Bagian 13 : Senjata (Hampir) Makan Tuan

Saatnya makan malam. Rhea sengaja tidak kembali ke kamar yang telah dipersiapkan oleh pihak mansion kepadanya. Ia memilih untuk membantu para maid di dapur dan menyajikan beberapa hidangan sederhana untuk Raffa dan juga kakek.

“Wah, ternyata cucu menantuku begitu hebat. Bukannya hanya cantik dan berbakat ternyata kau juga pandai memasak.” Puji kakek yang sudah tak lagi memakai alat bantu dan bisa berjalan dengan gagahnya menuju meja makan.

“Kakek kau..” Rhea nampak terkejut dengan penampakan kakek yang begitu bugar.

“Kakek hanya berpura-pura sakit agar aku mau membawamu kemari.” Imbuh Daffa yang langsung mengundang gelak tawa bagi para penghuni rumah.

Mereka sudah begitu akrab dengan sikap usil sang kakek yang sudah memasuki usia rapuh itu.

“Baiklah kalau begitu kau harus mencicipi ini. Ini adalah sup kepiting dari resep ibuku, aku bisa menjaminnya seratus persen kalau ini akan terasa sangat enak.” Rhea menyendok semangkuk sup buatannya dan memberikannya kepada kakek untuk dicoba.

“Rasanya persis dengan buatan Syahnaz.” Ujar kakek berkaca-kaca.

“Kau mengenal ibuku? Maksudku ibu angkatku?”

“Dia adalah putri bungsu kakek. Wajar saja jika ia merasa seperti itu, karena secara tidak langsung kau juga adalah cucu kakek. Meskipun hanya anak angkat.” Ceplos Daffa yang membuat suasana semakin dingin.

Rhea memilih untuk tidak menghiraukan ucapan Daffa dan terus beralih ke mangkuk selanjutnya yang kemudian ia serahkan ke Daffa. “Cobalah.” Rhea menyuapi Daffa.

Ehm…Ehmm….

Mereka berdua tersipu dengan reaksi para anggota keluarga yang terlihat seolah tengah menggoda keduanya. Rhea pun dengan kikuk menyerahkan mangkuk itu ke tangan Daffa dan kemudian melanjutkan tugasnya untuk mengisi nasi serta lauk lainnya ke piring sang suami.

Makan malam hari itu benar-benar berlangsung dengan khidmat hingga membuat semua orang bisa merasakan bagaimana kehangatan keluarga yang sebenarnya.

Usai makan malam mereka menghabiskan waktu untuk bercengkrama di ruang keluarga dengan Rhea yang duduk di seberang kakek. Tepatnya di samping sang suami Daffa.

Tanpa perasaan ragu, Rhea menyandarkan kepalanya yang sudah terasa sangat berat ke atas bahu Daffa. Ia memilih untuk bersikap sangat akrab di depan kakek. Sikap yang menunjukkan bahwa mereka memanglah pasangan suami istri yang serasi dan juga sangat akur.

Namun reaksi Daffa sebaliknya, Daffa justru nampak sangat gugup meskipun ia tetap membiarkan Rhea mengalungkan tangannya di leher gadis itu dan bersandar dengan nyamannya.

Tanpa bisa ia sadari, Rhea ternyata bisa mendengar degupan jantungnya yang begitu keras. Suara degupan itu seolah mampu memekakkan gendang telinga Rhea yang berada begitu dekat dengan jantungnya.

Namun Rhea berusaha bersikap senatural mungkin dan tak menghiraukan kegugupan Daffa. Ia bahkan tak menghiraukan Daffa yang berdehem berkali-kali agar ia mau menggeser sedikit tubuhnya menjauh.

“Kau demam Daffa? Kenapa kau terus-terusan berdehem sedari tadi?” tegur Sheryl yang memang tingkat kepekaannya berlipat kali orang normal pada umumnya.

“Aku hanya merasa serak Kak, tidak masalah.” Daffa melepaskan tangan Rhea dan bersikap sedikit kikuk. Rhea yang tahu persis apa permasalahannya pun memilih untuk tetap mengikuti permainan.

“Aku akan mengambilkanmu air hangat.” Daffa mengangguk.

Rhea benar-benar berhasil mengendalikan Daffa kali ini. Ia benar-benar masuk ke dalam permainan yang sengaja dibuat oleh dirinya sendiri.

“Ini akibatnya jika ingin mengujiku.” Batin Rhea merasa bahwa ia telah berhasil menang melawan suami liciknya itu.

Rhea kembali dengan segelas air jeruk hangat untuk Raffa dan juga semua anggota keluarga yang tengah berkumpul. Ia bersikap seakan ia adalah seorang istri pengertian yang telah terbiasa melakukan ini semua.

Daffa menenggak air itu hingga habis tanpa merasa curiga sedikit pun. Ia membuat Rhea mengekspresikan senyum penuh kemenangannya.

“Aku telah menaruh obat perangsang di dalamnya asal kau tahu.” Batin Rhea cekikikan.

Ia berniat ingin menggoda sang suami lebih jauh. Apalagi karena mereka kini tengah berada di tempat dimana Daffa akan merasa sangat lemah dan tak berdaya.

“Bagaimana caramu mengendalikan dirimu dengan istri yang tak bisa kau sentuh? Kau kira aku adalah barang.” Rhea diam-diam berdecih.

Ia sudah menduganya bahwa Daffa akan meminta kamar terpisah dengannya kepada Sheryl. Ia mendengarnya sendiri sebelumnya ketika ia masih sibuk dengan celemek dan juga peralatan masaknya.

Obrolan panjang mereka pun berakhir dengan keadaan Daffa yang sudah mulai bereaksi karena efek obatnya. Ia mulai berkeringat dingin akibat efek obatnya, namun para anggota keluarga yang menyaksikannya hanya tersenyum menggoda karena mengetahui apa yang terjadi dengannya.

Ada begitu banyak mata di dalam mansion, tak sulit untuk membaca setiap langkah mereka disana.

Sheryl yang tahu persis bagaimana hubungan keduanya pun turut serta dalam permainan. Ia sengaja meminta para kepala maid dari mansion lain agar menginap di mansion utama untuk merayakan kepulangan sang tuan muda.

Tak ada lagi kamar kosong. Sementara Daffa sudah tak mampu lagi menahan dirinya. Bahkan untuk bersolo karier di dalam kamar mandi pun ia sudah tak lagi bertenaga.

"Maafkan aku, tapi tidak ada lagi kamar yang tersisa." ujarnya gelisah sambil mengintip dari pintu kamar Rhea.

Rhea sudah dalam keadaan setengah sadar karena mengantuk ketika Daffa masuk. Ia bahkan tak lagi mengomel ketika sang suami pura-puranya itu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.

"Terserah padamu." Rhea beringsut seakan memberikan lampu hijau. Padahal dirinya saat ini hanya dikuasai oleh rasa kantuk dan juga lelah lantaran berusaha untuk menjadi ibu rumah tangga seharian. Ia bahkan lupa tentang jurus yang telah ia gunakan untuk mengerjai Daffa.

***

Malam yang sangat panjang pun berakhir. Mereka berdua tertidur dengan posisi Rhea ang berbantalkan lengan Daffa.

Suasana canggung itu otomatis membuat gadis itu terkejut dan memekik sejadi-jadinya. Untung saja kamar itu adalah kamar kedap suara hingga suara teriakannya bisa teredam tanpa harus membangunkan seisi rumah.

"Apa yang kau lakukan?" kesal Daffa.

"Apa yang kau lakukan padaku?" Rhea menarik selimutnya hingga batas leher dan menyilangkan kedua tangannya di dada seolah sesuatu yang buruk telah terjadi padanya.

"Tidakkah kau lihat pakaianmu masih utuh." gerutu Daffa kesal karena tidurnya yang terganggu.

Semalaman penuh pemuda itu tidak bisa tidur lantaran efek obat yang mempengaruhinya. Ia bahkan harus berendam di air es semalaman untuk mengatasi gejolak dalam dirinya.

"Untung saja Sheryl selalu menyimpan es dalam porsi besar. Jika saja ia tak memiliki hobi membuat es krim kau sudah kubuat habis tadi malam." gerutunya kesal.

Sheryl sang nenek tirinya memang memiliki toko es krim yang terletak di pusat kota. Namun karena hobi dan juga pendiriannya ia lebih suka untuk memproduksi sendiri es itu di rumah dan bukannya memiliki pabrik. Namun akibat ulah Daffa kali ini, sudah bisa dipastikan jika sang nenek tiri tidak akan bisa membuka tokonya hari ini.

"Daffa!" pekik Sheryl dari arah dapur ketika menyadari bahwa ia telah kehilangan dua puluh kilogram es nya.

"Mati aku, aku pasti akan dihukum karena ulahmu. Lagi pula apa salahnya jika aku menidurimu, toh sebagai model kau sudah terbiasa naik turun ranjang orang lain." umpat Daffa yang hanya dibalas cibiran oleh Rhea.

"Setidaknya aku takkan pernah naik ke ranjangmu asal kau tahu. Lebih baik aku melayani para pria hidung belang itu dibanding kau."

"Terserah kau saja." Daffa yang kesal melangkahkan kakinya menuju Sheryl untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Sementara Rhea yang sudah memerah lantaran salah tuduh hanya bisa menyembunyikan dirinya dalam selimut dan berlari ke kamar mandi untuk membalikkan kesadarannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!