Saat melewati beberapa tempat wisata kedua netra Qiya melebar dengan sempurna. Ia terpesona dengan hamparan pemandangan yang begitu memanjakan mata.
"Masyaallah tempat yang katanya 3T ini punya sejuta pesona dan panaroma alam yang menakjubkan." Batin Qiya sambil menikmati setiap pemandangan selama perjalanan.
Akhirnya mereka tiba di suatu kontrakan. Mereka memutuskan untuk memilih tinggal bersama-sama selama menjalani internship di kabupaten itu. Maka sepuluh dokter itu tinggal di rumah yang tergolong cukup layak karena bangunan sudah permanen. Rumah tersebut milik warga yang telah pindah ke kota. Rumah mantan dokter juga.
Lokasi rumah itu dipilih karena tak jauh dari rumah sakit, hanya butuh waktu 20 menit untuk kerumah sakit tersebut. Rumah itu juga di pilih oleh seorang dokter internship yang tadi sempat menggerutu selama di dalam mobil. Ia dan beberapa rekannya yang kemarin survey lokasi dan juga memilih tempat mereka tinggal. Nama lelaki itu adalah Alam Laksono atau biasa dipanggil Alam.
Karena kamar yang terbatas maka mereka tidur berpasangan. Cita tentu langsung meminta agar dirinya bersama sahabat nya. Dan Adit kembali merasa tak suka dengan Cita juga Qiya.
"Kalian tak ingin membaur?" Tanya Alam sedikit ketus.
"Maaf ya Mas Alam. Saya kalau malam tidurnya Agak seram. Nah daripada 4 orang dokter ini tahu aib saya. Lebih baik teman saya ini saja yang sudah hapal kebiasaan dan kejelekan saya." Ucap Cita cepat menarik tangan Qiya. Mereka memilih kamar pertama.
Qiya baru ingin memanggil temannya itu. Tetapi Cita cuek saja. Ia tak suka dengan Alam karena dari kemarin ketika bertemu lelaki itu selalu ketus dan irit berbicara.
"Dokter kok begitu. Pasiennya bakal susah sembuh. Lah wong ketus, jutek begitu." Gerutu Cita saat masuk ke kamar. Ia pun langsung merebahkan diri diatas kasur tanpa ranjang itu.
"Ya ga boleh gitu juga Cit. Harusnya kita berterima kasih. Karena dia kita tidak harus susah-susah cari tempat tinggal." Ucap Qiya pelan.
Satu hari itu mereka beristirahat karena keesokan harinya mereka berangkat ke rumah sakit yang merupakan wahana internship mereka.
Saat penerimaan Qiya dan teman-teman di RS. Mereka mendengarkan dengan seksama pesan pimpinan rumah sakit itu.
"Saya harap para dokter agar selama bertugas di wahana ini dapat memberikan pelayanan yang baik pada pasien. Serta bisa memberikan citra yang positif kepada para pasien yang akan berobat." Ucap Kepala RS tersebut sebelum menutup acar itu.
Mereka pun di bagi menjadi Tiga Tim. Dimana mereka aga bergiliran. Ada yang akan ditempatkan di rumah sakit dan satu tim di puskesmas. Dan mereka juga akan bergiliran selama 4 bulan untuk yang di puskesmas. Dan ada yang di UGD ada yang di Poly selama 8 bulan.
Hari itu mereka harus langsung beradaptasi dengan lingkungan wahana di RS itu. Qiya selama 4 bulan mendapatkan tugas di IGD bersama Qiya dan juga Alam. Mereka menjadi satu Tim.
"Oh Tuhan... kenapa ketemu lagi sama mereka. Kenapa tidak Tim yang lain." Gerutu Alam.
Sedangkan Cita memasang wajah juteknya.
"Kenapa Cit?" Tanya Qiya.
"Males, bad mood. Kenapa sama Alam ghoib itu." Gerutu Cita.
"Cit... Ga boleh gitu. Kamu itu namanya bolak takdir. Katanya harus siap menjemput surat izin praktik biar bisa di panggil Cita Adhisti, Sp.A. Lah belum juga berjuang udah bad mood." Ingat Qiya pada sahabatnya yang sudah cemberut mendengar nama Alam sebagai tim yang akan bersama di IGD.
Qiya pun sedikit menggoda sahabatnya itu.
"Awas nanti lama-lama jadi cinta kalau sudah kelewat benci."
"Ya ampun Qiy. Gue cinta sama Alam ghoib itu. Ga pakek banget! Beda agama. Satu agama aja kalau beda keyakinan gue ogah.... Amit-amit cabang orok." Gerutu Cita.
Qiya menahan tawanya. Namun Alam dari tadi memperhatikan dua sahabat yang asik berbincang. Mereka pun akhirnya pergi ketempat dimana mereka bertugas. Namun di depan rumah sakit. Ayra telah datang kerumah sakit itu. Ia ingin menemani menantunya. Ada rasa bahagia di hari Ayra begitu ia tahu jika sebentar lagi ia akan memiliki cucu.
"Rasanya aku sudah merasa sangat tua. Sebentar lagi akan menjadi nenek. Rasanya baru kemarin aku menikah." Ucap Ayra dalam hatinya.
Namun saat ia hampir tiba di dalam ruangan Nur. Ia melihat sosok putrinya dan Cita. Hari pertama ia melihat putrinya mengenakan jas berwarna putih serta terdapat saku di bagian kanan dan kirinya. Dan juga satu saku di bagian kiri atas. Qiya mengenakan Jas putih berlengan pendek. Karena ketika putrinya menjalani coass, ia belum diperbolehkan memakai jas dokter. Saat itu ia memakai jas seperti jas laboratorium.
"Masyaallah... Mama merasa bangga sekali melihat mu bisa menggapai cita-cita mu Qiy. Mama tahu kamu sebenarnya ingin menenangkan pikiran mu dan banyak pertanyaan yang mengarah untuk mu karena batal menikah. Tapi Mama tahu hari mu terluka Nak. Hati mu menangis." Batin Ayra sambil berdiri di balik tiang rumah sakti dan memegang paper bag yang berisi sebuah album Ibrahim semasa kecil hingga dewasa. Juga makan siang yang ia masak untuk sang menantu.
Saat Qiya dan dua temannya telah menghilang di balik pintu yang mengarah ke ruang IGD. Ayra cepat masuk kedalam ruangan Nur. Pagi itu Nur terluar lebih segar. Matanya juga tak terlihat cekung lagi. Nur menyambut senang kehadiran sang ibu mertua.
"Ada apa Ma kenapa seperti terburu-buru?" Tanya Nur.
Ayra hanya tersenyum dan mengatakan jika ia khawatir ada yang membuntuti. Ia pun membuka paper bag yang ia bawa.
"Biar Nur makan sendiri saja Ma. Tangannya tidak sakit kok." Pinta Nur pada Ayra yang siap akan menyuapi dirinya.
"Baiklah. Di habiskan ya Nur. Labu kuning itu baik untuk janin. Mama dulu waktu hamil muda maka Labu Kuning dan roti-roti yang bisa diterima kalau pagi hari. Kamu tidak mengalami mual muntah?" Tanya Ayra penasaran.
"Alhamdulilah tidak Ma. Tapi Bawak an nya ingin menangis terus." Ucap Nur sebelum memakan menu yang ada di piringnya.
"Baiklah makanlah dulu." Ucap Ayra.
Istri Bramantyo itu pun mengirimkan pesan pada anaknya. Ia menanyakan apa kabar di hari pertama bertugas. Namun pesan yang terkirim belum berubah warna tanda pemilik ponsel belum membuka pesan dari Ayra. Namun seketika jantung ibu tiga anak itu kembali berdetak tak beraturan. Sebuah panggilan Video call dari putra sulung membuat ia bingung. Ia memandangi sekeliling. Ia pun merubah posisi duduknya agar tak terlihat seperti berada di rumah sakit.
Setelah menjawab salam sang anak. Ia menanyakan kabar dari putra sulungnya.
"Bagaimana kabar mu Nak?" Tanya Ayra cepat.
"Baik Ma. Cuma sinus nya berapa hari ini kambuh." keluh Ammar pada sang Mama.
"Sudah minum obatnya?" Tanya Ayra khawatir.
"Sudah Ma. Mama lagi dimana?"
"Mama lagi membesuk seseorang di rumah sakit. Kamu kapan pulang Nak?" Tanya Ayra.
"Minggu depan Ma. Seketika Ayra yang mendengar suara Putrinya. Ia reflek menutup panggilan itu. Ia pun bergegas setengah berlari ke toilet.
Nur hanya memandang ibunya penasaran.
Saat pintu itu terbuka Seorang dokter satu perawat masuk. Putri Ayra itu ternyata di pindah oleh Pembimbing agar menangani pasien yang rawat inap. Sehingga Alam bersama Cita di IGD. Hal itu karena banyaknya pasien yang rawat inap. Siang itu waktu kontrol untuk Nur. Dan kamar itu adalah pasien ke empat yang Qiya periksa. Ayra hanya mampu bersembunyi di balik pintu itu. Ia bingung jika harus bertemu anaknya. Ia bukan orang yang pandai berbohong.
Sedangkan surat perjanjian kerja Ibrahim yang Ayra baca kemarin menahan nya untuk memberitahu siapa putranya. Jika Nur diketahui adalah istri Ibrahim, maka anak-anak nya yang cerdas itu akan bertanya kenapa bisa menikah di Malaysia. kenapa di rahasiakan. Bukankah Ibrahim sedang kuliah di Australia bukan Malaysia.
"Selamat Siang Ibu...." Sapa seorang dokter lelaki yang terlihat di bed name yang tertera nama dr. Gede Ardana dengan ramah. Senyum manis terukir dari dokter tampan itu.
Lelaki itu adalah dokter pembimbing Qiya dan dua temannya yang lain. Hari ini mereka diajak untuk mengunjungi pasien dan diminta untuk mendiagnosa kondisi pasien yang beberapa hari ini ia rawat. dr. Gede juga baru beberapa Minggu di rumah sakit. Ia pindahan dari Bali.
"Kenapa dokter Isip yang berkerudung hijau ini mirip sekali dengan Mayang." Batin Gede ketika Tiga orang dokter tadi berdiri dan memandangi dirinya yang memberikan contoh langsung untuk memberikan pelayanan pada pasien.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
asiah puteri mulyana
aroma2 calon imamnya neng qia niyh😆😆😆
2024-03-06
0
ummu rekyhan
mayang tanpa putu kan???
😉🤭
2023-04-14
1
ummu rekyhan
main petak umpet yaa maa...🥰
2023-04-14
1