Cukup lama di perjalanan, Ayra bahkan sempat tertidur selama di perjalanan. Namun ia kaget karena dirumah sakit telah ada Alan.
"Bagaimana kondisinya?"
"Sudah di tangani dan di ruang VIP satu pak." Ucap Alan dengan pelan.
Bram cepat menuju ke ruang dimana Nur di rawat. Ia masih menggenggam tangan istri tercinta. Ayra semakin bingung bagaimana suaminya bisa begitu erat menggenggam tangannya sedang hati nya tertuju pada perempuan lain.
"Siapa perempuan ini mas.... Cinta mu seolah tak berkurang tetapi rasa khawatir mu menunjukkan ada cinta di hati mu." Batin Ayra.
Mereka pun tiba di sebuah ruang pasien. Jantung Ayra berdetak tak karuan saat melangkah masuk kedalam ruangan itu.
"Bismillahirrahmanirrahim... Kamu harus kuat dan menerima semua takdir dari Allah Ay.... " Ucap Ayra dalam hatinya.
Dan ketika masuk, Ayra kembali di buat kaget. Perempuan yang berada di sisi Nur adalah mantan asisten rumah tangga Rafi. Ia mengenali perempuan yang tak terlalu tua itu. Karena ia lah yang meminta bantuan intan untuk mencarikan asisten rumah tangga untuk Aisha saat itu.
"Bu Ayra... Silahkan duduk..." ucap perempuan itu pelan.
"Mas... Bi... siapa dia?" Tanya Ayra penasaran.
"Bi, bisa tinggalkan kami sebentar. Atau bibi bisa istirahat." Pinta Bram.
"Baik Pak. Saya permisi Bu...." Ucap Perempuan itu sopan.
Bram membimbing Ayra ke sisi tempat tidur Nur. Perempuan itu terlihat masih terpejam. Matanya cekung, pipinya terlihat tirus. Satu Minggu ia menangis siang malam. Kurang tidur dan stress membuat dirinya akhirnya ambruk. Ia tak sadarkan diri di dalam kamar. Beruntung asisten rumah tangganya merawat ia seperti anak sendiri. Karena ia yang memang tak memiliki anak.
"Namanya Nur, Ay." Ucap Bram melihat ke arah istrinya.
"Siapa dia mas? Sore tadi ada yang mengirimkan gambar kamu dan dirinya sedang berdua." Ucap Ayra yang sudah berlinang air mata. Namun nada bicaranya masih terdengar lembut.
Bram merasa kaget mendengar Istrinya mengatakan hal itu. Ia cepat memegang kedua pipi sang istri.
"Dan kamu sudah berapa jam ini menahan rasa penasaran kamu? andai setiap istri bisa bersikap sabar dan bijaksana di kala hati mereka tak baik-baik saja. Maka mungkin akan ada banyak lelaki yang bahagia seperti Mas Ay." Ucap Bram yang juga menangis mendengar penuturan Ayra.
Istrinya memang istri yang luar biasa. Bagi seorang pengusaha setampan dan sekaya Bram. Maka akan banyak cobaan yang akan melanda baik itu langsung ke dirinya atau menyerang keluarga. Terlebih ia ingat betul ketika Ayra pernah menjabat sebagai wakil walikota. Mental istri Bram itu diuji saat ada seorang perempuan hamil datang membawa koper dan meminta pertanggungjawaban Bram.
Mentalnya di awal pernikahan sudah teruji. Maka saat itu Ayra membawa perempuan itu ke apartemen yang merupakan investasi nya, selama 4 hari perempuan itu disana. Ia pun tak berbicara apapun pada Bram. Setelah hari kelima, ia justru ke apartemen itu bersama Furqon. Dan yang terjadi wanita itu memanggil Furqon dengan Panggilan Bram. Tentu hal itu membuat Ayra menceritakan hal itu sambil tertawa pada sang suami. Tetapi suaminya justru terharu karena istri mana yang bisa dengan sabar dan bijaksana menghadapi cobaan dari luar untuk menggoncang biduk rumah tangganya.
Jika waktu itu Ayra msih percaya diri karena yang ia anggap lawannya masih sepadan. Tetapi kali ini, seorang perempuan berkerudung, cantik, masih muda membuat hati Ayra sedikit terusik. Rasa percaya diri seiring umur yang mulai menua membuat Ayra berpikiran jika ada satu kebutuhan yang mungkin suaminya tak dapatkan dari dirinya.
Bram melerai pelukannya. Bahkan lelaki itu hampir duduk berlutut jika kedua tangan Ayra tak menahan suaminya itu.
"Katakanlah mas. Siapa perempuan ini. dan apa hubungan mu dengan dirinya?" Ucap Ayra sambil mengusap wajah tampan suaminya.
Bram berjalan ke arah pintu. Ia melihat kondisi di luar, ada Alan dan dua orang yang ia kenal sebagai orang yang ia minta menjaga Nur. Ia kembali menutup pintu itu.
Ia memeluk Ayra.
"Ada dua kebenaran yang harus mas ceritakan padamu. Pertama, dia adalah istri Ibrahim. Kedua, putramu tepatnya 5 tahun yang lalu telah menjadi putra negara. Dimana mati dan hidupnya hanya negara yang tahu Ay. Dan saat ini, ada beberapa kelompok mencari Nur. Dan-" Baru Bram ingin mengatakan jika Nur mantan anggota intelejen juga. Menantu nya justru memanggil namanya.
"Pa...." Ucap Nur pelan.
Ayra dan Bram bersamaan menoleh ke arah Nur.
"Bu Ayra..." Ucap Nur pelan.
Ayra termenung sejenak. Ia masih mencerna kata-kata suaminya.
"Ay... Nur sedang hamil cucu kita." Ucapan Bram seketika kembali membuat airmata Ayra menetes.
Ia melangkah mendekati Nur. Ia menatap perempuan yang terlihat kurang tidur itu.
"Kenapa Ibrahim tak mengatakan apapun padaku Mas... Bahkan menikah pun dia tak meminta ridho ku?"
Seketika hati Nur pun merasa sedih dan sedikit kecewa. Ia khawatir Ayra tak merestui dirinya. Nur bisa melihat jika ayah dan ibu suaminya adalah orang berada atau kaya. Dari pakaian yang digunakan dan aroma parfum Bram dan Ayra yang cukup mahal bagi orang biasa. Ayra yang tadi tak sempat mengganti bajunya. Ia hanya menggunakan cardigan dan jilbab panjangnya.
"Ay... kamu bisa meminta penjelasan itu dengan Umi Laila. Sekarang mas mohon. Jangan ada yang tahu status anak kita dan keberadaan Nur. Ia sedang di cari beberapa kelompok dan orang. Termasuk dari Ammar dan Qiya." Ucap Bram pada Ayra sambil memegang pundak sang istri.
Ayra mendekati Nur. Ia memegang tangan yang tak terlilit infus.
"Kenapa kalian merahasiakan pernikahan kalian ?" Tanya Ayra pada sang menantu yang belum pernah bertemu.
"Bukan merahasiakan Bu. Tetapi lebih menunggu Mas Ibra membawa ku kepada Ibu. Aku pun merasa di tipu oleh Mas Ibra. Dia bilang dia hanya seorang tenaga kerja Indonesia yang bekerja di pabrik yang sama dengan diriku. Tapi nyatanya ia pun merahasiakan identitas pekerjaan dan juga keluarganya. Ia mengatakan jika bapak dan ibu orang biasa. Nyatanya kalian orang kaya." Ucap Nur yang berwajah sendu.
"Lantas kamu pun marah pada suami mu?" Tanya Ayra sambil mengusap punggung tangan Nur.
"Aku tak menghiraukan rasa kesal dibohongi Bu. Aku lebih berharap dan berdoa Mas Ibra pulang dalam keadaan selamat. Dan bisa menunggu kelahiran anak kami. Satu ijab kabul yang telah di ucap adalah janji yang harus di tepati. Maka selagi aku belum melihat sendiri mayat suami ku. Maka ia akan tetap aku anggap hidup baik dalam hatiku maupun dalam hidupku." Nur tak mampu membendung air matanya.
Ayra menatap perempuan bernama nur itu. Terlihat wajah teduh dari sang menantu. Bahkan jilbab yang terbungkus saat ia masih di rumah sakit menandakan bahwa anak bungsunya memilih Nur sebagai istri bukan karena kecantikannya. Saat akan meminta bantuan Alan dan satpam, asisten rumah tangga Nur cepat memakaikan jilbab Nur. Perempuan itu pernah berpesan jika terjadi apa-apa pada dirinya. Ia minta tolong agar auratnya tetap di tutupi dari lelaki yang tak halal menikmatinya.
Ayra menggenggam tangan Nur.
"Jangan bersedih. Putra ku Ibrahim selalu memanggilku Mama. Maka panggil aku Mama. Terimakasih sudah mencintai Ibrahim dengan tulus." Ucap Ayra sambil mengusap air mata Nur.
"......" Nur tak mampir berkata-kata.
Ia begitu merasakan kehangatan dari Papa dan Mama sang suami. Ia yang tak pernah merasakan kasih sayang orang tua sedari bayi. Membuat dirinya begitu merasakan bahagia sekaligus terharu. Ia pikir Ayra akan marah atau tidak menerima dirinya. Terlebih ketika ia dibawa beberapa orang dari Malaysia secara paksa. Ia pikir itu adalah orang yang berhubungan dengan pekerjaannya dulu. Namun saat bertemu Bram dan lelaki paruh baya itu mengatakan jika ia adalah ayah dari Ibrahim. Pikiran Nur justru sudah negatif thinking.
Namun ia justru kaget. Karena Bram begitu lembut. Ia bahkan marah pada anak buah nya yang begitu kasar menarik lengan Nur saat gadis itu meronta. Bahkan kalimat Bram saat itu selalu terngiang di telinga Nur. Sosok yang gersang akan rasa dicintai orang tua.
"Mulai sekarang tidak ada yang boleh menyakiti dia. Dia putriku."
Malam itu Ayra pun menemani menantunya. Bahkan saat Shubuh tiba, Ayra memeluk erat menantunya kala ia melihat bagaimana sang menantu memaksa diri untuk melaksanakan kewajiban nya shalat 5 waktu. Bahkan mata Ayra meneteskan butiran bening karena bahagia. Suara menantunya kala membaca ayat-ayat Al-Qur'an membuat Ayra merasa bahagia.
"Sungguh Allah berkehendak kalian berjodoh karena kalian sama-sama mencintai kalam ilahi yang mulia. Mama yakin Ibrahim memilih mu menjadi istrinya karena cinta mu pada Kalam yang di terima Rasulullah shalallahu alaihi sebagai risalah Al Qur'an." Ucap Ayra dalam hatinya. Ia bahagia walau sang anak tak meminta restu dirinya.
Pesan yang sering ia sampaikan kepada Anak-anaknya agar memilih calon hidup bukan sesuai yang kita inginkan. Setidaknya ada kriteria calon pendamping hidup untuk bisa bersama-sama diajak mencintai Rasulullah sang penyampai risalah. Dan Allah subhanallahu wa ta'ala yang menciptakan dunia dan isinya.
Pesan itu Ibrahim lakukan dengan pilihannya pada Nur. Sungguh ilmu bagi anak-anak begitu bermanfaat kala ia tak bersama orang tuanya dan dimanapun ia berada. Seperti Ibrahim yang memilih jalan hidupnya. Ilmunya menjadi bekal ia menjalani kehidupannya dengan profesi apapun ia bekerja.
Sedangkan di luar ruangan Alan begitu kagum pada Sosok Ayra.
"Gila. Gue pikir bakal terjadi perang Baratayudha. Lah kok adem-adem saja di dalam. Salut Bu Ayra. Dimana punya bini bisa tenang begitu, lakinya menghamili orang lain eh kayaknya di dalam cool cool aja." batin Alan yang dari tadi khawatir terjadi keributan dirumah sakit. Ia juga harus sibuk membereskan karena itu termasuk tugasnya sebagai Aspri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
solihin 78
mbrebes mata ini membaca bab ini
2024-07-29
0
solihin 78
benar nur itu sebagian arti ijab kabul
2023-11-18
3
Muhammad Alfan
wah hebat thor pemahaman agamanya bagus ..aku suka banget ..semangat
2023-07-15
0