Selama memeriksa Nur tampak dr Gede tak terlalu fokus. Pikirannya sedikit terganggu karena kehadiran dokter internship yang tak lain adalah Qiya. Sedangkan Nur yang biasa menjadi agen intelejen bisa melihat pandangan Gede pada Qiya. Dari gesture dr Gede terlihat ia sangat tak nyaman dengan kehadiran Qiya.
Karena dari kemarin dokter itu itu tak bersikap seperti itu. Setelah selesai memeriksa, Qiya pun mencatat apa yang disampaikan oleh dr Gede selaku pembimbing ia dan teman-temannya yang akan menjalani internship selama 8 bulan di rumah sakit itu.
Selepas kepergian Qiya dan dokter juga satu perawat. Ayra keluar dari dalam kamar mandi.
"Ada apa Ma?" Tanya Nur.
Ayra yang mendapatkan pertanyaan itu menarik kursi di sisi Nur. Ia duduk di sisi sang menantu.
"Kamu lihat ada dokter perempuan berkerudung hijau tadi?" Tanya Ayra pada Nur.
"Iya Ma." Jawab Nur singkat.
"Dia adalah kakak Ibrahim. Allah betul-betul ingin mendekatkan kita, mungkin agar Mama berkata jujur pada Qiya. Tapi kemarin mama membaca surat perjanjian yang di tandatangani oleh Papa Ibrahim beberapa tahun lalu, membuat Mama tak mampu mengatakan yang sebenarnya. Juga Mama tak bisa berbohong pada Anak-anak Mama. Bagaimana Bibir ini bisa berbohong pada mereka sedangkan sedari kecil Mama mengajari mereka untuk jujur...." Ucap Ayra dengan berat hati.
Nur mengusap punggung tangan Ibu mertuanya.
"Maafkan Mas Ibra Ma. Dan maafkan Nur jadi merepotkan Papa dan Mama." Ucap Nur pelan.
"Tidak... jangan pernah katakan kamu merepotkan Mama dan Papa. Kamu adalah bagian dari Mama dan Papa. Tidak ada yang direpotkan, tetapi saling bahu membahu itulah harusnya keluarga." Jelas Ayra pada sang menantu.
"Dan sepertinya Mama juga akan segera memiliki menantu lelaki. Dokter tadi terlihat kaku sekali karena kehadiran Mbak Qiya. Padahal kemarin ia tidak seperti itu. Sepertinya ia terganggu karena kehadiran Mbak Qiya." Ucap Nur sambil tersenyum.
Ayra mengernyitkan dahinya. Wajahnya berubah sendu.
"Ia dan Ibrahim ada kesamaan Nur. Mereka pandai menyimpan rasa di hati mereka tanpa orang lain tahu. Tapi Mama bisa merasakan dan tahu apa yang dirasakan Qiya. Tapi Mama bahagia karena itu salah satu bekal untuk nanti ketika ia berumah tangga." Ucap Ayra sambil menahan tangisnya.
Ayra adalah sosok perempuan yang amat mudah menjatuhkan air matanya. Sedangkan Qiya, ia pun bisa menjatuhkan air mata. Tetapi ia tak akan menunjukkan air mata jika itu menyangkut perasaan atau masalah pribadinya. Terlebih di hadapan Ayra dan keluarganya.
Ayra pun menceritakan pada Nur bahwa Qiya baru saja gagal menikah. Dimana pernikahan itu dibatalkan pihak lelaki karena kabar yang belum jelas kebenarannya dan tepat di hari meninggalnya Sang kakek.
"Benar-benar keluarga yang memiliki Pesona..." Batin Nur.
Ia yang merupakan anggota intelejen saat itu pun tertipu pada wajah imut sang suami. Ia mengira suaminya betul-betul seorang buruh TKI. Kini satu persatu rahasia atau jati diri Ibrahim mulai terbuka, ia melihat sisi indah dari keluarga sang suami. Dari Bram, Ayra dan kini Qiya.
Saat menantu dan anak itu asyik melihat album foto Ibrahim. Seorang dokter yang dari tadi gelisah, hatinya kembali mengingat seorang perempuan yang pergi tepat di hari pernikahannya. Kalila Mayang Dahayu, seorang gadis cantik, cerdas dan keibuan. Gadis itu menyakiti hati dr Gede. Hati lelaki mana yang tak hancur, saat pesta pernikahan telah siap. Tepat di hari H, mempelai perempuan justru pergi meninggalkan dirinya.
Satu alasan yang membuat ia pindah dari Bali ke kabupaten yang masih tertinggal itu. Ia pun melihat satu cincin pernikahan yang masih ia simpan di dalam tas kerjanya. Cincin itu mempunyai fitur yang tersembunyi, terlihat batu safir biru yang terletak pada bagian bawah berlian yang membentuk seperti jam pasir.
"Kenapa perempuan itu mirip kamu Mayang. Sesakit inikah kembali mengingat masalalu...." Ucap dr. Gede.
Saat ia sedang memegang cincin itu. Pintu di ketuk dari luar karena kaget dr Gede pun tak sengaja menjatuhkan cincin itu. Sedangkan bibir reflek mengatakan kalimat 'masuk', maka pintu pun terbuka. Tepat pintu itu terbuka, seorang gadis yang kembali mengingatkan dirinya pada masa lalunya kini berdiri di depan pintu. Dan ia melihat cincin yang menggelinding ke arahnya.
Cincin itu berhenti tepat diujung sepatunya. Qiya mengambil cincin itu. Saat ia menoleh dr. Gede, sang dokter justru memandang Qiya tak berkedip. Putri Ayra itu cepat menundukkan pandangannya. Ia tak ingin pandangan mereka bertemu.
"Maaf dok... saya mau bertanya tentang resep untuk pasien yang akan pulang besok pagi, obat yang dokter resepkan sedang kosong apakah boleh di ganti dengan yang sejenis?." Jelas Qiya sambil berjalan dan meletakkan cincin itu di mejar dr. Gede.
Ia sempat melirik cincin itu. Sebuah cincin yang indah. Cincin yang belum di sentuh bahkan di lihat calon mempelai perempuan karena ia pergi di hari pernikahannya.
"Duduk..." Ucap dr. Gede.
Ia mengambil cincin itu lalu menyimpannya di dalam tas kerjanya kembali. dr Gede melihat resep yang ia tulis.
"Saya buatkan resep baru agar bisa di cari di apotik luar. Pasien ada riwayat alergi." Ucap dr Gede tanpa memandang Qiya.
Qiya pun tak berani menatap dokter Isip itu. Entah kenapa ia merasa sangat sakit setiap melihat wajah Qiya. Sehingga ia memilih tak ingin melihat atau memandang Qiya. Saat selesai menulis resep baru. Qiya pun pamit dari ruangan itu. Ia pun langsung langsung kembali ke ruangannya untuk meletakkan resep itu ke dalam rak yang telah tertempel nama pasien di depannya yang akan diambil perawat.
Selepas kepergian Qiya, dr. Gede hanya melihat cincin yang tergeletak di dalam tas nya.
"Kenapa hati ini berdebar tak karuan." Ucap dr Gede dengan wajah sendu.
Saat di dalam ruangan nya Qiya mendengar beberapa perawat membincangkan dr yang baru saja ia temui.
"Kabarnya sudah menikah, sayang sekali. Tampan ya." komentar perawat berbaju merah
"Tampan juga kalau beda keyakinan aku ga mau lah... bisa repot nantinya." Ucap salah satu dari perawat yang juga berkerudung.
Qiya hanya tersenyum mendengar mereka asyik bergosip tentang lelaki yang terkenal irit bicara namun tampan dan memiliki postur tubuh yang cukup tinggi.
Saat sore hari, Ia pulang bersama Cita. Tiba di kamar, sahabatnya yang merupakan pencinta drama Korea itu segera menginterogasi Qiya.
"Qiy... kamu ketemu sama dokter opa opa ga?" Tanya Cita yang melempar jad putihnya ke arah tempat tidur dan merebahkan diri diatas kasur empuk.
"Opa Opa? ga tahu Cit. Sibuk hari ini aku sibuk karena banyaknya yang rawat inap, mana tulisan dokternya itu sulit di mengerti belum lagi bicaranya juga pelan sekali." Ucap Qiya sambil mengambil jas putih sahabatnya itu. Lalu ia pasangkan hanger kemudian ia gantungkan di belakang pintu.
Cita terlihat memegang kedua pipinya. Wajahnya terlihat bahagia dan kedua matanya pun berbinar.
"Yang bikin aku langsung klepek-klepek ma tuh dokter. Keyakinannya sama dengan ku Qiy... Ah... aku jadi semangat di wahana ini." Ucap Cita sambil memandangi langit-langit kamar.
Qiya hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu. Cita memang sering sekali jatuh hati pada lelaki yang berwajah tampan tapi ketika ia tahu jika lelaki itu beragama tak sama dengan dirinya, seketika ia pun akan langsung kecewa.
"Qiy... komen kek apa... Dari tadi diem aja." Protes Cita pada sahabatnya yang sibuk merapikan kamar mereka. Pagi tadi ia dan Cita terburu-buru, maka belum sempat merapikan kamar.
"Ya aku ga tahu komentar apa. Lagian kamu itu sudah sering sekali jatuh hati cuma karena dia tampan." Ucap Qiya sambil membuang tisu yang ia pakai untuk membersihkan kaca di kamar mereka kedalam kotak sampah.
"Ini udah pasti akan aku perjuangkan Qiy. Dari namanya saja sudah sama dengan agama ku. Namanya Gede Ardhana... Dokter Gede Ardhana dengan dokter Cita Adhisti kan cucok banget Qiy.... " Ucap Cita sambil memeluk guling.
"O... dokter Gede. Ya dia pembimbing ku selama di instalasi rawat inap." Ucap Qiya cuek sambil melepaskan jarum pentul dari bawah dagunya.
"What's! Jadi pembimbing mu Dokter Gede?" Ucap Cita kaget. Ia pun langsung bangkit dari posisinya dan duduk di ujung kasur.
Bersambung.....
[Jangan protes dulu ya Mak Mak, Bapak-bapak. Nikmati aja dulu jalan ceritanya. Yakin Persahabatan Qiya dan Cita ga akan aku pisahkan cuma karena laki... Dan simpan pertanyaan kalian kenapa kenapa. Yang jelas disini kisah cinta Qiya bakal beda sama Ayra.]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
💞R0$€_22💞
Antisipasi dl nih authornya...😅😅😅😅...jozzz...👍
2023-08-22
3
Neng Siti Nur R
waaahh keren bgt kk,,lanjut terus k,,tetap semangt ya k bikin novel ny
2023-06-02
0
Widi Astuti
lanjut Bunda Othoor.....😍😍😍🌹🌹🌹🌹
2023-04-24
0