka Hati Bu Ratih
124
124 Penolakan Ratih
125
125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126
126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127
127 Dua Menantu Yang Bahagia
128
128 Ungkapan Hati Gede
129
129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130
130 Peran Qiya Sebagi Istri
131
131 Pesona The Twins
132
132 Siapa Kamu Arumi?
133
133 Skenario Allah
134
134 Kebenaran Untuk Arumi
135
135 Kebesaran Hati Gede
136
136 Kebahagiaan Pak Subroto
137
137 Arumi Koma
138
138 Tiga Keluarga
139
139 Kesedihan Ammar
140
140 Ikhtiar Ammar
141
141 Hasil Pemeriksaan
142
142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143
143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144
144 Flashback Bram dan Ayra
145
145 Rendra dan Masalalunya
146
146 Watak yang Keras
147
147 Permohonan maaf Pak Rendra
148
148 Kabar Duka
149
149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150
150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151
151 Semua karena Cinta
152
152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153
153 Mantan
154
154 Prasangka
155
155 Pesona Ammar
156
156 Otw Ending.
157
Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158
158 Kembar 3
159
159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160
160 Pemotretan
161
161 Keakraban keluarga Ayra
162
162 Perkenalan Zhafirah
163
163 Intermezo Zhafirah
164
164 Firasat Ayra
165
165 Ayra dan Kelima Cucunya
166
166 THE END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!