18 Rasa Yang berbeda

Pagi hari yang cerah. Cita terlihat tetap bersemangat. Begitupun dengan Qiya. Sepasang sahabat itu pun ke rumah sakit menggunakan motor yang mereka sewa selama menjalani internship untuk ke rumah sakit. Hal yang begitu membuat Qiya merasakan suasana baru. Ia pagi itu pun meminta pada sahabatnya untuk dia yang membawa sepeda motor itu.

"Please ya Cit. Aku aja yang bawa pagi ini."

"Ya Ela... Emang bisa bawa motor?" Tanya Cita karena putri Bramantyo itu sudah duduk manis di motor matic yang sengaja mereka sewa.

Cita yang tak sanggup jika harus naik mobil, memutuskan mereka menyewa sepeda motor.

"Bawa mobil yang rodanya empat aja aku bisa. Apalagi motor yang roda nya dua." Ucap Qiya sambil mengembung kan kedua pipi nya.

"Okelah. Semoga kita selamat sampai kerumah sakit." Ucap Cita sambil menurunkan kacamata yang ia naikkan di atas kepala.

Akhirnya sepasang dokter itu pun berangkat menggunakan sepeda motor matic berwarna pink. Qiya bisa mengendarai sepeda motor itu. Akan tetapi tak selincah Cita yang hampir setiap hari menggunakan sepeda motor matic itu. Ia sering sekali harus memeluk erat sahabatnya kala melewati macetnya ibu kota menggunakan sepeda motor matic milik Cita.

Namun saat akan berbelok ke arah rumah sakit, Cita tak melihat mobil yang di belakangnya yang juga akan masuk ke area rumah sakit itu. Dan terjadilah insiden yang tak disangka.

"Ciiiitttt....."

"Braaaaak!"

Suara benturan tak terlalu keras namun mampu membuat beberapa orang berlari ke arah Qiya dan Cita yang telah tergolek diatas aspal. Sang pemilik mobil pun keluar dari dalam mobil. Ia cepat menghampiri pengemudi motor yang baru saja ia tabrak. Motor yang tiba-tiba berbelok dan tak menghidupkan lampu sen membuat pengemudi mobil tak tahu jika motor matic di depan kendaraannya akan tiba-tiba berbelok Kanan.

Ternyata pengemudi mobil itu adalah dr. Gede. Sang dokter muda nan tampan itu pun sedikit kaget karena melihat Qiya tergeletak. Cita yang melihat dokter tampan pujaan hatinya yang menabrak mereka, ia pura-pura kesakitan. Padahal ia tak terluka sedikit pun. Ia juga tak merasakan sakit pada bagian kakinya. Justru Qiya yang terluka di bagian mata kaki kirinya. Daraaahnya cukup deras mengalir. Hal itu terlihat dari kaos kaki yang terlihat berwarna merah.

"Adoooohhhh... Tuhan.... sakit.... perih.... Seseorang tolong aku..." Rintih Cita dengan suara sedikit berteriak dan memejamkan matanya namun ia masih bisa mengawasi dr. Gede.

Beberapa orang mengangkat motor mereka. Sedangkan Qiya sibuk membantu Cita untuk berdiri.

"Mana yang sakit Cit? Astaghfirullah... " Ucap Qiya cemas.

Ia tak tahu jika itu hanya akal-akalan Cita agar. mendapatkan perhatian dari dr. Gede. Sang dokter pun melihat kaki Cita yang tak terluka. Ia melihat tak ada lebam. Namun saat ia melihat ke arah kaki yang berada di sebelahnya, membuat jiwa dokternya reflek memegang kaki yang terbungkus kaos kaki itu

"Anda terluka Dokter Qiya...." Ucap dr. Gede khawatir.

Pandangan dokter yang berasal dari Bali itu pun tertuju pada kaki dokter Isip yang terlihat berdaarah. Cita yang dari tadi memejamkan matanya seketika membuka kedua netranya.

"Whats.... aku yang sakit... malah Qiya yang diperhatikan. Dokter ga punya hati nurani. tampan-tampan tapi ga peka!." Gerutu Cita.

Cita pun sedikit kaget ketika melihat kearah kaki sahabat nya yang terlihat berdarah.

"Ya Tuhan.... Qiy... Lo terluka?" Ucap Cita sambil duduk berjongkok melihat kaki sang sahabat.

Kedua pasang mata melebarkan pupil nya karena melihat perempuan yang tadi meraung-raung kesakitan ternyata baik-baik saja. Bahkan ia dengan santainya duduk berjongkok.

"Anda tidak sakit lagi?" Tanya dr. Gede yang menatap Cita.

Sontak membuat putri Ayra itu menahan tawanya di saat ia harusnya meringis kesakitan karena mata kakinya yang memang terasa perih dan nyeri.

"Udah ga Dok. Dokter ga peka sih. Ini teman saya gimana ini? dokter tanggungjawab loh. Motor kami juga itu harus tanggung jawab!" Ucap Qiya. Namun tak terasa Qiya reflek mencubit lengan sahabatnya yang telah berdiri di sisi Qiya sambil memegangi lengannya.

"Wadidaw.... Ya ela... KDPS Kamu Qiy... aku belain kamu. Kamu malah mendaratkan ciuman jari-jari manis mu di perut ku. Sungguh terlalu kamu Qiy..." Sungut Cita karena merasa perutnya di cubit namun tak terlalu kuat sebenarnya.

Qiya sengaja melakukan itu karena dr. Gede adalah pembimbingnya. Ia tak ingin mencari masalah sehingga akan mempersulit ia mendapatkan surat izin praktik nya.

"Maafkan teman saya dokter... " Ucap Qiya seraya menundukkan kepalanya tanda permohonan maafnya pada sang dokter tampan nan manis itu.

"Tidak apa-apa, saya minta maaf. Saya tidak mengira jika anda mau berbelok. Karena anda tidak menghidupkan lampu sen." Ucap dokter Gede sedikit pelan dan ia lemparkan senyum. karena teringat kelakuan Cita.

"Udah nanti aja minta maafnya dokter. Ini kalau ada yang memberitahukan dunia Maya akan jadi berita viral. Putri seorang Eeemmmhh-" Belum selesai Cita melanjutkan ucapannya, mulut temannya yang suka ceplas ceplos itu pun terpaksa Qiya bungkam dengan tangan kanannya.

Ia tak ingin ada yang tahu jika ia anak Bramantyo Pradipta yang juga salah satu pemilik perusahaan yang mengolah hasil pertanian di kabupaten itu. Dokter Gede hanya tersenyum tipis melihat interaksi kedua sahabat itu. Ia tak menyangka jika perempuan yang dari kemarin selalu mencoba membuang pandangannya ketika tatapan mereka bertemu. Hari itu melemparkan senyum manis.

Hati yang hampir dua tahun terasa gersang akan getaran cinta pun seolah mendapatkan hujan di kala kemarau. Ada rasa hangat karena melihat senyum putri Bramantyo itu. Padahal putri Ayra itu terpaksa beberapa kali menyunggingkan senyumnya karena sungkan pada dokter pembimbing nya karena tingkah sang sahabat.

"Ayo dokter Qiya saya obati..." Ucap Dokter gede saat akan menuntun Qiya. Namun anak kedua Ayra itu cepat bersembunyi di balik tubuh Cita yang sedikit lebih pendek dari dirinya.

"Tidak perlu dok. Saya bisa jalan sendiri. Cita bisa baru saya. Terimakasih. Nanti biar Cita saja yang mengobati. Di di IGD." Pinta Qiya karena sungkan.

Ia juga tak ingin berinteraksi dengan lelaki sedekat itu. Dengan Hilman pun ia belum pernah bersentuhan. Mereka hanya berbicara tanpa ada kontak fisik selama proses kenalan hingga ke lamaran.

Penyematan cincin ke jari Qiya saat itu pun yang melakukan adalah Ibu dari Hilman. Hal itu ia utarakan pada EO acara lamaran antara dirinya dengan Hilman. Kenangan yang harusnya menjadi indah ketika diingat namun menjadi menyakitkan karena semua usaha ia, kakak dan adiknya gagal untuk memandikan moment itu menjadi sebuah sweet memories.

Bahkan Gaun pernikahan yang jika mempelai perempuan lain akan memilih bersama calon nya. Maka Qiya justru terbilang unik. Ia memilih gaunnya saat akan menikah di dampingi dua pria yang begitu mencintai dirinya sebelum Hilman. Ammar dan Ibrahim saat itu yang sibuk menilai ketika adiknya sampai berkali-kali mencoba gaun di sebuah butik yang merupakan milik Aisha.

Bahkan Ammar yang seleranya glamor harus berdebat dengan adiknya yang tak lain adalah Ibrahim karena gaun yang di pilih Ammar terlalu menunjukkan lekuk tubuh adiknya. Dan terlalu mewah hingga akhirnya Qiya yang merasa lelah pun meminta Papa nya lah yang menjadi penentu diantara dua pilihan yang berbeda itu. Dan berakhir Aisha harus membuat gaun baru dengan perpaduan dua model yang di perdebatkan dua putranya menjadi satu.

Ia pun saat itu teringat satu hal jika nanti diantara mereka. Ia lah yang akan membantu calon istri mereka memilih gaun pernikahan.

Saat tiba di sebuah ruangan IGD, Cita masih kesal karena tidak mendapatkan perhatian dokter Gede. Ia pun dengan setengah sewot meminta dokter Gede yang memberikan penanganan pada sahabatnya.

"Ya dokter tanggungjawab dong. Masa mau enaknya saja. Profesional dong dok.... pembimbing kan pas jam kerja. Ini belum jam kerja loh dok?" Protes Cita sambil melirik ke arah jam dinding.

Dokter Gede menghembuskan napasnya pelan. Ia pun cepat mencuci tangannya dengan Alkohol. Ia memberikan penanganan pada kaki Qiya.

"Tahan Ya..." Ucap Dokter Gede saat membersihkan luka Qiya dengan alkohol.

"Ssstttt.... Astaghfirullah...." Ucap Qiya sambil memejamkan matanya dan menahan sakit juga perih karena lukanya yang di siram alkohol.

Dengan posisi setengah menunduk, dokter Gede yang menatap Qiya justru semakin tak karuan.

"Hah.... Kenapa jadi dag Dig dug begini sih.... Apa karena dia mirip Mayang. Tapi kenapa rasanya berbeda. Hari ini lebih ke rasa senang. Bukan rasa sakit seperti kemarin." Batin Dokter Gede.

"Hem... Ati-ati dok. Dia muslim yang taat. Haram katanya memandang yang belum halal." Seloroh Cita sedikit berteriak karena dari tadi ia melihat dokter Gede yang salah tingkah dan sekarang memandang Qiya yang sedang terpejam.

Terpopuler

Comments

ummu rekyhan

ummu rekyhan

dramapun dimulai oleh dokter Cita....
🤣

2023-04-14

4

Ummi Alfa

Ummi Alfa

Siapa yang tidak akan terpesona oleh Qiya sama seperti mamanya Ayra selalu membuat smua orang terpesona selain dengan kecantikannya, kecerdasannya juga karena shalehahnya.
Termasuk Dr Gede selain Qiya mirip dengan mantannya tapi ada pesona lain yang di miliki Qiya yang membuat Dr Gede berdebar2.

2022-11-23

2

گسنيتي نيي

گسنيتي نيي

terluka tapi darah mm

2022-11-18

0

lihat semua
Episodes
1 Duka Keluarga Bramantyo
2 2 Ayra Terjatuh
3 3 Hilman dan Qiya
4 Ayra dan Keluarganya.
5 5 Hilman dan Pak Toha
6 6 Keputusan Qiya
7 7 Dua Keluarga Dua Rasa
8 8 Siapakah Perempuan Itu?
9 9. Nur Hasanah
10 10 Memilih Wahana Internship
11 11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12 12 Menanti Kejujuran
13 13 Kejujuran Bram
14 14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15 15 Qiya di Rumah Sakit
16 16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17 17 Isi Hati Si Kembar
18 18 Rasa Yang berbeda
19 19 Dokter Gede dan Qiya
20 20 Hati Qiya Yang Terusik
21 21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22 22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23 23 Qiya dan rasa dihatinya
24 24 Kedatangan Ayra dan Bram
25 25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26 26 Kembali Bertemu
27 27 Ammar dan Kepribadian nya
28 28 Apakah Ini Cinta?
29 29 Keputusan Ayra dan Bram
30 30 Keluarga Bram dan Ayra
31 Berita Tentang Ibrahim
32 32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33 33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34 34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35 35 Keresahan Hati Ammar
36 36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37 37 Lelaki Itu Ibrahim
38 38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39 39 Jantung Dokter Gede
40 40 Dokter Gede
41 41 Ammar dan Cintanya
42 42 Dokter Gede dan Qiya
43 43 Dua Hati Satu Cinta
44 44 Dua Hati Satu Cinta 2
45 45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46 46 Status Qiya dan Dua Pria
47 47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48 48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49 49 Kejujuran Ammar
50 50 Siapa Kamu?
51 51 Arumi Mayang Dahayu
52 52 Rasa Kecewa Ammar
53 53 Kebimbangan Ammar
54 54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55 55 Musyawarah Keluarga
56 56 Hati Qiya dan Arumi
57 57 Menanti Jawaban Arumi
58 58 Jawaban Arumi
59 59 Keputusan Bram
60 60 Dokter Gede PDKT
61 61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62 62 Ternyata dia Muslim
63 63 Perjuangan Dokter Gede 1
64 64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65 65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66 66 Habis Di Goda Ammar
67 67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68 68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69 69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70 70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71 71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72 72 Tamu tak diharapkan
73 73 Datang Disaat yang Tepat
74 74 Maksud dua Lelaki
75 75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76 76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77 77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78 78 Kedatangan Dua Lelaki
79 79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80 80 "Dek Qiya"
81 81 Dek Qiya Menangis?
82 82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83 83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84 84 Lamaran Gede untuk Qiya
85 85 Separuh Jiwa Nur
86 86 Calon Kakak Ipar
87 87 Kekhawatiran Bu Ratih
88 88 Ammar & Arumi "Sah"
89 89 Hati Ammar dan Arumi
90 90 Air mata Di Hari Bahagia
91 91 Malam Yang Dingin
92 92 Kompetisi Meraih Cinta
93 93 Ijab Gede dan Qiya
94 94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95 95 Satu Nama Dua Hati
96 96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97 97 Munajat Cinta
98 98 Gede dan Masalalunya
99 99 Gadis itu Siapa
100 100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101 101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102 102 Tiga Bulan Pernikahan
103 103 Kelembutan Hati
104 104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105 105 Arumi Dan Ammar
106 106 Flashback Arumi bersama Ayra
107 107 Dinginnya Australia
108 108 Apakah Aku ada Disana?
109 109 "Mas Ammar"
110 110 Kamu Dimana?
111 111 "I love you Arumi."
112 112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113 113 Saling Membuka Diri
114 114 Hati Yang Masih Tersakiti
115 115 Masalalu Pak Rendra
116 116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117 117 Cinta Penuh Kelembutan
118 118 Belajar dari Kisah
119 119 Keegoisan Pak Rendra
120 120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121 121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122 122 Kebahagiaan Putra Ayra
123 123 Luka Hati Bu Ratih
124 124 Penolakan Ratih
125 125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126 126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127 127 Dua Menantu Yang Bahagia
128 128 Ungkapan Hati Gede
129 129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130 130 Peran Qiya Sebagi Istri
131 131 Pesona The Twins
132 132 Siapa Kamu Arumi?
133 133 Skenario Allah
134 134 Kebenaran Untuk Arumi
135 135 Kebesaran Hati Gede
136 136 Kebahagiaan Pak Subroto
137 137 Arumi Koma
138 138 Tiga Keluarga
139 139 Kesedihan Ammar
140 140 Ikhtiar Ammar
141 141 Hasil Pemeriksaan
142 142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143 143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144 144 Flashback Bram dan Ayra
145 145 Rendra dan Masalalunya
146 146 Watak yang Keras
147 147 Permohonan maaf Pak Rendra
148 148 Kabar Duka
149 149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150 150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151 151 Semua karena Cinta
152 152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153 153 Mantan
154 154 Prasangka
155 155 Pesona Ammar
156 156 Otw Ending.
157 Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158 158 Kembar 3
159 159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160 160 Pemotretan
161 161 Keakraban keluarga Ayra
162 162 Perkenalan Zhafirah
163 163 Intermezo Zhafirah
164 164 Firasat Ayra
165 165 Ayra dan Kelima Cucunya
166 166 THE END
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Duka Keluarga Bramantyo
2
2 Ayra Terjatuh
3
3 Hilman dan Qiya
4
Ayra dan Keluarganya.
5
5 Hilman dan Pak Toha
6
6 Keputusan Qiya
7
7 Dua Keluarga Dua Rasa
8
8 Siapakah Perempuan Itu?
9
9. Nur Hasanah
10
10 Memilih Wahana Internship
11
11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12
12 Menanti Kejujuran
13
13 Kejujuran Bram
14
14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15
15 Qiya di Rumah Sakit
16
16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17
17 Isi Hati Si Kembar
18
18 Rasa Yang berbeda
19
19 Dokter Gede dan Qiya
20
20 Hati Qiya Yang Terusik
21
21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22
22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23
23 Qiya dan rasa dihatinya
24
24 Kedatangan Ayra dan Bram
25
25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26
26 Kembali Bertemu
27
27 Ammar dan Kepribadian nya
28
28 Apakah Ini Cinta?
29
29 Keputusan Ayra dan Bram
30
30 Keluarga Bram dan Ayra
31
Berita Tentang Ibrahim
32
32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33
33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34
34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35
35 Keresahan Hati Ammar
36
36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37
37 Lelaki Itu Ibrahim
38
38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39
39 Jantung Dokter Gede
40
40 Dokter Gede
41
41 Ammar dan Cintanya
42
42 Dokter Gede dan Qiya
43
43 Dua Hati Satu Cinta
44
44 Dua Hati Satu Cinta 2
45
45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46
46 Status Qiya dan Dua Pria
47
47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48
48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49
49 Kejujuran Ammar
50
50 Siapa Kamu?
51
51 Arumi Mayang Dahayu
52
52 Rasa Kecewa Ammar
53
53 Kebimbangan Ammar
54
54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55
55 Musyawarah Keluarga
56
56 Hati Qiya dan Arumi
57
57 Menanti Jawaban Arumi
58
58 Jawaban Arumi
59
59 Keputusan Bram
60
60 Dokter Gede PDKT
61
61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62
62 Ternyata dia Muslim
63
63 Perjuangan Dokter Gede 1
64
64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65
65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66
66 Habis Di Goda Ammar
67
67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68
68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69
69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70
70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71
71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72
72 Tamu tak diharapkan
73
73 Datang Disaat yang Tepat
74
74 Maksud dua Lelaki
75
75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76
76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77
77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78
78 Kedatangan Dua Lelaki
79
79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80
80 "Dek Qiya"
81
81 Dek Qiya Menangis?
82
82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83
83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84
84 Lamaran Gede untuk Qiya
85
85 Separuh Jiwa Nur
86
86 Calon Kakak Ipar
87
87 Kekhawatiran Bu Ratih
88
88 Ammar & Arumi "Sah"
89
89 Hati Ammar dan Arumi
90
90 Air mata Di Hari Bahagia
91
91 Malam Yang Dingin
92
92 Kompetisi Meraih Cinta
93
93 Ijab Gede dan Qiya
94
94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95
95 Satu Nama Dua Hati
96
96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97
97 Munajat Cinta
98
98 Gede dan Masalalunya
99
99 Gadis itu Siapa
100
100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101
101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102
102 Tiga Bulan Pernikahan
103
103 Kelembutan Hati
104
104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105
105 Arumi Dan Ammar
106
106 Flashback Arumi bersama Ayra
107
107 Dinginnya Australia
108
108 Apakah Aku ada Disana?
109
109 "Mas Ammar"
110
110 Kamu Dimana?
111
111 "I love you Arumi."
112
112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113
113 Saling Membuka Diri
114
114 Hati Yang Masih Tersakiti
115
115 Masalalu Pak Rendra
116
116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117
117 Cinta Penuh Kelembutan
118
118 Belajar dari Kisah
119
119 Keegoisan Pak Rendra
120
120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121
121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122
122 Kebahagiaan Putra Ayra
123
123 Luka Hati Bu Ratih
124
124 Penolakan Ratih
125
125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126
126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127
127 Dua Menantu Yang Bahagia
128
128 Ungkapan Hati Gede
129
129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130
130 Peran Qiya Sebagi Istri
131
131 Pesona The Twins
132
132 Siapa Kamu Arumi?
133
133 Skenario Allah
134
134 Kebenaran Untuk Arumi
135
135 Kebesaran Hati Gede
136
136 Kebahagiaan Pak Subroto
137
137 Arumi Koma
138
138 Tiga Keluarga
139
139 Kesedihan Ammar
140
140 Ikhtiar Ammar
141
141 Hasil Pemeriksaan
142
142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143
143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144
144 Flashback Bram dan Ayra
145
145 Rendra dan Masalalunya
146
146 Watak yang Keras
147
147 Permohonan maaf Pak Rendra
148
148 Kabar Duka
149
149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150
150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151
151 Semua karena Cinta
152
152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153
153 Mantan
154
154 Prasangka
155
155 Pesona Ammar
156
156 Otw Ending.
157
Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158
158 Kembar 3
159
159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160
160 Pemotretan
161
161 Keakraban keluarga Ayra
162
162 Perkenalan Zhafirah
163
163 Intermezo Zhafirah
164
164 Firasat Ayra
165
165 Ayra dan Kelima Cucunya
166
166 THE END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!