Pagi itu Bram dan Ayra pulang ke kediaman mereka. Sedangkan Ammar dan Qiya masih bersama Nyonya Lukis.
"Dan kamu pastikan Son. Besok jika selesai tujuh hari Kakek. Papa minta kamu ke Australia dulu. Perusahaan biar papa yang urus." Ucap Bram sambil berlalu meninggalkan putranya yang sedang sibuk menganggu adiknya yang sedang masak bubur ayam untuk sang nenek.
"Siap Pa. Dan Mama nanti mau Ammar jemput atau diantar sopir?" Tanya Ammar
"Biar menunggu Papa sore nanti saja. Mama sekalian mau dirumah dulu. Qiyam berapa hari ini katanya mengalami penurunan omsetnya. Papa mu ada kamu yang menemani. Tetapi untuk bisnis Mama sepertinya tak ada yang meneruskan." Ucap Ayra pelan.
"Tenanglah Ma. Siapa tahu jodoh ku besok bisa membantu Mama mengurus Qiyam." Ucap Ammar sambil menggoda Qiya.
Akhirnya sepasang suami istri itu pun meninggalkan kediaman Pak Erlangga. Ammar duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu. Qiya pun penasaran duduk di dekat kakaknya.
"Memangnya Kakak itu punya hati ga sih kak sama Alma dan Bilqis?" Tanya Qiya polos.
"Wuih.... Bu dokter mau jadi ditektif? atau nek comblang?" Ammar menyipitkan kedua matanya.
"Kak... Qiya serius." Ucap Qiya sambil cemberut.
Ia kembali melanjutkan untuk menyelesaikan membuat menu favorit sang nenek.
"Dan kamu apakah kamu betul-betul tak menaruh hati dengan Hilman? Kakak lihat kamu biasa saja?" Tanya Ammar penasaran.
Lelaki itu masih sibuk memakan suwiran ayam goreng yang ada di mangkuk tepat di depannya. Qiya melihat suwiran itu makin berkurang. Ia menarik mangkuk itu.
"Ih.... Buat buburnya nanti habis." Gerutu Qiya.
"Kamu belum menjawab pertanyaan kakak."
"Yang jelas daripada merasa insecure dengan kondisi sekarang, aku lebih fokus ke Hikmahnya. Dimana mungkin aku punya waktu untuk Eyang. Karena mau tidak mau eyang butuh yang menghiburnya. Kedua mungkin aku akan melanjutkan internship ku."
Ammar mengangkat kedua jempolnya Ia tersenyum lebar.
"T-O-P. ini baru anak dari Pak Bramantyo dan Bu Ayra Khairunnisa." Ucap Ammar tersenyum lebar.
"Sebenarnya aku ingin memilih di luar provinsi karena untuk sedikit refresh kejadian ini. Jelas akan banyak yang bertanya batalnya aku menikah kak. Tapi kasihan nenek kalau jauh dari sini." Jelas Qiya kembali.
Qiya memang telah menyandang gelar dokter. Akan tetapi ia masih harus menjalani yang namanya Internship.
Internship adalah pendidikan profesi untuk pemahiran dan pemandirian dokter setelah lulus pendidikan dokter guna untuk penyelarasan hasil pendidikan dengan kondisi di lapangan. Barulah setelah menjalani program internship Qiya bisa memiliki hak untuk mengajukan surat izin praktik secara mandiri atau melamar pekerjaan di rumah sakit karena telah memperoleh Sertifikat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktik (SIP) yang merupakan syarat untuk melakukan praktik kedokteran di Indonesia.
"Berapa lama Qi waktunya?" Tanya Ammar.
"Satu tahun Kak." Ucap Qiya yang telah memindahkan bubur ke dalam mangkuk.
"Mudah-mudahan dipermudah ya."
"Aamiin... " ucap Qiya
"Kenapa sedih lagi? Mikirin Hilman?"
"Bukan... Padahal Baim adalah orang yang paling mendukung Ku untuk masuk kedokteran. Tetapi dia belum sempat melihat aku menyandang gelar dokter ini."
"Tenanglah. Aku yakin jika Ibra tak mungkin terlibat kelompok radikal. Dan Kakak yakin ada yang disembunyikan oleh pihak Australia. Maka kakak akan memastikan sendiri apa yang terjadi di Australia."Ucap Ammar sambil menyematkan rokok nya di antara bibirnya.
"Kak.. Kasihan Paru-parunya."
"Kakak hanya membantu negara untuk menghabiskannya. Ya salah satunya kakak bakar satu-satu." Ucap Ammar setengah tersenyum.
"Omong kosong... Hehehe..." Gurau Qiya sambil menirukan salah satu gaya penyanyi sekaligus komedi Mak e Soimah.
Ia sempat beberapa kali bertemu artis itu disaat ada pergelaran seni di kampusnya. Sosok yang humble di tengah kesuksesannya.
Qiya pun membawa nampannya ke ruangan Nyonya Lukis.
Siang hari di satu tempat, Bram menemui Rafi yang baru datang bersama supirnya. Kini Bram telah memiliki asisten baru. Rafi telah mengundurkan diri karena ingin istirahat di usianya yang tak lagi muda. Namun untuk pekerjaan yang sangat rahasia. Bram hanya percaya pada mantan asistennya yang telah teruji kesetiaannya.
"Ini siapa Bram?" Tanya Rafi.
Bram hanya memandangi foto dan berkas itu. Bram pun meminta Rafi menyiapkan dokumen dan sebuah villa di salah satu desa. Rafi melotot tak percaya kala pertanyaannya belum di jawab tetapi ia diberikan berkas yang membuat ia melongo tak percaya.
"Aku harap kamu tidak bermain api Bram. Jangan gila. Media sedang menyorot dirimu dan keluargamu dengan kejadian dan berita Ibrahim. Dan ini.... Kamu sehat kah?" Tanya Rafi sedikit geram.
"Sejak kapan kamu mengatur ku?"
"Baik. Sekarang kenapa kamu meminta ku bukan Aspri mu yang mengerjakan nya? Maka jangan bilang.... "
"Diamlah. Jangan ikut campur urusan ku. Ingat! lakukan sesuai yang aku perintahkan."
"Apa kamu gila? Bagiamana Ayra? Tega kamu menyakiti dirinya?" Ucap Rafi penuh amarah.
"Kamu bukan aku. Dan Aku bukan kamu. Maka kamu tidak akan tahu apa yang terjadi dalam rumah tanggaku. Maka biarkan aku melakukan apa yang menurut ku bisa menjadi solusi untuk masalah ku ini." Jelas Bram sambil memberi makan burung merpati yang ada di Vila itu.
"Apa kamu tak malu? Bagiamana jika Ammar dan Qiya tahu?" Tanya Rafi sedikit gusar.
"Mereka anak ku. Urusan ku. Kamu urus saja Bilqis." Ucap Bram ketus. Ia pun meninggalkan Rafi.
Rafi menatap punggung Bram tak percaya. Bagaimana bisa Bram menjadi orang yang baru. Ia seperti tak mengenal mantan bosnya itu.
"Apa ini yang orang bilang, Tua-tua keladi." Ucap Rafi bermonolog sendiri.
Bram pun meninggalkan Rafi di vila itu. Ia menuju satu tempat. Ia menemui seorang perempuan muda. Ia pun bersama Asisten pribadinya yang bernama Alan.
"Alan. Kamu tahu pasal terakhir di surat kontrak mu bukan?" Tanya Bram pada sang asisten
"Siap Pak. Saya paham."
Alan tahu jika pada surat kontrak kerjanya, ia tak boleh mengatakan pada orang apapun informasi ketika ia pergi bersama saat tak mengerjakan urusa perusahaan.
Tampak Bram menjemput seorang perempuan dan ia membawa perempuan itu ke vila yang telah di siapkan oleh Rafi.
"Tunggulah disini. Beri saya waktu, saya harus berbicara dulu dengan Ayra dan Kedua anak ku. Tidak mudah berada di posisi seperti ini dan posisi mu. Kamu tinggal disini dulu ya. Ada asisten rumah tangga yang sudah aku siapkan untuk menemani kamu disini. Dan hubungi saya jika kamu butuh apa-apa." Ucap Bram pelan.
"Baiklah. Nur Berharap waktunya tak lama. Karena...." ucap gadis bernama Nur itu.
"Karena apa sayang?" Bram penasaran. Wanita itu terlihat manja namun seolah menahan rasa manjanya di hadapan Bram.
"Pagi tadi Nur cek pakai tes urin. Sepertinya Nur Positif...." Ucap perempuan berkerudung asal Malaysia itu.
Ia bertubuh yang tingginya hampir mirip dengan Ayra. Hanya saja kulitnya kuning Langsat tidak putih seperti perempuan nomor satu bagi Ammar.
Bram mendengar kabar bahwa Nur hamil merasa bingung. Ia ingin bahagia juga bersedih dan bingung. Ia terlihat memijat dahinya yang terasa penat.
"Maafkan Saya. Semua ini terjadi bukan kehendak kita. Bersabarlah. Bukan hal yang mudah menjelaskan pada keluarga ku. Begitupun dengan kehadiran dirimu. Terlebih ada janin yang harus kita jaga. Ia harus melihat dunia dengan status yang jelas...." Ucap Bram pelan. Ada beban di hembusan napasnya. Dan masih ia pendam Sendiri.
"Semoga Bu Ayra bisa menerima dan sementara biarlah begini dulu sampai keadaan keluarga Bapak baik-baik saja." Ucap Nur lirih.
""Ini dokumen mu selama di sini. Dan maaf belum bisa memberikan kamu status jelas di pernikahan kare-"
Suara telepon dari saku Bram membuat lelaki itu sedikit menjauh dari Nur. Ternyata Ayra menelpon suaminya untuk mengingatkan jika dirinya harus tiba sebelum pukul empat sore.
"Baiklah sayang. Tunggu ya. Mas akan segera pulang ini. Love you Ay..." Suara Bram setengah berbisik. Lalu ia menyimpan ponselnya ke saku.
"Bu Ayra ya Pak?" Tanya Nur masih menundukkan pandangannya.
"Iya.... Hhhh.. jaga kesehatan mu. Dan beberapa hari lagi kita kontrol ke dokter kandungan. Jangan ke Bidan desa. Untuk urusan laporan ke pihak desa. Saya sudah minta anak buah saya yang urus." Ucap Bram sambil menatap wajah cantik Nur yang masih saja menunduk sejak ia jemput di sebuah terminal Bis.
"Sementara ini kamu disini dulu ya. Di tanah air, media sedang tidak baik-baik saja. Bik Inah, saya titip Nur. Kalau ada apa-apa hubungi saya dengan nomor yang sudah saya berikan." Ucap Bram pelan.
Lelaki itu pun keluar rumah. Saat akan pergi, Nur mencium punggung tangan Bram. Lelaki itu dengan rasa sedih mengusap kepala yang terbungkus jilbab itu. Ia menatap sendu Nur sebelum pergi meninggalkan kediaman baru untuk Nur. Bram membeli Vila itu untuk perempuan yang tak lagi gadis. Jika dari wajah, ia terlihat sama dengan Qiya. Namun untuk usia ia lebih tua 3 tahun dari Qiya.
Iya pun pergi meninggalkan tempat itu menuju rumahnya. Ia telah berjanji akan tiba sore hari dan langsung ke kediaman Pak Erlangga.
Saat tiba dirumah pukul lima sore Bram pun mengirim pesan pada Nur jika ia telah tiba di Jakarta. Ia selama ini berkomunikasi dengan Nur melalui ponsel yang biasa ia gunakan untuk bekerja. Agar Ayra tak curiga jika lelaki yang sekarang sedang memeluknya dari belakang baru saja menemui seorang perempuan bahkan membelikan vila untuk perempuan itu.
"Sudah pulang Mas?" Mobilnya tak terdengar.
"Kamu yang terlalu fokus dengan hapalan mu...." Ucap Bram saat pulang dan sang istri masih berada di ruangan yang akan digunakan Ayra untuk mengulang hapalannya.
Biasanya disana akan ada Qiya dan Ibrahim jika mereka sedang berkumpul. Mereka akan saling menyimak bacaan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
solihin 78
wah siapa dia ya
2024-07-29
0
Aira Azzahra Humaira
wah parah si bram bener kata si rafi tua" keladi
2024-03-17
0
asiah puteri mulyana
OMG...bisa patah hati berkeping ini klo beneran bram selingkuuh..tolooooong..aku yg patah hatii /Puke//Puke//Puke/
2024-03-06
0