Suatu kebohongan jika Daffa sama sekali tak tertarik dengan Rhea. Gadis itu adalah satu-satunya wanita di dalam hidupnya. Ia bahkan mengawasinya setiap waktu. Tapi dengan semua kepribadian Rhea dan cara Rhea untuk menutupi segala tentangnya membuat Daffa memiliki keraguannya sendiri.
“Aku akan ambilkan air minum.” Daffa melihat mata Rhea yang memerah lantaran sikapnya. Ia kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambil segelas air demi menenangkan diri.
Ingatannya tak benar-benar hilang sepenuhnya. Obat itu hanya menyerap memori penting dan paling menyakitkan. Itulah sebabnya Rhea pernah melupakan Devian, namun tidak dengan ibunya. Sedangkan Daffa, baginya semua ingatan tentang Rhea tak seluruhnya buruk.
Perasaan cinta yang perlahan tumbuh untuk Rhea telah membawanya kepada perasaan yang tak pernah bisa ia tafsirkan. Sekelebat ingatan tentang cantiknya Rhea serta keindahan tubuhnya yang berlenggak-lenggok di atas catwalk selalu menyiksanya selama seminggu ini.
Ia hanya melupakan Devian. Ia juga melupakan keluarganya. Ia melupakan alm. Ayahnya yang tak pernah menginginkannya sama seperti Devian. Ia juga menghapus semua memori buruk tentang kakek dan juga Sheryl. Yang tersisa hanya kilasan-kilasan memori palsu yang diciptakan oleh Kakek Dan Sheryl di dalam mansion utama untuknya. Serta semua momentnya bersama Rhea yang selama ini tertahan.
“Aku tak sepenuhnya melupakanmu.” Lirihnya dengan air yang terus mengalir dari teko hingga hampir membanjiri lantai.
“Kak!” pekik Rhea dari arah belakang.
Daffa seketika menoleh dan menemukan Steve telah tergeletak di belakangnya akibat pukulan tongkat dari pengawal pribadinya.
“Bagaimana ia bisa masuk?” hardik Daffa kepada para pengawalnya.
Ia menarik Rhea mendekat dan menariknya ke belakang tubuhnya. Rhea masih mengenakan baju tidurnya. Meskipun ia telah mengenakan jubah sutra sebagai penutup, namun Daffa masih tak terima jika para pengawal prianya merasa tergoda dengan kemolekan tubuh istrinya itu.
“Kau baik-baik saja.” Rhea mengangguk cepat dengan posisi kepala yang tengah bersandar di ceruk leher Daffa. Ia memeluk pinggang Daffa dengan begitu erat dan terasa gemetar seakan ia tengah berusaha menahan sesuatu dalam dirinya.
“Menangislah, aku takkan melihatnya.” Bisik Daffa kemudian. Ia memberi isyarat kepada pengawalnya untuk mengurus Steve segera sebelum Rhea kembali sadar dan membuka matanya.
“Pejamkan terus matamu dan ikuti aku.” Daffa menuntunnya ke arah ruang bawah tanah yang tak sepenuhnya asing bagi Rhea.
Itu adalah tempat Devian menyembunyikan semua rahasianya. Tempat itu nampak sangat berbeda. Rhea melihat ke sekeliling dan hanya sebuah kamar besar yang indah dengan hiasan lilin yang berjejer di sepanjang jalan. Jejeran kelopak bunga turut menambah keindahannya dengan harum yang semerbak, seolah itu memang dirancang untuk para pasangan yang tengah di mabuk cinta.
Ia terkesima, namun tetap tak bisa melupakan tatanan ruang dan pembatas setiap dinding yang masih terlihat begitu sama dengan milik Devian sebelumnya. Jalan masuk ke pintu rahasia itu bahkan masih sama persis. Masih ada begitu banyak karya seni yang menggantung serta terpahat dengan suasana yang cukup mencekam disana.
“Ini ruangan pribadiku dan Devian dulu. Ia menyukai lukisan, dan aku begitu terobsesi dengan ukiran dan juga pahatan. Tak pernah ada lukisan maupun pahatan yang dipindah apalagi disingkirkan sejak awal. Aku membuat sebuah ruangan tersembunyi di baliknya. Ini adalah tempatku untuk menghabiskan hari seorang diri.” Jelas Daffa seolah ia memanglah pemilik asli dari tempat misterius itu.
Mereka berjalan menuju kamar rahasia di lantai terendah. Ada begitu banyak foto yang berbaris indah di setiap sisi dinding. Itu adalah kilasan memori yang pernah disimpan Daffa untuknya. Ia menyusun setiap barisnya dengan rapih seolah itu adalah buku kenangan mereka.
Tak ada moment yang terlewatkan sejak pertemuan pertama mereka. Ruangan itu ia bangun dengan gairah cintanya untuk Rhea. Namun ada satu hal yang membuatnya miris. Semua foto itu hanya menampakkan mereka yang saling bertolak punggung. Tak ada moment dimana mereka saling tatap seperti yang diinginkan.
“Bohong kalau aku pernah mengatakan aku tak peduli padamu atau tak tertarik padamu. Karena hanya kaulah alasanku untuk masih bernafas hingga detik ini Rhea.” Rhea berbalik.
Ia bisa melihat ketulusan itu dari balik mata Daffa. Ia tahu pria itu bersungguh-sungguh dengan kalimatnya.
“Semua bingkai ini yang membuatku tak bisa sepenuhnya melupakanmu.”
Rhea mengingat sesuatu, kelemahan dari chip itu adalah kenangan. Kenangan yang terpicu akan dengan mudahnya kembali seolah itu hanya disimpan dalam hiden file sementara. Daffa mungkin saja mengingat hal lain tentangnya. Rhea nampak sedikit berhati-hati.
“Kapan kau menyiapkan semua ini.” Tanya Rhea tergagap.
“Setiap kali kedatanganku ke tanah air untuk urusan bisnis. Aku menyimpannya disini karena takut ketahuan olehmu.” Rhea terhenti di salah satu foto yang menampakkan memori pernikahan mereka.
“Aku tak tahu jika semua bermula sejak saat itu.” Ia berkata sangat lirih seolah tak menyangka jika kenangan tentang Devian akan begitu cepat digantikan hanya setelah pernikahannya dengan Daffa.
“Kau tak mencintai Devian, aku tahu itu. Begitu juga denganku. Karena itu aku tak ingin memaksamu. Kau menjalani masa sulit bersama adikku, aku takut akan menyulitkanmu.” Daffa memeluk pinggang Rhea dari belakang dan sukses membuat gadis itu sedikit luluh.
“Aku tak tahu apa isi hatiku.” Ujar Rhea pasrah, namun tak menolak pelukan Daffa yang selalu membuatnya nyaman dengan caranya.
“Izinkan aku membuktikan bahwa aku bersungguh-sungguh.” Daffa membalik tubuh Rhea ke arahnya dan mengecup lembut bibir Rhea hingga mengulumnya perlahan. Perlahan tapi pasti, hingga mau tak mau Rhea ikut larut dan terbuai akan dirinya.
“Aku berselingkuh dengan Steve, aku mengandung anaknya. Karena itu ia datang.” sanggah Rhea. Ia mendorong kasar tubuh Daffa untuk melepaskan pagutannya.
Ia harus berfikir jernih. Ini akan berbahaya jika Daffa menyadari siapa dirinya nanti. “Aku berselingkuh.” Ujarnya lagi dengan air mata berlinang.
“Rhea, aku tahu kau tak bersungguh-sungguh.” namun Daffa tak pernah bisa menerimanya begitu saja. Ia sudah larut dalam gairah dan ia tak menginginkan penolakan lagi.
“Jangan, atau kau akan menyesal.” Tolak Rhea dan terus berusaha beralih dari tatapan tajam Daffa yang sudah siap untuk menerkamnya.
“Aku tak peduli.” Tegas Daffa yakin. Ia tahu apa yang ia pilih. Ia ingin mengikat Rhea di sisinya terlepas dari apapun yang mungkin dirasakannya.
“Kau boleh menolakku, membenciku, tapi kau tak bisa menghentikanku kali ini.”
“Jangan menyentuhku, kau akan menyakiti bayiku.” Lirih Rhea berlinangan air mata. Hatinya sakit begitu menyatakan kebohongan itu di depan Daffa. Namun Daffa sudah membuas dan tak bisa lagi dihentikan.
Gairahnya kepada Rhea sebenarnya tak seberapa. Yang menguatkan tekadnya kali ini adalah pengakuan Rhea yang telah menghujam jantungnya bak duri. Ia mengandung anak Steve dan berselingkuh di belakangnya. Apa mungkin? Ia tak mempercayainya, namun juga takut akan kenyataannya.
“Jika kau benar tidur dengannya, maka lakukanlah juga denganku. Aku takkan mempermasalahkan itu.” Tegas Daffa tak bisa ditolak.
“Awh, Daffa!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments