Qiya pun cepat membuka kedua matanya karena mendengar celotehan Cita. Seketika pandangan dua dokter itu bertemu. Qiya cepat mengalihkan pandangannya pada Cita.
"Biar Cita saja dok yang obati. Cuma lecet juga." Ucap Qiya pelan.
Dokter Gede pun permisi pamit karena ia tak ingin semakin merasa salah tingkah dan terpesona dengan perempuan yang memiliki wajah mirip dengan Mayang. Bulu mata yang lentik, bibir mungil serta dua alis yang cukup hitam dan tebal.
"Baiklah. Saya permisi. Dan untuk motornya saya sudah minta montir benarkan. Nanti sore sudah siap katanya." Ucap dokter Gede sambil berlalu meninggalkan ruangan IGD yang masih sepi.
Karena baru saja jam pergantian shift antara dokter dan perawat yang bertugas. Selepas kepergian dokter tampan itu. Qiya menjerit kaget.
"Awwwhh... Astaghfirullah... Cita...." Ucap Qiya setengah menjerit.
Cita kembali menyiram alkohol ke luka yang terdapat di kakinya dengan sengaja. Ia pun tertawa karena temannya merasa kesakitan.
"Kikikik.... Kamu itu, kena sihir nya tuh dokter apa kok bisa melamun gitu? udah Move on dari Mas Man man itu?" Goda Cita.
Qiya pun menyipitkan kedua matanya.
"Kalau dokter yang di IGD kayak kamu, semua pasien ga bakal ada yang rawat inap...."
"Ya iyalah langsung sembuh..."
"Bukan sembuh tapi langsung dijemput malaikat. Lah pelayanan nya kek gitu...." Ucap Qiya sambil melihat kakinya.
"Hehe... Tenang Bestie. Kadang untuk merasakan sembuh itu harus merasakan sakitnya jarum suntik dan pahitnya obat. Betul?" Kilah Qiya sambil membersihkan luka Qiya dengan kapas.
"Ya ela. Itu pasti kata-kata di novel online." Ucap Qiya yang tahu sahabatnya pasti mendapat kata-kata itu dari novel yang sering ia baca.
"Novel online yang ku baca juga kemarin. Tak boleh loh klo tak seiman menikah. Udah sama Mas Man Man saja kenapa si Qiy. Dia sepertinya sudah terlanjur jatuh dan terbenam dalam cintanya untuk kamu." Goda Cita sambil berputar-putar memegang kapas dengan satu alat yang ada ditangannya.
"Kamu salah jurusan. Dulu harusnya ambil sastra, bukan kedokteran." Ucap Qiya yang mencoba berdiri.
Cita mengambil salah satu sandal jepit di dalam ruangan itu.
"Nih pakek. Punya Alam." Ucap Cita.
"Izin dulu sama orangnya." ucap Qiya.
"Aku tanggungjawab." ucap Cita cepat.
"Ga. Biar pakek sepatu ini saja. Nanti biar aku minta tolong teman kalau ada yang mau keluar untuk titip sandal." Ucap Qiya sambil berjalan sedikit menjinjit karena menahan rasa sakit dan perih pada tumitnya.
Cita hanya menggeleng.
"Ribet amat dah Qiy. Tinggal pakai saja." Ucap Cita dengan heran.
Qiya kembali ke dalam ruangan dimana ia bertugas. Ia biasanya akan mengecek pasien rawat inap. Tiba-tiba pintu itu di buka dan muncul dokter Gede yang membawa sepasang sandal.
"Pakai ini saja dulu dok. Pasti sudah kalau pakai sepatu." Ucap dokter Gede pada Qiya.
Sepasang sandal yang terlihat seperti sandal di hotel diletakkan oleh dokter itu di dekat kaki Qiya. Dan dokter itu cepat membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan ruangan itu. Kembali tanpa memandang wajah Qiya.
"Terimakasih dok." Ucap Qiya cepat.
Sebelum menutup pintu, dokter Gede pun menyembulkan kepalanya dan menjawab perkataan Qiya.
"Sama-sama. Cepat sembuh." Ucap Dokter Gede.
Qiya hanya tersenyum saat dokter muda itu pergi meninggalkan dirinya seorang diri.
"Sungguh lelaki yang betul-betul menjaga pandangannya." Ucap Qiya.
Padahal anak ke dua Ayra itu tak tahu jika dokter tampan dan cerdas itu sedang berjuang keras melawan rasa di hatinya. Ia tak mengerti karena satu rasa berpadu menjadi satu. Rasa benci, rasa suka, bahagia, sakit hati. Maka memilih untuk tak memandang perempuan berbulu mata lentik itu adalah suatu pilihan tepat bagi dokter Gede.
Di kediaman Bram. Ayra sedikit bingung ketika Bram memberikan kunci mobil baru pada Alan. Ayra yang telah siap akan menjemput menantunya untuk pulang ke Villa sedikit bingung.
"Kenapa pakai mobil baru mas?" Tanya Ayra.
"Kamu bilang di rumah sakit itu ada Qiya. Kita belum bisa memberitahukan kabar itu. Sekarang mas sudah minta orang mengurus surat pernikahan Nur dan Ibrahim. Sampai ada kejelasan anak kita bagaimana kondisinya." ucap Bram pada Ayra.
"Baiklah mas. Ammar belum memberikan kabar tentang penyelidikan disana?" Tanya Ayra Kembali.
"Terakhir dia mengatakan sepertinya anak kita disembunyikan oleh satu kelompok. Dan itu yang masih di selidiki. Kita hanya bisa bergerak sendiri Ay. Kita tak bisa menuntut keadilan pada siapapun. Kamu sudah membaca sendiri surat kemarin."
"Ayra tak sedikit pun marah pada Ibrahim tentang keputusannya Pa. Jika ia mengambil keputusan saat itu dan meminta pada Ayra mungkin Ayra akan melarangnya. Namun karena sesuatu peristiwa telah terjadi, Ayra lebih fokus untuk kedepannya. Salah satunya Nur." Ucap Ayra pelan.
Pagi itu Ayra ke rumah sakit tempat menantunya di rawat bersama Alan menggunakan mobil baru. Sedangkan Bram pergi ke kantor diantar sopir rumah.
Ayra menanti di parkiran karena asisten rumah tangga yang akan menemani Nur sampai dokter yang mengecek bahwa dirinya boleh pulang.
Saat Ayra di parkiran bersama Alan. Qiya justru berada di dalam ruangan adik iparnya.
"Selamat pagi Ibu... Bagaimana kondisinya pagi ini?" Tanya Qiya sambil tersenyum manis pada pasiennya.
"Alhamdulilah baik Dok." Jawab Nur yang juga membalas senyum Qiya.
Ia pun memeriksa kondisi pasiennya. Lalu ia meresepkan obat untuk di konsumsi selama dirumah. Pagi itu Nur sudah di perbolehkan pulang. Nur memandangi wajah Qiya dengan dalam. Ada kerinduan pada buku mata lentik dan hidung mancung yang hampir mirip Qiya yang tidak lain adalah Suaminya.
"Ada apa Bu?" Tanya Qiya penasaran saat perawat membuka jarum infus ditangan Nur.
"Wajah Bu dokter sangat mirip dengan suami saya yang sedang tak disini saat ini. Maukah dokter berdoa untuk anak saya?" Tanya Nur.
Qiya pun tersenyum. Ia mendekati Nur. Nur meraih tangan Qiya. Putra Ayra itu Sedikit menunduk, Nur membimbing tangan dokter cantik itu ke perut nya.
"Doakan lah dok." Ucap Nur.
Qiya sedikit bingung namun menyenangkan hati pasien salah satu tips dari Dokter Gede. Dan ia rasa tak menyalahi prosedur. Maka ia pun berdoa untuk kesehatan dan keselamatan janin yang ada di dalam perut Nur.
"Terimakasih dok..." Ucap Nur.
Qiya membalas sopan dan ramah.
"Sama-sama. Ibu harus selalu bahagia ya. Biar dedek nya sehat dan tumbuh kembangnya juga baik karena suasana hati ibunya selalu bahagia dan positif. Semoga ayahnya cepat pulang." Ucap Qiya tulus.
"Terimakasih dok. Wajah dokter sangat mirip ayah nya." Ucap Nur.
Qiya pun berpamitan dari ruangan itu. Saat berjalan menuju ruangan pasien yang lain. Perawat yang satunya bertemu temannya.
"Darimana?" tanya nya.
perawat yang bersama Qiya pun setengah berbisik namun dapat di dengar jelas oleh telinga Qiya.
"Dari tetangga mu. Yang katamu simpanan pengusaha di kota. Hari ini pulang. Tapi aneh pak Tua itu malah tidak ada. Mungkin sudah di tinggalkan karena tahu hamil." Ucap perawat itu.
"Masa ia mbak tadi simpan om om. Astaghfirullah.... " Qiya yang tersadar, mempercepat langkahnya agar tak kembali mendengar gosip perawat itu.
Diluar rumah sakit. Ayra telah berada di dalam mobil bersama Nur.
"Tadi Mbak Qiya yang memeriksa Ma. Tapi kakinya sepertinya sedikit terluka Ma. Kepribadian nya mirip sekali mas Ibra." Ucap Nur di dalam mobil sambil menyandarkan kepalanya di bangku mobil.
"Mereka itu tak akan menceritakan apapun pada kami orang tuanya saat mereka kadang sedang sakit. Mereka dulu di pondok kalau sakit kami justru tahunya dari pengasuhnya. Yang justru selalu terbuka adalah kakak Ibrahim. Yaitu Ammar." Ucap Ayra sambil menggenggam tangan menantunya.
Ia yang tahu jika Nur adalah yatim piatu. Ia ingin memberikan kasih sayang yang tulus. ia tak ingin ada jarak antara ia dan menantunya.
Saat di perjalanan ponsel Ayra berbunyi dan tanda pesan dari sulungnya.
"Ma... Dimana? Ammar ingin ngobrol. Vya VC tapi Ma..." tulis Ammar pada pesan untuk Ayra.
"Tunggu 15 menit lagi ya nak." balas Ayra cepat.
Begitulah Ayra, ia selalu menyediakan waktunya untuk sang anak disaat mereka membutuhkan ia sebagai ibunya.
Dan di sebuah ruangan. Seorang dokter sedang bingung akan masuk kedalam kamar mandi untuk wudhu. Ia yang hanya memiliki sedikit waktu untuk melakukan amalannya setiap pagi di sela-sela sibuknya aktifitas. Ia gunakan untuk shalat Dhuha. Ia bukan tipe lelaki yang sibuk menunjukkan bahwa ia seorang muslim yang taat melalui amal ibadahnya, melalui pakaiannya. Tetapi ia lebih sibuk dengan melakukan ibadah dengan berada diruangan nya tanpa orang lain tahun.
"Lupa. Sandalnya tadi ku beri sama dokter Qiya." Ucap dokter Gede lupa jika sandalnya tadi ia beri pada Qiya.
[Udah ya jangan penasaran lagi. Terus kok namanya Gede? nanti aku ada misteri di balik nama dan karakter dokter Gede ini. Ditunggu ya ]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 166 Episodes
Comments
asiah puteri mulyana
sepertinya salah prediksi niyh..ternyata bau2nya jodoh neng qia yh ini hiii😁
2024-03-06
0
Milhiyah
Biasanya panggilan gde itu sama dgn panggilan bangsawan di lombok
2023-05-20
2
LENY
alhandulillah ternyata dokter Gede muslim jg. cocok sama Qiya
2023-02-11
1