6 Keputusan Qiya

Kedua netra Hilman tak berkedip menatap wajah calon istrinya. Sedangkan Qiya cepat menundukkan pandangannya ke arah Ayra yang sedang keluar dari mobil. Bram yang melihat ada Pak Toha bersama Hilman. Ia segan dengan sosok Pak Toha.

Bram sempat beberapa kali bertemu Pak Toha. Jauh sebelum mengenal Pak Rendra. Yang Bram tahu dari Kyai Rohim, sosok Pak Toha adalah orang yang sangat membantu ia dan Umi Laila dalam berdakwah hingga berdirinya pondok Pesantren Kali Bening. Maka bisa dikatakan Jika Pak Toha adalah orang yang pertama menemani Kyai Rohim di desa Sumber Sari yang berubah menjadi Kali Bening.

"Nak Bram..." Suara khas orang tua dari Pak Toha.

Lelaki yang duduk di kursi roda itu setengah menarik tubuh Bram saat pria itu menyalaminya.

"Semoga anda sehat selalu Pak. Maafkan saya, kemarin saya terpaksa memukul cucu anda karena saya rasa kehadiran anda kemari juga untuk hal yang sama. Anda ingin mengklarifikasi atau ingin meminta maaf?" Tanya Bram sambil berusaha untuk tak melirik ke arah Hilman.

Hilman hanya berdiri di belakang kursi roda Pak Toha. Ia tak berani mengangkat kepalanya. Ia sadar bahwa Papa nya salah dan itu berimbas pada dirinya.

"Mas... Kita bicara di dalam saja." Ayra bersuara pelan.

Bram pun mempersilahkan Pak Toha lebih dulu.

"Jika bukan karena Pak Toha. Sudah ku hajar lagi kamu!" batin Bram sambil terpaku menatap punggung Hilman yang mendorong kursi roda kakeknya.

"Mas...." Ayra memegang lengan Bram.

Perempuan yang hampir 25 tahun menemani Bram itu bisa merasakan jika suaminya masih emosi. Namun ia juga tak menyalahkan suaminya. Manusiawi, hati ayah mana yang tak sakit melihat putrinya seolah dipermainkan.

Tiba di dalam, Furqon dan Siti menyambut Ayra. Ia tak menyangka jika Pak Toha juga hadir.

"Ay... Umi dari kemarin meminta Kang Furqon menelpon mu. Astaghfirullah.... dahi mu kenapa Dik?" Tanya Furqon kaget.

Siti pun cepat mendekati adik iparnya itu. Furqon mempersilahkan adiknya dan Pak Toha juga Hilman untuk duduk. Sedangkan Ammar langsung mengikuti Ayra dan Qiya yang menuju kamar Umi Laila.

Umi Laila masih bisa berjalan walau membutuhkan tongkat. Namun sudah berapa hari ini ia tak sehat. Sehingga ia hanya dikamar saja. Bahkan tepatnya semalam, ia demam panas. Dan selama menggigil, terdengar beberapa kali memanggil nama Ayra. Akhirnya Furqon memberikan kabar agar adiknya bisa hadir sebentar untuk melihat kondisi sang ibu.

Tiba dikamar yang tak pernah berubah. Dari Ayra masih gadis hingga kamar itu ditinggal oleh Kyai Rohim. Kamar itu tak ada yang berubah.

"Umi.... " Ucap Laila setelah mengucapkan salam.

Sosok perempuan yang tak melahirkan Ayra tetapi menyusuinya itu cepat membuka mata dan menghentikan tangannya bergerak memutar biji tasbih.

"Nduk...." hanya satu kata yang terucap dari bibir lansia itu.

Ayra mendekat dan memeluk Umi Laila. Lalu Qiya pun berada disisi Ayra. Dengan Ammar duduk di sisi lain tempat tidur Umi Laila.

"Mbah Uti... " Ammar menggenggam tangan Umi Laila.

"Sudah pulang kamu dari Jepang?"

"Sudah Mbah. Mbah memikirkan apa? Sampai hangat begini tubuhnya." Ucap Ammar yang menggenggam tangan neneknya.

Qiya cepat memegang dahi neneknya.

"Di rawat saja ya Mbah. Suhu tubuh Mbah panas sekali." Ucap Qiya pelan.

"Sebentar lagi juga sembuh. Mbah cuma masuk angin." Ucap Umi Laila sambil menatap tiga orang itu bergantian.

"Mana Bram?" tanya Umi Laila.

Umi Laila sangat mengenal menantu yang satunya itu. Dimana ada Ayra di kali Bening. Maka Bram pasti akan ada disana. Walau sudah tak lagi muda. Bram selalu menemani istrinya ketika berkunjung ke Kali Bening. Sekalipun ia sedang sibuk. Maka suami Ayra itu akan menyusul.

"Ada Mi. Lagi diluar. Menemani Pak Toha." Ucap Ayra.

"Pak Toha kemari? Ada Maslaah apa ya Ay? Pak Toha sudah lama sekali tak kemari. Terakhir ketika haul Abi mu. A-" Belum selesai Umi Laila berbicara, kedua netranya melihat luka di dahi Ayra.

"Nduk... dahi mu kenapa?"

"Oh... cuma luka kecil Mi. Tapi sudah di obati cucu Umi yang dokter tapi belum boleh jadi dokter ini...." Ayra melemparkan senyumnya pada Umi Laila.

Umi Laila pun terdiam sesaat.

"Ay... Benar berita yang umi dengar tentang Ibrahim?" Tanya Umi Laila.

"Mas Bram masih menyelidiki Mi. Kalau berdasarkan pemerintah setempat. Ia, tetapi Mas Bram masih menyatakan jika belum bisa dipercayai. Jenazahnya belum ditemukan. Mas Bram telah meminta orang-orang yang paham akan hal itu mengurus dan menyelidiknya Mi." Ucap Ayra pelan namun terdengar pilu.

"Qiya, Ammar. Mbah mau berbicara berdua dulu dengan Umi mu Nak." Pinta janda Kyai Rohim itu.

Dua orang itu meninggalkan ruangan itu. Saat Qiya akan kembali ke depan. Ammar menahan tangan adiknya.

"Kakak tidak akan mengizinkan kamu kembali melanjutkan Pernikahan kalian. Dia tidak pantas mendampingi kamu Qi." Ucap Ammar pelan.

Qiya menatap dalam bola mata Ammar.

"Kakak pikir aku akan melanjutkan pernikahan dimana orang tuanya tak meridhoi hubungan kami? Jika kemarin alasan ku menerima mas Hilman ada dua. Maka saat ini aku hanya punya satu alasan untuk tidak melanjutkan pernikahan kami." Ucap Qiya sambil melangkah ke arah ruang tengah.

Furqon di depan pun kaget mendengar maksud dan tujuan dari Pak Toha ingin menemui Umi Laila.

"Saya mohon maaf Pak De. Tetapi Umi lagi sangat tidak sehat. Saya khawatir kabar ini malah menambah Umi semakin kepikiran. Saya rasa untuk ranah ini Pak de bisa berbicara langsung pada Dik Bram. Dia adalah wali dari Ayra. Toh saat melamar Qiya, Pak Juga melalui Bram. Dan sudah selayaknya masalah ini juga langsung ke Bram." Ucap Furqon sedikit pelan tetapi pasti.

Ia tak menyangka jika hubungan Qiya dan Hilman yang dianggap akan menjadi lem perekat hubungan baik antara keluarga Pak Toha dan Almarhum Kyai Rohim justru malah terjadi hal yang berujung menyakiti hati keluarga adik dan keponakannya.

Bram dengan tegas menyatakan jika ia sudah terlanjur ingin hubungan yang rencana akan menjadi besan itu tidak diteruskan.

Pak Toha memohon kepada Bram untuk memberi kesempatan. Ia akan berbicara pada Rendra anaknya.

"Tolong nak Bram. Saya memohon agar pernikahan ini tetap di lanjutkan.Cucu saya sudah terlanjur jatuh hati pada putri anda." Ucap Pak Toha memelas.

"Maafkan saya Pak. Saya tidak ingin anak saja menjalin rumah tangga dengan lelaki yang tak kuat pendirinya." Ucap Bram cepat.

Qiya sudah berada diruangan itu bersama Ammar. Furqon menasehati Bram. Paman Qiya itu ingin Bram memberikan kesempatan pada adiknya. Bagaimana pun Qiya yang akan menjalani rumah tangganya.

"Coba Qi. Katakan apa pendapat mu. Ini nak Hilman dan Pak Toha ingin pernikahan kalian tetap berlangsung."

Qiya menoleh ke arah Bram dan Ammar. Dan sebentar ia menoleh Furqon. Paman sekaligus guru saat ia menempuh pendidikan SMP.

"Maafkan saya Kek. Mas Hilman, saya rasa rencana pernikahan ini tak bisa diteruskan. Dengan adanya pemutusan dari ayah mas Hilman maka saya rasa mulai hari ini kita sama-sama bebas. Mas Hilman boleh mencari perempuan lain untuk di jadikan istri."

"Qiy... bagiamana dengan perasaan ku?" Ucap Hilman sudah dengan mata dan wajah yang merah dan sendu.

Qiya tertunduk. Ia menahan napas nya sejenak kemudian kembali ia mengungkapkan isi hatinya.

"Awalnya tujuan kita untuk menikah kita sama. Tapi ternyata tidak. Mas Hilman menyukai aku mungkin karena apa yang ada pada dzohir ku. Dan kejadian ini membuat aku berpikir jika diteruskan, khawatir di tengah jalan mas Hilman akan berpaling karena kamu bukan ingin beribadah tetapi lebih mementingkan dunia mu. Salah satunya karir."

"Bukan Qiy. Tapi aku hanya bingung. Papa adalah orang tua ku. Sedangkan kamu, aku harap kamu masa depanku." Ucap Hilman.

"Maaf mas.... Saya sudah bulat. Insyaallah ini yang terbaik untuk kamu dan aku saat ini. Yakinlah jika berjodoh. Kita akan bertemu di depan penghulu." Ucap Qiya dengan berat hati.

Ia merasa kecewa pada Hilman. Ia berharap jika menikah dengan lelaki yang juga banyak bergerak di masyarakat, bisa membantu banyak orang dan menjadi orang yang bermanfaat untuk bangsanya dan juga agama. Namun sang calon suami justru tak bisa bijaksana. Belum lagi calon mertua yang tak menyukai dirinya karena berita tentang Ibrahim. Berita yang belum tentu benar adanya. Karena masih dugaan terlibat.

"Saya rasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Saya permisi, saya ingin melihat kondisi Umi." Bram meninggalkan ruangan itu.

Dengan berat hati Hilman dan Pak Toha pulang, penuh kekecewaan pada Keluarga Bram dan tentu juga rasa marah dan kesal pada Rendra. Karena ia sumbernya.

Tiba di kamar Umi Laila. Bram baru berbincang, namun suami Ayra itu sedikit terkejut membaca pesan yang masuk ke ponselnya.

Terpopuler

Comments

Nuryati Yati

Nuryati Yati

setuju Qia kalo jodoh pasti gk kemana, restu orang tua yg pling penting

2023-02-09

4

Riana

Riana

ada apa apa isi pesannya

2023-01-14

0

Nia Dina 😘😘😘

Nia Dina 😘😘😘

keputusan yg baik Qiya...
restu orang tua sangat penting dari pada CINTA 😊😊😊

2022-12-18

1

lihat semua
Episodes
1 Duka Keluarga Bramantyo
2 2 Ayra Terjatuh
3 3 Hilman dan Qiya
4 Ayra dan Keluarganya.
5 5 Hilman dan Pak Toha
6 6 Keputusan Qiya
7 7 Dua Keluarga Dua Rasa
8 8 Siapakah Perempuan Itu?
9 9. Nur Hasanah
10 10 Memilih Wahana Internship
11 11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12 12 Menanti Kejujuran
13 13 Kejujuran Bram
14 14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15 15 Qiya di Rumah Sakit
16 16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17 17 Isi Hati Si Kembar
18 18 Rasa Yang berbeda
19 19 Dokter Gede dan Qiya
20 20 Hati Qiya Yang Terusik
21 21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22 22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23 23 Qiya dan rasa dihatinya
24 24 Kedatangan Ayra dan Bram
25 25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26 26 Kembali Bertemu
27 27 Ammar dan Kepribadian nya
28 28 Apakah Ini Cinta?
29 29 Keputusan Ayra dan Bram
30 30 Keluarga Bram dan Ayra
31 Berita Tentang Ibrahim
32 32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33 33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34 34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35 35 Keresahan Hati Ammar
36 36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37 37 Lelaki Itu Ibrahim
38 38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39 39 Jantung Dokter Gede
40 40 Dokter Gede
41 41 Ammar dan Cintanya
42 42 Dokter Gede dan Qiya
43 43 Dua Hati Satu Cinta
44 44 Dua Hati Satu Cinta 2
45 45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46 46 Status Qiya dan Dua Pria
47 47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48 48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49 49 Kejujuran Ammar
50 50 Siapa Kamu?
51 51 Arumi Mayang Dahayu
52 52 Rasa Kecewa Ammar
53 53 Kebimbangan Ammar
54 54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55 55 Musyawarah Keluarga
56 56 Hati Qiya dan Arumi
57 57 Menanti Jawaban Arumi
58 58 Jawaban Arumi
59 59 Keputusan Bram
60 60 Dokter Gede PDKT
61 61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62 62 Ternyata dia Muslim
63 63 Perjuangan Dokter Gede 1
64 64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65 65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66 66 Habis Di Goda Ammar
67 67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68 68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69 69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70 70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71 71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72 72 Tamu tak diharapkan
73 73 Datang Disaat yang Tepat
74 74 Maksud dua Lelaki
75 75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76 76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77 77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78 78 Kedatangan Dua Lelaki
79 79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80 80 "Dek Qiya"
81 81 Dek Qiya Menangis?
82 82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83 83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84 84 Lamaran Gede untuk Qiya
85 85 Separuh Jiwa Nur
86 86 Calon Kakak Ipar
87 87 Kekhawatiran Bu Ratih
88 88 Ammar & Arumi "Sah"
89 89 Hati Ammar dan Arumi
90 90 Air mata Di Hari Bahagia
91 91 Malam Yang Dingin
92 92 Kompetisi Meraih Cinta
93 93 Ijab Gede dan Qiya
94 94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95 95 Satu Nama Dua Hati
96 96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97 97 Munajat Cinta
98 98 Gede dan Masalalunya
99 99 Gadis itu Siapa
100 100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101 101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102 102 Tiga Bulan Pernikahan
103 103 Kelembutan Hati
104 104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105 105 Arumi Dan Ammar
106 106 Flashback Arumi bersama Ayra
107 107 Dinginnya Australia
108 108 Apakah Aku ada Disana?
109 109 "Mas Ammar"
110 110 Kamu Dimana?
111 111 "I love you Arumi."
112 112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113 113 Saling Membuka Diri
114 114 Hati Yang Masih Tersakiti
115 115 Masalalu Pak Rendra
116 116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117 117 Cinta Penuh Kelembutan
118 118 Belajar dari Kisah
119 119 Keegoisan Pak Rendra
120 120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121 121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122 122 Kebahagiaan Putra Ayra
123 123 Luka Hati Bu Ratih
124 124 Penolakan Ratih
125 125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126 126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127 127 Dua Menantu Yang Bahagia
128 128 Ungkapan Hati Gede
129 129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130 130 Peran Qiya Sebagi Istri
131 131 Pesona The Twins
132 132 Siapa Kamu Arumi?
133 133 Skenario Allah
134 134 Kebenaran Untuk Arumi
135 135 Kebesaran Hati Gede
136 136 Kebahagiaan Pak Subroto
137 137 Arumi Koma
138 138 Tiga Keluarga
139 139 Kesedihan Ammar
140 140 Ikhtiar Ammar
141 141 Hasil Pemeriksaan
142 142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143 143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144 144 Flashback Bram dan Ayra
145 145 Rendra dan Masalalunya
146 146 Watak yang Keras
147 147 Permohonan maaf Pak Rendra
148 148 Kabar Duka
149 149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150 150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151 151 Semua karena Cinta
152 152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153 153 Mantan
154 154 Prasangka
155 155 Pesona Ammar
156 156 Otw Ending.
157 Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158 158 Kembar 3
159 159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160 160 Pemotretan
161 161 Keakraban keluarga Ayra
162 162 Perkenalan Zhafirah
163 163 Intermezo Zhafirah
164 164 Firasat Ayra
165 165 Ayra dan Kelima Cucunya
166 166 THE END
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Duka Keluarga Bramantyo
2
2 Ayra Terjatuh
3
3 Hilman dan Qiya
4
Ayra dan Keluarganya.
5
5 Hilman dan Pak Toha
6
6 Keputusan Qiya
7
7 Dua Keluarga Dua Rasa
8
8 Siapakah Perempuan Itu?
9
9. Nur Hasanah
10
10 Memilih Wahana Internship
11
11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12
12 Menanti Kejujuran
13
13 Kejujuran Bram
14
14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15
15 Qiya di Rumah Sakit
16
16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17
17 Isi Hati Si Kembar
18
18 Rasa Yang berbeda
19
19 Dokter Gede dan Qiya
20
20 Hati Qiya Yang Terusik
21
21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22
22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23
23 Qiya dan rasa dihatinya
24
24 Kedatangan Ayra dan Bram
25
25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26
26 Kembali Bertemu
27
27 Ammar dan Kepribadian nya
28
28 Apakah Ini Cinta?
29
29 Keputusan Ayra dan Bram
30
30 Keluarga Bram dan Ayra
31
Berita Tentang Ibrahim
32
32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33
33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34
34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35
35 Keresahan Hati Ammar
36
36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37
37 Lelaki Itu Ibrahim
38
38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39
39 Jantung Dokter Gede
40
40 Dokter Gede
41
41 Ammar dan Cintanya
42
42 Dokter Gede dan Qiya
43
43 Dua Hati Satu Cinta
44
44 Dua Hati Satu Cinta 2
45
45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46
46 Status Qiya dan Dua Pria
47
47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48
48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49
49 Kejujuran Ammar
50
50 Siapa Kamu?
51
51 Arumi Mayang Dahayu
52
52 Rasa Kecewa Ammar
53
53 Kebimbangan Ammar
54
54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55
55 Musyawarah Keluarga
56
56 Hati Qiya dan Arumi
57
57 Menanti Jawaban Arumi
58
58 Jawaban Arumi
59
59 Keputusan Bram
60
60 Dokter Gede PDKT
61
61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62
62 Ternyata dia Muslim
63
63 Perjuangan Dokter Gede 1
64
64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65
65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66
66 Habis Di Goda Ammar
67
67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68
68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69
69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70
70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71
71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72
72 Tamu tak diharapkan
73
73 Datang Disaat yang Tepat
74
74 Maksud dua Lelaki
75
75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76
76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77
77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78
78 Kedatangan Dua Lelaki
79
79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80
80 "Dek Qiya"
81
81 Dek Qiya Menangis?
82
82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83
83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84
84 Lamaran Gede untuk Qiya
85
85 Separuh Jiwa Nur
86
86 Calon Kakak Ipar
87
87 Kekhawatiran Bu Ratih
88
88 Ammar & Arumi "Sah"
89
89 Hati Ammar dan Arumi
90
90 Air mata Di Hari Bahagia
91
91 Malam Yang Dingin
92
92 Kompetisi Meraih Cinta
93
93 Ijab Gede dan Qiya
94
94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95
95 Satu Nama Dua Hati
96
96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97
97 Munajat Cinta
98
98 Gede dan Masalalunya
99
99 Gadis itu Siapa
100
100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101
101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102
102 Tiga Bulan Pernikahan
103
103 Kelembutan Hati
104
104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105
105 Arumi Dan Ammar
106
106 Flashback Arumi bersama Ayra
107
107 Dinginnya Australia
108
108 Apakah Aku ada Disana?
109
109 "Mas Ammar"
110
110 Kamu Dimana?
111
111 "I love you Arumi."
112
112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113
113 Saling Membuka Diri
114
114 Hati Yang Masih Tersakiti
115
115 Masalalu Pak Rendra
116
116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117
117 Cinta Penuh Kelembutan
118
118 Belajar dari Kisah
119
119 Keegoisan Pak Rendra
120
120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121
121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122
122 Kebahagiaan Putra Ayra
123
123 Luka Hati Bu Ratih
124
124 Penolakan Ratih
125
125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126
126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127
127 Dua Menantu Yang Bahagia
128
128 Ungkapan Hati Gede
129
129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130
130 Peran Qiya Sebagi Istri
131
131 Pesona The Twins
132
132 Siapa Kamu Arumi?
133
133 Skenario Allah
134
134 Kebenaran Untuk Arumi
135
135 Kebesaran Hati Gede
136
136 Kebahagiaan Pak Subroto
137
137 Arumi Koma
138
138 Tiga Keluarga
139
139 Kesedihan Ammar
140
140 Ikhtiar Ammar
141
141 Hasil Pemeriksaan
142
142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143
143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144
144 Flashback Bram dan Ayra
145
145 Rendra dan Masalalunya
146
146 Watak yang Keras
147
147 Permohonan maaf Pak Rendra
148
148 Kabar Duka
149
149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150
150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151
151 Semua karena Cinta
152
152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153
153 Mantan
154
154 Prasangka
155
155 Pesona Ammar
156
156 Otw Ending.
157
Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158
158 Kembar 3
159
159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160
160 Pemotretan
161
161 Keakraban keluarga Ayra
162
162 Perkenalan Zhafirah
163
163 Intermezo Zhafirah
164
164 Firasat Ayra
165
165 Ayra dan Kelima Cucunya
166
166 THE END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!