Mata Daffa benar-benar sudah dibutakan oleh gairahnya kali ini. Jika ia yang sebelumnya tak akan pernah membiarkan Rhea menangis, maka kali ini ia telah membuatnya banjir air mata. Rhea berusaha keras menolak, namun Daffa seakan tuli dan tak mendengarkannya.
Ia mendorong tubuh Rhea dengan keras hingga jatuh ke ranjang empuk yang berada di belakanganya. Ia meraih paksa bibir Rhea dan ********** cukup lama. Sangat lama, hingga penolakan oleh tubuhnya perlahan melunak.
Tangannya terus berusaha mendorong tubuh Daffa untuk menjauh. Namun tanpa kekuatan, ia hanya sekedar mendorongnya untuk mengutarakan penolakan. Ini semua tak lain juga akibat ulahnya, ia tak bisa melakukan apa-apa.
Gadis itu memang berencana untuk meluluhkan kekakuan Daffa malam ini. Ia sengaja memakai gaun tidur yang cantik lengkap dengan wewangian yang mampu memabukkan serta membangkitkan gairah para pria.
Ia berencana melakukannya ketika Daffa linglung dan melupakan semua masa lalunya. Itu adalah pilihan terbaik menurut Rhea, karena jika ia sampai mengandung anak Daffa saat ini maka ia akan membuat pemuda itu jatuh dengan sempurna dalam genggamannya.
Semua rencananya masih sama, sampai akhirnya Steve yang tak disangka muncul dan meragukan penilaiannya. Kemudian ruangan itu. Ruangan itu mengingatkannya kepada sosok Devian yang tak pernah bisa dipahaminya.
Ingatan tentang sebuah tempat tak akan benar-benar terhapus jika kau memiliki ikatan yang kuat dengan tempat itu. Jika ia ingat ada ruangan rahasia disana, atau karena ia memang tahu akan tempat itu dari awal, hanya itu yang bisa membuatnya ikut terpaku dalam ruangan sempit dan gelap yang berada di bawah dasar bumi itu.
“Steve tidak akan datang tanpa tujuan. Ia menghilang dengan misterius sebelumnya. Aku tak bisa membaca pikiran Daffa saat ini, apa itu artinya ia tak pernah melupakan apapun?” gumam Rhea yang membuatnya semakin ragu.
“Ia tak melupakan tempat ini. Tempat ini telah rubuh, jika ia masih bisa menemukannya dan membangunnya kembali. Apa artinya ia tak pernah lupa akan lokasi ini?”
Jika benar Daffa tak melupakannya, dan chip penyerap ingatan itu tak berpengaruh untuknya. Maka hanya ada satu kemungkinan. Dirinya kini tengah berada dalam sebuah bahaya. Bahkan meskipun Daffa menyentuhnya, dan ia mengandung benihnya. Ia takkan pernah bisa lari jika itu semua terjadi.
Rhea menolak keberadaan Daffa kali ini. Ia menolak semua sentuhan dan perlakuannya karena yakin bahwa ada sebuah rencana besar yang tersembunyi di baliknya. Bahkan ia sendiri juga memiliki rencana. Rencana yang telah ia susun selama bertahun-tahun lamanya. Dan ia tak boleh kehilangan semua rencana itu apalagi mengalami kegagalan karenanya.
“Daffa hentikan..” rengek Rhea berontak, namun Daffa sudah terbakar akan gairahnya dan menolak untuk sadar.
“Sial!” umpat Rhea.
Bahkan tubuhnya pun tak bisa ia ajak untuk bekerja sama. Bisa-bisanya ia menerima sentuhan itu dan membiarkan Daffa untuk melepaskan semua helaian benang yang menempel pada tubuhnya.
“Brengsek kau Daffa!” umpat Rhea ketika Daffa berhasil menembus dinding pertahanannya.
“Kau masih suci. Sial, kenapa kau malah membuatku berfikir tentang dirimu yang adalah seorang ******!” umpat Daffa ketika menemukan dirinya kesulitan untuk memasuki Rhea.
Ia masih terus melanjutkan permainannya hingga mereka berdua berakhir pada kepuasan yang sama. Rhea menangis meronta, yang lebih mirip seperti raungan di telingan Daffa. Gadis itu merutuki kebodohannya serta kebuasan Daffa yang seakan tak terkendali.
“Kau tak benar-benar melupakannya.” Rengek Rhea ketika dirinya benar-benar yakin bahwa Daffa tak pernah mendapatkan efek dari pil buatannya.
“Aku memiliki penangkalnya. Aku tahu fungsi pil itu ketika aku berusaha keras menyelamatkan ayahku dan Devian.” Jelas Daffa yang tengah bersandar pada sisi tempat tidur. Ia terpaku ketika dirinya menatap ke arah punggung Rhea yang masih bergetar hebat.
“Aku tahu kau yang menciptakannya bersama Prof Riggle. Kau tak akan memakai nama belakangnya jika tidak terhubung dengannya.” Rhea tersentak.
“Apa yang kau tahu tentang ayahku?” Rhea berbalik dan menatap Daffa dengan tatapan membunuh.
“Bahwa kau diasingkan dari keluarga Naratama dan dibesarkan oleh beliau. Dengan caranya mengajarimu semua ilmu medis yang rumit, aku bisa pastikan bahwa ia menginginkan sesuatu hal yang besar untuk kau lakukan.” Ujar Daffa mencoba mengorek sisi lain dari Rhea.
“Nayara bukan ibuku. Ibuku memang wanita simpanan, tapi bukan Nayara orangnya. Ia adalah Natasya Riggle, adik kandung dari ayahuku Prof Riggle. Aku dan kedua orang tua angkatku tengah berusaha mencari tentang keberadaan ibuku. Aku hanya berharap ia masih hidup, bukan yang lain. Aku tidak membenci ayahku. Tapi aku benci ketika ia mengatakan bahwa ibuku sudah tiada.” Rhea kembali terisak dan bahkan lebih keras kali ini.
Daffa berusaha menenangkannya dan masuk ke dalam selimut besar itu bersama Rhea. Rhea tak lagi menolak, ia membiarkan Daffa meraihnya dan memeluknya dari arah belakang. Mereka masih sama-sama polos. Kehangatan kulit Daffa seakan mampu memberikan ketenangan tersendiri untuknya.
“Aku tak mengerti kenapa ayahku selalu memintaku untuk percaya padamu.” Seru Rhea ketika ia sudah mulai tenang.
“Apa itu alasannya kenapa kau selalu mempertahankanku selama ini?”
Rhea tahu persis apa yang dipikirkan Daffa saat ini. Ia masih berfikir bahwa Rhea ada hubungannya dengan menghilangnya Devian bertahun-tahun lalu.
“Aku adalah orang terakhir yang berhubungan dengannya. Tapi aku tak sadarkan diri waktu itu. Aku tak pernah tahu apa ia memang menjadi korban atau justru ia sendiri yang telah menjadikanku korban.” Jawab Rhea berusaha jujur.
“Aku paham jika kau tak mempercayaiku. Apalagi dengan semua sikapku serta rencana-rencana yang kubuat terhadapmu. Tapi aku bersungguh-sungguh.”
Daffa membalikkan tubuh Rhea dan menghadapnya dalam jarak yang begitu dekat.
“Kau tahu aku telah mencintaimu sejak lama. Cukup dengan kau berada di sisiku saja, maka aku takkan mempermasalahkan apapun. Termasuk jika kau benar-benar akan mengkhianatiku nantinya.” Daffa mendekapnya begitu erat seakan tak ingin gadis itu pergi.
Beberapa jam yang lalu sebelum pergulatan panas mereka dimulai, Daffa masih meyakini suatu hal. Rhea menyembunyikan begitu banyak rahasia termasuk dengan sebuah email yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.
“Ia putri dari Prof Riggle, ia sendirilah yang telah mengembangkan pil penyerap ingatan itu bersama ayahnya. Itu adalah obat yang menyatu dengan plasma dan mampu menjadi racun mematikan bagi tubuh jika digunakan dengan cara yang salah."
Informannya sedikit terlambat kali ini. Tapi meskipun begitu, ia masih bisa membuktikan kesetiaannya dengan memberikan semua bukti konkret tentang Rhea di waktu yang tepat.
“Sulit untuk meretas system mereka. Istrimu benar-benar berbahaya. Tapi ketahuilah bahwa ia belum pernah menyakiti siapapun. Kau hanya perlu mencari tahu apa rencananya dan kau mungkin bisa menemukan Devian tepat waktu.”
Daffa mengerti. Ia hanya perlu membuat Rhea lebih dekat dan menyusup di dalam rencananya. Hidup berdampingan selama tiga tahun terakhir, sudah cukup untuk membuatnya mengetahui satu hal. Gadis itu memiliki hati yang begitu lembut. Ia memendam begitu banyak luka dan menyimpan jauh di dalam tanpa pernah memamerkannya kepada siapapun.
“Kenapa? Kenapa kau seperti ini? Kau tahu aku memiliki rencana. Kenapa kau tak menyakitiku? Kenapa malah mengambil harga diriku?” tanya Rhea semakin terisak.
“Aku ingin mengikatmu agar kau tak bisa berpaling begitu jauh.” Daffa menyiratkan sebuah kalimat yang dapat melukai harga diri Rhea, dan ia berhasil.
Gadis yang sebelumnya amat mengagumi dirinya itu kini berbalik dan mulai membencinya tanpa alasan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments