“Apa kau keberatan jika aku membawamu tinggal di Mansion utama untuk sementara?” Daffa baru berani untuk memulai perbincangannya dengan Rhea setelah ia memastikan bahwa seluruh ruangannya sudah terkunci rapat usai resepsi pernikahan berlangsung.
“Aku ikut keputusanmu saja.” Ujar Rhea terdengar tak bersemangat.
Sesuai skenario, keduanya telah diumumkan untuk menjadi bagian utama dari keputusan Mergernya Media Naratama dan juga Adya Utama milik keluarga besar Devian.
AR Group, perusahaan pribadi rintisan Devian juga sudah digabungkan menjadi bagian Adya Utama dan menjadi anak perusahaan baru yang merupakan bagian dari proses Akuisisi. Keputusan akan pernikahan mereka pun juga diyakini hanya akan berlangsung demi perusahaan.
Bagaimana tidak, baru beberapa bulan sejak status Rhea berubah menjadi janda akibat ulah Devian. Dan kini ia sudah kembali menjadi menantu Adya Utama Group, dan kali ini dengan statusnya sebagai istri Daffa.
Pihak media pun sudah mulai bergunjing tentang bagaimana kekeuhnya Adya Utama ingin meminang Media Naratama hingga menjadikan pernikahan anak-anak mereka sebagai permainan. Tidak sedikit juga dukungan yang timbul untuk mendukung Rhea yang diketahui telah menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga oleh mantan suaminya Devian.
“Akankah pernikahannya kali ini akan mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya? Apakah naik ranjang adalah pilihan yang terbaik baik Rhea, anak yang selama ini dibuang?” setidaknya begitulah isi dari highlight setiap berita utama untuknya.
Namun sebagai suami, Daffa memilih untuk menyembunyikan semua itu dari Rhea dan memintanya untuk menjauhi media sementara waktu.
“Tidak ada orang yang tinggal di mansion yang sama dengan mereka. Para tetua dan juga maid mereka tinggal di bangunan yang terpisah. Aku rasa kita bisa mendapatkan kamar masing-masing jika berada disana.” Jelas Daffa yang entah kenapa malah membuat hati Rhea seolah tersayat.
Suaminya tak pernah menginginkannya. Pikiran itulah yang kini lebih menyiksanya dari pada penyiksaan fisik manapun. Ya, setidaknya Devian masih pernah terpengaruh olehnya, meskipun mereka tak pernah melakukan apa-apa, selain saling memberikan makanan dan membantu berganti pakaian untuk satu sama lain.
Tapi Daffa sungguh berbeda, Ia nampak seolah tak tertarik sama sekali. Sikapnya saat ini seolah menunjukkan bahwa hanya dengan melihat gadis itu di bawah atap yang sama saja mungkin sudah membuatnya merasa enggan.
“Aku diam-diam sudah memesan bed extra. Kau bisa tidur di atas ranjang, dan aku akan tidur di bawah. Beristirahatlah, kau pasti Lelah.”
“Kenapa kau menikahiku?” Daffa terpaku, namun hanya butuh waktu sekitar lima belas detik untuk membuatnya kembali sadar dan melanjutkan pekerjaannya menata tempat tidur.
“Aku hanya ingin menebus kesalahan adikku. Apa salah? Kau juga sebenarnya terbantu, karena jika tidak. Aku tak bisa menjamin jika kau akan dijodohkan kembali dengan orang yang salah.” Daffa menghempaskan kasurnya ke lantai dan langsung melompat ke atasnya tanpa memerhatikan ekspresi wajah Rhea.
Ia berpura-pura tertidur dan mencoba untuk tidak lagi memedulikan gadis yang kini tengah menangis itu.
Rhea terisak dan mulai menangis dalam keheningan malam yang mungkin terasa lebih mencekam baginya. Ia terus menangis sepanjang malam, hingga tanpa ia sadari matanya perlahan terlelap karena saking lelahnya ia menangis.
“Apa yang harus aku lakukan? Adikku sudah melukaimu. Aku tak bisa bersikap biasa saja dengan mengatakan bahwa semua itu telah berlalu.” Daffa juga tanpa sadar ikut meneteskan air matanya ketika mendengar suara isakan yang tertahan di bibir Rhea.
***
Semua kejadian pada esok harinya pun berjalan sesuai rencana Daffa. Mereka pindah ke mansion keluarga yang terdiri dari satu kompleks perumahan mewah dengan beberapa bangunan terpisah. 'Lavina Mansion'.
Unit rumah yang diberikan oleh tetua untuk mereka pun sebenarnya juga terbilang cukup besar. Rumah itu terdiri dari dua lantai yang memiliki luas hampir menyamai stadion olahraga. Rumah besar dengan total delapan kamar yang saling terpisah diantara ruang tamu besar yang merangkap menjadi ruangan keluarga. Mereka tak butuh rumah sebesar itu. Apalagi karena mereka hanya tinggal berdua tanpa ada seorang maid pun di dalamnya.
Mirip dengan Devian, Daffa juga tak memperbolehkan orang lain untuk memasuki kediamannya selain sekretarisnya Steve.
Steve lah yang bertugas untuk mengantarkan semua kebutuhan sang pemilik rumah selama mereka memilih untuk tinggal di dalam mansion. Suasana di dalam mansion memang terbilang aman. Mereka di kelilingi dengan pengawasan super ketat dimana tidak sembarang orang diperbolehkan untuk masuk tanpa identitas yang jelas. Mereka harus memiliki janji temu yang sangat sulit untuk dibuat agar bisa masuk ke dalam kompleks mansion.
Lokasi yang sangat aman tentunya bagi para tetua yang menginvestasikan sebagian besar usaha mereka dalam dunia hitam, dan juga pasar gelap. Namun merupakan sebuah penjara khusus bagi para tahanan seperti halnya Daffa dan Rhea.
“Aku ingin tinggal di apartmentku sendiri Bu." Daffa langsung menelfon ibunya setelah sampai di mansion.
"Aku tidak bisa melakukan apapun disini. Atau sebaiknya kau mengirimku kembali ke Paris. Rhea akan memulai kariernya sebagai model disana. Ia akan mewujudkan semua mimpinya yang tertahan selama ini. Dan aku, aku masih bisa mengontrol bisnisku sendiri. Bisnis yang sudah kubangun dengan tanganku sendiri tanpa bantuan Adya Utama.” Protes Daffa kepada sang ibunda yang kini sudah menjadi penguasa di AR Group setelah skandal Devian terjadi.
“Apa kau sudah gila? Aku berusaha keras untuk menempatkanmu disini, namun kau malah berfikir untuk meninggalkannya begitu saja. Kau tahu apa yang sudah aku lakukan untuk membuatmu berada disini?“ sanggah Adriana tegas.
“Menyingkirkan Devian, bukankah begitu?” bisik Daffa terdengar mengintimidasi.
"Daffa dengarkan aku baik-baik. Apa bagusnya dengan merintis usaha sendiri. Kau takkan mendapatkan apa-apa. AR adalah satu-satunya cara tercepat untuk kau mendaki ke puncak Nak."
“Bukan aku, tapi ini adalah keputusan bagus untukmu Bu. Bukannya dengan kepergianku kau jadi bisa mengelola AR dengan persetujuan penuh dari kakek. Jadi kau tak perlu lagi menjilat. Sementara aku akan mengurus diriku sendiri." ujar Daffa tak bisa dibantah.
"Daffa apa kau benar putraku?" teriak Adriana tak terima dengan penolakan putranya.
"Bukan, aku adalah pionmu untuk menyingkirkan semua orang. Aku adalah pion untuk kau menanjak ke jalan yang bukan jalanmu. Lagi pula, Rhea juga merasa sangat tak nyaman dengan statusnya sekarang.”
"Kami tak menginginkan perusahaan, kami hanya ingin kebebasan." Daffa menutup telfonnya secara sepihak dan memutuskan untuk tidak lagi mendengarkan jawaban dari ibunya apapun itu.
"Tidak ada gunanya berdebat. Aku akan tetap pada keputusanku." kekeuh Daffa dengan telfon yang masih berada dalam genggamannya.
Daffa memang tak dicegah apalagi ditawar. Ia memiliki kekeraskepalaannya sendiri , mirip dengan mendiang ayahnya Frans.
"Ibumu memintaku untuk tetap disini." Daffa masih tetap bersikukuh, bahkan bujukan dari Rhea pun juga tak bisa menghentikannya untuk kembali ke tempat asalnya di Paris.
Ia sudah mempersiapkan segalanya. Ia sendirilah yang mengurus semua dokumen-dokumen legal terkait peralihan kuasa dan pemindahan kepengurusan perusahaannya kepada sang ibu dan juga Aqsa.
Ia meminta Aqsa untuk mengendalikan perusahaan istrinya di bawah pengawasan Adya Utama. Sedangkan ibunya akan mengawasi perusahannya sendiri di bawah pengawasan sang kakek.
Ia memilih untuk pergi. Ia memilih untuk tak pernah terlibat dalam permainan kekuasaan dalam keluarganya. Ia memilih untuk pergi jauh diri dari semua skandal yang selama ini sudah menyiksa dirinya dan juga Rhea lahir dan bathin.
"Aku sudah memutuskannya." tegas Daffa tak bisa dibantah.
“Kenapa?”
“Aku tahu kau tertekan dengan semua pemberitaan keluargamu, begitu juga aku. Aku tak pergi dan menghilang tanpa alasan Rhea. Aku yang memilih untuk meninggalkan semuanya pada Devian. Ia lebih siap dan lebih berpengalaman dibanding diriku. Sementara aku hanyalah boneka yang dimainkan oleh ibuku tanpa rasa kasihan.”
"Aku sama sekali tak tertarik dengan perusahaan maupun kekuasaan. Berada di sana artinya bersiap untuk mati. Kau lihat adikku, aku bahkan tak tahu apa ia masih hidup saat ini atau tidak. Aku tak mau jika kita yang akan menjadi target selanjutnya."
Rhea memang tak bisa mengubahnya. Gadis itu hanya bisa berfikir untuk menurutinya. Ia terikat dengan Daffa sekarang. Tidak hanya Daffa, tapi juga masa lalunya bersama Devian. Masa lalu yang tak pernah ia ingat kenapa dan bagaimana bisa ia pergi dan menjauhinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments