Pagi hari yang cerah. Cita terlihat tetap bersemangat. Begitupun dengan Qiya. Sepasang sahabat itu pun ke rumah sakit menggunakan motor yang mereka sewa selama menjalani internship untuk ke rumah sakit. Hal yang begitu membuat Qiya merasakan suasana baru. Ia pagi itu pun meminta pada sahabatnya untuk dia yang membawa sepeda motor itu.
"Please ya Cit. Aku aja yang bawa pagi ini."
"Ya Ela... Emang bisa bawa motor?" Tanya Cita karena putri Bramantyo itu sudah duduk manis di motor matic yang sengaja mereka sewa.
Cita yang tak sanggup jika harus naik mobil, memutuskan mereka menyewa sepeda motor.
"Bawa mobil yang rodanya empat aja aku bisa. Apalagi motor yang roda nya dua." Ucap Qiya sambil mengembung kan kedua pipi nya.
"Okelah. Semoga kita selamat sampai kerumah sakit." Ucap Cita sambil menurunkan kacamata yang ia naikkan di atas kepala.
Akhirnya sepasang dokter itu pun berangkat menggunakan sepeda motor matic berwarna pink. Qiya bisa mengendarai sepeda motor itu. Akan tetapi tak selincah Cita yang hampir setiap hari menggunakan sepeda motor matic itu. Ia sering sekali harus memeluk erat sahabatnya kala melewati macetnya ibu kota menggunakan sepeda motor matic milik Cita.
Namun saat akan berbelok ke arah rumah sakit, Cita tak melihat mobil yang di belakangnya yang juga akan masuk ke area rumah sakit itu. Dan terjadilah insiden yang tak disangka.
"Ciiiitttt....."
"Braaaaak!"
Suara benturan tak terlalu keras namun mampu membuat beberapa orang berlari ke arah Qiya dan Cita yang telah tergolek diatas aspal. Sang pemilik mobil pun keluar dari dalam mobil. Ia cepat menghampiri pengemudi motor yang baru saja ia tabrak. Motor yang tiba-tiba berbelok dan tak menghidupkan lampu sen membuat pengemudi mobil tak tahu jika motor matic di depan kendaraannya akan tiba-tiba berbelok Kanan.
Ternyata pengemudi mobil itu adalah dr. Gede. Sang dokter muda nan tampan itu pun sedikit kaget karena melihat Qiya tergeletak. Cita yang melihat dokter tampan pujaan hatinya yang menabrak mereka, ia pura-pura kesakitan. Padahal ia tak terluka sedikit pun. Ia juga tak merasakan sakit pada bagian kakinya. Justru Qiya yang terluka di bagian mata kaki kirinya. Daraaahnya cukup deras mengalir. Hal itu terlihat dari kaos kaki yang terlihat berwarna merah.
"Adoooohhhh... Tuhan.... sakit.... perih.... Seseorang tolong aku..." Rintih Cita dengan suara sedikit berteriak dan memejamkan matanya namun ia masih bisa mengawasi dr. Gede.
Beberapa orang mengangkat motor mereka. Sedangkan Qiya sibuk membantu Cita untuk berdiri.
"Mana yang sakit Cit? Astaghfirullah... " Ucap Qiya cemas.
Ia tak tahu jika itu hanya akal-akalan Cita agar. mendapatkan perhatian dari dr. Gede. Sang dokter pun melihat kaki Cita yang tak terluka. Ia melihat tak ada lebam. Namun saat ia melihat ke arah kaki yang berada di sebelahnya, membuat jiwa dokternya reflek memegang kaki yang terbungkus kaos kaki itu
"Anda terluka Dokter Qiya...." Ucap dr. Gede khawatir.
Pandangan dokter yang berasal dari Bali itu pun tertuju pada kaki dokter Isip yang terlihat berdaarah. Cita yang dari tadi memejamkan matanya seketika membuka kedua netranya.
"Whats.... aku yang sakit... malah Qiya yang diperhatikan. Dokter ga punya hati nurani. tampan-tampan tapi ga peka!." Gerutu Cita.
Cita pun sedikit kaget ketika melihat kearah kaki sahabat nya yang terlihat berdarah.
"Ya Tuhan.... Qiy... Lo terluka?" Ucap Cita sambil duduk berjongkok melihat kaki sang sahabat.
Kedua pasang mata melebarkan pupil nya karena melihat perempuan yang tadi meraung-raung kesakitan ternyata baik-baik saja. Bahkan ia dengan santainya duduk berjongkok.
"Anda tidak sakit lagi?" Tanya dr. Gede yang menatap Cita.
Sontak membuat putri Ayra itu menahan tawanya di saat ia harusnya meringis kesakitan karena mata kakinya yang memang terasa perih dan nyeri.
"Udah ga Dok. Dokter ga peka sih. Ini teman saya gimana ini? dokter tanggungjawab loh. Motor kami juga itu harus tanggung jawab!" Ucap Qiya. Namun tak terasa Qiya reflek mencubit lengan sahabatnya yang telah berdiri di sisi Qiya sambil memegangi lengannya.
"Wadidaw.... Ya ela... KDPS Kamu Qiy... aku belain kamu. Kamu malah mendaratkan ciuman jari-jari manis mu di perut ku. Sungguh terlalu kamu Qiy..." Sungut Cita karena merasa perutnya di cubit namun tak terlalu kuat sebenarnya.
Qiya sengaja melakukan itu karena dr. Gede adalah pembimbingnya. Ia tak ingin mencari masalah sehingga akan mempersulit ia mendapatkan surat izin praktik nya.
"Maafkan teman saya dokter... " Ucap Qiya seraya menundukkan kepalanya tanda permohonan maafnya pada sang dokter tampan nan manis itu.
"Tidak apa-apa, saya minta maaf. Saya tidak mengira jika anda mau berbelok. Karena anda tidak menghidupkan lampu sen." Ucap dokter Gede sedikit pelan dan ia lemparkan senyum. karena teringat kelakuan Cita.
"Udah nanti aja minta maafnya dokter. Ini kalau ada yang memberitahukan dunia Maya akan jadi berita viral. Putri seorang Eeemmmhh-" Belum selesai Cita melanjutkan ucapannya, mulut temannya yang suka ceplas ceplos itu pun terpaksa Qiya bungkam dengan tangan kanannya.
Ia tak ingin ada yang tahu jika ia anak Bramantyo Pradipta yang juga salah satu pemilik perusahaan yang mengolah hasil pertanian di kabupaten itu. Dokter Gede hanya tersenyum tipis melihat interaksi kedua sahabat itu. Ia tak menyangka jika perempuan yang dari kemarin selalu mencoba membuang pandangannya ketika tatapan mereka bertemu. Hari itu melemparkan senyum manis.
Hati yang hampir dua tahun terasa gersang akan getaran cinta pun seolah mendapatkan hujan di kala kemarau. Ada rasa hangat karena melihat senyum putri Bramantyo itu. Padahal putri Ayra itu terpaksa beberapa kali menyunggingkan senyumnya karena sungkan pada dokter pembimbing nya karena tingkah sang sahabat.
"Ayo dokter Qiya saya obati..." Ucap Dokter gede saat akan menuntun Qiya. Namun anak kedua Ayra itu cepat bersembunyi di balik tubuh Cita yang sedikit lebih pendek dari dirinya.
"Tidak perlu dok. Saya bisa jalan sendiri. Cita bisa baru saya. Terimakasih. Nanti biar Cita saja yang mengobati. Di di IGD." Pinta Qiya karena sungkan.
Ia juga tak ingin berinteraksi dengan lelaki sedekat itu. Dengan Hilman pun ia belum pernah bersentuhan. Mereka hanya berbicara tanpa ada kontak fisik selama proses kenalan hingga ke lamaran.
Penyematan cincin ke jari Qiya saat itu pun yang melakukan adalah Ibu dari Hilman. Hal itu ia utarakan pada EO acara lamaran antara dirinya dengan Hilman. Kenangan yang harusnya menjadi indah ketika diingat namun menjadi menyakitkan karena semua usaha ia, kakak dan adiknya gagal untuk memandikan moment itu menjadi sebuah sweet memories.
Bahkan Gaun pernikahan yang jika mempelai perempuan lain akan memilih bersama calon nya. Maka Qiya justru terbilang unik. Ia memilih gaunnya saat akan menikah di dampingi dua pria yang begitu mencintai dirinya sebelum Hilman. Ammar dan Ibrahim saat itu yang sibuk menilai ketika adiknya sampai berkali-kali mencoba gaun di sebuah butik yang merupakan milik Aisha.
Bahkan Ammar yang seleranya glamor harus berdebat dengan adiknya yang tak lain adalah Ibrahim karena gaun yang di pilih Ammar terlalu menunjukkan lekuk tubuh adiknya. Dan terlalu mewah hingga akhirnya Qiya yang merasa lelah pun meminta Papa nya lah yang menjadi penentu diantara dua pilihan yang berbeda itu. Dan berakhir Aisha harus membuat gaun baru dengan perpaduan dua model yang di perdebatkan dua putranya menjadi satu.
Ia pun saat itu teringat satu hal jika nanti diantara mereka. Ia lah yang akan membantu calon istri mereka memilih gaun pernikahan.
Saat tiba di sebuah ruangan IGD, Cita masih kesal karena tidak mendapatkan perhatian dokter Gede. Ia pun dengan setengah sewot meminta dokter Gede yang memberikan penanganan pada sahabatnya.
"Ya dokter tanggungjawab dong. Masa mau enaknya saja. Profesional dong dok.... pembimbing kan pas jam kerja. Ini belum jam kerja loh dok?" Protes Cita sambil melirik ke arah jam dinding.
Dokter Gede menghembuskan napasnya pelan. Ia pun cepat mencuci tangannya dengan Alkohol. Ia memberikan penanganan pada kaki Qiya.
"Tahan Ya..." Ucap Dokter Gede saat membersihkan luka Qiya dengan alkohol.
"Ssstttt.... Astaghfirullah...." Ucap Qiya sambil memejamkan matanya dan menahan sakit juga perih karena lukanya yang di siram alkohol.
Dengan posisi setengah menunduk, dokter Gede yang menatap Qiya justru semakin tak karuan.
"Hah.... Kenapa jadi dag Dig dug begini sih.... Apa karena dia mirip Mayang. Tapi kenapa rasanya berbeda. Hari ini lebih ke rasa senang. Bukan rasa sakit seperti kemarin." Batin Dokter Gede.
"Hem... Ati-ati dok. Dia muslim yang taat. Haram katanya memandang yang belum halal." Seloroh Cita sedikit berteriak karena dari tadi ia melihat dokter Gede yang salah tingkah dan sekarang memandang Qiya yang sedang terpejam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
ummu rekyhan
dramapun dimulai oleh dokter Cita....
🤣
2023-04-14
4
Ummi Alfa
Siapa yang tidak akan terpesona oleh Qiya sama seperti mamanya Ayra selalu membuat smua orang terpesona selain dengan kecantikannya, kecerdasannya juga karena shalehahnya.
Termasuk Dr Gede selain Qiya mirip dengan mantannya tapi ada pesona lain yang di miliki Qiya yang membuat Dr Gede berdebar2.
2022-11-23
2
گسنيتي نيي
terluka tapi darah mm
2022-11-18
0