"Santai aja Cit... kayak apa aja. Tak kan lari gunung di kejar. Tapi sayang nya tadi kata perawat dokter yang kamu bilang cucok banget itu sudah menikah. Aku bahkan tadi sempat mergokin dia lagi ngelamun sambil lihat cincin nikahnya." Ucap Qiya sambil duduk di kursi dan tersenyum manis melihat ekspresi tak percaya Cita.
Ia tak ingin sahabatnya kembali melakukan kesalahan yang sama. Menyukai lelaki secara mendadak dan ujung-ujungnya akan kecewa karena cinta bertepuk sebelah tangan.
"Beneran Qiy?" Tanya Cita tak percaya.
Ia sampai pindah duduk ke atas lantai dan mendongak menatap wajah Qiya. Sahabatnya itu telah tak mengenakan jilbab sehingga rambut hitam dan lurusnya pun tergerai dengan indah.
"Ya sepertinya gitu deh. Soalnya dia itu ga suka mandangin wanita lain. Kalau di agama ku itu salah satu lelaki idaman, bisa jaga pandangan nya. Walau aku lebih suka ke akhlaknya lelaki itu kalau untuk urusan teman hidup." Ucap Qiya seketika sekelebat bayangan Hilman muncul di memori nya.
Ia mengingat komunikasi terakhir dirinya dengan mantan tunangan nya itu.
"Qiy... Aku akan melamar mu setelah kamu pulang dari internship." Ucap Hilman.
"Maaf Mas Hilman. Aku sudah mengatakan kita bebas. Maka untuk kedepannya, aku tak mau berjanji apa-apa. Aku rasa sekarang kita fokus dengan cita-cita kita dulu. Yakinlah jodoh tak akan tertukar."
"Tapi Qiy... aku menyukai mu. Aku lihat banyak lelaki yang berharap menggantikan aku setelah mereka tahu kita batal menikah."
"Kalau pun aku menerima salah satu dari mereka maka ku rasa aku tidak salah Mas. Kita sama-sama tak terikat hubungan."
"Qiy... mereka menyukai mu karena mereka melihat Papa mu yang pengusaha sukses belum lagi Mama mu yang karier politiknya bagus. Belum lagi kamu cucu dari Kyai besar. Bahkan kamu pun bisa lulus dengan pujian itu pun tetap karena Papa mu yang merupakan anggota komite kampus." Ucap Hilman pelan
"Mereka yang menyukai ku karena alasan yang mas sebutkan barusan atau Mas Hilman dan keluarga yang menilai seperti itu?" Ucap Qiya tegas. Ia perempuan yang menjaga Marwah dirinya dan keluarga. Ia sudah cukup baik menanggapi masalahnya dengan Hilman.
Namun lelaki yang terlalu berambisi itu tak ingin kehilangan calon istri yang menurutnya memiliki pesona bukan hanya cantik parasnya tetapi juga ruhaninya.
Selepas pembicaraan itu. Qiya selalu memikirkan omongan Hilman jika ia bisa sampai dititik sekarang karena nama besar orang tuanya. Bukan karena kerja kerasnya.
Saat Qiya sedang menjalani internship di Wahana yang bukan menjadi pilihannya. Kembarannya justru sedang sibuk dengan relasi bisnis untuk pengolahan minyak di negeri kangguru itu. Ia yang dari kemarin merasa sinusnya kumat. Mau tidak mau ia malam itu memaksakan dirinya untuk keluar dari apartemen nya. Ia harus ke dokter atau rumah sakit.
Ia tak ingin esok pagi tak bisa menghadiri jadwal rapat bersama relasi bisnisnya. Besok adalah rapat terakhir dan penentu untuk lanjut atau tidaknya kerjasama Mikel Group bersama perusahaan yang baru itu. Karena cuaca cukup dingin. Ia menggunakan syal berwarna coklat di lehernya.
Saat ia sedang mengendarai mobilnya. Ia baru keluar beberapa belas meter dari apartemen nya. Namun ia melihat beberapa pria di pinggir jalan sedang menghadang seorang perempuan. Ammar melihat perempuan yang mengenakan pakaian serba hitam itu sedang menggendong seorang anak balita dalam gendongannya.
Ammar mencoba mencari tempat untuk menepikan mobilnya. Ia pun segera keluar dari dalam mobilnya. Dengan kondisi hidungnya yang sakit dan perih. Hidung mancungnya juga terus mengeluarkan cairan. Namun melihat beberapa pemuda sedang menghadang Perempuan dan terluas mengolok-olok perempuan itu. Ammar tak bisa tinggal diam.
Saat Ammar hampir sampai di dekat Perempuan itu. Satu lelaki yang terlihat memegang alkohol menarik cadar perempuan yang mengenakan pakaian serba gelap itu.
Perempuan itu cepat menelungkup kan wajahnya sambil memeluk balita yang tampak kurang sehat karena masih menangis.
"Hi guys!!" Suara Ammar sedikit berteriak pada beberapa lelaki itu.
Mereka melihat ke arah Ammar.
" Do not interfere!" Ucap salah satu dari mereka.
[Jangan ikut campur]
"Wow! she is my sister. So I should have helped my sister."
[ Wow! dia saudara ku. Maka sudah seharusnya aku menolong saudara ku.]
Ammar melihat perempuan bercadar itu masih tak berani mengangkat wajahnya. Ia memang menganggap bahwa dirinya harus menolong perempuan itu. Bagaiamana pun perempuan itu adalah seorang muslim.Sesama manusia saja ia biasa di didik oleh orang tuanya untuk saling tolong menolong dalam kebaikan apalagi dengan mereka yang satu agama. Walau Ammar tidak lama di pondok pesantren.
Namun Ayra sebagai madrasah pertama Ammar betul-betul mentransfer ilmu dan pemahaman yang ia miliki pada sulungnya itu.
Dua orang mencoba memukul Ammar. Ia yang sedang dalam keadaan kurang sehat agak kaget karena mendapatkan serangan mendadak. Namun saat satu lelaki mencoba memukul kepalanya dengan botol. Ia cepat menahan lengan lelaki itu. Sehingga ia putar tangan lelaki itu sampai botol yang ia genggam terjatuh.
Terjadilah perkelahian diantara mereka 4 banding satu. Bagi Ammar yang mengikuti bela diri dari sejak duduk di bangku SMP maka bukan hal sulit untuk menjatuhkan lawannya. Ia memukul beberapa lelaki itu hingga mereka merasa kesakitan dan akhirnya mundur dari perkelahian itu.
"Owwwwhhh..." Rintih satu lelaki yang Ammar pelintir tangannya.
"Still want to bother my sister or leave?" Ucap Ammar tepat di sisi telinga lelaki yang mencoba meninju wajahnya.
[Masih ingin menganggu saudara ku atau pergi?]
Ammar melepaskan tangan lelaki itu. Dengan cepat mereka pergi meninggalkan Ammar karena tiga lelaki lainya sedang terduduk di lantai karena mendapatkan pukulan dan terjangan dari Ammar.
Saat para lelaki itu pergi. Ammar masih melihat perempuan bercadar tadi tak berani mengangkat wajahnya. Ia masih menelungkup kan wajahnya. Balita yang dalam pelukannya terlihat pucat. Ammar melihat di sekitarnya, ia melihat Niqab itu tergeletak di lantai. Ia mengambil benda itu lalu menyerahkan pada perempuan itu.
"This is Yours." Ucap Ammar menyerahkan Niqab itu pada perempuan yang baru saja ia selamatkan.
[Ini milikmu]
"Thanks." Ucap perempuan itu. Suaranya terdengar pelan dan lembut.
Namun perempuan itu tak beringsut dari tempatnya. Ia paham jika di jalan ada beberapa lelaki yang lalu lalang. Ammar pun membuka jaketnya.
"Put it on, I'll cover you." Ucap Ammar sambil membuka jaketnya dan ia berdiri membelakangi perempuan itu sambil menatap jalan. Ia menggunakan jaketnya untuk menutup perempuan itu dari pandangan beberapa lelaki di seberang.
[Pakailah, aku akan menutupi mu.]
Namun saat ia mencoba mengalihkan pandangannya ke arah kanan. Ia melihat wajah perempuan yang ia coba tutupi dari pantulan kaca menu salah satu restoran yang ada di ujung jalan.
"Cantik...." Mata Ammar tak berkedip memandang pantulan wajah itu.
Perempuan itu tak menyadari jika ada sepasang mata memandangi wajah yang ia coba tutupi. Setelah selesai perempuan itu berdiri.
"Thanks very much." Ucap perempuan itu lembut.
[Terimakasih banyak]
"You're Welcome." Ucap Ammar sambil menundukkan wajahnya.
[Sama-sama]
Dadanya berdegup kencang. Hati nya bergetar tak karuan. Satu rasa yang baru ia rasakan.
Saat ia akan meninggalkan perempuan itu, terdengar suara balita itu menangis.
"Hik... hiks... huaaaa..."
Ammar menoleh cepat.
"Is she sick?" Tanya Ammar khawatir.
[apakah dia sakit?]
"Yes, I don't know. Her body temperature is suddenly hot." Ucap perempuan itu membelai kepala balita itu.
[Ya. Saya tidak tahu. Tiba-tiba suhu tubuhnya panas]
"I'm going to the hospital. If you don't mind, we can go there together." Ucap Ammar cepat.
[Saya akan kerumah sakit. Kalau tidak keberatan kita bisa kesana bersama.]
Perempuan itu tampak bingung.
"You can sit in the back seat." Ucap Ammar seolah paham bahwa perempuan itu tampak bingung jika haru berdua dengan ia yang bukan mahram.
[Anda bisa duduk di kursi belakang]
Karena melihat wajah balita yang dari tadi ia peluk semakin pucat. Ia cepat mengangguk.
"Okay. Thank you, and sorry to bother you."
[Baiklah. Terima Kasih, dan maaf merepotkan anda.]
"You're Welcome." Ucap Ammar cepat.
Ia membuka pintu mobil bagian belakangnya. Perempuan itu masuk kedalam mobil tersebut. Ammar cepat masuk dan mengendarai mobil itu ke arah rumah sakit terdekat. Hatinya masih berdetak tak karuan.
"Ayolah Ammar... Dia bisa saja sudah menjadi istri orang. Sial. Kenapa pula harus melihat wajahnya." Ucap Ammar dalam hatinya sambil mencoba fokus untuk menghilangkan bayangan wajah cantik perempuan itu.
Saat tiba dirumah sakit. Anak tersebut langsung mendapatkan penanganan dari tim medis. Setelah anak tersebut di pindahkan di ruang rawat. Ammar tak sengaja melewati kamar rawat nya yang sedikit terbuka.
"Bukankah itu balita tadi?" Tanya Ammar dalam hatinya.
Ia pun cepat menuju ruangan yang setengah terbuka itu. Tak terlihat perempuan tadi. Ammar memegang tubuh anak itu. Kulitnya sangat dingin. Ammar pun memakaikan syalnya pada anak perempuan itu. Saat mendengar suara pintu di dorong Ammar menoleh.
Ia melihat perempuan yang ia tolong tadi.
"I am sorry. I see he is alone." Ucap Ammar terlihat kikuk.
"No problem. Are you Indonesian?" Tanya perempuan itu.
"Yes." Ucap Ammar pelan.
"Wah sama. Saya juga orang Indonesia. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas bantuan anda." Ucap perempuan itu.
Ammar semakin dibuat salah tingkah. Ia melihat wajah yang tadi tak sengaja ia pandangi kini tersenyum ke arahnya. Padahal kedua netranya memotret wajah perempuan itu terhalang Niqab.
Kehadiran perawat diruang itu membuat Ammar sadar dan permisi. Namun selepas kepergian Ammar. Perempuan itu melihat syal yang terpasang di leher balita yang ia bawa tadi. Dimana diujung syal rajut tadi terdapat tulisan yang juga di rajut.
..."AMMAR-AQI"...
"Pemuda yang unik. Namanya juga Unik. Ammar kah? Aqi kah?" Ucap perempuan itu dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
ummilia1180
kakak setau saya klo perempuan nonis juga gak boleh loh lihat aurat kita yang berhijab, walupun sama-sama perempuan
2023-05-21
2
Sukhana Ana Lestari
maaf thor bintang nya baru di pencet 1 udah gk bs lg.. jangan marah.. ntar aku kasih bintang 5
2023-05-06
1
Sang
saya kira ini typo, tapi ternyata saya aja yg bego 😅😅😅
2023-04-24
2