Beberapa hari telah berlalu. Ammar telah berangkat ke Australia. Sedangkan Qiya sibuk persiapan administrasi untuk melanjutkan pendidikan nya ketahap internship.
Bram pagi sekali telah siap dengan setelan kerjanya.
"Ay, nanti mas agak pulang larut malam. Dan mungkin ponsel akan ada sama Alan. Hubungi dia saja ya." Ucap Bram sambil memasangkan jam tangannya.
Ayra pun melemparkan senyumnya.
"Kenapa Ayra tak diizinkan ikut Ammar?" Tanya Ayra yang sedang membenarkan jas Bram.
"Kamu tidak akan sanggup jika harus bertemu dengan orang-orang yang mungkin akan membuat mu bertambah sedih karena ucapan mereka. Mas berangkat dulu ya," Bram mengecup pipi sang istri cepat.
"Mas... jangan lupa makan siang. Jangan telat ya, lambungnya dijaga..." Ucap Ayra pada sang suami.
Ia sangat mengerti jika suaminya kadang sering menunda waktu makan. Jika dirumah waktu libur pun. Ayra sampai membawa makan nya ke ruang kerja jika sang suami terus mengukur waktu makannya.
Bram telah siap mengantar perempuan bernama Nur Hasanah. Ia adalah anak yatim-piatu sedari bayi. Ia diasuh di salah satu pantai yang ada di suatu perkotaan. Dan ia bekerja di Malaysia hampir selama dua tahun. Tepat di tahun ke tiga ia pulang ke tanah air.
Ia tak menyangka jika dirinya hamil. Hal yang sangat membahagiakan bagi setiap perempuan yang telah menikah. Namun usia pernikahan yang baru berumur bulan dan tak ada status yang diakui pemerintah membuat Perempuan itu terombang-ambing. Hal itu ada satu alasan.
Dan hanya ia dan Bram yang tahu. Mau tidak mau, demi keselamatan dirinya dan janin yang sekarang ada di dalam perutnya. Ia harus tinggal di vila itu dan mengikuti semua arahan Bram. Ketika pulang dari rumah sakit. Kedua mata Nur menatap foto hasil USG. dokter menyatakan jika ia hamil 1 bulan.
"Andaikan...." Ucap perempuan itu.
Ia hanya mampu beristighfar ketika kalimat andai terucap dari bibirnya. Bram yang melihat perempuan itu kembali menangis. Ia ingin segera pulang. Saat akan pergi dari villa itu. Bram menemui asisten rumah tangga.
"Di sekitar sini ada anak buah ku yang berjaga. Bibi tolong jaga baik-baik Nur. Dia sedang hamil. Saya harap bibi bisa menjaga rahasia ini."
"Baik Pak. Saya tahu. Saya akan menjaga Non Nur." Ucap asisten rumah tangga yang Rafi Carikan dan memang sudah cukup lama bekerja di kediaman Rafi.
Bram pulang sambil memandangi foto hasil USG Nur. Ada air mata yang mengalir dari pipi nya. Ia tak mampu berkata-kata. Namun ia harus menelan semua ini sendiri. Ia tak bisa menceritakan masalahnya pada siapapun. Istri yang selama ini menjadi tempat bercerita dan kadang memberi solusi, harus ia bohongi demi satu rahasia yang hanya dirinya yang boleh tahu.
Ia pun men de sah pelan.
"Hhhhhh.... Semoga pesona mu tak pudar Ay... Semoga pesona mu juga hadir di dalam anak-anak kita. Dan keturunan kita. Maafkan aku.. maafkan aku." Bram bermonolog sendiri.
Alan melihat dari kaca spion. Ia tak berani bertanya. Tetapi ia bingung karena perempuan bernama Nur itu terlihat sangat menjaga dirinya. Itu terbukti ketika ia beberapa kali mengantarkan hal-hal yang dipesan Asisten rumah tangga di vila Nur.
Tak pernah Nur memandang dirinya. Bahkan perempuan itu selalu menangkupkan kedua tangannya.
"Sebenarnya siapa Nur Hasanah Itu. Apakah istri simpanan Bos? Atau siapa?" batin Alan dalam hatinya.
Selepas kepergian Bram. Nur terduduk di sajadah nya. Ia tak mampu berpaling dari satu wajah lelaki yang memikat hatinya, karena lelaki itu yang membuat dirinya mengundurkan diri dari Salah satu badan Intelejen yang ada di tanah air. Ia ingin hidup normal bersama suaminya di mahligai pernikahan. Ia yang lebih tua lima tahun dari Ibrahim sangat bahagia diawal menikah.
Namun ternyata ada banyak rahasia suami yang tak diceritakan. Salah satunya Ibrahim adalah salah satu anggota intelejen yang sangat dirahasiakan identitasnya. Bahkan untuk seluruh keluarga Pradipta, hanya Bram yang tahu. Itu pun ia dulu diminta menandatangani surat persetujuan orang tua oleh Ibrahim.
Hal yang tak diketahui oleh orang lain. Nur bahkan juga mengetahui jika Ibrahim adalah salah satu anggota intelejen ketika kabar meninggalnya Ibrahim di media masa. Berharap bisa hidup umumnya orang lain. Ia justru harus menelan pil pahit.
Ia yang sedang merasakan indahnya pacaran setelah menikah justru menelan dua pil pahit sekaligus. Satu ia baru tahu jika sang suami ternyata sama seperti dirinya.
Kedua. Ia tak menyangka jika di gedung yang dimana diadakan seminar, sang suami sedang menjalankan misi bersama tim nya.
(Oke jangan ngambek lagi ya. 😁😁😁 Untuk kenapa Ibrahim bisa jadi salah satu anggota intelejen. Di bab selanjutnya ya. Nanti aku jelasin kenapa bungsu itu bisa terjun ke dunia itu. Kenapa ga ada yang tahu jika dia menikah dan lain2. Maaf kenakalan author.)🙃🙃🙃🙃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
Emma Ratna
hampir aja g lanjut baca krn bram poligami😂
ternyata menantunya.. hehe
2024-05-05
0
Aira Azzahra Humaira
ih author sukses bikin dah dig dug doaarr
2024-03-17
0
asiah puteri mulyana
keren bgt niyh author setelah bikin patah hati kita dgn praduga2 oooh ternyata diluar nuruuul ini ceeitanya hiiii....
2024-03-06
0