Sesampainya di tanah air, mereka memutuskan untuk menginap hotel, sementara Steve membersihkan apartment baru yang akan mereka tinggali nanti. Seperti biasa Daffa dan juga Rhea memesan kamar terpisah namun bersebelahan. Hal ini akan memudahkan bagi Daffa untuk terus memantau kondisi Rhea dan menjauhkannya dari bahaya.
“Kenapa Anda membantunya Tuan Muda?” tanya seseorang di ujung telfon.
“Apa Anda akan percaya jika saya mengatakan bahwa saya berhutang nyawa kepada gadis itu?” Jawab Daffa sedikit lesu.
“Devian yang membunuh ayahnya dan bukan Anda!” sanggah pria itu geram.
“Aku tahu, tapi itu semua karena kepergianku yang sudah membuat Devian semakin menggila. Kau tahu bahwa Devian mengira kalau aku yang tewas di tangan Naratama.”
“Apa maksudmu?”
“Devian sakit. Halusinasinya sangat liar, tak ada yang bisa benar-benar menanganinya selain diriku. Selain berhalusinasi, Ia juga terkadang bisa berubah menjadi orang lain yang sama sekali berbeda. Dia tidak bisa mengenali orang dengan baik."
"Orang yang dia sangka adalah diriku, dan terbaring di bangkar itu adalah Jason, sahabatnya. Devian menutup semua kemungkinan dan prasangkanya sendiri. Ia hanya percaya apa yang ingin ia percayai. Sampai akhirnya Jason datang dan merusak semua imaginasi Devian.”
“Jadi maksudmu benar bahwa ada yang meninggal pada malam itu?” Daffa tetap mengangguk, meskipun mungkin ia tahu bahwa seseorang yang berada di ujung telfon itu takkan bisa melihatnya.
“Jason meninggal dengan nahasnya di tangan Devian malam itu. Tapi Devian mengira bahwa akulah yang ia bunuh. Devian berusaha keras untuk menutupi semua rasa bersalahnya dengan memicu kenangan baru yang sama sekali berbeda. Ia berimaginasi bahwa Tn. Aziel lah pelakunya.”
“Orang yang sangat ia benci telah membunuh saudaranya. Perasaan bersalahnya telah memblokir semua ingatannya dan menciptakan ingatan baru yang sama sekali berbeda. Ia bahkan tak pernah ingat bahwa ada seseorang bernama Jason di dalam hidupnya.”
“Saya mengerti akan kekhawatiran Anda Tuan muda. Saya akan terus memantau perkembangannya dan melaporkan semuanya kepada Anda.”
Daffa menutup telfonnya dengan nafas yang terdengar kasar. Ia sepertinya sangat mempercayai pria itu. Pria yang sama dengan pria yang membawanya pergi ke Paris sepuluh tahun lalu.
Pria yang membawanya pergi di tengah semua perdebatan rumit yang terjadi. Ia juga adalah orang yang sama yang memintanya untuk kembali. Kakeknya hanyalah alasan sederhana untuk meyakinkan Rhea agar mau ikut dengannya.
“Kak Daffa..” Suara Rhea terdengar dari balik pintu. Membuat Daffa berlari dengan sangat tergesa ke arah pintu itu untuk membukanya.
“Ada apa?”
“Ada telfon dari Kak Steve. Dia sedari tadi menelfonmu namun nomormu selalu sibuk.” Rhea memberikan ponselnya kepada Daffa yang langsung di jawab oleh pemuda itu.
“Obat sakit kepala yang kemarin? Iya, aku sudah menyimpannya.”
“Aku takkan melupakannya, tenang saja.” Rhea hanya bisa mendengar apa yang dikatakan Daffa. Entah hal apa yang tengah dibahas pemuda itu dengannya.
“Lebih baik kau bergegas jika segera ingin bertemu denganku Steve.” Percakapan yang menurut Rhea lebih mirip dengan percakapan diantara sepasang kekasih ketimbang percakapan antara dua pria yang saling bersahabat.
“Obat apa?” namun anehnya ia masih merasa penasaran.
Tanpa bermaksud untuk membuatnya semakin curiga, Daffa memilih untuk memberitahukan Rhea segalanya. Ia segera berjalan ke arah nakasnya setelah pertanyaan Rhea. Ia mengambil obat yang ia maksud dan langsung menunjukkannya kepada sang istri.
“Obat tidur yang biasa aku konsumsi tidak tersedia di tanah air. Kemarin Steve meminta kenalan dokternya untuk meresepkan obat lain untukku. Obat yang akan mudah untuk ditemukan disini..”
“Kau memiliki gangguan tidur, Kak?” Daffa mengangguk.
“Sejak kepergianku untuk pertama kalinya ke paris, sepuluh tahun lalu. Kondisinya tak pernah membaik, bahkan meskipun aku sudah berulang kali kembali kesini.” tuturnya.
“Ini adalah obat yang salah.” Rhea menatapnya kosong. Tanpa lagi berfikir panjang, Rhea malah mengambil inisiatif untuk membuang sendiri obat-obatan itu dan menghanyutkannya ke dalam wastafel.
“Apa yang kau lakukan?” teriak Daffa kesal.
“Itu adalah obat yang biasa diberikan kepada penderita gangguan kejiwaan. Obat penenang dengan dosis yang sangat tinggi. Obat ini akan membuatmu berhalusinasi Kak. Ini bukan obat yang ditujukan untuk seorang yang normal. Atau kau memang seorang dalam gangguan kejiawaan.” Daffa tercengang dengan apa yang telah dijelaskan Rhea kepadanya.
“Devian mengkonsumsi obat yang sama.” Sambungnya.
“Dari mana kau mengetahuinya? Bukankah kau kehilangan semua ingatanmu?”
“Aku mendapatkannya kembali baru-baru ini. Semenjak kau mengatakan kita akan kembali ke Indonesia.” Rhea berjalan menuju ke arah sofa di ruang tamu dan mulai mencoba mengandalikan nafasnya yang mulai memburu karena gugup.
“Kau baik-baik saja?” Rhea berkeringat dingin dan nampak sangat pucat ketika ia berusaha keras untuk menggali kembali semua ingatannya.
“Dokter itu memberiku obat yang berbeda." Rhea memejamkan matanya dan berusaha keras untuk mengingat segalanya, bahkan sekalipun itu akan membuat kepalanya terasa sakit.
"Obat yang membuatku melupakan semua keteganganku. Aku bisa mengingatnya kembali karena obat itu.” Jelas Rhea yang semakin membuat Daffa bingung.
“Obat apa?”
“Obat yang bisa menghilangkan candu. Itu adalah semacam obat-obatan yang biasa digunakan untuk rehabilitasi para pecandu narkoba.”
“Kau mengonsumsi..” Rhea langsung menyela perkataan Daffa sebelum ia melanjutkan semua kecurigaannya.
“Ada yang memberiku obat sejak kepergian Devian. Obat yang sama dengan obat yang kalian minum. Aku hampir saja divonis sebagai pecandu jika bukan dokter itu yang memeriksaku. Aku menunjukkan obatnya dan ia menyatakanku sebagai pasien yang sedang menjalani pengobatan.”
Daffa mengingatnya dengan jelas. Itu adalah waktu satu tahun yang lalu dimana skandal akan diri Rhea yang menggunakan narkoba mulai mencuat ke permukaan. Ia sedang berada di puncak kariernya saat itu. Namun anehnya rumor itu mereda dengan sangat cepat tanpa sempat menimbulkan ketegangan publik.
“Ada yang berusaha menjebak, atau mengendalikan kita. Aku diberi tahu bahwa obat yang aku konsumsi akan menguras satu persatu ingatanku tanpa tersisa. Aku akan berakhir sebagai manusia keji yang tak memiliki hati jika terus mengonsumsinya.”
“Obat kita sedikit berbeda, obat yang kau dan Devian konsumsi berefek halusinasi parah yang akan berakhir dengan gejala perubahan kepribadian. Devian di vonis berkepribadian ganda terakhir kali. Aku yakin jika itu juga bagian dari rencana.”
Daffa memutar isi otaknya untuk mencerna semua penjelasan yang diberikan oleh Rhea kepadanya. Ia baru mengonsumsi obat itu kemarin, tapi ia sangat yakin jika efek obat itu sama persis dengan apa yang dijelaskan Rhea kepadanya.
“Kau, tolong jangan jauh-jauh dariku dan juga Steve. Ingat tak ada orang yang bisa kau percayai saat ini.” Rhea mengangguk.
Daffa memintanya untuk beristirahat di dalam kamarnya lantaran gadis itu yang terus berkeringat dan suhu tubuhnya perlahan naik. Ia begitu khawatir dengan kondisi Rhea saat ini, namun gadis itu meyakinkannya bahwa itu hanyalah efek dari kembalinya ingatan buruk pada dirinya. Rhea memintanya untuk tidak khawatir, namun Daffa tetap bersikeras untuk menemani gadis itu dan tidak meninggalkannya sendirian.
“Malam ini biarlah Steve yang tidur di kamarmu. Kau akan terus bersamaku hingga aku yakin jika semuanya benar-benar aman.”
Rhea menurut. Ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur Daffa dengan tangan Daffa yang terus menggenggamnya dan perlahan ikut tertidur tepat di sampingnya. Mereka pun menghabiskan malam panjang yang begitu tenang, seakan tak pernah ada masalah di dalam rumah tangga mereka selama ini.
“Ka…kau..” Rhea baru bangun keesokan harinya dengan kondisi yang sangat canggung antara dirinya dan juga Daffa.
“Aku akan meminta Steve menyiapkan makanan.” Ujar Daffa gugup dan langsung bergegas keluar kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments