19 Dokter Gede dan Qiya

Qiya pun cepat membuka kedua matanya karena mendengar celotehan Cita. Seketika pandangan dua dokter itu bertemu. Qiya cepat mengalihkan pandangannya pada Cita.

"Biar Cita saja dok yang obati. Cuma lecet juga." Ucap Qiya pelan.

Dokter Gede pun permisi pamit karena ia tak ingin semakin merasa salah tingkah dan terpesona dengan perempuan yang memiliki wajah mirip dengan Mayang. Bulu mata yang lentik, bibir mungil serta dua alis yang cukup hitam dan tebal.

"Baiklah. Saya permisi. Dan untuk motornya saya sudah minta montir benarkan. Nanti sore sudah siap katanya." Ucap dokter Gede sambil berlalu meninggalkan ruangan IGD yang masih sepi.

Karena baru saja jam pergantian shift antara dokter dan perawat yang bertugas. Selepas kepergian dokter tampan itu. Qiya menjerit kaget.

"Awwwhh... Astaghfirullah... Cita...." Ucap Qiya setengah menjerit.

Cita kembali menyiram alkohol ke luka yang terdapat di kakinya dengan sengaja. Ia pun tertawa karena temannya merasa kesakitan.

"Kikikik.... Kamu itu, kena sihir nya tuh dokter apa kok bisa melamun gitu? udah Move on dari Mas Man man itu?" Goda Cita.

Qiya pun menyipitkan kedua matanya.

"Kalau dokter yang di IGD kayak kamu, semua pasien ga bakal ada yang rawat inap...."

"Ya iyalah langsung sembuh..."

"Bukan sembuh tapi langsung dijemput malaikat. Lah pelayanan nya kek gitu...." Ucap Qiya sambil melihat kakinya.

"Hehe... Tenang Bestie. Kadang untuk merasakan sembuh itu harus merasakan sakitnya jarum suntik dan pahitnya obat. Betul?" Kilah Qiya sambil membersihkan luka Qiya dengan kapas.

"Ya ela. Itu pasti kata-kata di novel online." Ucap Qiya yang tahu sahabatnya pasti mendapat kata-kata itu dari novel yang sering ia baca.

"Novel online yang ku baca juga kemarin. Tak boleh loh klo tak seiman menikah. Udah sama Mas Man Man saja kenapa si Qiy. Dia sepertinya sudah terlanjur jatuh dan terbenam dalam cintanya untuk kamu." Goda Cita sambil berputar-putar memegang kapas dengan satu alat yang ada ditangannya.

"Kamu salah jurusan. Dulu harusnya ambil sastra, bukan kedokteran." Ucap Qiya yang mencoba berdiri.

Cita mengambil salah satu sandal jepit di dalam ruangan itu.

"Nih pakek. Punya Alam." Ucap Cita.

"Izin dulu sama orangnya." ucap Qiya.

"Aku tanggungjawab." ucap Cita cepat.

"Ga. Biar pakek sepatu ini saja. Nanti biar aku minta tolong teman kalau ada yang mau keluar untuk titip sandal." Ucap Qiya sambil berjalan sedikit menjinjit karena menahan rasa sakit dan perih pada tumitnya.

Cita hanya menggeleng.

"Ribet amat dah Qiy. Tinggal pakai saja." Ucap Cita dengan heran.

Qiya kembali ke dalam ruangan dimana ia bertugas. Ia biasanya akan mengecek pasien rawat inap. Tiba-tiba pintu itu di buka dan muncul dokter Gede yang membawa sepasang sandal.

"Pakai ini saja dulu dok. Pasti sudah kalau pakai sepatu." Ucap dokter Gede pada Qiya.

Sepasang sandal yang terlihat seperti sandal di hotel diletakkan oleh dokter itu di dekat kaki Qiya. Dan dokter itu cepat membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan ruangan itu. Kembali tanpa memandang wajah Qiya.

"Terimakasih dok." Ucap Qiya cepat.

Sebelum menutup pintu, dokter Gede pun menyembulkan kepalanya dan menjawab perkataan Qiya.

"Sama-sama. Cepat sembuh." Ucap Dokter Gede.

Qiya hanya tersenyum saat dokter muda itu pergi meninggalkan dirinya seorang diri.

"Sungguh lelaki yang betul-betul menjaga pandangannya." Ucap Qiya.

Padahal anak ke dua Ayra itu tak tahu jika dokter tampan dan cerdas itu sedang berjuang keras melawan rasa di hatinya. Ia tak mengerti karena satu rasa berpadu menjadi satu. Rasa benci, rasa suka, bahagia, sakit hati. Maka memilih untuk tak memandang perempuan berbulu mata lentik itu adalah suatu pilihan tepat bagi dokter Gede.

Di kediaman Bram. Ayra sedikit bingung ketika Bram memberikan kunci mobil baru pada Alan. Ayra yang telah siap akan menjemput menantunya untuk pulang ke Villa sedikit bingung.

"Kenapa pakai mobil baru mas?" Tanya Ayra.

"Kamu bilang di rumah sakit itu ada Qiya. Kita belum bisa memberitahukan kabar itu. Sekarang mas sudah minta orang mengurus surat pernikahan Nur dan Ibrahim. Sampai ada kejelasan anak kita bagaimana kondisinya." ucap Bram pada Ayra.

"Baiklah mas. Ammar belum memberikan kabar tentang penyelidikan disana?" Tanya Ayra Kembali.

"Terakhir dia mengatakan sepertinya anak kita disembunyikan oleh satu kelompok. Dan itu yang masih di selidiki. Kita hanya bisa bergerak sendiri Ay. Kita tak bisa menuntut keadilan pada siapapun. Kamu sudah membaca sendiri surat kemarin."

"Ayra tak sedikit pun marah pada Ibrahim tentang keputusannya Pa. Jika ia mengambil keputusan saat itu dan meminta pada Ayra mungkin Ayra akan melarangnya. Namun karena sesuatu peristiwa telah terjadi, Ayra lebih fokus untuk kedepannya. Salah satunya Nur." Ucap Ayra pelan.

Pagi itu Ayra ke rumah sakit tempat menantunya di rawat bersama Alan menggunakan mobil baru. Sedangkan Bram pergi ke kantor diantar sopir rumah.

Ayra menanti di parkiran karena asisten rumah tangga yang akan menemani Nur sampai dokter yang mengecek bahwa dirinya boleh pulang.

Saat Ayra di parkiran bersama Alan. Qiya justru berada di dalam ruangan adik iparnya.

"Selamat pagi Ibu... Bagaimana kondisinya pagi ini?" Tanya Qiya sambil tersenyum manis pada pasiennya.

"Alhamdulilah baik Dok." Jawab Nur yang juga membalas senyum Qiya.

Ia pun memeriksa kondisi pasiennya. Lalu ia meresepkan obat untuk di konsumsi selama dirumah. Pagi itu Nur sudah di perbolehkan pulang. Nur memandangi wajah Qiya dengan dalam. Ada kerinduan pada buku mata lentik dan hidung mancung yang hampir mirip Qiya yang tidak lain adalah Suaminya.

"Ada apa Bu?" Tanya Qiya penasaran saat perawat membuka jarum infus ditangan Nur.

"Wajah Bu dokter sangat mirip dengan suami saya yang sedang tak disini saat ini. Maukah dokter berdoa untuk anak saya?" Tanya Nur.

Qiya pun tersenyum. Ia mendekati Nur. Nur meraih tangan Qiya. Putra Ayra itu Sedikit menunduk, Nur membimbing tangan dokter cantik itu ke perut nya.

"Doakan lah dok." Ucap Nur.

Qiya sedikit bingung namun menyenangkan hati pasien salah satu tips dari Dokter Gede. Dan ia rasa tak menyalahi prosedur. Maka ia pun berdoa untuk kesehatan dan keselamatan janin yang ada di dalam perut Nur.

"Terimakasih dok..." Ucap Nur.

Qiya membalas sopan dan ramah.

"Sama-sama. Ibu harus selalu bahagia ya. Biar dedek nya sehat dan tumbuh kembangnya juga baik karena suasana hati ibunya selalu bahagia dan positif. Semoga ayahnya cepat pulang." Ucap Qiya tulus.

"Terimakasih dok. Wajah dokter sangat mirip ayah nya." Ucap Nur.

Qiya pun berpamitan dari ruangan itu. Saat berjalan menuju ruangan pasien yang lain. Perawat yang satunya bertemu temannya.

"Darimana?" tanya nya.

perawat yang bersama Qiya pun setengah berbisik namun dapat di dengar jelas oleh telinga Qiya.

"Dari tetangga mu. Yang katamu simpanan pengusaha di kota. Hari ini pulang. Tapi aneh pak Tua itu malah tidak ada. Mungkin sudah di tinggalkan karena tahu hamil." Ucap perawat itu.

"Masa ia mbak tadi simpan om om. Astaghfirullah.... " Qiya yang tersadar, mempercepat langkahnya agar tak kembali mendengar gosip perawat itu.

Diluar rumah sakit. Ayra telah berada di dalam mobil bersama Nur.

"Tadi Mbak Qiya yang memeriksa Ma. Tapi kakinya sepertinya sedikit terluka Ma. Kepribadian nya mirip sekali mas Ibra." Ucap Nur di dalam mobil sambil menyandarkan kepalanya di bangku mobil.

"Mereka itu tak akan menceritakan apapun pada kami orang tuanya saat mereka kadang sedang sakit. Mereka dulu di pondok kalau sakit kami justru tahunya dari pengasuhnya. Yang justru selalu terbuka adalah kakak Ibrahim. Yaitu Ammar." Ucap Ayra sambil menggenggam tangan menantunya.

Ia yang tahu jika Nur adalah yatim piatu. Ia ingin memberikan kasih sayang yang tulus. ia tak ingin ada jarak antara ia dan menantunya.

Saat di perjalanan ponsel Ayra berbunyi dan tanda pesan dari sulungnya.

"Ma... Dimana? Ammar ingin ngobrol. Vya VC tapi Ma..." tulis Ammar pada pesan untuk Ayra.

"Tunggu 15 menit lagi ya nak." balas Ayra cepat.

Begitulah Ayra, ia selalu menyediakan waktunya untuk sang anak disaat mereka membutuhkan ia sebagai ibunya.

Dan di sebuah ruangan. Seorang dokter sedang bingung akan masuk kedalam kamar mandi untuk wudhu. Ia yang hanya memiliki sedikit waktu untuk melakukan amalannya setiap pagi di sela-sela sibuknya aktifitas. Ia gunakan untuk shalat Dhuha. Ia bukan tipe lelaki yang sibuk menunjukkan bahwa ia seorang muslim yang taat melalui amal ibadahnya, melalui pakaiannya. Tetapi ia lebih sibuk dengan melakukan ibadah dengan berada diruangan nya tanpa orang lain tahun.

"Lupa. Sandalnya tadi ku beri sama dokter Qiya." Ucap dokter Gede lupa jika sandalnya tadi ia beri pada Qiya.

[Udah ya jangan penasaran lagi. Terus kok namanya Gede? nanti aku ada misteri di balik nama dan karakter dokter Gede ini. Ditunggu ya ]

Terpopuler

Comments

asiah puteri mulyana

asiah puteri mulyana

sepertinya salah prediksi niyh..ternyata bau2nya jodoh neng qia yh ini hiii😁

2024-03-06

0

Milhiyah

Milhiyah

Biasanya panggilan gde itu sama dgn panggilan bangsawan di lombok

2023-05-20

2

LENY

LENY

alhandulillah ternyata dokter Gede muslim jg. cocok sama Qiya

2023-02-11

1

lihat semua
Episodes
1 Duka Keluarga Bramantyo
2 2 Ayra Terjatuh
3 3 Hilman dan Qiya
4 Ayra dan Keluarganya.
5 5 Hilman dan Pak Toha
6 6 Keputusan Qiya
7 7 Dua Keluarga Dua Rasa
8 8 Siapakah Perempuan Itu?
9 9. Nur Hasanah
10 10 Memilih Wahana Internship
11 11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12 12 Menanti Kejujuran
13 13 Kejujuran Bram
14 14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15 15 Qiya di Rumah Sakit
16 16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17 17 Isi Hati Si Kembar
18 18 Rasa Yang berbeda
19 19 Dokter Gede dan Qiya
20 20 Hati Qiya Yang Terusik
21 21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22 22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23 23 Qiya dan rasa dihatinya
24 24 Kedatangan Ayra dan Bram
25 25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26 26 Kembali Bertemu
27 27 Ammar dan Kepribadian nya
28 28 Apakah Ini Cinta?
29 29 Keputusan Ayra dan Bram
30 30 Keluarga Bram dan Ayra
31 Berita Tentang Ibrahim
32 32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33 33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34 34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35 35 Keresahan Hati Ammar
36 36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37 37 Lelaki Itu Ibrahim
38 38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39 39 Jantung Dokter Gede
40 40 Dokter Gede
41 41 Ammar dan Cintanya
42 42 Dokter Gede dan Qiya
43 43 Dua Hati Satu Cinta
44 44 Dua Hati Satu Cinta 2
45 45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46 46 Status Qiya dan Dua Pria
47 47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48 48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49 49 Kejujuran Ammar
50 50 Siapa Kamu?
51 51 Arumi Mayang Dahayu
52 52 Rasa Kecewa Ammar
53 53 Kebimbangan Ammar
54 54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55 55 Musyawarah Keluarga
56 56 Hati Qiya dan Arumi
57 57 Menanti Jawaban Arumi
58 58 Jawaban Arumi
59 59 Keputusan Bram
60 60 Dokter Gede PDKT
61 61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62 62 Ternyata dia Muslim
63 63 Perjuangan Dokter Gede 1
64 64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65 65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66 66 Habis Di Goda Ammar
67 67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68 68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69 69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70 70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71 71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72 72 Tamu tak diharapkan
73 73 Datang Disaat yang Tepat
74 74 Maksud dua Lelaki
75 75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76 76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77 77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78 78 Kedatangan Dua Lelaki
79 79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80 80 "Dek Qiya"
81 81 Dek Qiya Menangis?
82 82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83 83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84 84 Lamaran Gede untuk Qiya
85 85 Separuh Jiwa Nur
86 86 Calon Kakak Ipar
87 87 Kekhawatiran Bu Ratih
88 88 Ammar & Arumi "Sah"
89 89 Hati Ammar dan Arumi
90 90 Air mata Di Hari Bahagia
91 91 Malam Yang Dingin
92 92 Kompetisi Meraih Cinta
93 93 Ijab Gede dan Qiya
94 94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95 95 Satu Nama Dua Hati
96 96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97 97 Munajat Cinta
98 98 Gede dan Masalalunya
99 99 Gadis itu Siapa
100 100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101 101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102 102 Tiga Bulan Pernikahan
103 103 Kelembutan Hati
104 104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105 105 Arumi Dan Ammar
106 106 Flashback Arumi bersama Ayra
107 107 Dinginnya Australia
108 108 Apakah Aku ada Disana?
109 109 "Mas Ammar"
110 110 Kamu Dimana?
111 111 "I love you Arumi."
112 112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113 113 Saling Membuka Diri
114 114 Hati Yang Masih Tersakiti
115 115 Masalalu Pak Rendra
116 116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117 117 Cinta Penuh Kelembutan
118 118 Belajar dari Kisah
119 119 Keegoisan Pak Rendra
120 120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121 121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122 122 Kebahagiaan Putra Ayra
123 123 Luka Hati Bu Ratih
124 124 Penolakan Ratih
125 125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126 126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127 127 Dua Menantu Yang Bahagia
128 128 Ungkapan Hati Gede
129 129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130 130 Peran Qiya Sebagi Istri
131 131 Pesona The Twins
132 132 Siapa Kamu Arumi?
133 133 Skenario Allah
134 134 Kebenaran Untuk Arumi
135 135 Kebesaran Hati Gede
136 136 Kebahagiaan Pak Subroto
137 137 Arumi Koma
138 138 Tiga Keluarga
139 139 Kesedihan Ammar
140 140 Ikhtiar Ammar
141 141 Hasil Pemeriksaan
142 142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143 143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144 144 Flashback Bram dan Ayra
145 145 Rendra dan Masalalunya
146 146 Watak yang Keras
147 147 Permohonan maaf Pak Rendra
148 148 Kabar Duka
149 149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150 150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151 151 Semua karena Cinta
152 152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153 153 Mantan
154 154 Prasangka
155 155 Pesona Ammar
156 156 Otw Ending.
157 Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158 158 Kembar 3
159 159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160 160 Pemotretan
161 161 Keakraban keluarga Ayra
162 162 Perkenalan Zhafirah
163 163 Intermezo Zhafirah
164 164 Firasat Ayra
165 165 Ayra dan Kelima Cucunya
166 166 THE END
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Duka Keluarga Bramantyo
2
2 Ayra Terjatuh
3
3 Hilman dan Qiya
4
Ayra dan Keluarganya.
5
5 Hilman dan Pak Toha
6
6 Keputusan Qiya
7
7 Dua Keluarga Dua Rasa
8
8 Siapakah Perempuan Itu?
9
9. Nur Hasanah
10
10 Memilih Wahana Internship
11
11 Ibrahim, Nur, Bram dan Ayra
12
12 Menanti Kejujuran
13
13 Kejujuran Bram
14
14 Qiya Berangkat Ke Wahana Internship
15
15 Qiya di Rumah Sakit
16
16 Dokter Gede Ardhana, Qiya dan Cita
17
17 Isi Hati Si Kembar
18
18 Rasa Yang berbeda
19
19 Dokter Gede dan Qiya
20
20 Hati Qiya Yang Terusik
21
21 Qiya Dan Kebenaran Yang Ia Lihat
22
22 Mie Kiting dan Alam Ghoib
23
23 Qiya dan rasa dihatinya
24
24 Kedatangan Ayra dan Bram
25
25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda
26
26 Kembali Bertemu
27
27 Ammar dan Kepribadian nya
28
28 Apakah Ini Cinta?
29
29 Keputusan Ayra dan Bram
30
30 Keluarga Bram dan Ayra
31
Berita Tentang Ibrahim
32
32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?
33
33 Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
34
34 Surat Tugas Meresahkan Hati
35
35 Keresahan Hati Ammar
36
36 Dua Lelaki Yang Berharap Alisha
37
37 Lelaki Itu Ibrahim
38
38 Nasib Alex dan Doa Qiya
39
39 Jantung Dokter Gede
40
40 Dokter Gede
41
41 Ammar dan Cintanya
42
42 Dokter Gede dan Qiya
43
43 Dua Hati Satu Cinta
44
44 Dua Hati Satu Cinta 2
45
45 Berharap Seperti Arjuna dan Wara Subadra
46
46 Status Qiya dan Dua Pria
47
47 Alisha, Mayang, Putri Broto?
48
48 Kisah Hidup Gede Ardhana
49
49 Kejujuran Ammar
50
50 Siapa Kamu?
51
51 Arumi Mayang Dahayu
52
52 Rasa Kecewa Ammar
53
53 Kebimbangan Ammar
54
54 Dua hati, Buah Hati Ayra
55
55 Musyawarah Keluarga
56
56 Hati Qiya dan Arumi
57
57 Menanti Jawaban Arumi
58
58 Jawaban Arumi
59
59 Keputusan Bram
60
60 Dokter Gede PDKT
61
61 Dokter Gede dan Qiya Merona
62
62 Ternyata dia Muslim
63
63 Perjuangan Dokter Gede 1
64
64 Ungkapan Hati Dokter Gede
65
65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap
66
66 Habis Di Goda Ammar
67
67 Masalalu dokter Gede & Masa Depannya
68
68 Anak Kembar Ayra, Apakah Sold Out?
69
69 Potret Keluarga Ayra Khairunnisa
70
70 Bantu Author Senin besok ya (vote buat the twins)
71
71 Perjuangan Cita Untuk Qiya
72
72 Tamu tak diharapkan
73
73 Datang Disaat yang Tepat
74
74 Maksud dua Lelaki
75
75 Hanya Ibu Jari Yang bisa Mewakili
76
76 Penantian Nur untuk Separuh Jiwa nya
77
77 Petuah Untuk Qiya dari Poro Sepuh
78
78 Kedatangan Dua Lelaki
79
79. Gede dan Hilman Di Mata Keluarga Bram
80
80 "Dek Qiya"
81
81 Dek Qiya Menangis?
82
82 Masalalu Yang Harus Diceritakan
83
83 Menanti kedatangan Keluarga Gede
84
84 Lamaran Gede untuk Qiya
85
85 Separuh Jiwa Nur
86
86 Calon Kakak Ipar
87
87 Kekhawatiran Bu Ratih
88
88 Ammar & Arumi "Sah"
89
89 Hati Ammar dan Arumi
90
90 Air mata Di Hari Bahagia
91
91 Malam Yang Dingin
92
92 Kompetisi Meraih Cinta
93
93 Ijab Gede dan Qiya
94
94 Kau Telah Memilih Yang Lain
95
95 Satu Nama Dua Hati
96
96 Kehangatan Cinta Untuk Arumi
97
97 Munajat Cinta
98
98 Gede dan Masalalunya
99
99 Gadis itu Siapa
100
100 Isi hati Ammar dan Qiya 1
101
101 Isi Hati Ammar dan Qiya 2
102
102 Tiga Bulan Pernikahan
103
103 Kelembutan Hati
104
104 Pesona Ayra dan Anak-anaknya
105
105 Arumi Dan Ammar
106
106 Flashback Arumi bersama Ayra
107
107 Dinginnya Australia
108
108 Apakah Aku ada Disana?
109
109 "Mas Ammar"
110
110 Kamu Dimana?
111
111 "I love you Arumi."
112
112 Kebahagiaan Pengantin Baru
113
113 Saling Membuka Diri
114
114 Hati Yang Masih Tersakiti
115
115 Masalalu Pak Rendra
116
116 Kebahagiaan Keluarga Ayra.
117
117 Cinta Penuh Kelembutan
118
118 Belajar dari Kisah
119
119 Keegoisan Pak Rendra
120
120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra
121
121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra
122
122 Kebahagiaan Putra Ayra
123
123 Luka Hati Bu Ratih
124
124 Penolakan Ratih
125
125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra
126
126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya
127
127 Dua Menantu Yang Bahagia
128
128 Ungkapan Hati Gede
129
129 Kehangatan dan Pesona Keluarga Bramantyo
130
130 Peran Qiya Sebagi Istri
131
131 Pesona The Twins
132
132 Siapa Kamu Arumi?
133
133 Skenario Allah
134
134 Kebenaran Untuk Arumi
135
135 Kebesaran Hati Gede
136
136 Kebahagiaan Pak Subroto
137
137 Arumi Koma
138
138 Tiga Keluarga
139
139 Kesedihan Ammar
140
140 Ikhtiar Ammar
141
141 Hasil Pemeriksaan
142
142 Kedatangan Ayra dan Bram Di Australia
143
143 Aib Pak Rendra Yang Terbuka
144
144 Flashback Bram dan Ayra
145
145 Rendra dan Masalalunya
146
146 Watak yang Keras
147
147 Permohonan maaf Pak Rendra
148
148 Kabar Duka
149
149 Pesona Qiya dan Gede Di Mata Ayra
150
150 Habis Gelap Terbitlah Terang
151
151 Semua karena Cinta
152
152 Keluarga Bramantyo Pradipta
153
153 Mantan
154
154 Prasangka
155
155 Pesona Ammar
156
156 Otw Ending.
157
Perjuangan Nafisah Shidqiyah
158
158 Kembar 3
159
159 Bayi-bayi Trah Kyai Rohim
160
160 Pemotretan
161
161 Keakraban keluarga Ayra
162
162 Perkenalan Zhafirah
163
163 Intermezo Zhafirah
164
164 Firasat Ayra
165
165 Ayra dan Kelima Cucunya
166
166 THE END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!