Bagian 5 : Ruang Bawah Tanah

Aroma wangi masakan yang menusuk tajam ke dalam rongga hidung Devian telah berhasil membangunkannya  pagi itu. Sudah sepuluh tahun berlalu sejak ia terakhir kali menikmati aroma itu. Semenjak ibunya meninggal sepuluh tahun yang lalu, Devian memutuskan untuk pindah ke rumahnya yang sekarang dan hidup sendirian.

Itu adalah sebuah rumah mewah yang hanya terdiri dari satu kamar utama dan satu kamar tamu. Luasnya rumah yang hampir seluas sepuluh hektar, memberikannya ruang untuk menata gymnastic, serta perpustakaan mini di rumahnya.

Rumah yang terlalu besar memang jika hanya ditinggali seorang diri. Hanya terdapat satu sofa besar di ruang tamu yang menghadap langsung ke arah dapur. Tidak ada televisi maupun ruang hiburan lain. Hanya ada sebuah kolam renang besar di halaman belakang yang biasa digunakannya untuk mengusir penat.

Plus satu ruang rahasia di ruang bawah tanah yang selalu terkunci. Tak ada yang bisa masuk kesana termasuk maid yang dibayarnya setiap pekan untuk membersihkan kediamannya.

Devian mengatur maid yang berbeda setiap pekannya. Tak boleh ada orang yang sama yang masuk ke dalam rumahnya lebih dari satu kali. Karena itulah, sangat wajar jika Rhea tak pernah lagi melihat wajah maid yang terakhir kali berusaha menolongnya. Entah apakah ia masih hidup setelah kejadian itu atau justru ia telah menghilang dengan misterius seperti apa yang ditakutkannya.

“Dapurnya tak pernah dipakai, aku bahkan tak tahu jika gasnya masih berfungsi.” Celetuk Devian terdengar salah tingkah. Ia berjalan tanpa suara ke arah Rhea yang masih sibuk dengan wajan panas di tangannya.

“Nampaknya kau memang belum pernah menggunakannya Kak. Aku menghabiskan waktu hampir tiga jam untuk mencuci semua piring dan peralatan makan. Hanya ada dua gelas yang terlihat bersih, sepertinya itu adalah gelas milikku tadi pagi dan juga sesuatu yang biasa kau gunakan.”

“Oh ya, satu lagi.. Apa kau juga tidak tahu jika ini adalah kompor listrik.”

Uhuk..Uhuk!!

Devian tersedak ketika hendak meminum segelas air yang baru saja diisinya.

Ia menatap kosong ke arah Rhea sama seperti biasanya. Namun anehnya ia sama sekali tak terlihat marah. Ia juga nampak tak terusik. Dari sudut netranya Rhea bisa melihat jika pemuda itu terus mengamati masakannya dan menikmati aroma yang mencuat keluar dari uap masakan yang hampir jadi.

“Aku mencari tahunya dari sekretarismu. Ia memberitahuku bahwa kebiasaanmu di pagi hari adalah minum segelas air lemon hangat dan makanan favoritemu udang goreng pedas manis.”

“Air lemonnya ada di atas meja, kau bisa meminumnya sekarang. Kalau untuk udangnya, mungkin butuh waktu sepuluh menit.” Seru Rhea yang terdengar sangat akrab.

Ia mencoba bersikap biasa kepada Devian. Sikap yang ditunjukkannya kini adalah sikap seolah mereka telah saling mengenal selama bertahun-tahun. Dan untungnya Devian juga bersikap cukup manis hari ini. Jadi mungkin tidak akan ada adegan kekerasan bukan?

“Kalau aku boleh menyarankan, sebaiknya kau harus berhenti memanggil seseorang kesini. Aku bisa menghandle semuanya sendiri. Aku akan membereskan seisi rumah sampai kau pulang, dan menyiapkan makan malam. Kau tak perlu merasa terusik, aku akan berusaha untuk bertindak sewajar mungkin dan tidak melewati batas.”

Ucapan Rhea kali ini terdengar cukup angkuh di telinga Devian. Ia telah melakukan kesalahan dengan memancing singa yang tengah tertidur. Bukan berarti Devian tak terusik, ia hanya menunggu momentum yang tepat dan bertindak disaat yang dibutuhkan.

“Jangan kau kira kau akan aman hanya karena aku diam sayang.” Bisik Devian di telinga Rhea.

Ia berhasil membuat Rhea bergidik. Apalagi ketika tubuh kokohnya sudah berdiri dengan tegapnya di belakang Rhea dengan sebelah tangan yang ia selipkan lewat pinggang Rhea untuk mematikan kompor yang tengah menyala. Seakan ia tengah mengisyaratkan sesuatu kepada Rhea, bahwa ‘ia harus tahu dimana tempatnya yang sebenarnya’.

“Rhea hanya mengangguk dan kembali menyalakan kompor untuk menyelesaikan makanannya. Setelah menghidangkan semua, Rhea beranjak menuju ke kamar utama untuk menyiapkan pakaian Devian lengkap dengan tas kerjanya.

Lelaki itu tak berkomentar apapun. Ia hanya menunjukkan tatapan sinis, sambil terus menikmati hidangan yang disajikan Rhea dengan ekspresi yang sangat tak enak di pandang mata.

“Kau ingin aku terus makan di rumah? Dengan keterampilan memasakmu yang hanya sebatas ini?” Devian mendecih dan membanting sendoknya ke atas piring kosong yang berada di depannya.  Ia seolah berkomentar akan sesuatu yang bahkan tidak sejalan dengan isi hatinya.

“Ciih, Kau bilang hanya segitu, tapi kau menghabiskan semuanya.” Sindir Rhea setelah punggung Devian menghilang dari balik pintu kamarnya. Rhea membersihkan dapur dan meja makan sementara Devian masuk ke dalam kamarnya dan bersiap.

“Aku akan berangkat sekarang. Ingat lakukanlah apapun semaumu di rumah ini. Tapi jangan berharap kau bisa keluar tanpa seizinku. Dan satu lagi, jangan sentuh apa yang tak seharusnya kau sentuh.”

Devian menatapnya dengan tatapan mengancam. Rhea tahu apa maksudnya. Ia hanya tak diperbolehkan untuk mencampuri urusan pribadi suaminya. Tapi bukanlah Rhea namanya jika ia akan tetap berdiam.

Rhea mencari celah agar semua kamera di rumahnya mati setelah kepergian Devian. Ia menyirami semua tanaman dan mengarahkan air itu dengan sengaja ke arah sakelar listrik. Tentunya ia melakukan itu semua setelah pertimbangan yang matang.

Ia melepaskan semua kontak listrik yang mungkin masih menyala dan mulai menjalankan aksinya. Tujuannya hanya satu, Sebuah pintu misterius di belakang dapur yang selalu dalam keadaan terkunci.

Ia memergoki Devian masuk kesana beberapa kali. Ia yakin akan ada petunjuk disana. Apalagi Devian selalu melarang maid dan asistennya untuk masuk kesana. Padahal ialah yang lebih sering menghabiskan waktu di kamar itu.

Klik!!

Rencana Rhea berhasil. Listrik rumah mereka padam. Ia pun bersiap dengan semua resiko termasuk jika nantinya Devian akan menyiksanya kembali karena apa yang ia lakukan.

Rumah semewah itu tentunya memiliki sakelar listrik otomatis yang akan memblokir arus masuk secara otomatis ketika terjadi kejadian di luar dugaan. Dan benar, ia telah berhasil mencegah terjadinya korsleting listrik di kediaman Devian. Tapi bukan itu intinya.

Ia masih harus menjalankan misi utamanya. Ia membobol kunci bilik rahasia itu dengan jepit rambutnya hingga pintu itu terbuka. Pintu mengarah ke basement. Untuk tahu bahwa rumah besar itu memiliki basement saja sudah cukup mengejutkan. Apalagi ketika ia melihat beberapa lampu dengan daya rendah masih terpasang dan menyala disana.

“Lampu disini tidak mati? Apakah ada kamera pengawas juga disini?” batin Rhea mulai merasa takut.

Tidak ada apa-apa di ruang bawah tanah itu. Hanya ada beberapa lukisan, dan juga patung berbaris di sekitar dinding. Namun anehnya, ia yakin pernah malah melihat beberapa lukisan itu di dalam mimpinya. Ia merasa seakan dirinya tengah mengulangi semua kejadian di dalam mimpinya atau mungkin ia pernah masuk dan menyaksikan semua lukisan itu sendiri sebelumnya.

Salah satu diantara lukisan itu adalah lukisan dengan tinta darah yang selalu membuatnya ketakutan. Mimpi yang selalu berulang dalam tidurnya, seakan itu semua adalah sebuah petunjuk atau memori yang tak pernah boleh untuk ia lupakan selama hidupnya.

Rhea terkejut dan terhuyung ke belakang ketika  lukisan bertinta darah itu telah ada tepat dihadapannya. Tubuhnya terus mundur seakan ingin kabur. Namun hatinya seakan tak sejalan dengan tubuhnya. Matanya masih terus terpaku dengan lukisan itu tanpa berkedip, hingga tanpa ia sadari bahwa langkah kakinya telah menyangkut pada selembar kain yang menutupi sebuah lukisan besar di sisi lain dinding.

Separuh dari lukisan itu terbuka hingga membuat Rhea semakin penasaran dan menyibak sisa kain yang ada.

Itu adalah lukisan yang berisi potret masa kecilnya dengan sang ibu. Rasa penasarannya begitu tinggi, bahkan rasa penasaran itu berhasil mengalahkan rasa takutnya sendiri dan membuatnya perlahan lupa diri. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang telah berdiri tepat di belakangnya.

“Rhea apa yang kau lakukan?” tanya Devian.

Rhea tersentak, ia tak sengaja mendorong lukisan itu dan ternyata ada sebuah pintu besar di baliknya. Rhea memilih untuk tak bergeming. Ia tak mengubris teguran dari Devian dan memantapkan hatinya untuk terus melangkah masuk.

Ruangan itu cukup gelap hingga ia tak bisa melihat dengan jelas bahwa ada tangga tepat di hadapannya. Tubuhnya jatuh dan terguling menuruni tangga itu hingga ke dasar.

“Rhea jangan!!” pekik Devian, namun gadis itu telah menggelinding mirip bola sepak yang ditendang kuat menuruni tangga.

Tubuh Rhea mendarat persis di tempat yang selama ini sangat ingin diketahuinya. Itu adalah bangkar milik tubuh Daffa yang sudah mulai membusuk.

“Astaga apa ini?” Rhea gemetar.

Ia tak berani melirik, tapi dari semua bau itu dan suramnya ruangan yang ia tempati. Ia tahu tempat apa itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!