“Rhea sudah sadar, ia ingin menemuimu.”
Rhea tidak sadarkan diri selama kurang lebih dua hari lamanya. Dan selama itu pula Daffa tidak diizinkan untuk menemuinya. Di dalam keluarga Adya Utama tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya. Bahkan mereka cenderung untuk saling curiga satu sama lainnya, termasuk dengan Daffa dan juga kakek.
“Kepercayaan diantara keluarga memang harus di jaga. Tapi dalam masa bahaya, aku tetap akan mempertahankan prinsipku untuk tak mempercayai siapapun dan dengan alasan apapun, termasuk jika ia adalah cucuku sendiri.” Tegas kakek yang membuat Daffa tak berdaya.
Belum lagi dengan masalah perusahaan induk Adya Utama Group, dimana satu masalah besar mulai mencuat ke permukaan. Yaitu pernikahan sang cucu rahasia Adya Utama yang berinisial ‘D’ alias Daffa sendiri dengan model ternama dunia ‘Ny. Shana Riggle’.
‘Diberitakan bahwa pernikahan rahasia ini sudah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun dan itu adalah sebelum Nona Riggle memulai kariernya di dunia modelling. Apakah ini adalah benar terjadi karena cinta yang benar-benar tulus atau justru ada maksud di baliknya?’
“Kau lihat atas ulahmu, sekarang media membahas kalian. Tapi aku sama sekali tak bisa menunjukkan wujud cucu menantuku di hadapan semua orang.” Ujar kakek geram.
“Belum lagi dengan seseorang yang mungkin menyerangku dari belakang dan itu bisa saja adalah kau Daffa.”
Untung saja Rhea sadar tepat pada waktunya. Karena jika tidak, maka bukannya tidak mungkin jika ia akan mendapat hukuman yang lebih besar.
“Rhea sudah sadar, dan ia ingin menemuimu.” Ujar Aini dan Sheryl yang keluar bersamaan dari kamar tempat Rhea di rawat.
Mereka berdualah yang selama ini bertugas menjaga Rhea selama tinggal di mansion utama. Mau bagaimanapun Rhea adalah kunci utama dari kasus Devian yang tak berujung. Bisa di bilang jika ia adalah anak emas bagi Adya Utama saat ini.
“Bagaimana keadaanmu.” Daffa bersimpuh di sisi tempat tidur Rhea. Ia meraih tangan gadis itu dan mengecupnya tulus.
“Aku hanya ingin kau menemaniku. Seluruh tubuhku rasanya lemas sekali. Aku tak memiliki tenaga sama sekali.” Lirihnya dengan mata yang separuh terpejam.
“Maafkan aku. Aku ingin mengerjaimu dengan memberimu obat pencahar. Tapi di luar dugaan ada yang memasukkan racun ke dalam obat itu. Aku minta maaf.” Air mata Daffa perlahan menetes pada tangan Rhea. Namun gadis itu masih menggeleng dan menyangkalnya.
“Itu bukan obat pencahar. Reaksinya berbeda."
"Kau tahu, aku pun paham tentang ilmu kedokteran dan obat-obatan. Aku sama sekali tak menguras perutku, semua yang kukeluarkan adalah darah. Darah segar dan itu benar-benar membuatku kehilangan tenaga.” lirih Rhea.
"Aku tahu itu adalah racun berbahaya yang siap untuk mengambil nyawaku kapan saja. Tetaplah bersamaku, hanya itu jaminanku untuk tetap aman."
Daffa tercengang. Aini benar, Rhea mungkin tak memakan apa yang ia berikan kepadanya. Ia memakan sesuatu yang lain dan mungkin itulah penyebabnya.
“Darah? Obat pencahar tak akan menguras darah Daf. Mungkin saja ia tak memakan makanan yang kau berikan kepadanya, melainkan…”Aini menggantungkan kalimatnya ketika ia menyadari telah melewatkan sesuatu.
“Ia makan bersamaku di saat terakhir. Apa mungkin…” sela kakek yang membuat semua orang membeku.
“Ia ingin mencelakai kakek. Tapi kakek bahkan tidak memakan apapun. Makanan berisi pencahar itu mungkin masih utuh atau berpindah ke target lainnya.” Jawab Rhea masih berusaha tenang.
“Apa yang membuatmu begitu tenang? Apa kau memang seperti ini jika sedang sakit?” tanya kakek curiga.
“Ia memang sangat tenang ketika menghadapi masalah kek. Aku pun bahkan bingung, kapan ia benar-benar akan membutuhkanku dan kapan ia tengah bersandiwara.”
Aini menyelesaikan tugasnya untuk memberikan transfusi darah kepada Rhea untuk terakhir kalinya. Ia meninggalkan ruangan itu bersama Kakek dan juga Sheryl yang sedari tadi hanya mematung di pintu dan mendengarkan.
Ia sudah bolak balik ke kamar mandi selama beberapa hari ini dan merasa sangat lemas. Sepertinya senjata Daffa tak beralih ke orang yang benar-benar salah. Karena ia seperti mendapat hiburan sendiri ketika dirinya sedang tersiksa selama dua hari ini tanpa ada Rhea yang bisa dijahilinya.
“Apa yang kau inginkan?” Daffa bertugas untuk menjaga Rhea saat ini, karena gadis itu yang hanya ingin Daffa bersamanya.
“Aku tak ingin apapun. Aku hanya ingin kau tidur dan memelukku terus seperti ini.” Rhea bersandar pada dada Daffa dan membenamkan wajahnya disana. Ia seperti mendapatkan tempat ternyamannya dalam dua puluh tahun lebih ia hidup. Ia hanya butuh Daffa bersamanya, bukan yang lain. Hal itu terjadi selama masa sepekan pemulihannya.
Namun anehnya tak ada yang perkembangan berarti pada hubungan keduanya setelah itu. Mereka kembali bersikap selayaknya kucing dan anjing setelah Rhea pulih. Dan itu benar-benar membuat seisi rumah heboh karena pertikaian keduanya.
“Aku akan mengumumkan pernikahan kalian ke publik secara resmi. Media sudah menunggu terlalu lama, bagaimana menurutmu cucuku?” Kakek memang selalu memanggil Rhea dengan nama cucuku, berbeda dengan Daffa yang hanya diberikan berbagai macam julukan seperti ‘Anak Nakal’, ‘Tidak tahu diri’, atau ‘cucu keparat’ dan terkadang hanya namanya atau kata tuan muda saja yang terucap dari bibir sang kakek.
“Apa aku harus tampil sebagai Nona Riggle kek?” tanya Rhea dengan senyuman penuh arti.
Daffa hanya melongo bingung, namun Sheryl yang paham pun langsung memanggil stylish kenamaan ke dalam mansion utama untuk merubah Rhea menjadi Shana.
Semua orang terperangah. Ia nampak seolah akan mengadakan catwalk solo di dalam mansion karena kehebohan para dayang barunya itu.
“Apa aku harus mengenakan yang sedikit transparant agar lekuk tubuhku terlihat jelas?”
“Itu akan membuatmu tampak seperti ******.” jawab Daffa ketus.
“Atau aku harus mengenakan belahan rok tinggi agar kaki jenjangku terekspose?”
“Kau bukan pelari nasional, untuk apa mereka memandang kakimu?” lagi-lagi Daffa menentangnya.
“Atau gaun berbelahan dada rendah?”
“Apa ada anak-anak yang hendak kau susui, hingga perlu menampakkannya seperti itu?“ Rhea menatap Daffa dengan tatapan ingin membunuh.
Perdebatan demi perdebatan sengit pun terjadi diantara kedua pasangan menikah yang tak harmonis itu. Mereka melakukan fitting gaun di dalam kamar pribadi mereka selama hampir tujuh jam lamanya. Hingga pilihan akhirnya berujung pada sebuah jas semi casual berwarna hitam dengan dalaman kaus bermanik permata. Ia memadukannya dengan celana kasual panjang yang pas melekat hingga memperjelas kaki panjangnya.
Rhea benar-benar nampak berkelas. Dengan riasan sederhana dan sebuah tas tangan yang sedikit simple namun tetap elegant. Rambutnya di gerai indah dan menampakkan aura khas putri muda sang pewaris dan bukannya model kenamaan yang selalu menjual foto dengan setengah telanjang sama seperti profesinya selama ini.
“Apa kau tahu, kau terlihat lebih cantik seperti ini dibanding dengan semua gaun yang mengekspose auratmu tadi. Belahan dada rendah, rok dengan belahan tinggi, punggung polos yang terkspose hingga hampir kebokong? Cih….” Daffa mendecih.
“Pakaian yang kau kira cantik itu justru malah membuatmu hampir mirip dengan ******.” Rhea menatap kesal namun tak juga membantah. Mau bagaimanapun ia masih menghargai posisinya sebagai istri seseorang.
Ia selama ini memilih bebas dan bertingkah hanya karena sang suami memilih bersikap tak peduli.
“Kalau begitu, Ayo!” Daffa membungkuk di depan Rhea dan membantunya dengan sepatu hak tingginya sebelum akhirnya menggandeng tangan gadis itu keluar menuju ruang konferensi. Mereka nampak sangat serasi dan cocok, apalagi dengan ditambah bumbu-bumbu ekspresi yang diluar dugaan. Mereka seakan memancarkan aura saling mencintai lewat tatapan matanya masing-masing
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments