Bram pun beranjak dari tempat duduknya. Ia keluar dari ruangan itu. Ammar melihat ayah nya sedikit aneh. Lelaki itu cepat menyusul sang ayah. Tampak Bram fokus membalas pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
Namun Bagi Ammar. Ia sangat penasaran, ia berharap kabar baik tentang adiknya.
"Pa, berita tentang Ibra?" Ucap Ammar yang tiba-tiba muncul dan penasaran.
Bram terlihat terkejut. Ia bahkan hampir menjatuhkan ponselnya.
"Em... Bukan... tapi tentang anak cabang Jabar. Mungkin beberapa hari kedepan Papa akan kesana." Jelas Bram.
"Kenapa tidak Ammar saja?" Tanya Ammar
"Kamu kalau memang sudah selesai urusan ini. Ke Australia saja. Temui orang yang papa minta untuk menyelidiki masalah Ibrahim. Agar lebih mendapatkan kepastian." Ucap Bram sambil menyimpan ponselnya.
Ammar pun mengangguk-angguk kepalanya. Ia melihat Papanya masih terlihat berduka. Namun masih bisa fokus untuk menyelesaikan pekerjaan.
"Kenapa tidak tunggu sampai selesai tujuh hari Kakek Pa? Baru ke Jabar? Tanya Ammar.
"Apakah kita harus berlarut-larut dalam kesedihan? Papa bisa tidak menginap. Ayo kita kedalam lagi." ajak Bram pada anaknya.
Kedua lelaki itu kembali ke dalam kamar. Mereka kembali menghibur umi Laila yang masih belum tahu jika rencana pernikahan Qiya telah di batalkan.
"Semoga nenek bisa menghadiri pernikahan kamu dalam keadaan sehat ya Nduk." Ucap Umi Laila Pelan.
"Nenek insyaallah bisa menghadiri pernikahan ku dalam keadaan sehat."
"Aamiin" Ucap mereka yang ada diruangan itu.
Sore harinya mereka kembali ke kediaman Pak Erlangga. Saat akan melaksanakan ibadah shalat Maghrib, Bram menahan tangan istrinya yang akan pergi untuk berwudhu.
"Ay." Panggil Bram cepat.
"Ada apa Mas?"
Bram memegang kedua punggung istrinya. Ia tatap dua bola mata sang istri.
"Terimakasih telah mendampingi mas selama ini. Dan kamu adalah perempuan yang hebat. Maafkan jika mas ada salah." Ucap Bram sambil membenamkan kepala istri tercintanya.
"Ayra juga meminta maaf apabila selama mendampingi mas, ada yang membuat mas tak nyaman dan berkenan. Ayra ridho mas akan apa yang terjadi hari dia setiap kejadian. Bukankah semua cobaan datang itu juga atas izin Allah. Jangankan kita manusia biasa. Nabi saja mendapatkan cobaan." Ucap Ayra masih merasakan detak jantung suaminya.
"Tapi kita bukan nabi Ay... Entahlah di usia yang tak lagi muda ini kenapa terasa berat sekali cobaan yang kita hadapi. Mas pikir menjadi pribadi lebih baik tanpa masalah. Tetapi kenapa cobaan datang saat kita sudah menjadi orang lebih baik." Ucap pria yang awalnya menikahi Ayra tanpa rasa cinta dan terpaksa itu.
"Kita belum ada apa-apa nya mas. Dibandingkan ujian Nabi Ayyub ‘alaihissalam, seorang yang sehat walafiat tak kurang suatu apapun. Lalu Allah memberikan beliau cobaan penyakit dan kefakiran. Namun beliau tetap bersabar, tetap tegar, tidak pernah pernah mengeluh, resah dan gelisah, apalagi gundah dan marah. Sehingga Allah kembali memberikan jalan kesembuhan atas penyakit yang dideritanya, mengembalikan semua harta dan anak-anaknya, juga mengeluarkannya dari berbagai kemelut serta keterpurukan."
"Mas tak akan bernazar apapun untuk kebahagiaan Qiya, Ammar dan kabar tentang Ammar. Tetapi sepertinya kedepan kita harus semakin menggenggam tangan Ay. Mas merasa semakin tua usia, mas semakin merasa banyak dosa. Mas bukan Nabi Ay.,. Namun Allah memberikan kamu bidadari dalam kehidupan Mas" Ucap Bram pelan.
Bram mengatakan itu karena menyambung cerita sang istri tentang Nabi Ayyub ‘alaihissalam yang ketika ia bernazar ketika sakit ia akan mencambuk istrinya sebanyak seratus kali karena istrinya pergi. Namun ketika ia sehat, anaknya Kembali, dan sang istri juga kembali. Nabi Ayyub ‘alaihissalam tak kuasa memukul sang istri yang setia dan sabar merawatnya.
"Tetapi Allah memberikan kemudahan beliau dengan memerintahkan beliau memukul istrinya dengan seiikat jerami gandum dan memukul sang istri. Dan dikisah ini juga kita belajar bahwa cobaan yang datang ke anak-anak kita juga diri kita. Akan ada kemudahan yang Allah berikan. Dan kita hanya perlu di sabar mas. Bersabar melaluinya dan menunggu kemudahan itu."
Ayra pun melerai pelukannya.
"Kenapa detak jantung suami Ayra ini tak seperti biasanya?" Tanya Ayra melerai pelukannya.
"Mungkin karena separuh jiwa kita masih belum pasti kabarnya. Entah kenapa mas tak percaya jika Ibrahim telah tiada." Ucap Bram memandangi wajah istrinya yang masih cantik walau telah berusia 50 tahun lebih.
Satu usapan Bram berikan pada bagian bawah mata Ayra.
"Apakah ada keriput mas?" Goda Ayra pada sang suami.
"Sedikit. Tapi masih cantik." Ucap Bram pelan.
Disaat suami istri itu sedang merasakan bunga-bunga cinta yang terus mereka rawat walau usia tak lagi muda, sepasang suami istri justru terlihat berdebat dan hal itu disaksikan oleh putra mereka.
"Pa... Hilman tadi mengatakan jika Papa membatalkan pernikahan dia dengan Qiya." Ucap perempuan itu.
"Aku lebih tahu mana yang terbaik untuk dia. Anak mu itu dari dulu selalu Plin plan. Ia tak bisa membuat keputusan jelas. Dulu ingin menjadi dokter, padahal sudah ku bilang ia tak ada bakat di kedokteran. Nyatanya apa? dia gagal kan. Sekarang jika ia bisa sukses berusaha dan karir nya bagus di dunia politik. Maka itu karena aku yang mengatur dan membimbing nya."
",Tapi ini tentang pasangan hidup Pa. Kita tidak bisa memaksa dia. Dia yang akan menjalani. Kita cukup meridhoi. Bukan sampai menentukan pasangan nya. Apa Papa tak ingin punya menantu dari keluarga terpandang? Dan menantu yang tak hanya baik akhlaknya tapi juga paras nya." Ucap Ratih.
"Sudah diamlah!"
"Papa!" Hilman membentak lelaki yang memberikan nafkah dirinya.
"Hilman...." Ucap Bu Ratih pelan.
Bu Ratih cepat menahan dada anaknya yang berjalan ke arah sang ayah. Hubungan komunikasi yang terlihat tak baik-baik saja antara ayah dan anak. Hari itu seolah Hilman betul-betul memberontak.
Hilman pun sudah merasa kecewa dan muak dengan keputusan demi keputusan ayahnya. Puncaknya pembatalan pernikahan dirinya dan Qiya dan kini ibunya kembali di bentak. Hal yang sering sekali ia lihat jika sang ayah sedang bad mood karena ada masalah.
"Apa kamu masih mau meminta agar kamu menikah dengan anak Bramantyo itu. Sudahlah Hil. Kamu baru di dunia perpolitikan. Kamu belum banyak tahu sepak terjang keluarga Bram itu." Ucap Pak Rendra tersenyum smirk ke arah anaknya.
"Jadi papa kemarin begitu bersemangat ketika aku ingin melamar Qiya karena hanya untuk menaikkan elektabilitas suara partai dan suara ku? Agar banyak yang bergabung dengan partai Papa?" Nada bicara Hilman mulai meninggi.
"Iya. Kenapa kamu tidak suka?"
"Pa.... Tega sekali Papa. Apakah Papa pikir aku ini boneka? Aku punya hati Pa. Aku menyukai Qiya. Dan Papa tahu, karena ulah Papa ini aku tidak tahu apakah aku akan menemukan perempuan seperti Qiya atau tidak...."
Hilman sudah sangat emosi. Ia ingin mencoba melampiaskan emosinya. Namun ia tak bisa melakukan itu. Didikan Pak Toha pada cucunya yang selalu mengajarkan untuk bersabar. Ia harus bersabar. Karena ia tak ingin kembali yang menjadi salah adalah Pak Toha. Sering sekali Pak Rendra mengatakan jika Hilman melakukan salah. Maka Pak Toha yang akan disalahkan oleh anak Pak Toha itu.
"Ini didikan kakek mu. Ini hasilmu mondok dulu?"
Karena saat SMP dan SMA keputusan nya untuk mondok ditentang oleh Pak Rendra. Pak Toha lah yang memaksa Hilman yang hampir terkena pengaruh pergaulan bebas saat kedua orang tua sibuk mencari nafkah, sedang ia tak bisa menemani cucunya di kota. Maka saat itu Pak Toha menyuruh menitipkan di pondok pesantren. Kebetulan saat SMA, Hilman satu pondok dengan Qiya. Namun karena Putri Ayra itu betul-betul memegang teguh pesan orang tuanya.
Ia tak pernah terpikirkan menjalin hubungan atau menyimpan rasa pada lelaki. Ia fokus pada tutjuannya yaitu menuntut ilmu bersungguh-sungguh. Sehingga ia tak terlalu paham dengan Hilman. Berbeda dengan Hilman yang mengagumi Putri Bram itu. Ia bahkan sering melihat dari laptop bagaimana keseharian anak CEO MIKEL Group itu walau hanya unggahan tentang para ulama yang menyampaikan ilmunya.
"Tidak bisakah sekali ini saja Hilman menentukan jalan hidup Hilman, Pa...." Ucap Hilman pelan. Ia duduk di sofa dan menopang kepalanya.
Saat ia akan kembali marah pada anaknya. Ia sedikit bahagia karena mendapatkan pesan dari email-nya. Dan ia langsung membalas pesan itu.
[Terus cari informasi nya. Dan kabarkan aku sedetail apapun berita itu.]
Jempol Pak Rendra begitu cepat mengetik kalimat itu sebelum ia mengklik 'send'.
Lelaki itu tersenyum puas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
hidagede1
hilman semoga mendapatkan jodoh yg baik
2023-04-06
2
Cucu Ulpah
pasti rendra in orang yg jahat dan penuh ambisi
2023-02-16
0
LENY
Kayaknya pak Rendra ini jahat
2023-02-10
0