“Kak…” teriak Rhea ketika ia menemukan suatu kotak rahasia di dalam kamar hotelnya.
“Kenapa?” Daffa berlari keluar dari kamarnya lantaran teriakan Rhea yang begitu kentara di telinganya.
“Kau mendengar sesuatu?” tanya Steve heran namun tetap mengikuti langkah Daffa menuju ke kamar istrinya.
“Rhea berteriak.” Ujarnya tanpa menoleh.
"Apa hanya kau yang mendengarnya?" lirih Steve larut dalam pemikirannya sendiri.
Keduanya terkejut begitu mereka sampai di kamar Rhea dan melihat tangan gadis itu sudah berlumuran darah.
"Kau terluka? Apa yang terjadi?" Daffa memutar-mutar tubuh Rhea untuk mencari dimana posisi lukanya berada.
"Itu.." tunjuk Rhea gemetar dengan ujung jarinya.
Ada sebuah kotak berisi bangkai ayam berserakan di lantai. Daffa meraih tubuh Rhea dan memeluknya untuk menenangkan.
"Apa yang terjadi?" tanya Steve bingung
"Tempat ini adalah kamar President suite yang sangat kedap suara. Bagaimana caranya kau bisa mendengar teriakan Nona Shana?"
“Aku memasang penyadap pada jam tangannya. Aku akan tahu dengan siapa saja ia berkomunikasi dan apa yang terjadi di sekitarnya.” Daffa masih memeluk Rhea dengan begitu erat.
Daffa meminta Steve untuk membereskan kadonya. Sementara ia membawa Rhea kembali ke ruangannya dan membantu gadis itu untuk membersihkan dirinya yang nampak kacau.
“Aku takut.” Lirih Rhea masih sesenggukan ketika Daffa tengah membersihkan tangan gadis itu di wastafel ruangan pribadinya.
“Setelah ini mandilah, dan ganti semua pakaianmu. Steve sedang membersihkannya, aku akan pastikan tak ada lagi bau amis darah yang tercium.” Rhea mengangguk.
Daffa membelai lembut kepala Rhea dan mengisyaratkan dengan matanya bahwa semua akan baik-baik saja selama ada dirinya di samping Rhea.
Sementara itu di ruang kerjanya Daffa tengah membongkar kembali semua rekaman kamera pengawas di kamar Rhea dan mencoba mencari titik terang tentang terror baru ini. Tak ada rekaman berarti yang berasal dari rekaman CCTV itu. Namun Daffa justru menemukan kejanggalannya dalam rekaman kamera tersembunyi yang ia pasang di dalam kamera Rhea sehari sebelumnya.
“Itu Steve.” Serunya.
Steve tak terekam di kamera pengawas mana pun. Semua kamera menunjukkan bahwa tak ada aktivitas yang terekam sama sekali. Tapi begitu rekaman kamera tersembunyinya di putar, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Steve mencoba mencari sesuatu dari barang-barang Rhea.
Belum bisa dipastikan bahwa ia juga yang memberikan kado itu kepada Rhea. Namun fakta bahwa ia membongkar kamar pribadi istrinya membuat Daffa merasa tak benar-benar tenang.
Sebenarnya Daffa sudah menduganya sejak lama. Steve tak pernah melaporkan hal aneh tentang Rhea selama ini. Namun detective swasta yang di sewanya justru malah melaporkan sesuatu yang sangat bertolak belakang.
“Ada seorang yang selalu mengirimi Nona obat. Saya sudah memastikannya, meskipun utusan itu berasal dari rumah sakit langganan nona. Tapi obat-obatan itu tidak dikirim dari dokter maupun apoteker dari rumah sakit itu Tuan.”
Daffa mereka kembali semua keanehan antara dirinya dan juga Rhea selama mereka tinggal di Paris. Pada kenyataannya, Daffa sendirilah yang mengirim dokter itu untuk Rhea. Ia yang berusaha untuk menghilangkan kecanduannya dan mengganti semua obat-obatannya dengan yang tepat.
Rhea memang memiliki ilmu dasar farmasi yang cukup baik. Namun ia masih lalai untuk mengetahui efek dan reaksi obat yang salah. Mungkin karena Daffa yang tiba-tiba mengubahnya menjadi seorang model dan bukan dokter seperti impiannya yang sebenarnya.
“Aku takkan membiarkanmu masuk dalam dunia medis terlalu jauh. Akan semakin banyak rahasia yang terkuak nantinya. Jadi semakin baik jika kau menjauh dari semua akar masalah itu.”
“Rhea cepat kenakan gaun terbaikmu karena kita akan menemui kakek di mansion sebagai putra dan menantunya." teriak Daffa dari depan pintu kamar mandi.
"Ingat kau adalah Nona Shana Riggle, sang model yang baru saja kembali untuk beristirahat. Tak ada yang boleh tahu jika kau memilih untuk berhenti.” Instruksi Daffa yang langsung dituruti oleh Rhea.
“Tidakkah kau ingin memberi tahuku tentang rencanamu Kak?” Rhea keluar dari kamar mandi dengan menggunakan selembar handuk.
Handuk itu bisa dibilang cukup kecil untuk menutupi keseluruhan tubuhnya. Ukurannya sangat pendek. Bahkan handuk itu seolah tak cukup untuk menutupi seluruh bagian dada hingga ke bokongnya.
“Apa yang kau lakukan?” Daffa segera berbalik dan berlari ke arah pintu. Ia bergegas keluar dan menutup pintu itu dari arah luar.
“Kau memintaku untuk mandi dan langsung mendorongku masuk kesana. Wajar saja jika aku melupakan semua pakaianku.” Gerutunya kesal.
Daffa merutuki kekonyolannya sendiri dan langsung meraih kunci mobil untuk pergi dari tempat itu secepatnya. Ia sudah menata beberapa gaun di dalam lemarinya untuk Rhea, jadi ia tak perlu khawatir jika gadis itu mungkin akan bertelanjang keluar menuju kamarnya.
Untungnya Daffa telah memilih lokasi hotel yang tepat. Ia memilih lokasi yang berada tidak jauh dari pantai. Ia begitu menyukai suara lautan. Tenang namun beriak. Apalagi karena semua itu penuh dengan memorinya dengan Devian dan juga sang ibu.
Pada dasarnya ibu kandung Daffa adalah tipical wanita yang begitu haus akan kekuasaan. Bahkan sekalipun ia telah menjadi Nyonya besar Adya Utama, ia masih saja tak merasa puas.
Ia hanya mementingkan semua hal tentang materi. Ia selalu lupa bahwa hal yang sangat diinginkan oleh Daffa adalah kasih sayang bukannya uang.
Namun ibu kandung Devian berbeda. Meskipun notabene ia bukanlah ibu kandungnya, namun Nona Alira sangat menyayanginya tak berbeda dari Devian putranya sendiri. Hal itu jugalah yang membuatnya bertindak begitu jauh untuk Devian, termasuk dengan menikahi Rhea.
Ia hanya berfikir untuk tetap membalas kasih sayang Alira dengan melindungi putranya. Sedangkan alasan terbesar Daffa mempertahankan Rhea di sisinya adalah karena ia merupakan satu-satunya saksi bahwa Devian mungkin saja tidak bersalah.
“Bagaimana keadaannya?” ujar Daffa kepada seseorang diujung telfon yang selalu menjadi orang kepercayaannya selama ini.
“Baiklah. Aku percayakan dia kepadamu.” Daffa menutup telfonnya dan beralih ke sebuah aplikasi online untuk memesan sebuah taksi bagi seseorang.
“Kamar 3002, unit khusus di Penthouse Hotel Indriaya. Aku ingin kau mengantarkan orang dari kamar itu menuju Mansion Lavina. Aku akan membayarmu dua puluh kali lipat dari tarif yang seharusnya.”
Sesuai dugaan, supir taksi online itu langsung bergegas menuju Indriaya hotel dan menjemput seseorang yang dimaksud.
“Kau menjemput siapa?” tanya Steve bingung dengan pesanan yang menurutnya salah alamat itu.
“Pesanan dari tuan besar Adya Utama. Beliau meminta saya untuk menjemput Tuan Steve Anumerta untuk berangkat menuju Lavina Mansion.”
Tanpa sedikit pun menaruh perasaan curiga, Steve berangkat dengan supir taksi itu setelah melihat nomor ponsel Daffa sebagai pemesan layanan.
Sesampainya di gerbang masuk mansion, supir taksi online itu diminta untuk menurunkan Steve oleh pihak keamanan. Sesuai janji Daffa, ia diberikan uang cash dua puluh kali lipat dari tarifnya yang dimasukkan ke dalam sebuah amplop agar tidak membuat Steve curiga.
Semua masih berjalan lancar sampai akhirnya si supir taksi pergi dan Steve langsung dibekap dan dibungkus ke dalam karung oleh para bodyguard kepercayaan Daffa. Mereka membawanya ke markas pribadi genk yang berada di lantai dua ruang bawah tanah mansion Lavina.
Disana Steve di gantung terbalik dengan kobaran api yang membara berada tepat di bawahnya. Nyaris menyentuh helaian rambut terpanjangnya yang menjuntai dengan indah ke bawah.
“Cukup beri tahu aku alasan kau mengkhianati Daffa, dengan itu aku akan menyelamatkanmu.” Ujar seorang gadis cantik dengan sepatu heels setinggi tiga belas centi meter berwarna merah kesayangannya.
Bibirnya berwarna merah gelap, lengkap dengan rambut palsu berwarna senada yang membuat auranya terlihat semakin buas dan juga liar. Gaunnya memiliki belahan yang sangat rendah dan dalam roknya hanya mampu untuk menutupi pinggul. Sangat ketat, hingga membuat kau bisa membayangkan kemolekan tubuhnya hanya melalui siluet sederhana yang tercetak di balik gaun.
“Katakan! Atau rantai yang kini mengikat kakimu akan semakin turun.” Gadis liar itu memantik sebatang rokok yang terselip diantara jari telunjuk dan juga jari tengahnya. Ia menghirupnya dalam dan menghembuskannya ke arah Steve berkali. Hingga membuat pemuda itu kesulitan bernafas. Belum lagi dengan asap pembakaran yang berada tepat di atas kepalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments