12 Menanti Kejujuran

Ayra memandangi cermin yang telah menemaninya hampir puluhan tahun untuk memberikan keyakinan bahwa penampilannya sudah sedap di pandang suami. Maka hari ini cermin itu Ayra jadikan satu alat dimana ia mengoreksi dirinya. Ia berdiri dari posisinya yang duduk.

Ia memajukan tubuhnya sedikit kearah cermin. Kedua tangan yang ia letakkan diatas meja rias cermin menyentuh wajahnya dan juga menatap pantulan cermin itu. Ia menatap penampilan nya. Ia menelisik apakah usia yang telah mencapai 50 tahun membuat suaminya berpaling dan mencari perempuan lebih muda.

Ia merasa dirinya selalu merawat diri dan juga tak pernah menolak ajakan suaminya untuk hal nafkah batin. Maka ia sedang mencari satu alasan jika suaminya harus mencari perempuan lain,disaat usia tak lagi muda.

"Apa aku tidak lagi menarik di mata mu Mas? Apakah ada kekurangan aku melayani kamu. Sehingga kamu mencari yang lebih muda? lebih... Astaghfirullah... Sadar Ayra. Setan sedang bermain-main dengan perasaan mu. Mas Bram tak pernah sedikit pun menyakiti kamu. Baik Dzohir maupun batin...." Ayra bermonolog dengan bayangannya.

Ia menyentuh cermin itu sambil tersenyum namun ada air mata mengalir di pipi Ayra.

"Semoga kamu tidak berpaling karena kekurangan ku Mas... "

Saat selama perjalanan pulang Bram pun memutuskan untuk berbicara pada sang istri. Jalanan cukup macet. Membuat dirinya sedikit terlambat pulang. Saat mobilnya berhenti tepat di depan rumah. Jantung Ayra berdetak tak karuan. Entah kenapa jika biasanya ia akan begitu bersemangat saat sang suami tiba dirumah. Kali ini ada rasa takut. Rasa was was, rasa sedih, dan ada rasa benci.

"Tidak Ayra... Kamu harus Tabayyun. Sekalipun mas Bram main hati. Koreksi diri mu, apakah kamu sudah menjadi istri yang baik. Apakah ada satu hal yang tak terpenuhi untuk mas Bram dari dirimu?" Batin Ayra seakan menolak rasa benci yang tiba-tiba hadir tanpa meminta penjelasan.

Ayra memejamkan matanya ia menarik napas dalam. Setelah ia menghembuskan napasnya, ia menatap cermin dan menarik sudut bibirnya. Ia mengoles lips glossy di bibirnya. Lalu perempuan itu bergegas keluar dari kamarnya. Ia berusaha tenang saat hatinya tak karuan. Tiba di ruang depan, ia menyambut Bram seperti biasa. Namun kedua matanya tak berani menatap mata sang suami. Walau senyum tetap terukir menyambut kepulangan sang suami.

Setelah menjawab salam dari Bram. Ia mencium punggung tangan suaminya.

"Macet Mas?" Ucap Ayra sambil memeluk lengan Bram.

"Lumayan. Kamu masak apa Ay sore ini?" tanya Bram seraya mengendurkan dasinya.

"Coba tebak?"

"Hmm.... kamu masak Ayam serundeng?" Ucap Bram sambil mengernyitkan dahinya.

"Salah... Ayo mandi dulu. Nanti makan." Ajak Ayra. Ketika hampir tiba di kamar mereka tak menyadari interaksi mereka di lihat Qiya yang sedang berada tepat ruangan baca yang berada di seberang kamar Bram dan Ayra.

"Semoga besok aku bisa sebahagia Mama dan Papa. Mereka nyaris tidak pernah bertengkar. Dan Papa tidak pernah menyakiti Mama." Ucap Qiya yang kembali berkutat dengan buku bacaannya.

Saat selesai membersihkan tubuh, tiba waktu makan. Ketiga orang di meja makan itu masih berinteraksi seperti biasa. Sambil menunggu anak gadisnya membantu asisten rumah tangga menyusun menu di meja makan. Bram sedikit mengusap punggung tangan Ayra agar sang istri yang tampak sedikit melamun.

"Kamu tidak boleh langsung memvonis. Tunggu Mas Bram memberitahu mu. Kamu kenal suami mu Ay.Mungkin dia hanya menunggu timing yang pas." Batin Ayra.

"Ay... ada masalah?" Tanya Bram.

"Eh... Tidak mas. Ayra rindu Ammar. Hari ini dia tidak menelpon. Apakah dia sibuk sekali."

"Oh, dia sekalian mas minta untuk mengurus kerjasama dengan perusahaan yang akan menjadi mitra untuk pengolahan minyak sawit Ay."jelas Bram pada sang istri.

Makan malam berlalu dengan nikmat dan setelahnya pun Bram tak melihat hal yang mencurigakan. Saat Ayra membawakan Kopi untuk Bram diruang keluarga. Terlihat bungsu yang tak jadi memelas pada Bram.

"Please Papa... Qiya mohon Papa dan Mama jangan ikut mengantar. Biar Qiya pergi sama teman-teman. Biarkan kali ini Qiya ingin membuktikan bahwa Qiya bisa mendapatkan surat izin Praktik memang benar-benar atas jerih payah Qiya bukan karena nama besar Papa." Pinta Qiya pada Bram.

Bram membuka kacamatanya. Ia tersungging mendengar permohonan sang anak.

"Yakin karena kerja keras sendiri? Terus Allah tidak ada ikut andil dalam perjalanan anak Papa hingga berada di titik ini?" Protes Bram.

Qiya pun cepat mendekati Bram. Ia bergelayut di punggung CEO MIKEL Group itu.

"Ya ga gitu konsepnya Pa... Maksudnya Qiya, selama ini teman-teman selalu beranggapan 'oh wajar anaknya Pak Bram, anaknya Bu Ayra, Cucu nya Kyai Rohim. Seolah-olah Qiya tidak dianggap ada andil di setiap hasil yang Qiya capai." Keluh sang anak.

Ayra tersenyum mendengar keluhan Qiya.

Ia duduk di sebelah Bram dan mengusap lengan putrinya.

"Jadi anak Mama ini mau meminta penilaian makhluknya Allah?" Pancing Ayra.

"Ih Mama kan mesti satu suara sama Papa." Qiya pun kembali ke tempatnya dan membuka kembali buku yang satu hari ini begitu menarik perhatiannya.

"Iya Mama paham. Mama mendukung kamu. Yang penting ingat di tempat wahana, kamu sudah di sumpah. Maka jadilah dokter sesuai sumpah yang sudah di ucapkan. Setiap apa yang menjadi tanggungjawab kita, akan kita pertanggungjawabkan di hari akhir nanti." ucap Ayra pelan.

Ayra melirik Bram dan bergelayut di lengan suaminya. Hatinya masih mencoba tenang walau terasa panas.

"Iya kan mas?" Tanya Ayra sambil mendongakkan kepalanya.

"Betul. Pokoknya kalian perempuan yang hebat dalam hidup Papa. Maka Papa yakin kalian akan melakukan segala sesuatu dengan memikirkan ridho Allah dulu." Ucap Bram menatap Ayra.

"Kenapa tatapannya masih tatapan yang sama. Tak ada yang berubah dari Mas Bram." Batin Ayra.

Sungguh anak-anak Ayra selalu merasa nyaman berada dirumah karena suami istri itu selalu menunjukkan kebahagiaan di depan anak-anaknya walau sedang ada masalah. Seperti saat ini, Ayra mencoba untuk menunggu suaminya berkata jujur siapa perempuan yang ada di gambar tadi.

Malam hari, seperti biasa kamar adalah tempat mereka mendiskusikan hal-hal yang tidak harus di ketahui anak mereka.

Bram memeluk istrinya di balik selimut. Ingin rasanya Ayra segera bertanya, tapi ilmu dan pengalamannya menuntut dirinya untuk menunggu penjelasan Bram.

"Ay... Mas ingin membicarakan sesuatu... " Tanya Bram saat sang istri baru memejamkan kedua matanya.

Ayra kembali membuka kedua matanya.

"Astaghfirullah... kenapa hati ku berdetak tak menentu begini. Rasanya aku seperti belum siap mendengar penjelasan mas Bram."

"Apa Mas? Haruskah malam ini?"

"Ya... Mas lelah menyimpannya sendiri..." Ucap Bram pelan. Ia membenarkan posisinya dan satu tangannya merapikan rambut sang istri.

"Sebelum mas mengatakan sesuatu. Ayra boleh bertanya sesuatu?" Tanya Ayra.

Bram mengangguk pelan dan mengecup dahi istrinya.

"Apakah Ayra tidak lagi menarik? adakah kekurangan selama Ayra melayani mas sebagai seorang istri?" Tanya Ayra.

Ia hanya khawatir jika sang suami berpaling atau tergoda akan perempuan di luar karena ia sendiri tak pandai melayani suaminya, membahagiakanmu suaminya.

"Justru pertanyaan itu mas tujukan pada Mas, Ay. Kamu istri Sholehah. Kamu bidadari dunia bagi mas dan semoga hingga ke surga. Harusnya mas yang bertanya apakah selama kita menikah mas tidak menjadi imam yang baik untuk kamu dan anak-anak?." Ucap Bram pelan, ia seolah menelisik isi hati istrinya yang memiliki kecurigaan akan satu hal.

"Katakanlah apa yang ingin mas katakan." Ucap Ayra.

Baru suami Ayra itu ingin berterus terang. Sebuah panggilan dari ponselnya membuat ia sedikit beringsut dari tempat tidur. Ketika Ia mengangkat telpon itu. Ia berdiri di arah balkon.

"Apa? Innalilahi.... cepat minta sopir membawa Nur ke Rumah sakit Bi." Bram cepat menutup ponsel dan ia bermaksud mengajak Ayra untuk ikut bersamanya.

"Ay... Ikut Mas kita harus ke suatu tempat." Ajak Bram pada Ayra.

Ayra yang mendengar suaminya mengajak dirinya ke tempat perempuan yang ia anggap sebagai orang kedua. Ia tak mungkin menolak namun permintaan Bram sama saja perintah. Maka ia pun dengan patuh mengikuti sang suami.

Tiba di bawah, ia meninggalkan pesan pada asisten rumah tangga bahwa ia dan suami sedang pergi. Khawatir Qiya akan bertanya.. Namun Ayra bingung kenapa suaminya justru membawa mobil Ammar.

"Kenapa pakai mobil Ammar Pa?" Tanya Ayra.

"Nanti mas jelaskan." Bram mengemudikan mobil itu dengan fokus.

Istrinya masih sibuk dengan pikirannya.

"Jadi namanya Nur. Hhh... apa yang terjadi dengan perempuan itu." Ayra hanya menatap suaminya. Ia tak berani mengajak berbicara. Karena berbahaya membicarakan masalah di dalam kendaraan disaat suaminya sedang mengemudikannya.

Ayra yang sempat mendengar nama Nur keluar dari bibir Bram.

"Kamu harus siap Ayra jika memang perempuan itu sudah di nikahi suami mu. Keputusan apa yang akan kamu buat jika itu kenyataan..."

Ayra satu diantara banyaknya perempuan yang tak bisa menerima praktik poligami. Karena menurut pemahamannya Poligami pada QS. An Nisa ayat 3, itu bukan sebuah perintah tetapi 'membolehkan' dimana itu berlandaskan aspek sejarah sosial bangsa Arab. Karena pada masa itu orang laki-laki di Arab bisa menikahi perempuan tanpa batas.

Maka bagi Ibu dari tiga anak itu, QS. An Nisa ayat 3 justru digunakan untuk mengurangi atau lebih tepatnya membatasi jumlah istri masyarakat Arab yang pada saat itu tanpa batas.

"Jika ada istri yang rela di Poligami karena surga yang ia harapkan. Maka aku yang merasa masih mampu melayani suamiku dengan baik, dan tak ada kekurangan dalam diri ini. Maka aku tak ingin di poligami.... Tetapi bagaimana anak-anak ku... Figur mas Bram sebagai ayah yang baik. Tak mungkin aku juga egois dengan keinginan ku sendiri." Ayra Kembali sibuk dengan kemungkinan yang terjadi. Dan keputusan yang mungkin harus ia ambil jika perempuan itu betul adalah madunya.

Terpopuler

Comments

Yuni Rahma

Yuni Rahma

masya Alloh dr novel karya author, bnyk pelajaran yg bs d ambil, bagaimana akhlak seorang istri, akhlak seorang anak, ya Alloh sy msh bnyk kekurangan.

2023-12-15

3

solihin 78

solihin 78

pertanyaan suami baik dan Soleh

2023-11-18

2

solihin 78

solihin 78

ya begitulah qiy bila orang tua dan leluhur kita orang' besar pasti yang di pandang nama orang tua dan leluhur kita

2023-11-18

2

lihat semua
Episodes
1 Duka Keluarga Bramantyo
2 2 Ayra Terjatuh
3 3 Hilman dan Qiya
4 Ayra dan Keluarganya.
5 5 Hilman dan Pak Toha
6 6 Keputusan Qiya
7 7 Dua Keluarga Dua Rasa
8 8 Siapakah Perempuan Itu?
9 9. Nur Hasanah
10 10 Memilih Wahana Internship
11 11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12 12 Menanti Kejujuran
13 13 Kejujuran Bram
14 14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15 15 Qiya di Rumah Sakit
16 16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17 17 Isi Hati Si Kembar
18 18 Rasa Yang berbeda
19 19 Dokter Gede dan Qiya
20 20 Hati Qiya Yang Terusik
21 21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22 22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23 23 Qiya dan rasa dihatinya
24 24 Kedatangan Ayra dan Bram
25 25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26 26 Kembali Bertemu
27 27 Ammar dan Kepribadian nya
28 28 Apakah Ini Cinta?
29 29 Keputusan Ayra dan Bram
30 30 Keluarga Bram dan Ayra
31 Berita Tentang Ibrahim
32 32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33 33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34 34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35 35 Keresahan Hati Ammar
36 36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37 37 Lelaki Itu Ibrahim
38 38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39 39 Jantung Dokter Gede
40 40 Dokter Gede
41 41 Ammar dan Cintanya
42 42 Dokter Gede dan Qiya
43 43 Dua Hati Satu Cinta
44 44 Dua Hati Satu Cinta 2
45 45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46 46 Status Qiya dan Dua Pria
47 47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48 48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49 49 Kejujuran Ammar
50 50 Siapa Kamu?
51 51 Arumi Mayang Dahayu
52 52 Rasa Kecewa Ammar
53 53 Kebimbangan Ammar
54 54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55 55 Musyawarah Keluarga
56 56 Hati Qiya dan Arumi
57 57 Menanti Jawaban Arumi
58 58 Jawaban Arumi
59 59 Keputusan Bram
60 60 Dokter Gede PDKT
61 61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62 62 Ternyata dia Muslim
63 63 Perjuangan Dokter Gede 1
64 64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65 65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66 66 Habis Di Goda Ammar
67 67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68 68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69 69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70 70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71 71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72 72 Tamu tak diharapkan
73 73 Datang Disaat yang Tepat
74 74 Maksud dua Lelaki
75 75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76 76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77 77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78 78 Kedatangan Dua Lelaki
79 79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80 80 "Dek Qiya"
81 81 Dek Qiya Menangis?
82 82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83 83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84 84 Lamaran Gede untuk Qiya
85 85 Separuh Jiwa Nur
86 86 Calon Kakak Ipar
87 87 Kekhawatiran Bu Ratih
88 88 Ammar & Arumi "Sah"
89 89 Hati Ammar dan Arumi
90 90 Air mata Di Hari Bahagia
91 91 Malam Yang Dingin
92 92 Kompetisi Meraih Cinta
93 93 Ijab Gede dan Qiya
94 94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95 95 Satu Nama Dua Hati
96 96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97 97 Munajat Cinta
98 98 Gede dan Masalalunya
99 99 Gadis itu Siapa
100 100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101 101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102 102 Tiga Bulan Pernikahan
103 103 Kelembutan Hati
104 104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105 105 Arumi Dan Ammar
106 106 Flashback Arumi bersama Ayra
107 107 Dinginnya Australia
108 108 Apakah Aku ada Disana?
109 109 "Mas Ammar"
110 110 Kamu Dimana?
111 111 "I love you Arumi."
112 112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113 113 Saling Membuka Diri
114 114 Hati Yang Masih Tersakiti
115 115 Masalalu Pak Rendra
116 116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117 117 Cinta Penuh Kelembutan
118 118 Belajar dari Kisah
119 119 Keegoisan Pak Rendra
120 120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121 121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122 122 Kebahagiaan Putra Ayra
123 123 Luka Hati Bu Ratih
124 124 Penolakan Ratih
125 125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126 126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127 127 Dua Menantu Yang Bahagia
128 128 Ungkapan Hati Gede
129 129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130 130 Peran Qiya Sebagi Istri
131 131 Pesona The Twins
132 132 Siapa Kamu Arumi?
133 133 Skenario Allah
134 134 Kebenaran Untuk Arumi
135 135 Kebesaran Hati Gede
136 136 Kebahagiaan Pak Subroto
137 137 Arumi Koma
138 138 Tiga Keluarga
139 139 Kesedihan Ammar
140 140 Ikhtiar Ammar
141 141 Hasil Pemeriksaan
142 142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143 143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144 144 Flashback Bram dan Ayra
145 145 Rendra dan Masalalunya
146 146 Watak yang Keras
147 147 Permohonan maaf Pak Rendra
148 148 Kabar Duka
149 149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150 150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151 151 Semua karena Cinta
152 152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153 153 Mantan
154 154 Prasangka
155 155 Pesona Ammar
156 156 Otw Ending.
157 Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158 158 Kembar 3
159 159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160 160 Pemotretan
161 161 Keakraban keluarga Ayra
162 162 Perkenalan Zhafirah
163 163 Intermezo Zhafirah
164 164 Firasat Ayra
165 165 Ayra dan Kelima Cucunya
166 166 THE END
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Duka Keluarga Bramantyo
2
2 Ayra Terjatuh
3
3 Hilman dan Qiya
4
Ayra dan Keluarganya.
5
5 Hilman dan Pak Toha
6
6 Keputusan Qiya
7
7 Dua Keluarga Dua Rasa
8
8 Siapakah Perempuan Itu?
9
9. Nur Hasanah
10
10 Memilih Wahana Internship
11
11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12
12 Menanti Kejujuran
13
13 Kejujuran Bram
14
14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15
15 Qiya di Rumah Sakit
16
16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17
17 Isi Hati Si Kembar
18
18 Rasa Yang berbeda
19
19 Dokter Gede dan Qiya
20
20 Hati Qiya Yang Terusik
21
21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22
22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23
23 Qiya dan rasa dihatinya
24
24 Kedatangan Ayra dan Bram
25
25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26
26 Kembali Bertemu
27
27 Ammar dan Kepribadian nya
28
28 Apakah Ini Cinta?
29
29 Keputusan Ayra dan Bram
30
30 Keluarga Bram dan Ayra
31
Berita Tentang Ibrahim
32
32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33
33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34
34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35
35 Keresahan Hati Ammar
36
36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37
37 Lelaki Itu Ibrahim
38
38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39
39 Jantung Dokter Gede
40
40 Dokter Gede
41
41 Ammar dan Cintanya
42
42 Dokter Gede dan Qiya
43
43 Dua Hati Satu Cinta
44
44 Dua Hati Satu Cinta 2
45
45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46
46 Status Qiya dan Dua Pria
47
47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48
48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49
49 Kejujuran Ammar
50
50 Siapa Kamu?
51
51 Arumi Mayang Dahayu
52
52 Rasa Kecewa Ammar
53
53 Kebimbangan Ammar
54
54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55
55 Musyawarah Keluarga
56
56 Hati Qiya dan Arumi
57
57 Menanti Jawaban Arumi
58
58 Jawaban Arumi
59
59 Keputusan Bram
60
60 Dokter Gede PDKT
61
61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62
62 Ternyata dia Muslim
63
63 Perjuangan Dokter Gede 1
64
64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65
65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66
66 Habis Di Goda Ammar
67
67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68
68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69
69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70
70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71
71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72
72 Tamu tak diharapkan
73
73 Datang Disaat yang Tepat
74
74 Maksud dua Lelaki
75
75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76
76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77
77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78
78 Kedatangan Dua Lelaki
79
79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80
80 "Dek Qiya"
81
81 Dek Qiya Menangis?
82
82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83
83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84
84 Lamaran Gede untuk Qiya
85
85 Separuh Jiwa Nur
86
86 Calon Kakak Ipar
87
87 Kekhawatiran Bu Ratih
88
88 Ammar & Arumi "Sah"
89
89 Hati Ammar dan Arumi
90
90 Air mata Di Hari Bahagia
91
91 Malam Yang Dingin
92
92 Kompetisi Meraih Cinta
93
93 Ijab Gede dan Qiya
94
94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95
95 Satu Nama Dua Hati
96
96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97
97 Munajat Cinta
98
98 Gede dan Masalalunya
99
99 Gadis itu Siapa
100
100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101
101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102
102 Tiga Bulan Pernikahan
103
103 Kelembutan Hati
104
104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105
105 Arumi Dan Ammar
106
106 Flashback Arumi bersama Ayra
107
107 Dinginnya Australia
108
108 Apakah Aku ada Disana?
109
109 "Mas Ammar"
110
110 Kamu Dimana?
111
111 "I love you Arumi."
112
112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113
113 Saling Membuka Diri
114
114 Hati Yang Masih Tersakiti
115
115 Masalalu Pak Rendra
116
116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117
117 Cinta Penuh Kelembutan
118
118 Belajar dari Kisah
119
119 Keegoisan Pak Rendra
120
120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121
121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122
122 Kebahagiaan Putra Ayra
123
123 Luka Hati Bu Ratih
124
124 Penolakan Ratih
125
125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126
126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127
127 Dua Menantu Yang Bahagia
128
128 Ungkapan Hati Gede
129
129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130
130 Peran Qiya Sebagi Istri
131
131 Pesona The Twins
132
132 Siapa Kamu Arumi?
133
133 Skenario Allah
134
134 Kebenaran Untuk Arumi
135
135 Kebesaran Hati Gede
136
136 Kebahagiaan Pak Subroto
137
137 Arumi Koma
138
138 Tiga Keluarga
139
139 Kesedihan Ammar
140
140 Ikhtiar Ammar
141
141 Hasil Pemeriksaan
142
142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143
143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144
144 Flashback Bram dan Ayra
145
145 Rendra dan Masalalunya
146
146 Watak yang Keras
147
147 Permohonan maaf Pak Rendra
148
148 Kabar Duka
149
149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150
150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151
151 Semua karena Cinta
152
152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153
153 Mantan
154
154 Prasangka
155
155 Pesona Ammar
156
156 Otw Ending.
157
Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158
158 Kembar 3
159
159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160
160 Pemotretan
161
161 Keakraban keluarga Ayra
162
162 Perkenalan Zhafirah
163
163 Intermezo Zhafirah
164
164 Firasat Ayra
165
165 Ayra dan Kelima Cucunya
166
166 THE END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!