“Sial!! Aku sudah bilang untuk bertindak sesuai batasanmu!” emosi Devian pun seketika memuncak.
Hanya dalam waktu sepersekian detik, kekhawatiran yang awalnya muncul atas dirinya untuk diri Rhea lenyap. Pada awalnya ia sempat berfikir untuk kembali dan melindungi Rhea. Kamera pengawas di dalam rumahnya mati, mungkin saja ada seorang penyusup yang ingin menyakiti gadis itu pikirnya.
"Tidak! Tidak boleh ada orang lain yang menyakitinya. Ia milikku." Devian nampak seperti orang kesetanan dan memutar balik paksa kemudinya untuk kembali ke rumah.
Ia mengira jika ada orang asing yang berniat datang ke rumahnya dan mungkin menyakiti gadis itu. Mungkin hatinya belum sepenuhnya luluh, apalagi dengan sekelebat moment manis yang terjadi dalam waktu satu hari takkan mungkin bisa meluluhkan hatinya yang sudah seperti batu.
Tapi begitu melihat pintu rahasianya terbuka, ia benar-benar kehilangan akal sehatnya. Apalagi ketika ia menemukan bahwa gadis itulah yang berada disana.
“Kau tahu, aku bahkan takkan segan untuk membunuhmu jika kau berani menyentuh kakakku barang sejengkal saja.” Bentak Devian lebih keras dari biasanya.
Tubuhnya berkeringat dingin dan wajahnya seketika berubah merah. Sorot matanya tak lagi menunjukkan pandangan seorang manusia. Ia lebih terlihat seperti harimau lapar yang akan menerkam.
“Di…di…dia Daffa?” lirih Rhea gemetar.
Rhea memang mengetahui perihal Daffa, kakak seayah Devian yang tak pernah diekspose oleh keluarga besar. Ia diam-diam menyelidikinya lewat Albert semalam setelah Devian tertidur. Ia tahu bahwa Daffa sama sepertinya, terlahir dari seorang ibu lewat hubungan perselingkuhan.
Ayahnya serta sang ayah mertua memiliki sifat dan emosi yang sama labilnya. Bahkan mereka berdua cenderung lebih menyayangi anak hasil perselingkuhan mereka ketimbang anak kandung yang selama ini mereka besarkan.
Tapi melihat kondisi Raffa yang tengah terbujur kaku dalam kondisi yang sudah membusuk membuatnya berfikiran terbalik. Apakah pria di hadapannya ini adalah seorang psikopat? Tapi kenapa? Ia bahkan berbeda dari Aqsa. Ialah yang diakui keluarga dan bukan Daffa, lantas kenapa Daffa…
Belum sempat ia menyelesaikan pemikirannya tentang sang suami, pikiran Rhea seketika melayang dan mungkin juga turut serta dengan jiwanya yang berangkat pergi menuju alam baqa.
Devian dengan segenap emosinya memukul gadis itu dengan besi penyangga tiang infus yang berada di sisi bangkar milik Daffa. Kepalanya mengucurkan darah dengan sangat deras, dan Devian dengan tubuhnya yang gemetar malah meninggalkannya sendirian terbaring disana.
****
Kilas balik kematian Daffa….
“Ruangan apa ini?” Daffa perlahan melangkahkan kakinya turun di sebuah rumah yang baru saja ia beli dari hasil keringatnya sendiri.
Sebuah rumah besar yang kelak ingin ia jadikan sebagai istananya bersama keluarga kecilnya. Namun ia begitu terkejut ketika ia mendapati ruang bawah tanah rumahnya yang begitu besar dan terdiri dari dua lantai.
Ia menuruni satu persatu anak tangga itu dan berhasil mencapai lantai dasar.
“Apa yang kau lakukan?” Ujar Daffa terkejut.
Ia mendapati adik tirinya Devian berada disana dengan tangan yang sudah berlumuran darah.
Ia memang meminta Devian untuk tinggal disana bersamanya. Rumah itu begitu luas dan besar. Ia pun belum memiliki rencana untuk membina keluarga dalam waktu dekat, mungkin ia akan merasa sangat kesepian jika harus tinggal di rumah itu sendirian.
Namun apa yang ia dapatkan? Baru satu bulan ia membawa sang adik untuk tinggal di dalam istananya, Devian sudah membuat ulah.
Daffa tahu tentang kelainan adiknya. Sejujurnya ia sudah mengalaminya sejak masih berusia lima tahun. Ia adalah korban dari kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan ayah mereka. Ia juga turut terjun bersama bisnis gelap sang ayah dan menjadi algojo pembunuh nomor satu yang paling ditakuti.
Tapi siapa sangka jika setelah mendapatkan korbannya, ia akan menimbun para mayatnya di lantai bawah tanah rumah mereka. Tempat itu sudah seperti museum para mumi yang dipajang dengan bahan pengawet.
“Devian, stop! Apa yang kau lakukan?”
“Aku tidak ingin membunuhnya. Ayah memaksaku. Mungkin jika seperti ini, maka aku akan melihatnya kembali hidup. Ia akan menatap mataku dan bersikap ramah seolah kami tinggal satu atap. Iya bukan?” ujarnya dengan suara gemetar seperti orang kerasukan.
“Kita roommate bukan?” Devian membasuh wajahnya dengan darah segar yang mengucur dari tubuh korbannya.
Daffa yang menyadari kelainan sang adik pun berniat mencari bantuan. Namun Devian yang tidak waras, malah memukulnya dengan besi panjang hingga menyebabkan Daffa tewas di tempat.
Ia mengoperasi Daffa sendirian. Ia membuat Daffa seolah hidup, namun tidak mengawetkannya hingga tubuhnya perlahan membusuk.
Ia kehilangan kewarasanya dan mulai menciptakan delusi bahwa Aziel lah yang membunuh Daffa. Ia memposisikan dirinya menjadi Aziel karena ialah yang memintanya untuk mengeksekusi korban terakhir.
Dimata Devian Aziel lah yang mengamuk karena Daffa memergokinya. Dan Aziel jugalah yang telah membunuh Daffa. Hal itulah yang sebenarnya menjadi penyebab kematian Aziel di tangan Devian. 'Pemblokiran Memory'.
Bukan sekedar memblokir, ia bahkan membelokkan ingatannya ke arah yang salah. Dan semua kenangan palsu itulah yang menjadi alasan kenapa ia memperlakukan Rhea dengan buruk.
****
“Aku tidak bermaksud menyakitimu. Ayahmulah yang lebih dulu menyakiti Daffa.” Ujar Devian gemetar. Ia berlarian tak tentu arah hingga mulai sampai ke jalan raya.
Ia hampir saja tertabrak kendaraan yang berlalu lalang jika sosok pria bertopi tak menghentikannya.
“Jangan siakan dirimu sebelum kau menebus semuanya.” Bisik sang pria misterius.
Ia menyuntikkan obat bius pada diri Devian dan membawanya ke rumah sakit jiwa terdekat. Ia mengikat tubuh Devian dengan erat menggunakan Restain. Ia memasang alat di tubuhnya dan mulai melakukan pindai otak.
Ia menggabungkan semua benang merah yang mungkin menjadi penyebab Devian menggila. “Waktumu Sudah habis, sekarang adalah giliranku.” Ujarnya misterius.
Ia mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang. “Selamatkan gadis itu dan pastikan kau menghapus semua memorinya tentang Devian. Ingat ini baik-baik. Dia adalah korban kecelakaan lalu lintas. Kau menemukannya di persimpangan jalan dekat Agra Mansion.”
Setelah dirasa instruksinya cukup. Pria itu kembali berfokus pada Devian yang berada di depannya. Ia menunjukkan senyumannya yang begitu licik. “Kira-kira apa yang akan terjadi jika aku menekan tombol ini.”
Guyonnya sambil memainkan sebuah remote control yang berada di genggamannya. Dan benar saja, begitu tombol itu di tekan…..
Duarrrr!!
Rumah sakit itu rubuh dan mereka meluncur jatuh menuju ruang bawah tanah yang lebih mencekam. Tidak hanya rumah sakit, kediaman pribadi Devian juga ikut meledak dan terbenam mencapai dasar, seolah kedua bangunan itu saling terhubung satu sama lain.
Kasus ledakan besar yang terjadi di dua lokasi itu sukses menggemparkan publik dan membuat semua mata terfokus pada dua keluarga besar yang menjadi korban.
Penyelidikan demi penyelidikan terjadi, namun tak ada bukti konkret mengenai apa yang terjadi. Semua barang bukti di ruang bawah tanah sudah disingkirkan dengan sangat bersih, seolah dilakukan oleh tim ahli.
Tak ada pertanda juga jejak mengenai keberadaan Devian setelah kejadian itu. Namun anehnya, ada sebuah kejadian yang terjadi diluar kendali.
Daffa kembali ke kediaman keluarga besarnya, setelah menyelesaikan perjalanan dinasnya yang panjang di luar negeri. Sebuah kebetulan yang benar-benar diluar nalar.
Jasadnya baru saja di temukan membusuk, namun seketika menghilang kandas bersama rumah yang jatuh seakan ditelan bumi. Dan sekarang ia kembali tanpa meninggalkan jejak apapun perihal kematiannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments