“Rhea, kenapa kau bangun terlalu siang? Apa cucu kesayanganku ini telah membuatmu kesulitan semalaman?” ledek kakek yang ternyata telah menunggu kehadiran gadis itu selama kurang lebih tiga jam.
“Sudah hampir jam makan siang, dan kau baru akan mulai sarapan. Itu bukan kebiasaan baik.” Daffa datang dengan sepiring roti panggang kesukaan Rhea serta segelas susu coklat panas.
“Habiskan! Setelah itu ikut aku ke suatu tempat.” Bisinya membuat Rhea merinding.
Rhea hanya bisa memasang tatapan penuh rasa bersalahnya di hadapan kakek. Ia memakan roti bakarnya dengan gerakan yang super lambat. Ia nampak begitu tegang dan juga kaku bak tahanan yang tengah menunggu vonis hukuman.
“Kenapa kakek masih disini?” ujarnya memberanikan diri. Namun kakek dengan usilnya masih duduk disana dan tak beranjak sedikit pun. Seolah ada lem yang merekat begitu kuat disana, hingga ia tak memiliki kemampuan untuk bangun dari kursinya.
“Sebenarnya ada hal yang sudah aku dan Sheryl bahas perihal kalian.” ujar Kakek memecah kesunyian.
“Apa itu Kek?” ujar Rhea gagap.
“Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu." Rhea meletakkan garpu dan pisau di tangannya untuk lebih fokus kepada kakek.
"Perihal kejadian tiga tahun yang lalu antara kau dan juga Devian.” Rhea terdiam.
“Aku tahu dari orang-orangku ada orang yang melakukan praktik cuci otak padamu. Aku tahu itu bukanlah hal yang baik. Tapi aku masih begitu berharap jika kau bisa memberi kami satu saja petunjuk perihal keberadaan Devian. Kau tahu ia tak pernah kembali sejak kejadian itu, kami sangat mengkhawatirkannya.”
“Maafkan aku Kek, Aku belum mengingat apa-apa. Masih terlalu menyakitkan untukku jika harus mengulangnya kembali dalam kepalaku.” Rhea melangkah pergi dan kembali ke kamarnya meninggalkan kakek yang masih mematung dengan segenap perasaan bersalahnya disana.
Rhea terduduk lesu di atas tempat tidurnya. Ia merenung dengan tatapan yang amat kosong. Ia tak nyaris tak bergeming, kalau saja Daffa tak datang untuk menyusulnya.
"Ada apa?" tanya Daffa dan Rhea langsung menghambur ke dalam pelukannya tanpa permisi. Ia terisak hebat dalam pelukan Daffa.
“Aku tahu ini begitu berat untukmu. Aku harap kau bisa menganggap kakek tak pernah mengatakannya.” bisik Daffa sambil membalas pelukan Rhea.
****
Satu jam sebelumnya….
“Devian menyakitinya?” Daffa mendapat telfon dari seseorang misterius yang selalu menjadi kaki tangannya.
Ia tak hanya mendapatkan kebenaran seputar hubungan Devian dan juga Rhea. Ia bahkan juga menerima semua salinan kamera pengawas dari kejadian itu. Ia melihatnya dengan jelas bagaimana saudaranya itu menyiksa Rhea bak binatang.
"Rekaman kamera pengawas yang aku temukan setelah kejadian itu hanya menampakkan bagaimana Devian mengurungnya di kamar mandi. Aku tak tahu jika ternyata tindakannya lebih kejam dari itu." gumam Daffa merasa bersalah.
Rekaman itu menunjukkan bagaimana Devian melemparnya dengan wajan berisi minyak panas, padahal Rhea hanya ingin menyajikan makanan kepadanya. Devian bahkan tak segan untuk menyeret gadis itu ke dalam kamarnya dengan menarik rambutnya. Ia juga membenturkan kepala gadis itu ke sudut nakas.
Tak hanya itu, ia bahkan mengurung Rhea seharian di dalam kamar mandi setelahnya. Bukan hanya mengurung, ia menyanderanya di bawah aliran air yang mengucur deras. Ini sangat tidak manusiawi, gumam Daffa geram.
Tidak dibisa dibantah bahwa Daffa pun turut terlibat dengan rencana kakek dan juga Sheryl untuk melindungi Devian. Namun dengan kenyataan tentang hubungan Rhea dan saudaranya yang baru diterimanya itu, benar-benar membuatnya tak bisa berfikir jernih.
“Aku mengenalnya semenjak kecil, aku tak pernah tahu jika penyakitnya akan separah ini.” Bantah Daffa.
“Aku rasa kau tahu apa yang akan kau lakukan dengan gadis itu. Apa kau akan melindunginya di sisimu, atau justru melanjutkan semua yang telah kau rancang bertahun-tahun lalu.”
Daffa bingung, ia benar-benar bimbang dengan keputusan yang harus diambil. Kali ini hanya ada satu hal yang benar-benar pasti. ‘Ia sama sekali tak bersalah’.
*****
“Maafkan aku.” Rhea melepaskan pelukan Daffa dan berlarian ke kamar mandi.
Raffa tiba-tiba teringat akan sesuatu. “Aku memasukkan obat pencahar ke dalam makanannya. Sial! Kenapa moment nya selalu saja tidak pas.” Ia merutuki kebodohannya sendiri.
Satu jam berlalu dan gadis itu masih terus bolak-balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan apapun yang ada di dalam perutnya. Wajahnya sudah nampak sangat pucat, kekuatannya perlahan mulai terkikis. Daffa yang melihatnya pun tak tahu harus berbuat apa. Ia bingung harus tertawa karena berhasil mengerjai Rhea atau sebaliknya. Karena ia pasti akan menjadi sangat kejam, melihat kondisi gadis itu yang tengah dalam keadaan bersedih saat ini.
"Sial! Apa bedanya aku dengan Devian kalau begini." ujarnya merutuki diri sendiri.
Daffa hanya bisa berdiri di depan pintu sambil terus meledek gadis itu yang nampak begitu konyol di matanya. Rasa sakit di perut dan hatinya seakan tidak selaras. Ia terus terisak selama aksinya seakan rasa sakit di dalam hati itu masih enggan beranjak. Justru perutnyalah yang saat ini merupakan musuh terbesar gadis itu dimana ia nampak begitu konyol di hadapan Daffa saat ini.
“Apa yang kau lakukan?” Daffa mencoba mencairkan perasaan bersalahnya dengan meledek Rhea.
“Diam kau, apa kau kira aku sedang bersenang-senang?” gerutunya kesal.
“Tapi bukankah itu lucu sekali. Kau terus menerus berlari ke kamar mandi sambil menangis. Apakah buang air rasanya bisa semenyakitkan itu?” ledeknya yang terdengar konyol
“Apa kau tahu jika sikapmu itu lebih mirip seperti anak SMP? Mana ada orang dewasa yang tidak memiliki rasa simpatik dengan penderitaan orang lain. Mau bagaimanapun aku itu masih tetap istrimu, asal kau tahu.” Gerutunya kesal.
“Jadi, kau masih menganggap dirimu istriku? Wah, di saat seperti ini?” ledekannya semakin menjadi.
BRUKK!!!
Rhea tiba-tiba saja ambruk di depan pintu kamar mandi hingga membuat Daffa yang masih tertawa tiba-tiba panik. Ia menghampiri tubuh Rhea yang tergeletak di depannya dan membalikkan tubuh gadis itu.
“Jangan bercanda! Kau tahu, seberapa jelek rupamu saat ini? Apa kau benar seorang model? Kenapa jatuhmu itu sangat jauh dari standard estetika kecantikan.” Daffa membalikkan tubuh Rhea yang jatuh tertelungkup. Ia bersimpuh di samping tubuh Rhea dan menopang kepala gadis itu di atas pahanya.
"Rhea! Jangan bercanda. Hei, bangunlah!" Daffa mengguncang-guncang tubuh Rhea panik.
"Sheryl...Sheryl... bantu aku cepat!". teriak Daffa panik.
Sheryl pun muncul hanya dalam hitungan detik seolah dirinya tengah berada di depan pintu kamar pasangan konyol itu.
"Kau apakan istrimu!"
"Aku hanya memberinya obat pencahar untuk mengerjainya." jujur Daffa yang membuat Sheryl bergidik.
"Apakah kau benar suaminya? Apa ini caramu mengerjai istrimu."
"Berhenti mengoceh! Dan cepat panggilkan dokter kemari." Sheryl bergegas menelfon dokter keluarga mereka sementara Daffa memindahkan tubuh Rhea ke atas tempat tidur dan menyelimutinya.
Dokter yang dimaksud Sheryl adalah salah satu dari dayang kakek yang tinggal kompleks mansion yang sama. Tidak butuh waktu lama agar Dokter Aini datang bersama sekelompok perawatnya kesana.
Bak seorang pejuang yang tengah bertempur, Aini datang dengan perlengkapan kedokteran yang dibilang sangat lengkap untuk sekedar dokter jaga.
"Semuanya keluar!" Titah Aini yang langsung dituruti oleh Sheryl dan juga Daffa sang tersangka.
Diluar dugaan, waktu yang dibutuhkan Aini untuk mengobati Rhea ternyata berlangsung cukup lama. Ia lebih mirip dengan dokter yang tengah melakukan operasi, ketimbang hanya menolong pasien yang terkena diare.
Satu...dua... tiga...
Tidak, empat jam.
Selama itulah ia dan paramedisnya menangani kondisi Rhea yang bisa dibilang mengkhawatirkan.
"Ia mengalami dehidrasi dan tekanan darahnya sangat rendah. Aku melakukan cuci darah sekaligus mencuci semua isi perutnya. Mungkin akan butuh waktu yang lama baginya untuk pulih." jelas Aini yang membuat semua orang terkejut.
"Dari mana darah-darah itu?" Semua orang tercengang dengan begitu banyaknya kantong darah yang berserakan di dalam tempat sampah kamar Rhea dan Daffa.
Mereka sama sekali tak mengira jika pintu darurat yang berada di dekat jendela terhubung langsung dengan bangunan klinik milik Aini. Para perawat bolak-balik lewat pintu itu tanpa diketahui oleh anggota keluarga lainnya.
"Memang apa yang terjadi kepadanya. Kenapa sampai seperti itu?" tanya kakek yang belum mengetahui akar permasalahannya.
"Aku hanya memberinya sedikit obat pencahar untuk mengerjainya." Daffa merasa bersalah.
"Itu bukan sekedar obat pencahar. Ada racun yang tercampur di dalamnya dan sudah mengalir dalam aliran darahnya ketika aku memulai tindakan. Jika kita terlambat sedikit saja, racun itu akan menghabisi nyawanya dalam hitungan menit."
"Aku tak ingin membunuhnya."
Semua mata mengarah kepada Daffa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments