Ayra memandangi cermin yang telah menemaninya hampir puluhan tahun untuk memberikan keyakinan bahwa penampilannya sudah sedap di pandang suami. Maka hari ini cermin itu Ayra jadikan satu alat dimana ia mengoreksi dirinya. Ia berdiri dari posisinya yang duduk.
Ia memajukan tubuhnya sedikit kearah cermin. Kedua tangan yang ia letakkan diatas meja rias cermin menyentuh wajahnya dan juga menatap pantulan cermin itu. Ia menatap penampilan nya. Ia menelisik apakah usia yang telah mencapai 50 tahun membuat suaminya berpaling dan mencari perempuan lebih muda.
Ia merasa dirinya selalu merawat diri dan juga tak pernah menolak ajakan suaminya untuk hal nafkah batin. Maka ia sedang mencari satu alasan jika suaminya harus mencari perempuan lain,disaat usia tak lagi muda.
"Apa aku tidak lagi menarik di mata mu Mas? Apakah ada kekurangan aku melayani kamu. Sehingga kamu mencari yang lebih muda? lebih... Astaghfirullah... Sadar Ayra. Setan sedang bermain-main dengan perasaan mu. Mas Bram tak pernah sedikit pun menyakiti kamu. Baik Dzohir maupun batin...." Ayra bermonolog dengan bayangannya.
Ia menyentuh cermin itu sambil tersenyum namun ada air mata mengalir di pipi Ayra.
"Semoga kamu tidak berpaling karena kekurangan ku Mas... "
Saat selama perjalanan pulang Bram pun memutuskan untuk berbicara pada sang istri. Jalanan cukup macet. Membuat dirinya sedikit terlambat pulang. Saat mobilnya berhenti tepat di depan rumah. Jantung Ayra berdetak tak karuan. Entah kenapa jika biasanya ia akan begitu bersemangat saat sang suami tiba dirumah. Kali ini ada rasa takut. Rasa was was, rasa sedih, dan ada rasa benci.
"Tidak Ayra... Kamu harus Tabayyun. Sekalipun mas Bram main hati. Koreksi diri mu, apakah kamu sudah menjadi istri yang baik. Apakah ada satu hal yang tak terpenuhi untuk mas Bram dari dirimu?" Batin Ayra seakan menolak rasa benci yang tiba-tiba hadir tanpa meminta penjelasan.
Ayra memejamkan matanya ia menarik napas dalam. Setelah ia menghembuskan napasnya, ia menatap cermin dan menarik sudut bibirnya. Ia mengoles lips glossy di bibirnya. Lalu perempuan itu bergegas keluar dari kamarnya. Ia berusaha tenang saat hatinya tak karuan. Tiba di ruang depan, ia menyambut Bram seperti biasa. Namun kedua matanya tak berani menatap mata sang suami. Walau senyum tetap terukir menyambut kepulangan sang suami.
Setelah menjawab salam dari Bram. Ia mencium punggung tangan suaminya.
"Macet Mas?" Ucap Ayra sambil memeluk lengan Bram.
"Lumayan. Kamu masak apa Ay sore ini?" tanya Bram seraya mengendurkan dasinya.
"Coba tebak?"
"Hmm.... kamu masak Ayam serundeng?" Ucap Bram sambil mengernyitkan dahinya.
"Salah... Ayo mandi dulu. Nanti makan." Ajak Ayra. Ketika hampir tiba di kamar mereka tak menyadari interaksi mereka di lihat Qiya yang sedang berada tepat ruangan baca yang berada di seberang kamar Bram dan Ayra.
"Semoga besok aku bisa sebahagia Mama dan Papa. Mereka nyaris tidak pernah bertengkar. Dan Papa tidak pernah menyakiti Mama." Ucap Qiya yang kembali berkutat dengan buku bacaannya.
Saat selesai membersihkan tubuh, tiba waktu makan. Ketiga orang di meja makan itu masih berinteraksi seperti biasa. Sambil menunggu anak gadisnya membantu asisten rumah tangga menyusun menu di meja makan. Bram sedikit mengusap punggung tangan Ayra agar sang istri yang tampak sedikit melamun.
"Kamu tidak boleh langsung memvonis. Tunggu Mas Bram memberitahu mu. Kamu kenal suami mu Ay.Mungkin dia hanya menunggu timing yang pas." Batin Ayra.
"Ay... ada masalah?" Tanya Bram.
"Eh... Tidak mas. Ayra rindu Ammar. Hari ini dia tidak menelpon. Apakah dia sibuk sekali."
"Oh, dia sekalian mas minta untuk mengurus kerjasama dengan perusahaan yang akan menjadi mitra untuk pengolahan minyak sawit Ay."jelas Bram pada sang istri.
Makan malam berlalu dengan nikmat dan setelahnya pun Bram tak melihat hal yang mencurigakan. Saat Ayra membawakan Kopi untuk Bram diruang keluarga. Terlihat bungsu yang tak jadi memelas pada Bram.
"Please Papa... Qiya mohon Papa dan Mama jangan ikut mengantar. Biar Qiya pergi sama teman-teman. Biarkan kali ini Qiya ingin membuktikan bahwa Qiya bisa mendapatkan surat izin Praktik memang benar-benar atas jerih payah Qiya bukan karena nama besar Papa." Pinta Qiya pada Bram.
Bram membuka kacamatanya. Ia tersungging mendengar permohonan sang anak.
"Yakin karena kerja keras sendiri? Terus Allah tidak ada ikut andil dalam perjalanan anak Papa hingga berada di titik ini?" Protes Bram.
Qiya pun cepat mendekati Bram. Ia bergelayut di punggung CEO MIKEL Group itu.
"Ya ga gitu konsepnya Pa... Maksudnya Qiya, selama ini teman-teman selalu beranggapan 'oh wajar anaknya Pak Bram, anaknya Bu Ayra, Cucu nya Kyai Rohim. Seolah-olah Qiya tidak dianggap ada andil di setiap hasil yang Qiya capai." Keluh sang anak.
Ayra tersenyum mendengar keluhan Qiya.
Ia duduk di sebelah Bram dan mengusap lengan putrinya.
"Jadi anak Mama ini mau meminta penilaian makhluknya Allah?" Pancing Ayra.
"Ih Mama kan mesti satu suara sama Papa." Qiya pun kembali ke tempatnya dan membuka kembali buku yang satu hari ini begitu menarik perhatiannya.
"Iya Mama paham. Mama mendukung kamu. Yang penting ingat di tempat wahana, kamu sudah di sumpah. Maka jadilah dokter sesuai sumpah yang sudah di ucapkan. Setiap apa yang menjadi tanggungjawab kita, akan kita pertanggungjawabkan di hari akhir nanti." ucap Ayra pelan.
Ayra melirik Bram dan bergelayut di lengan suaminya. Hatinya masih mencoba tenang walau terasa panas.
"Iya kan mas?" Tanya Ayra sambil mendongakkan kepalanya.
"Betul. Pokoknya kalian perempuan yang hebat dalam hidup Papa. Maka Papa yakin kalian akan melakukan segala sesuatu dengan memikirkan ridho Allah dulu." Ucap Bram menatap Ayra.
"Kenapa tatapannya masih tatapan yang sama. Tak ada yang berubah dari Mas Bram." Batin Ayra.
Sungguh anak-anak Ayra selalu merasa nyaman berada dirumah karena suami istri itu selalu menunjukkan kebahagiaan di depan anak-anaknya walau sedang ada masalah. Seperti saat ini, Ayra mencoba untuk menunggu suaminya berkata jujur siapa perempuan yang ada di gambar tadi.
Malam hari, seperti biasa kamar adalah tempat mereka mendiskusikan hal-hal yang tidak harus di ketahui anak mereka.
Bram memeluk istrinya di balik selimut. Ingin rasanya Ayra segera bertanya, tapi ilmu dan pengalamannya menuntut dirinya untuk menunggu penjelasan Bram.
"Ay... Mas ingin membicarakan sesuatu... " Tanya Bram saat sang istri baru memejamkan kedua matanya.
Ayra kembali membuka kedua matanya.
"Astaghfirullah... kenapa hati ku berdetak tak menentu begini. Rasanya aku seperti belum siap mendengar penjelasan mas Bram."
"Apa Mas? Haruskah malam ini?"
"Ya... Mas lelah menyimpannya sendiri..." Ucap Bram pelan. Ia membenarkan posisinya dan satu tangannya merapikan rambut sang istri.
"Sebelum mas mengatakan sesuatu. Ayra boleh bertanya sesuatu?" Tanya Ayra.
Bram mengangguk pelan dan mengecup dahi istrinya.
"Apakah Ayra tidak lagi menarik? adakah kekurangan selama Ayra melayani mas sebagai seorang istri?" Tanya Ayra.
Ia hanya khawatir jika sang suami berpaling atau tergoda akan perempuan di luar karena ia sendiri tak pandai melayani suaminya, membahagiakanmu suaminya.
"Justru pertanyaan itu mas tujukan pada Mas, Ay. Kamu istri Sholehah. Kamu bidadari dunia bagi mas dan semoga hingga ke surga. Harusnya mas yang bertanya apakah selama kita menikah mas tidak menjadi imam yang baik untuk kamu dan anak-anak?." Ucap Bram pelan, ia seolah menelisik isi hati istrinya yang memiliki kecurigaan akan satu hal.
"Katakanlah apa yang ingin mas katakan." Ucap Ayra.
Baru suami Ayra itu ingin berterus terang. Sebuah panggilan dari ponselnya membuat ia sedikit beringsut dari tempat tidur. Ketika Ia mengangkat telpon itu. Ia berdiri di arah balkon.
"Apa? Innalilahi.... cepat minta sopir membawa Nur ke Rumah sakit Bi." Bram cepat menutup ponsel dan ia bermaksud mengajak Ayra untuk ikut bersamanya.
"Ay... Ikut Mas kita harus ke suatu tempat." Ajak Bram pada Ayra.
Ayra yang mendengar suaminya mengajak dirinya ke tempat perempuan yang ia anggap sebagai orang kedua. Ia tak mungkin menolak namun permintaan Bram sama saja perintah. Maka ia pun dengan patuh mengikuti sang suami.
Tiba di bawah, ia meninggalkan pesan pada asisten rumah tangga bahwa ia dan suami sedang pergi. Khawatir Qiya akan bertanya.. Namun Ayra bingung kenapa suaminya justru membawa mobil Ammar.
"Kenapa pakai mobil Ammar Pa?" Tanya Ayra.
"Nanti mas jelaskan." Bram mengemudikan mobil itu dengan fokus.
Istrinya masih sibuk dengan pikirannya.
"Jadi namanya Nur. Hhh... apa yang terjadi dengan perempuan itu." Ayra hanya menatap suaminya. Ia tak berani mengajak berbicara. Karena berbahaya membicarakan masalah di dalam kendaraan disaat suaminya sedang mengemudikannya.
Ayra yang sempat mendengar nama Nur keluar dari bibir Bram.
"Kamu harus siap Ayra jika memang perempuan itu sudah di nikahi suami mu. Keputusan apa yang akan kamu buat jika itu kenyataan..."
Ayra satu diantara banyaknya perempuan yang tak bisa menerima praktik poligami. Karena menurut pemahamannya Poligami pada QS. An Nisa ayat 3, itu bukan sebuah perintah tetapi 'membolehkan' dimana itu berlandaskan aspek sejarah sosial bangsa Arab. Karena pada masa itu orang laki-laki di Arab bisa menikahi perempuan tanpa batas.
Maka bagi Ibu dari tiga anak itu, QS. An Nisa ayat 3 justru digunakan untuk mengurangi atau lebih tepatnya membatasi jumlah istri masyarakat Arab yang pada saat itu tanpa batas.
"Jika ada istri yang rela di Poligami karena surga yang ia harapkan. Maka aku yang merasa masih mampu melayani suamiku dengan baik, dan tak ada kekurangan dalam diri ini. Maka aku tak ingin di poligami.... Tetapi bagaimana anak-anak ku... Figur mas Bram sebagai ayah yang baik. Tak mungkin aku juga egois dengan keinginan ku sendiri." Ayra Kembali sibuk dengan kemungkinan yang terjadi. Dan keputusan yang mungkin harus ia ambil jika perempuan itu betul adalah madunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Yuni Rahma
masya Alloh dr novel karya author, bnyk pelajaran yg bs d ambil, bagaimana akhlak seorang istri, akhlak seorang anak, ya Alloh sy msh bnyk kekurangan.
2023-12-15
3
solihin 78
pertanyaan suami baik dan Soleh
2023-11-18
2
solihin 78
ya begitulah qiy bila orang tua dan leluhur kita orang' besar pasti yang di pandang nama orang tua dan leluhur kita
2023-11-18
2