Daffa terpaksa mengantar Rhea pulang ke kediaman Riggle setelah pagi menjelang. Gadis itu meronta ingin bertemu dengan ayahnya setelah semua rahasianya terbongkar. Hanya ayahnya yang bisa melindunginya saat ini, pikirnya.
Mereka memilih untuk memakai jalan rahasia dari balik ruang bawah tanah untuk menghindari pengawalan dari orang-orang Sheryl yang berjaga di luar rumah.
Rhea belum mengatakan apapun dan bahkan belum memakan apapun semenjak malam panasnya bersama Daffa kemarin. Wajahnya kini tak hanya cemberut, ia bahkan juga nampak memerah dan tenggelam dalam perasaan malu yang berlipat ganda akibat tindakan bodohnya sebelumnya.
Ia berulang kali menolak Daffa menyentuhnya malam itu. Ia bahkan mengumpat ketika Daffa berhasil melakukannya. Tapi bisa-bisanya ia malah melunak dan luluh hanya karena Daffa memeluknya setelah itu dan kembali menerima penghinaannya sendiri setelahnya.
“Ia ingin mengikatku? Persetan dengan semua ikatan itu.” Umpatnya berkali-kali.
Jika saja ia bukan musuh yang telah menampakkan taringnya, mungkin Rhea akan benar-benar merasa senang karena perlakuan manis suaminya itu. Ia bertindak begitu lembut dalam penyatuan mereka. Suatu hal yang sangat bisa membuat para wanita melayang dan dimabukkan oleh virus cinta yang berbahaya.
Daffa telah mengakses semua perasaannya dan titik terlemah dalam hidupnya sejak awal. Ia benar-benar telah mengendalikannya tanpa pernah ia sangka.
Mereka menghabiskan dua jam perjalanan dalam keheningan. Rhea bahkan duduk di kursi penumpang belakang dan membiarkan Daffa sendiri dengan ocehannya di kursi pengemudi.
Daffa masih mencoba untuk menghiburnya dengan kata-kata cemoohan yang biasa ia lontarkan. Ia bahkan sesekali menyinggung Rhea dengan mendeskripsikan setiap lekuk tubuhnya yang telah ia sentuh. Ia benar-benar menguji kesabaran gadis itu kali ini.
“Setelah bertahun-tahun kau mengataiku naik turun ranjang para pria kaya, sekarang malah bisa-bisanya kau menghina tubuhku setelah berhasil merampas apa yang paling penting bagi diriku selama ini.” Umpat Rhea sebelum menginjakkan kakinya turun dan berlarian ke dalam istana keluarga Riggle yang sudah ada di depan mata.
“Ibu, aku melakukan kesalahan besar.” Rengeknya sambil memeluk Nyonya Syahnaz Riggle sang ibu angkat sekaligus bibinya dari pihak ibu.
“Selamat siang Prof Riggle. Atau aku harus memanggilmu ayah mertua.” Daffa membentangkan tangannya ke arah Tuan Antonio Riggle atau yang akrab ia sapa dengan panggilan Professor.
Dan diluar dugaan, bahwa ia adalah salah satu muridnya yang belajar begitu banyak tentang dunia medis darinya secara daring dalam sepuluh tahun terakhir.
“Kalian saling mengenal?” tanya Rhea heran namun tetap tak melepaskan pelukan ibunya.
Mereka berempat masuk ke dalam rumah dan memilih ruang kerja sebagai tempat privasi mereka untuk berbagi cerita.
“Ia menyentuhku, bahkan tanpa seizinku. Aku telah memberikan segalanya. Ia merenggutnya.” Rengek Rhea diluar dugaan.
Pasangan Riggle bisa melihat dengan jelas melalui mata mereka bahwa Daffa saat ini tengah memerah akibat perasaan malu di hadapan kedua mertuanya. Prof Riggle yang masih nampak begitu tenang pun memilih untuk menengahi keduanya.
“Aku mempercayakan putriku kepadamu sejak awal dan membantumu mendapatkan ribuan informasi yang berkaitan dengannya. Itu semua karena aku begitu mempercayaimu.” Rhea berhenti terisak dan menatap ke arah kedua orang tuanya bergantian.
“Aku tahu kau bisa kupercayai untuk semua rahasiaku berikut dengan putri kesayanganku. Aku takkan mengatakan apapun karena aku tahu bahwa setiap pasangan memiliki privasi mereka sendiri. Aku takkan membahasnya lebih rinci karena kau juga adalah putriku. Tidakkah kau malu untuk membicarakan perihal urusan ranjangmu di depanku.” Daffa tergelak.
Namun berbeda dengan Rhea. Ia malah merasa kesal dan merajuk seperti anak kecil. Dan beginilah gambaran sang gadis anggun dan cerdas yang telah mencengangkan dunia di hadapan kedua orang tuanya.
“Aku tak mengerti bagaimana caramu menghadapinya selama tiga tahun ini.” Prof Riggle menggeleng.
Sementara Ny. Syahnaz memilih untuk mengekori putri tunggalnya itu ke kamar dan memberikannya penjelasan yang seharusnya.
“Kau itu istrinya. Bukankah kau juga yang mengatakannya kepadaku jika kau ingin menerimanya? Kau jatuh cinta kepadanya?” tanya Ny Syahnaz yang kenal persis seperti apa putrinya.
“Iya, sebelum ia mengaku bahwa ia memiliki penangkal obat itu. Ia mengetahui semua rencanaku dan ia memilih untuk mengikuti semua alurnya. Ia ingin mengikatku diam-diam, ia ingin aku menyerahkan diri. Ia ingin menguasaiku ibu.” Rengkanya semakin menjadi.
“Apa yang sebenarnya membuatmu kesal?” Rhea larut dalam fikirannya sendiri. Memikirkan alasan tentang Daffa membuatnya sejenak lupa akan alasanya telah menangis seperti anak kecil.
“Aku tak ingin ia melihat sisiku yang ini. Ini hanya untuk ayah dan ibu. Aku tak ingin terlihat lemah dan aku tak ingin di tindas. Tidak sampai aku menemukan petunjuk tentang ibuku. Baru setelah itu aku bisa membiarkan diriku mati dengan tenang.”
***
Sementara itu di ruangan kerjanya Daffa juga telah membuka semua kuncinya di hadapan Prof Riggle. Ia juga mirip seperti Rhea. Ia adalah pewaris utama dan semua orang menginginkan nyawanya. Kenyataan bahwa mereka selama ini hidup secara tersembunyi saja sudah menjadi tanda tanya besar. Apalagi dengan semua keanehan di sekitar mereka.
“Aku berulang kali melihatnya bermimpi buruk. Ia mengigau, dan aku bisa melihat lukanya dengan jelas.” Prof Riggle mencoba menelaah isi hati Daffa lewat tatapan matanya.
“Terlepas dari kenyataan bahwa ia adalah putrimu dan juga hubungannya dengan Devian, aku bisa melihat bahwa ia memiliki lukanya sendiri. Ia bahkan nyaris tak bisa menunjukkannya di depanku.”
“Apa itu? Apa mungkin kau bisa menebaknya?”
“Ia berpura-pura telah mencuci otaknya, sementara setiap malam ia selalu mengigau dan mengatakan semua masalahnya di dalam tidurnya. Apa kau kira aku benar-benar bisa bersikap diam Professor?” Prof. Riggle tergelak.
Ia tahu apa masalah Rhea selama ini. Ia selalu lemah di hadapan orang yang disukainya. Ia bisa menyembunyikan semuanya di hadapan Devian. Ia bisa tetap tenang di hadapan semua musuhnya. Tapi ia selalu gegabah dan bertingkah di sekitar Daffa. Bukankah itu terlalu jelas? Bahwa ia sudah menyukai pemuda ini sedari awal.
Prof Riggle adalah satu-satunya orang yang bisa memahami serta menjembatani keduanya. Ia hanya bisa meminta Daffa untuk bersabar dan mencari celah di balik kelemahan istrinya. Karena itu adalah cara tersukses yang ia tahu untuk menangani seorang gadis.
“Kau hanya perlu menunggunya sedikit lagi. Aku yakin ada yang berbeda jika ia mulai memiliki darah dagingnya sendiri.” Ledek Prof Riggle.
Daffa mulai menjadi murid Prof Riggle sejak ia dikirim oleh kakeknya ke Paris jauh dari keluarga besar. Ia memilih Riggle setelah membaca buku harian ayahnya yang menjelaskan dengan detail seberapa hebat Riggle dalam menangani penyakit mental dan juga meracik obat-obatan.
Ia mengirim surat permohonannya secara resmi lewat email. Ia butuh waktu hampir satu tahun lamanya untuk meyakinkan Riggle akan keseriusannya. Prof Riggle sendiri juga memiliki koneksi yang kuat di Paris. Ia juga sering melakukan perjalanan ke Paris tanpa sepengetahuan Rhea.
Ia telah menyelidiki sosok Daffa lebih jauh dari apa yang pemuda itu tahu. Karena itulah ia bisa begitu yakin ketika meminta Daffa untuk menikahi putrinya menggantikan sang adik Devian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments