"Ayraaaaa!"
Suara teriakan Bram terdengar sampai ke kamar Qiya. Sepasang anak kembar itu cepat luar kamar. Mereka tidak pernah mendengar Bram berteriak di dalam rumah. Apalagi dari suara Pendiri Mikel Group itu terdengar Panik. Ammar cepat berlari ke arah suara. Ia cepat menuruni anak tangga.
Ia melihat Bram memangku kepala Ayra. Tampak dahi perempuan yang telah melahirkan Ammar itu berdarah.
"Mama!" Ammar cepat berlari dan menggendong tubuh ibunya.
Tanpa berpikir panjang, Ammar cepat membawa tubuh Ayra ke arah luar rumah. Qiya yang telah tiba di lantai bawah pun cepat mengejar Ammar. Masih lengkap dengan mukenah di tubuhnya. Bram pun mengikuti putranya. Penghuni rumah lainnya cepat ingin bertanya apa yang terjadi. Namun Qiya yang langsung membuka pintu mobil belakang. Ia masuk, dan Kepala sang ibu pun berada di pangkuannya. Ia memegang pergelangan tangan Ayra.
Ia memeriksa denyut nadi perempuan yang telah melahirkan dirinya. Kemudian putri Ayra itu menekan dahi Ayra yang masih mengeluarkan daraaah. Agar darah tak terus mengalir.
Sedangkan Bram masuk kedalam mobil. Ia duduk di sisi Qiya. Ia memangku tubuh istrinya yang bagian bawah. Ammar langsung masuk kedalam mobil dan duduk di balik kemudi.
"Pasang sabuk pengamannya. Kita cari klinik atau rumah sakit terdekat!" Ucap Ammar sambil memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya. Qiya dan Bram melakukan hal yang sama.
"Berdoa dulu kak. Jangan terburu-buru. Mama insyaallah tidak apa-apa. Denyut nadinya stabil." Ucap Qiya sambil melonggarkan pakaian sang ibu. Terutama bagian underwaer bagian dada sang ibu melalui sela-sela baju.
Bram hanya menatap Ayra sendu. Ia yakin istrinya mendengar berita pembatalan pernikahan Qiya dan Hilman. Dan hal itu mungkin membuat tubuhnya yang lemah tak fokus ketika melangkah menuruni anak tangga.
Qiya penasaran bertanya apa yang terjadi pada Bram.
"Apa yang terjadi Pa? Kenapa mama bisa jatuh dari tangga? Mama bukan orang yang teledor." Tanya Qiya sambil masih menekan luka pada dahi ibunya.
"Papa juga tidak tahu." Kilah Bram pada putrinya. Ia belum bisa berkata jujur pada sang buah hati. Ada Rasa bersalah namun lebih besar rasa tak tega untuk menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
Ammar yang dari tadi berusaha tegar. Kini putra sulung Ayra itu meneteskan butiran bening dari sudut matanya. Sambil mengemudikan mobilnya. Ia sesekali mengusap wajahnya karena air mata yang terus saja keluar tanpa ia inginkan.
Qiya yang melihat kakak laki-lakinya menitikkan air mata dari spion mobil, ia tahu hanya kondisi ibunya yang bisa membuat Ammar lemah.
"Kamu bilang tidak perlu air mata untuk mengungkapkan kesedihan kak. Lantas air apa yang mengalir dari mata mu?" Tanya Qiya.
"Jika ada yang bisa membuat air mata ini tidak jatuh, maka dia adalah Mama. Dan Jika airmata ini jatuh. Ia juga karena Mama. Mama meminta ku untuk tak meneteskannya di hadapan mu, Qi." Ucap Ammar sambil tetap fokus menatap jalanan.
Selang beberapa menit. Ia tiba di sebuah rumah sakit swasta yang tak terlalu besar. Ia cepat memarkirkan kendaraannya di depan ruangan UGD. Tampak perawat dan satpam dengan cekatan membawa rolling bad ke arah Ayra yang sedang di gendong oleh Ammar.
Qiya ingin masuk kedalam ruangan itu, namun ia harus menahan langkahnya. Ia memang baru saja berhasil memperoleh gelar dokter (dr) karena berhasil lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter atau biasa disingkat UKMPPD. Akan tetapi jalannya untuk menjadi seorang dokter masih panjang. ia masih harus menjalani program internship dulu selama 1 tahun. Dan itu harus ia tunda karena rencana pernikahan dirinya yang akan diselenggarakan bulan itu.
Tak berapa lama seorang perawat mengatakan jika Ayra telah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Bram yang merasa bahwa rumah sakit itu kecil. Ia meminta untuk di pindahkan ke rumah sakit lebih besar. Namun putrinya mencegah.
"Biar disini saja dulu Pa. Kasihan Mama. Biar dapat perawatan dulu. Kita lihat kondisi Mama dulu." Ucap Qiya memohon pada Bram.
Lelaki paruh baya itu pun menghela napas pelan. Ia menyetujui apa yang dikatakan anaknya. Cepat ia berjalan kearah perawat yang membawa tubuh Ayra ke kamar perawatan. Bram meminta untuk ruang VIP. Dan beruntung masih ada satu kamar.
Namun saat akan masuk ke kamar itu. Bram melihat seorang lelaki. Dan Reflek, Bram menarik kerah baju Lelaki itu. Ia memukul wajah lelaki tampan itu hingga lelaki itu tersungkur jatuh ke arah lantai.
Ammar dan Qiya cepat berlari ke arah Bram. Qiya menahan tubuh Bram yang akan kembali maju untuk memukuli lelaki yang masih mencoba berdiri dibantu Ammar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Erlina Rahayu
sabar Bram setiap kejadian adalah kehendak Allah
2023-08-28
2
Cucu Ulpah
pasti laki kaki yg d pukul itu hilman yg ingin membatalkan menikah dengan qia
2023-02-15
0
Nuryati Yati
itu psti hilman yg di pukul bram
2023-02-08
0