“Selamat datang Nona dan Tuan Muda. Tuan sudah menunggu Anda di kamar pribadinya.” Kedatangan Rhea dan Daffa di mansion Lavina langsung disambut hangat oleh barisan para maid cantik yang mampu membutakan mata.
Para maid itu nampak sangat berkelas. Dengan balutan gaun panjang yang hampir menyapu lantai. Rambutnya panjang terurai rata-rata hingga ke pinggang. Rambut mereka di cat indah dengan warna yang bermacam-macam mulai dari coklat terang hingga merah menyala.
Ada juga beberapa diantara mereka yang mengenakan warna nyentrik seperti hijau, biru atau merah namun tetap tak bisa mengalahkan aura mereka yang sangat kuat.
Mereka pada umumnya akan memiliki tubuh yang ramping indah ditambah lagi dengan kaki yang jenjang panjang dengan warna kulit rata-rata cerah. Ada beberapa juga yang bertubuh sintal dan molek, namun karena mereka diwajibkan untuk mengenakan balutan heels pada kaki indah mereka, membuat perbedaan itu tak terlihat begitu kentara.
“Satu, dua, tiga..” Rhea menoleh heran kepada Daffa sambil tangannya terus menghitung ada berapa banyak wanita cantik yang berada disana.
“Aku rasa mereka ada sekitar lima belas orang." Rhea menatapnya bingung.
"Para gadis yang mengenakan gaun panjang adalah penanggung jawab masing-masing ruangan. Sedangkan gadis lainnya yang memakai setelan jas berwarna hitam dan putih, adalah asisten mereka. Setiap gadis memiliki setidaknya lima orang asistent dan juga setidaknya satu orang anak.” Daffa menggerdikkan bahunya lengkap dengan tatapan super usilnya kepada Rhea.
“Anak?” Rhea tercengang, namun masih berusaha keras untuk mengimbangi langkah kaki Daffa yang sangat lebar hingga menyulitkan dirinya.
"Iya, anak yang begitu mungil tapi berstatus sebagai paman atau bibiku karena merupakan keturunan langsung kakek." Daffa tak biasanya nampak setengil ini.
“Anggap saja kakek itu adalah kaisar..” Daffa tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya hingga membuat tubuh Rhea membentur tepat di belakang punggungnya.
“Maka mereka adalah para dayang.” Daffa membalik tubuhnya seketika dan sengaja menggoda Rhea dengan menatapnya dalam jarak yang sangat dekat.
Wajahnya Rhea berubah memerah namun ia tetap mempertahankan posisinya yang begitu dekat, tanpa beralih. Gadis itu hanya setinggi bahunya, bahkan sekalipun ia telah memberikannya sepatu heels yang cukup tinggi untuk bisa mengimbanginya tak akan ada banyak perubahan.
“Kau tahu, hanya ada satu orang permaisuri dan itu takkan pernah tergantikan.”
“Siapa?” tanggap Rhea mulai tertarik.
“Nenekku." Daffa kembali melanjutkan langkahnya yang langsung diikuti oleh Rhea.
"Beliau telah meninggal sejak kami masih begitu kecil. Namun kakek sangat mencintainya. Ia memang memiliki belasan dayang di sisinya, namun tak pernah berfikir untuk mendudukkan mereka di takhta sang permaisuri.” Rhea ber oh ria.
“Oh ya, gadis tadi. Gadis yang menyambutmu di pintu…” Daffa menunjuk seseorang yang berada tak jauh darinya.
“Namanya Sheryl, dia memegang posisi paling tinggi diantara para dayang. Dan hanya ia yang bisa memasuki kamar pribadi kakek."
"Sebenarnya ia adalah adik bungsu nenekku. Usianya tak begitu jauh denganku, aku bahkan terbiasa memanggilnya dengan sebutan kakak, dan bukan Nona atau sapaaan formal lainnya apalagi nenek.”
"Mereka adalah orang yang direkrut khusus. Sheryl telah menamatkan pendidikan Doctoralnya di bidang ekonomi. Gadis lainnya ada yang merupakan cucu konglomerat, ada master bahasa asing, dokter, koki masak terbaik, ahli bela diri dan juga beberapa orang istimewa lainnya. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan tempat disini. 'Mansion Lavina'."
Setidaknya itulah gambaran seberapa pentingnya Keluarga Adya Utama di mata orang-orang berkelas. Tak hanya dalam negeri, bahkan mereka yang dari luar negeri pun rela mengorbankan waktunya untuk bisa pindah dan bergabung dengan Adya Utama.
Daffa kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar sang kakek diikuti oleh Rhea. Mengingat betapa berkelasnya para maid yang bekerja di rumah itu, Rhea pun langsung merubah image dirinya menjadi seorang wanita yang berkelas lewat tatapan mata serta gaya bicaranya yang dibuat seanggun mungkin.
“Hai, akhirnya kalian datang. Kau tahu sudah berapa lama aku menunggu kedatangan cucu kesayanganku ini. Ia bahkan lebih memilih untuk berbulan madu terlebih dahulu sebelum pergi menemuiku.” Gurau sang kakek ringkih yang nampak begitu tak berdaya dengan banyaknya selang yang terpasang di tubuhnya.
“Bagaimana kondisiku? Aku dengar kau cukup cakap dalam bidang medis.” tanya kakek ramah kepada Rhea yang nampak tengah mengamati keseluruhan kondisi kakek dari jarak jauh.
“Anda salah paham Tuan, aku sama sekali tak mengerti begitu banyak. Aku hanya mempelajari dasarnya untuk bekal diri.” Jawab Rhea sopan.
“Jangan memanggilnya Tuan, rumah ini adalah satu-satunya tempat dimana kau bisa merasa sangat nyaman dan tak perlu begitu banyak basa-basi.” Daffa langsung melompat naik ke tempat tidur sang kakek dan memeluknya sangat erat
“Aku sangat rindu padamu Kek.” Pria tua itu nampak tersenyum dengan sangat bahagia dengan tingkah manja sang cucu yang bergelayut manja di lengannya.
“Santai? Lalu kenapa ia memintaku untuk berdandan seperti ini?” lirih Rhea menggerutu. Namun cukup untuk terdengar oleh dirinya dan juga kakek.
“Apa kau tidak merasa minder dengan para gadis kakek tadi? Itulah alasannya aku memintamu untuk berdandan.” Jawab Daffa yang langsung membuatnya kesal.
“ Jadi kapan kalian akan memberiku cucu? Sudah tiga tahun bukan, berhentilah bermain-main. Aku rasa perusahaanku cukup untuk membiayai kehidupan kalian meski tak harus bekerja.”
Keduanya nampak begitu salah tingkah. Itu adalah topik yang mereka kira takkan pernah dibahas selama umur pernikahan mereka.
“Aku sedang merencanakannya. Kau hanya perlu menunggu kabar baiknya saja.” Ceplos Daffa yang langsung dijawab oleh tatapan tajam Rhea kepadanya.
“Aku akan pindah kesini.” Rhea lagi-lagi tercekat.
“Apa maksudmu, bukannya kau tidak suka…” Rhea sengaja menggantung kalimatnya.”
“Tidak suka tinggal di mansion Lavina? Memang tidak, tapi aku akan tinggal di mansion ini bersama kakek.” Daffa semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang kakek.
“Mansion Lavina itu adalah sebutan untuk mansion yang mengelilingi mansion ini. Itu adalah rumah yang ditempati oleh para gadis itu. Dia benci jika harus menjadi salah satu dari mereka.” Sang kakek nampak tersenyum sangat bahagia ketika menjelaskannya.
Rhea memberanikan dirinya untuk mendekat dan duduk di sisi tempat tidur kakek yang lain. Mengapit tubuh kakek antara dirinya dan juga Daffa.
“Aku mengaku bersalah karena harus menculiknya kesana tempo hari. Itu seharusnya adalah ulang tahun pernikahanku dan nenenknya. Tapi ia begitu benci untuk datang ke mansion bekas neneknya itu. Seingatku ia telah mengorbankan begitu banyak air mata selama tinggal disana sebelumnya.” Rhea mengangguk.
Tangan Rhea terulur untuk memijit tubuh kakek yang sudah sangat ringkih itu. Setiap sentuhannya terasa sangat tulus bagi sang kakek hingga tanpa sadar air mata pria itu perlahan mulai meleleh mengikuti perasaannya.
“Anakku begitu menginginkan kau untuk menjadi menantunya. Awalnya aku tak mengerti alasannya, tapi begitu melihatmu secara langsung. Aku tahu bahwa semua kerja kerasnya untuk melindungimu selama ini telah terbayar lunas. Karena anak yang ia besarkan telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik dan juga penyayang.”
“Melindungiku?” Rhea nampak sangat kebingungan dengan sebuah rahasia kecil yang di bongkar oleh sang kakek.
“Ayahku yang mengirimmu jauh dari rumah Tuan Aziel Naratama. Kedua orang tua angkatmu itu adalah orang kepercayaan orang tua kita. Mungkin saja kau pernah mengingat ayahku, karena seingatku ia sangat sering mengunjungimu sebelum meninggal.”
Rhea menguras kembali ingatannya, namun belum banyak dari memory itu yang kembali. Ia tak bisa mengingatnya dengan jelas. Ada begitu banyak siluet yang tak bisa ia kenali dari kilasan masa lalunya. Namun ada satu yang ia ingat pasti, bahwa semua kenangannya tentang Daffa masih jadi kenangan yang cukup menyenangkan untuk diingat.
“Kalian beristirahatlah! Aku sudah meminta Sheryl untuk menyiapkan kamar serta semua kebutuhan kalian. Aku pun butuh waktu untuk beristirahat sekarang, suamimu begitu lama memelukku. Seluruh tubuhku terasa semakin pegal karenanya.” Gurau kakek yang langsung mencairkan suasana.
Rhea adan Daffa menghabiskan beberapa waktu sebelum makan malam dalam suasana yang sangat canggung. Ada begitu banyak rahasia yang meminta untuk diungkap begitu ia memasuki mansion besar ini. Namun ia sama sekali tak sanggup untuk mempertanyakan kebenarannya.
“Gantilah pakaianmu dengan sesuatu yang nyaman! Aku tahu kau kesulitan sejak tadi.” Titah Daffa yang entah kenapa langsung dituruti oleh Rhea tidak seperti biasanya.
“Apa ia terlalu bingung, hingga lupa untuk melawan.” Sindir Daffa membatin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments