Bagian 2 : Sandiwara

Setelah kepergian Aziel, para tetua pun memulai perdebatan mengenai wasiat yang ditinggalkannya. Ada beberapa yang menentang, namun ada juga yang mendukung.

Namun berkat sahnya dokumen yang ditinggalkan serta kekuatan hukum yang kuat yang mengiringinya, keputusan akhir pun dijalankan sesuai dengan wasiat yang ditulis olehnya. Sebuah surat wasiat yang telah ditulis Aziel sejak lama dan tak pernah diubah barang sedikit pun sejak awal.

Demi menghormati janjinya kepada mendiang, para tetua pun memutuskan untuk memanggil Rhea untuk masuk ke dalam mansion utama tepat di hari pemakaman Aziel. Selain untuk memberikan penghormatan terakhir untuk ayahnya, Rhea juga diminta untuk menjalankan wasiat tertulisnya perihal Naratama yang telah disahkan secara hukum kepadanya.

Rhea diperkenalkan sebagai sang pewaris utama, alih-alih Aqsa. Seorang putri yang terlahir dari sebuah hubungan haram, namun juga adalah anak kandung satu-satunya dari Aziel Naratama.

Jati dirinya baru diungkap di hari penghormatan terakhir yang mereka lakukan untuk Aziel sang pendiri Naratama. Ia baru menampakkan dirinya di hari pemakaman sang ayah, demi menghormati titah dan juga janji para tetua kepada sang ayah.

Semua orang terkejut, tak terkecuali Aqsa. Semua rumor perselingkuhan sang ibunda yang selama ini hanya sekedar desas-desus mulai terungkap ke permukaan lengkap dengan bukti konkret yang Aziel sertakan bersama surat wasiatnya.

Di saat itu pulalah bunyi wasiat utama mulai dibacakan. “Aziel menyarankan agar Nona muda bersedia untuk menikah dengan putra dari sahabat beliau, sekaligus salah satu pendiri dari Media Naratama Group ‘Tuan Devian Aryana’".

"Devian yang saat ini juga tercatat sebagai salah satu CEO muda berbakat yang tengah berada di puncak kejayaannya. Tuan Aziel ingin agar Anda dan tuan Devian bisa mengelola harta keluarga dengan baik dan semakin mengembangkannya bagi para penerus kalian kelak.”

‘DEG! Menikah? Dengan seseorang yang bahkan belum pernah ia temui sebelumnya?’ Rhea tak lagi bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya.

Keputusan yang ia terima secara mendadak, namun juga keputusan yang sebenarnya sudah ia wanti-wanti sejak awal. Keputusan mutlak yang tak pernah bisa ditolak, serta keputusan yang juga akan menjadi malapetaka tersendiri bagi hidupnya kelak.

Ia tak pernah tahu seperti apa sosok ayahnya apalagi merasakan bagaimana kasih sayangnya. Dan sekarang, kenyataan bahwa ia adalah pewaris tunggal telah membawanya masuk ke dalam sebuah neraka yang jauh lebih besar.

Pilihannya bukanlah mansion keluarga, atau masuk di tengah keluarga yang pernah mencampakkannya. Namun, ia harus masuk dan bergabung dalam sebuah keluarga baru yang tak pernah ada dalam bayangannya selama ini.

Yaitu memiliki keluarganya sendiri. Ia harus memulai pernikahannya sendiri dengan seorang pria yang berada di luar bayangan. Seorang pria yang kelak akan ia kenal dengan nama Devian. Seorang pria kejam yang tak mengenal peri kemanusiaan. Lelaki yang tak pernah menatapnya sebagai manusia.

“Sadarlah sayang, kumohon?” Rhea mengerjapkan matanya berulang kali ketika ia merasakan hangatnya tangan seseorang tengah menggenggamnya.

“Devian?” lirihnya tak percaya.

Ia melihat ke sekelilingnya. Ada nuansa yang tak asing, ia bisa meyakinkan dirinya bahwa ia kini tengah berbaring di sebuah bangkar rumah sakit dengan selang infus yang tersambung di tubuhnya. Semua lukanya sudah dibalut dengan benar, serta ada ibu 'kandung' dan juga kuasa hukumnya yang berada di sana nampak tengah mendiskusikan sesuatu.

Ia mengernyitkan dahi ketika Aqsa yang baru saja masuk tiba-tiba mendekat ke arahnya dan berbisik.

“Aku rasa sebuah kasus penculikan biasa tak akan pernah serumit ini. Melihat luka di tubuhmu serta suamimu yang linglung itu, tidakkah ini lebih pantas di kategorikan sebagai kekerasan dalam rumah tangga?” bisiknya dengan tatapan penuh arti di sisi telinga Rhea.

“Aku rasa dia memperlakukanmu cukup baik selama tiga hari ini. Aku akan pastikan tidak ada bukti agar kau cepat kembali masuk ke dalam neraka itu adikku sayang.” Bisik Aqsa sambil menyembunyikan seringai devil khas miliknya.

Aqsa beralih ke sisi Devian sang adik ipar dan menepuk-nepuk pundaknya tanpa menyiratkan apapun. Namun dari sudut matanya ada perasaan bangga yang diam-diam ia selipkan dibalik tatapan yang menusuk itu.

“Good job Brother.” Kalimat itu seakan tersirat dari balik senyumnya kepada diri Devian yang masih terlihat dingin.

“Nafasnya belum stabil, ada memar yang cukup parah di bagian dada kanan dan juga kepalanya. Kami harus melakukan serangkaian tes untuk memastikan tidak adanya luka dalam. Pasien harus di opname disini sampai semua tes nya selesai. Tidak tertutup kemungkinan jika ia harus mendapatkan serangkaian operasi darurat nantinya.” Jelas sang dokter yang mengundang tatapan khawatir dari sang ibu dan juga kuasa hukumnya.

“Cih, Jika bukan karena Albert, apa Anda akan mencemaskanku seperti ini?” batin Rhea mengumpat kepada 'Tiara' sang ibu yang ia ketahui persis seperti apa ularnya.

“Aku yakin ia takkan pernah menemuiku jika bukan karena wasiat itu.”

Pihak kepolisian mengaku bahwa mereka telah menemukan Rhea terbaring tak sadarkan diri di sebuah taman bermain yang berada tak jauh dari lingkungan tempat tinggalnya Bersama Devian. Anehnya menurut mereka laporan kehilangan atas nama Rhea Shana telah dibuat sejak tiga hari yang lalu. Tepat setelah moment pernikahan mereka.

Gadis itu ingat benar bagaimana Devian mengantarnya sendiri untuk pulang ke rumah pria itu lengkap dengan beberapa barang pribadi miliknya. Aqsa juga berada disana bersama Tiara ketika ia pergi. Lalu bagaimana bisa ia dikabarkan hilang begitu saja tepat setelah acara pernikahannya?

Ia menelisik jauh ke dalam tatapan mata Devian yang masih terpaku pada penjelasan beberapa orang polisi yang tengah menjelaskan kasusnya. Pemuda itu Nampak begitu khawatir dengan tangannya yang masih menggenggam erat tangan Rhea dan itu benar-benar terasa tulus.

“Apakah semua itu hanya mimpi?” batin Rhea tak percaya dengan apa yang saat ini tengah dilihatnya.

Rhea menatap kearah suaminya dengan tatapan telisik penuh tanya. ‘Siapakah pria ini sebenarnya? Apa yang tengah ia pikirkan?’

Sekelebat pertanyaan tentang sang suami ‘Devian’ terus meluncur di dalam kepalanya. Bagaimana bisa seorang manusia iblis yang selama ini menyiksanya bisa berubah seperti seorang malaikat tepat di dalam kamar inap rumah sakit ini.

‘Apa ia tengah bersandiwara’ batin Rhea lagi.

Setelah mendengarkan semua penjelasan dari pihak kepolisian, Devian pun bangkit dan membungkukkan tubuhnya di hadapan polisi. Ia meminta dengan sungguh-sungguh kepada para petugas agar pelaku penganiaya istrinya bisa ditangkap dan diadili dengan semestinya.

Semua reaksi yang berhasil mengundang decak kagum dari seluruh keluarga atas sikap kecintaannya kepada sang istri telah membuatnya semakin naik daun dan memiliki nama yang harum di antara keluarga besar.

“Untung saja Aziel mewariskannya kepada seorang anak perempuan, jika saja itu Aqsa maka kita akan melewatkan kesempatan untuk membawanya masuk ke dalam keluarga.” Ujar para tetua merasa kagum dengan sikap perhatian yang ditunjukkan oleh Devian. Sementara Aqsa hanya bisa mencibir geli dari balik pintu masuk kamar inap Rhea.

“Bagaimana kondisimu? Apa ada yang kau perlukan sayang?” seru Devian lembut sambil membelai puncak kepala Rhea, namun bukannya merasa nyaman, Justru berakhir sebaliknya. Gadis itu malah meringis, karena merasakan perih di bagian pucuk kepalanya.

Karena di balik sentuhan lembutnya yang terlihat, Devian justru memberikan sedikit penekanan pada bagian luka di bagian atas kepalanya. Entah itu memang disengaja atau tidak, hanya Devianlah yang mengetahuinya.

“Awh!!” rintih Rhea.

“Ada apa?” ujar Devian seolah terkejut.

“Ada beberapa memar yang ditemukan di bagian kepalanya Tuan. Luka itu terlihat mirip seperti luka benturan serta jambakan yang tak beraturan. Wajar jika pasien merasa sakit jika luka itu disentuh.” Jelas salah seorang suster yang tengah merapikan infus di tubuh Rhea.

“Maafkan aku.” Seru Devian seakan merasa bersalah.

“Kak…” lirih Rhea lagi, kali ini dengan tatapan memohon.

“Ada apa? Katakan!” ujar Devian sedikit dengan penekanan.

“Maaf Kak, bisakah kau membawaku pulang saja? Aku tak ingin berada disini.” lirih Rhea pada Devian diluar dugaan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!