Kedua netra Hilman tak berkedip menatap wajah calon istrinya. Sedangkan Qiya cepat menundukkan pandangannya ke arah Ayra yang sedang keluar dari mobil. Bram yang melihat ada Pak Toha bersama Hilman. Ia segan dengan sosok Pak Toha.
Bram sempat beberapa kali bertemu Pak Toha. Jauh sebelum mengenal Pak Rendra. Yang Bram tahu dari Kyai Rohim, sosok Pak Toha adalah orang yang sangat membantu ia dan Umi Laila dalam berdakwah hingga berdirinya pondok Pesantren Kali Bening. Maka bisa dikatakan Jika Pak Toha adalah orang yang pertama menemani Kyai Rohim di desa Sumber Sari yang berubah menjadi Kali Bening.
"Nak Bram..." Suara khas orang tua dari Pak Toha.
Lelaki yang duduk di kursi roda itu setengah menarik tubuh Bram saat pria itu menyalaminya.
"Semoga anda sehat selalu Pak. Maafkan saya, kemarin saya terpaksa memukul cucu anda karena saya rasa kehadiran anda kemari juga untuk hal yang sama. Anda ingin mengklarifikasi atau ingin meminta maaf?" Tanya Bram sambil berusaha untuk tak melirik ke arah Hilman.
Hilman hanya berdiri di belakang kursi roda Pak Toha. Ia tak berani mengangkat kepalanya. Ia sadar bahwa Papa nya salah dan itu berimbas pada dirinya.
"Mas... Kita bicara di dalam saja." Ayra bersuara pelan.
Bram pun mempersilahkan Pak Toha lebih dulu.
"Jika bukan karena Pak Toha. Sudah ku hajar lagi kamu!" batin Bram sambil terpaku menatap punggung Hilman yang mendorong kursi roda kakeknya.
"Mas...." Ayra memegang lengan Bram.
Perempuan yang hampir 25 tahun menemani Bram itu bisa merasakan jika suaminya masih emosi. Namun ia juga tak menyalahkan suaminya. Manusiawi, hati ayah mana yang tak sakit melihat putrinya seolah dipermainkan.
Tiba di dalam, Furqon dan Siti menyambut Ayra. Ia tak menyangka jika Pak Toha juga hadir.
"Ay... Umi dari kemarin meminta Kang Furqon menelpon mu. Astaghfirullah.... dahi mu kenapa Dik?" Tanya Furqon kaget.
Siti pun cepat mendekati adik iparnya itu. Furqon mempersilahkan adiknya dan Pak Toha juga Hilman untuk duduk. Sedangkan Ammar langsung mengikuti Ayra dan Qiya yang menuju kamar Umi Laila.
Umi Laila masih bisa berjalan walau membutuhkan tongkat. Namun sudah berapa hari ini ia tak sehat. Sehingga ia hanya dikamar saja. Bahkan tepatnya semalam, ia demam panas. Dan selama menggigil, terdengar beberapa kali memanggil nama Ayra. Akhirnya Furqon memberikan kabar agar adiknya bisa hadir sebentar untuk melihat kondisi sang ibu.
Tiba dikamar yang tak pernah berubah. Dari Ayra masih gadis hingga kamar itu ditinggal oleh Kyai Rohim. Kamar itu tak ada yang berubah.
"Umi.... " Ucap Laila setelah mengucapkan salam.
Sosok perempuan yang tak melahirkan Ayra tetapi menyusuinya itu cepat membuka mata dan menghentikan tangannya bergerak memutar biji tasbih.
"Nduk...." hanya satu kata yang terucap dari bibir lansia itu.
Ayra mendekat dan memeluk Umi Laila. Lalu Qiya pun berada disisi Ayra. Dengan Ammar duduk di sisi lain tempat tidur Umi Laila.
"Mbah Uti... " Ammar menggenggam tangan Umi Laila.
"Sudah pulang kamu dari Jepang?"
"Sudah Mbah. Mbah memikirkan apa? Sampai hangat begini tubuhnya." Ucap Ammar yang menggenggam tangan neneknya.
Qiya cepat memegang dahi neneknya.
"Di rawat saja ya Mbah. Suhu tubuh Mbah panas sekali." Ucap Qiya pelan.
"Sebentar lagi juga sembuh. Mbah cuma masuk angin." Ucap Umi Laila sambil menatap tiga orang itu bergantian.
"Mana Bram?" tanya Umi Laila.
Umi Laila sangat mengenal menantu yang satunya itu. Dimana ada Ayra di kali Bening. Maka Bram pasti akan ada disana. Walau sudah tak lagi muda. Bram selalu menemani istrinya ketika berkunjung ke Kali Bening. Sekalipun ia sedang sibuk. Maka suami Ayra itu akan menyusul.
"Ada Mi. Lagi diluar. Menemani Pak Toha." Ucap Ayra.
"Pak Toha kemari? Ada Maslaah apa ya Ay? Pak Toha sudah lama sekali tak kemari. Terakhir ketika haul Abi mu. A-" Belum selesai Umi Laila berbicara, kedua netranya melihat luka di dahi Ayra.
"Nduk... dahi mu kenapa?"
"Oh... cuma luka kecil Mi. Tapi sudah di obati cucu Umi yang dokter tapi belum boleh jadi dokter ini...." Ayra melemparkan senyumnya pada Umi Laila.
Umi Laila pun terdiam sesaat.
"Ay... Benar berita yang umi dengar tentang Ibrahim?" Tanya Umi Laila.
"Mas Bram masih menyelidiki Mi. Kalau berdasarkan pemerintah setempat. Ia, tetapi Mas Bram masih menyatakan jika belum bisa dipercayai. Jenazahnya belum ditemukan. Mas Bram telah meminta orang-orang yang paham akan hal itu mengurus dan menyelidiknya Mi." Ucap Ayra pelan namun terdengar pilu.
"Qiya, Ammar. Mbah mau berbicara berdua dulu dengan Umi mu Nak." Pinta janda Kyai Rohim itu.
Dua orang itu meninggalkan ruangan itu. Saat Qiya akan kembali ke depan. Ammar menahan tangan adiknya.
"Kakak tidak akan mengizinkan kamu kembali melanjutkan Pernikahan kalian. Dia tidak pantas mendampingi kamu Qi." Ucap Ammar pelan.
Qiya menatap dalam bola mata Ammar.
"Kakak pikir aku akan melanjutkan pernikahan dimana orang tuanya tak meridhoi hubungan kami? Jika kemarin alasan ku menerima mas Hilman ada dua. Maka saat ini aku hanya punya satu alasan untuk tidak melanjutkan pernikahan kami." Ucap Qiya sambil melangkah ke arah ruang tengah.
Furqon di depan pun kaget mendengar maksud dan tujuan dari Pak Toha ingin menemui Umi Laila.
"Saya mohon maaf Pak De. Tetapi Umi lagi sangat tidak sehat. Saya khawatir kabar ini malah menambah Umi semakin kepikiran. Saya rasa untuk ranah ini Pak de bisa berbicara langsung pada Dik Bram. Dia adalah wali dari Ayra. Toh saat melamar Qiya, Pak Juga melalui Bram. Dan sudah selayaknya masalah ini juga langsung ke Bram." Ucap Furqon sedikit pelan tetapi pasti.
Ia tak menyangka jika hubungan Qiya dan Hilman yang dianggap akan menjadi lem perekat hubungan baik antara keluarga Pak Toha dan Almarhum Kyai Rohim justru malah terjadi hal yang berujung menyakiti hati keluarga adik dan keponakannya.
Bram dengan tegas menyatakan jika ia sudah terlanjur ingin hubungan yang rencana akan menjadi besan itu tidak diteruskan.
Pak Toha memohon kepada Bram untuk memberi kesempatan. Ia akan berbicara pada Rendra anaknya.
"Tolong nak Bram. Saya memohon agar pernikahan ini tetap di lanjutkan.Cucu saya sudah terlanjur jatuh hati pada putri anda." Ucap Pak Toha memelas.
"Maafkan saya Pak. Saya tidak ingin anak saja menjalin rumah tangga dengan lelaki yang tak kuat pendirinya." Ucap Bram cepat.
Qiya sudah berada diruangan itu bersama Ammar. Furqon menasehati Bram. Paman Qiya itu ingin Bram memberikan kesempatan pada adiknya. Bagaimana pun Qiya yang akan menjalani rumah tangganya.
"Coba Qi. Katakan apa pendapat mu. Ini nak Hilman dan Pak Toha ingin pernikahan kalian tetap berlangsung."
Qiya menoleh ke arah Bram dan Ammar. Dan sebentar ia menoleh Furqon. Paman sekaligus guru saat ia menempuh pendidikan SMP.
"Maafkan saya Kek. Mas Hilman, saya rasa rencana pernikahan ini tak bisa diteruskan. Dengan adanya pemutusan dari ayah mas Hilman maka saya rasa mulai hari ini kita sama-sama bebas. Mas Hilman boleh mencari perempuan lain untuk di jadikan istri."
"Qiy... bagiamana dengan perasaan ku?" Ucap Hilman sudah dengan mata dan wajah yang merah dan sendu.
Qiya tertunduk. Ia menahan napas nya sejenak kemudian kembali ia mengungkapkan isi hatinya.
"Awalnya tujuan kita untuk menikah kita sama. Tapi ternyata tidak. Mas Hilman menyukai aku mungkin karena apa yang ada pada dzohir ku. Dan kejadian ini membuat aku berpikir jika diteruskan, khawatir di tengah jalan mas Hilman akan berpaling karena kamu bukan ingin beribadah tetapi lebih mementingkan dunia mu. Salah satunya karir."
"Bukan Qiy. Tapi aku hanya bingung. Papa adalah orang tua ku. Sedangkan kamu, aku harap kamu masa depanku." Ucap Hilman.
"Maaf mas.... Saya sudah bulat. Insyaallah ini yang terbaik untuk kamu dan aku saat ini. Yakinlah jika berjodoh. Kita akan bertemu di depan penghulu." Ucap Qiya dengan berat hati.
Ia merasa kecewa pada Hilman. Ia berharap jika menikah dengan lelaki yang juga banyak bergerak di masyarakat, bisa membantu banyak orang dan menjadi orang yang bermanfaat untuk bangsanya dan juga agama. Namun sang calon suami justru tak bisa bijaksana. Belum lagi calon mertua yang tak menyukai dirinya karena berita tentang Ibrahim. Berita yang belum tentu benar adanya. Karena masih dugaan terlibat.
"Saya rasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Saya permisi, saya ingin melihat kondisi Umi." Bram meninggalkan ruangan itu.
Dengan berat hati Hilman dan Pak Toha pulang, penuh kekecewaan pada Keluarga Bram dan tentu juga rasa marah dan kesal pada Rendra. Karena ia sumbernya.
Tiba di kamar Umi Laila. Bram baru berbincang, namun suami Ayra itu sedikit terkejut membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Nuryati Yati
setuju Qia kalo jodoh pasti gk kemana, restu orang tua yg pling penting
2023-02-09
4
Riana
ada apa apa isi pesannya
2023-01-14
0
Nia Dina 😘😘😘
keputusan yg baik Qiya...
restu orang tua sangat penting dari pada CINTA 😊😊😊
2022-12-18
1