7 Dua Keluarga Dua Rasa

Bram pun beranjak dari tempat duduknya. Ia keluar dari ruangan itu. Ammar melihat ayah nya sedikit aneh. Lelaki itu cepat menyusul sang ayah. Tampak Bram fokus membalas pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.

Namun Bagi Ammar. Ia sangat penasaran, ia berharap kabar baik tentang adiknya.

"Pa, berita tentang Ibra?" Ucap Ammar yang tiba-tiba muncul dan penasaran.

Bram terlihat terkejut. Ia bahkan hampir menjatuhkan ponselnya.

"Em... Bukan... tapi tentang anak cabang Jabar. Mungkin beberapa hari kedepan Papa akan kesana." Jelas Bram.

"Kenapa tidak Ammar saja?" Tanya Ammar

"Kamu kalau memang sudah selesai urusan ini. Ke Australia saja. Temui orang yang papa minta untuk menyelidiki masalah Ibrahim. Agar lebih mendapatkan kepastian." Ucap Bram sambil menyimpan ponselnya.

Ammar pun mengangguk-angguk kepalanya. Ia melihat Papanya masih terlihat berduka. Namun masih bisa fokus untuk menyelesaikan pekerjaan.

"Kenapa tidak tunggu sampai selesai tujuh hari Kakek Pa? Baru ke Jabar? Tanya Ammar.

"Apakah kita harus berlarut-larut dalam kesedihan? Papa bisa tidak menginap. Ayo kita kedalam lagi." ajak Bram pada anaknya.

Kedua lelaki itu kembali ke dalam kamar. Mereka kembali menghibur umi Laila yang masih belum tahu jika rencana pernikahan Qiya telah di batalkan.

"Semoga nenek bisa menghadiri pernikahan kamu dalam keadaan sehat ya Nduk." Ucap Umi Laila Pelan.

"Nenek insyaallah bisa menghadiri pernikahan ku dalam keadaan sehat."

"Aamiin" Ucap mereka yang ada diruangan itu.

Sore harinya mereka kembali ke kediaman Pak Erlangga. Saat akan melaksanakan ibadah shalat Maghrib, Bram menahan tangan istrinya yang akan pergi untuk berwudhu.

"Ay." Panggil Bram cepat.

"Ada apa Mas?"

Bram memegang kedua punggung istrinya. Ia tatap dua bola mata sang istri.

"Terimakasih telah mendampingi mas selama ini. Dan kamu adalah perempuan yang hebat. Maafkan jika mas ada salah." Ucap Bram sambil membenamkan kepala istri tercintanya.

"Ayra juga meminta maaf apabila selama mendampingi mas, ada yang membuat mas tak nyaman dan berkenan. Ayra ridho mas akan apa yang terjadi hari dia setiap kejadian. Bukankah semua cobaan datang itu juga atas izin Allah. Jangankan kita manusia biasa. Nabi saja mendapatkan cobaan." Ucap Ayra masih merasakan detak jantung suaminya.

"Tapi kita bukan nabi Ay... Entahlah di usia yang tak lagi muda ini kenapa terasa berat sekali cobaan yang kita hadapi. Mas pikir menjadi pribadi lebih baik tanpa masalah. Tetapi kenapa cobaan datang saat kita sudah menjadi orang lebih baik." Ucap pria yang awalnya menikahi Ayra tanpa rasa cinta dan terpaksa itu.

"Kita belum ada apa-apa nya mas. Dibandingkan ujian Nabi Ayyub ‘alaihissalam, seorang yang sehat walafiat tak kurang suatu apapun. Lalu Allah memberikan beliau cobaan penyakit dan kefakiran. Namun beliau tetap bersabar, tetap tegar, tidak pernah pernah mengeluh, resah dan gelisah, apalagi gundah dan marah. Sehingga Allah kembali memberikan jalan kesembuhan atas penyakit yang dideritanya, mengembalikan semua harta dan anak-anaknya, juga mengeluarkannya dari berbagai kemelut serta keterpurukan."

"Mas tak akan bernazar apapun untuk kebahagiaan Qiya, Ammar dan kabar tentang Ammar. Tetapi sepertinya kedepan kita harus semakin menggenggam tangan Ay. Mas merasa semakin tua usia, mas semakin merasa banyak dosa. Mas bukan Nabi Ay.,. Namun Allah memberikan kamu bidadari dalam kehidupan Mas" Ucap Bram pelan.

Bram mengatakan itu karena menyambung cerita sang istri tentang Nabi Ayyub ‘alaihissalam yang ketika ia bernazar ketika sakit ia akan mencambuk istrinya sebanyak seratus kali karena istrinya pergi. Namun ketika ia sehat, anaknya Kembali, dan sang istri juga kembali. Nabi Ayyub ‘alaihissalam tak kuasa memukul sang istri yang setia dan sabar merawatnya.

"Tetapi Allah memberikan kemudahan beliau dengan memerintahkan beliau memukul istrinya dengan seiikat jerami gandum dan memukul sang istri. Dan dikisah ini juga kita belajar bahwa cobaan yang datang ke anak-anak kita juga diri kita. Akan ada kemudahan yang Allah berikan. Dan kita hanya perlu di sabar mas. Bersabar melaluinya dan menunggu kemudahan itu."

Ayra pun melerai pelukannya.

"Kenapa detak jantung suami Ayra ini tak seperti biasanya?" Tanya Ayra melerai pelukannya.

"Mungkin karena separuh jiwa kita masih belum pasti kabarnya. Entah kenapa mas tak percaya jika Ibrahim telah tiada." Ucap Bram memandangi wajah istrinya yang masih cantik walau telah berusia 50 tahun lebih.

Satu usapan Bram berikan pada bagian bawah mata Ayra.

"Apakah ada keriput mas?" Goda Ayra pada sang suami.

"Sedikit. Tapi masih cantik." Ucap Bram pelan.

Disaat suami istri itu sedang merasakan bunga-bunga cinta yang terus mereka rawat walau usia tak lagi muda, sepasang suami istri justru terlihat berdebat dan hal itu disaksikan oleh putra mereka.

"Pa... Hilman tadi mengatakan jika Papa membatalkan pernikahan dia dengan Qiya." Ucap perempuan itu.

"Aku lebih tahu mana yang terbaik untuk dia. Anak mu itu dari dulu selalu Plin plan. Ia tak bisa membuat keputusan jelas. Dulu ingin menjadi dokter, padahal sudah ku bilang ia tak ada bakat di kedokteran. Nyatanya apa? dia gagal kan. Sekarang jika ia bisa sukses berusaha dan karir nya bagus di dunia politik. Maka itu karena aku yang mengatur dan membimbing nya."

",Tapi ini tentang pasangan hidup Pa. Kita tidak bisa memaksa dia. Dia yang akan menjalani. Kita cukup meridhoi. Bukan sampai menentukan pasangan nya. Apa Papa tak ingin punya menantu dari keluarga terpandang? Dan menantu yang tak hanya baik akhlaknya tapi juga paras nya." Ucap Ratih.

"Sudah diamlah!"

"Papa!" Hilman membentak lelaki yang memberikan nafkah dirinya.

"Hilman...." Ucap Bu Ratih pelan.

Bu Ratih cepat menahan dada anaknya yang berjalan ke arah sang ayah. Hubungan komunikasi yang terlihat tak baik-baik saja antara ayah dan anak. Hari itu seolah Hilman betul-betul memberontak.

Hilman pun sudah merasa kecewa dan muak dengan keputusan demi keputusan ayahnya. Puncaknya pembatalan pernikahan dirinya dan Qiya dan kini ibunya kembali di bentak. Hal yang sering sekali ia lihat jika sang ayah sedang bad mood karena ada masalah.

"Apa kamu masih mau meminta agar kamu menikah dengan anak Bramantyo itu. Sudahlah Hil. Kamu baru di dunia perpolitikan. Kamu belum banyak tahu sepak terjang keluarga Bram itu." Ucap Pak Rendra tersenyum smirk ke arah anaknya.

"Jadi papa kemarin begitu bersemangat ketika aku ingin melamar Qiya karena hanya untuk menaikkan elektabilitas suara partai dan suara ku? Agar banyak yang bergabung dengan partai Papa?" Nada bicara Hilman mulai meninggi.

"Iya. Kenapa kamu tidak suka?"

"Pa.... Tega sekali Papa. Apakah Papa pikir aku ini boneka? Aku punya hati Pa. Aku menyukai Qiya. Dan Papa tahu, karena ulah Papa ini aku tidak tahu apakah aku akan menemukan perempuan seperti Qiya atau tidak...."

Hilman sudah sangat emosi. Ia ingin mencoba melampiaskan emosinya. Namun ia tak bisa melakukan itu. Didikan Pak Toha pada cucunya yang selalu mengajarkan untuk bersabar. Ia harus bersabar. Karena ia tak ingin kembali yang menjadi salah adalah Pak Toha. Sering sekali Pak Rendra mengatakan jika Hilman melakukan salah. Maka Pak Toha yang akan disalahkan oleh anak Pak Toha itu.

"Ini didikan kakek mu. Ini hasilmu mondok dulu?"

Karena saat SMP dan SMA keputusan nya untuk mondok ditentang oleh Pak Rendra. Pak Toha lah yang memaksa Hilman yang hampir terkena pengaruh pergaulan bebas saat kedua orang tua sibuk mencari nafkah, sedang ia tak bisa menemani cucunya di kota. Maka saat itu Pak Toha menyuruh menitipkan di pondok pesantren. Kebetulan saat SMA, Hilman satu pondok dengan Qiya. Namun karena Putri Ayra itu betul-betul memegang teguh pesan orang tuanya.

Ia tak pernah terpikirkan menjalin hubungan atau menyimpan rasa pada lelaki. Ia fokus pada tutjuannya yaitu menuntut ilmu bersungguh-sungguh. Sehingga ia tak terlalu paham dengan Hilman. Berbeda dengan Hilman yang mengagumi Putri Bram itu. Ia bahkan sering melihat dari laptop bagaimana keseharian anak CEO MIKEL Group itu walau hanya unggahan tentang para ulama yang menyampaikan ilmunya.

"Tidak bisakah sekali ini saja Hilman menentukan jalan hidup Hilman, Pa...." Ucap Hilman pelan. Ia duduk di sofa dan menopang kepalanya.

Saat ia akan kembali marah pada anaknya. Ia sedikit bahagia karena mendapatkan pesan dari email-nya. Dan ia langsung membalas pesan itu.

[Terus cari informasi nya. Dan kabarkan aku sedetail apapun berita itu.]

Jempol Pak Rendra begitu cepat mengetik kalimat itu sebelum ia mengklik 'send'.

Lelaki itu tersenyum puas.

Terpopuler

Comments

hidagede1

hidagede1

hilman semoga mendapatkan jodoh yg baik

2023-04-06

2

Cucu Ulpah

Cucu Ulpah

pasti rendra in orang yg jahat dan penuh ambisi

2023-02-16

0

LENY

LENY

Kayaknya pak Rendra ini jahat

2023-02-10

0

lihat semua
Episodes
1 Duka Keluarga Bramantyo
2 2 Ayra Terjatuh
3 3 Hilman dan Qiya
4 Ayra dan Keluarganya.
5 5 Hilman dan Pak Toha
6 6 Keputusan Qiya
7 7 Dua Keluarga Dua Rasa
8 8 Siapakah Perempuan Itu?
9 9. Nur Hasanah
10 10 Memilih Wahana Internship
11 11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12 12 Menanti Kejujuran
13 13 Kejujuran Bram
14 14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15 15 Qiya di Rumah Sakit
16 16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17 17 Isi Hati Si Kembar
18 18 Rasa Yang berbeda
19 19 Dokter Gede dan Qiya
20 20 Hati Qiya Yang Terusik
21 21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22 22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23 23 Qiya dan rasa dihatinya
24 24 Kedatangan Ayra dan Bram
25 25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26 26 Kembali Bertemu
27 27 Ammar dan Kepribadian nya
28 28 Apakah Ini Cinta?
29 29 Keputusan Ayra dan Bram
30 30 Keluarga Bram dan Ayra
31 Berita Tentang Ibrahim
32 32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33 33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34 34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35 35 Keresahan Hati Ammar
36 36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37 37 Lelaki Itu Ibrahim
38 38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39 39 Jantung Dokter Gede
40 40 Dokter Gede
41 41 Ammar dan Cintanya
42 42 Dokter Gede dan Qiya
43 43 Dua Hati Satu Cinta
44 44 Dua Hati Satu Cinta 2
45 45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46 46 Status Qiya dan Dua Pria
47 47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48 48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49 49 Kejujuran Ammar
50 50 Siapa Kamu?
51 51 Arumi Mayang Dahayu
52 52 Rasa Kecewa Ammar
53 53 Kebimbangan Ammar
54 54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55 55 Musyawarah Keluarga
56 56 Hati Qiya dan Arumi
57 57 Menanti Jawaban Arumi
58 58 Jawaban Arumi
59 59 Keputusan Bram
60 60 Dokter Gede PDKT
61 61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62 62 Ternyata dia Muslim
63 63 Perjuangan Dokter Gede 1
64 64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65 65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66 66 Habis Di Goda Ammar
67 67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68 68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69 69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70 70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71 71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72 72 Tamu tak diharapkan
73 73 Datang Disaat yang Tepat
74 74 Maksud dua Lelaki
75 75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76 76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77 77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78 78 Kedatangan Dua Lelaki
79 79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80 80 "Dek Qiya"
81 81 Dek Qiya Menangis?
82 82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83 83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84 84 Lamaran Gede untuk Qiya
85 85 Separuh Jiwa Nur
86 86 Calon Kakak Ipar
87 87 Kekhawatiran Bu Ratih
88 88 Ammar & Arumi "Sah"
89 89 Hati Ammar dan Arumi
90 90 Air mata Di Hari Bahagia
91 91 Malam Yang Dingin
92 92 Kompetisi Meraih Cinta
93 93 Ijab Gede dan Qiya
94 94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95 95 Satu Nama Dua Hati
96 96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97 97 Munajat Cinta
98 98 Gede dan Masalalunya
99 99 Gadis itu Siapa
100 100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101 101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102 102 Tiga Bulan Pernikahan
103 103 Kelembutan Hati
104 104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105 105 Arumi Dan Ammar
106 106 Flashback Arumi bersama Ayra
107 107 Dinginnya Australia
108 108 Apakah Aku ada Disana?
109 109 "Mas Ammar"
110 110 Kamu Dimana?
111 111 "I love you Arumi."
112 112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113 113 Saling Membuka Diri
114 114 Hati Yang Masih Tersakiti
115 115 Masalalu Pak Rendra
116 116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117 117 Cinta Penuh Kelembutan
118 118 Belajar dari Kisah
119 119 Keegoisan Pak Rendra
120 120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121 121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122 122 Kebahagiaan Putra Ayra
123 123 Luka Hati Bu Ratih
124 124 Penolakan Ratih
125 125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126 126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127 127 Dua Menantu Yang Bahagia
128 128 Ungkapan Hati Gede
129 129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130 130 Peran Qiya Sebagi Istri
131 131 Pesona The Twins
132 132 Siapa Kamu Arumi?
133 133 Skenario Allah
134 134 Kebenaran Untuk Arumi
135 135 Kebesaran Hati Gede
136 136 Kebahagiaan Pak Subroto
137 137 Arumi Koma
138 138 Tiga Keluarga
139 139 Kesedihan Ammar
140 140 Ikhtiar Ammar
141 141 Hasil Pemeriksaan
142 142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143 143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144 144 Flashback Bram dan Ayra
145 145 Rendra dan Masalalunya
146 146 Watak yang Keras
147 147 Permohonan maaf Pak Rendra
148 148 Kabar Duka
149 149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150 150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151 151 Semua karena Cinta
152 152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153 153 Mantan
154 154 Prasangka
155 155 Pesona Ammar
156 156 Otw Ending.
157 Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158 158 Kembar 3
159 159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160 160 Pemotretan
161 161 Keakraban keluarga Ayra
162 162 Perkenalan Zhafirah
163 163 Intermezo Zhafirah
164 164 Firasat Ayra
165 165 Ayra dan Kelima Cucunya
166 166 THE END
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Duka Keluarga Bramantyo
2
2 Ayra Terjatuh
3
3 Hilman dan Qiya
4
Ayra dan Keluarganya.
5
5 Hilman dan Pak Toha
6
6 Keputusan Qiya
7
7 Dua Keluarga Dua Rasa
8
8 Siapakah Perempuan Itu?
9
9. Nur Hasanah
10
10 Memilih Wahana Internship
11
11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12
12 Menanti Kejujuran
13
13 Kejujuran Bram
14
14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15
15 Qiya di Rumah Sakit
16
16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17
17 Isi Hati Si Kembar
18
18 Rasa Yang berbeda
19
19 Dokter Gede dan Qiya
20
20 Hati Qiya Yang Terusik
21
21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22
22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23
23 Qiya dan rasa dihatinya
24
24 Kedatangan Ayra dan Bram
25
25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26
26 Kembali Bertemu
27
27 Ammar dan Kepribadian nya
28
28 Apakah Ini Cinta?
29
29 Keputusan Ayra dan Bram
30
30 Keluarga Bram dan Ayra
31
Berita Tentang Ibrahim
32
32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33
33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34
34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35
35 Keresahan Hati Ammar
36
36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37
37 Lelaki Itu Ibrahim
38
38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39
39 Jantung Dokter Gede
40
40 Dokter Gede
41
41 Ammar dan Cintanya
42
42 Dokter Gede dan Qiya
43
43 Dua Hati Satu Cinta
44
44 Dua Hati Satu Cinta 2
45
45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46
46 Status Qiya dan Dua Pria
47
47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48
48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49
49 Kejujuran Ammar
50
50 Siapa Kamu?
51
51 Arumi Mayang Dahayu
52
52 Rasa Kecewa Ammar
53
53 Kebimbangan Ammar
54
54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55
55 Musyawarah Keluarga
56
56 Hati Qiya dan Arumi
57
57 Menanti Jawaban Arumi
58
58 Jawaban Arumi
59
59 Keputusan Bram
60
60 Dokter Gede PDKT
61
61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62
62 Ternyata dia Muslim
63
63 Perjuangan Dokter Gede 1
64
64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65
65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66
66 Habis Di Goda Ammar
67
67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68
68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69
69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70
70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71
71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72
72 Tamu tak diharapkan
73
73 Datang Disaat yang Tepat
74
74 Maksud dua Lelaki
75
75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76
76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77
77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78
78 Kedatangan Dua Lelaki
79
79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80
80 "Dek Qiya"
81
81 Dek Qiya Menangis?
82
82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83
83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84
84 Lamaran Gede untuk Qiya
85
85 Separuh Jiwa Nur
86
86 Calon Kakak Ipar
87
87 Kekhawatiran Bu Ratih
88
88 Ammar & Arumi "Sah"
89
89 Hati Ammar dan Arumi
90
90 Air mata Di Hari Bahagia
91
91 Malam Yang Dingin
92
92 Kompetisi Meraih Cinta
93
93 Ijab Gede dan Qiya
94
94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95
95 Satu Nama Dua Hati
96
96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97
97 Munajat Cinta
98
98 Gede dan Masalalunya
99
99 Gadis itu Siapa
100
100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101
101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102
102 Tiga Bulan Pernikahan
103
103 Kelembutan Hati
104
104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105
105 Arumi Dan Ammar
106
106 Flashback Arumi bersama Ayra
107
107 Dinginnya Australia
108
108 Apakah Aku ada Disana?
109
109 "Mas Ammar"
110
110 Kamu Dimana?
111
111 "I love you Arumi."
112
112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113
113 Saling Membuka Diri
114
114 Hati Yang Masih Tersakiti
115
115 Masalalu Pak Rendra
116
116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117
117 Cinta Penuh Kelembutan
118
118 Belajar dari Kisah
119
119 Keegoisan Pak Rendra
120
120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121
121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122
122 Kebahagiaan Putra Ayra
123
123 Luka Hati Bu Ratih
124
124 Penolakan Ratih
125
125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126
126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127
127 Dua Menantu Yang Bahagia
128
128 Ungkapan Hati Gede
129
129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130
130 Peran Qiya Sebagi Istri
131
131 Pesona The Twins
132
132 Siapa Kamu Arumi?
133
133 Skenario Allah
134
134 Kebenaran Untuk Arumi
135
135 Kebesaran Hati Gede
136
136 Kebahagiaan Pak Subroto
137
137 Arumi Koma
138
138 Tiga Keluarga
139
139 Kesedihan Ammar
140
140 Ikhtiar Ammar
141
141 Hasil Pemeriksaan
142
142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143
143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144
144 Flashback Bram dan Ayra
145
145 Rendra dan Masalalunya
146
146 Watak yang Keras
147
147 Permohonan maaf Pak Rendra
148
148 Kabar Duka
149
149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150
150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151
151 Semua karena Cinta
152
152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153
153 Mantan
154
154 Prasangka
155
155 Pesona Ammar
156
156 Otw Ending.
157
Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158
158 Kembar 3
159
159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160
160 Pemotretan
161
161 Keakraban keluarga Ayra
162
162 Perkenalan Zhafirah
163
163 Intermezo Zhafirah
164
164 Firasat Ayra
165
165 Ayra dan Kelima Cucunya
166
166 THE END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!