Bagian 4 : Kepribadian Ganda

“Suamimu memiliki gangguan kejiwaan. Ia divonis memiliki kepribadian ganda, sebaiknya kau berhati-hati!”

Sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya tiba-tiba saja membangunkan Rhea dari tidur pulasnya. Ia mengernyitkan dahinya dan mencoba mereka ulang semua kejadian yang ada di dalam kepalanya tentang Devian, suaminya.

Tidak sulit bagi Rhea untuk menganalisisnya. Mengingat pengasuh yang membesarkannya selama ini memiliki latar belakang psikologis. Selama hidup terpisah dari mansion, Rhea dibekali dengan berbagai macam pengetahuan yang wajib diketahuinya seputar menjadi seorang ahli waris.

Ia menerima Pendidikan karakter yang cukup baik, meskipun hanya dari rumah. Wawasannya luas dan pengetahuannya perihal dunia medis juga tidak sedikit.

Orang tua asuhnya membekali Rhea dengan semua ilmu tentang pengetahuan dasar yang mungkin akan ia butuhkan nanti, termasuk ilmu medis dan psikologis. Bukan hanya sekedar tata krama dan bisnis yang sudah ia pelajari, pelajaran Bahasa asing, public speaking, serta ilmu memahami karakter sudah ia kuasai dengan begitu baik.

Karena itulah selama ini ia tidak bisa melawan semua apa yang diberikan Devian kepadanya. Selain karena penyabar, dan tak pandai menyalurkan emosi. Rhea cukup tahu bagaimana caranya menangani perasaan emosi dan juga mental seseorang.

Dan perihal Devian, sebenarnya ia sudah menduganya sejak awal. Karena hanya masalah psikis serta latar belakang yang kurang kuat yang bisa mengantarkan seseorang tumbuh dengan emosi mental yang labil.

Ia sudah melihatnya dari Devian sejak awal. Bahkan tatapan pemuda itu selalu terkesan kosong, dan ia lebih sering menghabiskan hidupnya sebagai orang lain.

Rhea tahu apa yang harus dilakukannya. Ia harus mencari akar dari semua permasalahan Devian. Baru setelah itu ia bisa mencari cara untuk mengobati keadaan sang suami.

Rhea buru-buru meletakkan ponselnya setelah sebelumnya ia menghapus pesan singkat itu. Ia mendengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat.

“Pasti itu Devian, karena tidak ada siapapun di rumah ini selain kami.” Batinnya.

Rhea kembali menutup matanya seakan ia sama sekali belum terbangun semenjak lelaki itu keluar dari kamar mereka.

“Aku bahkan sudah mengizinkanmu untuk tidur di ranjangku. Suatu hal yang bahkan tak pernah bisa ku bayangkan dengan wanita manapun sebelumnya. Apa istimewanya dirimu sebenarnya, hingga Daffa juga membelamu.” Lirih Devian sambil menyibak helaian rambut yang menutupi wajah Rhea.

"Siapa Daffa? Apa itu adalah dirinya yang lain?" gumam Rhea membatin.

Ia meraba kening gadis itu yang terasa hangat, ia juga melihat gadis itu nampak menggigil karena kondisinya yang masih basah kuyup ketika tertidur.

“Apa aku terlalu kejam? Apa benar ini seharusnya bukan hukuman untukmu?” gumam Devian lalu ia melangkah pergi menuju dapur untuk mengambil mangkuk beserta air dingin untuk mengompres Rhea.

“Apa hatinya yang sebenarnya juga sama lembutnya? Apa aku mungkin salah menilainya?” batin Rhea seketika.

Rhea hanya bisa berdiam diri ketika ia merasakan Devian menyentuh tubuhnya dan menggantikan pakaiannya dengan pakaian kering. Ia bahkan memindahkan tubuh Rhea terlebih dahulu dan mengganti sepray mereka yang basah. Ia mengurusi gadis itu dengan telaten, seakan membuktikan bahwa hatinya yang sebenarnya juga sama hangatnya. Pasti ada alasan kenapa ia harus berubah jadi seorang yang begitu kejam, pikir Rhea.

Setelah selesai dengan tugasnya mengurusi Rhea, Devian kembali ke dapur dan membuatkan gadis itu semangkuk sup hangat. Ia membangunkan istrinya dan menyuapinya dengan telaten.

Rhea yang tahu akan kelainan sang suami hanya bisa pasrah. Ia menerima semua perlakuan itu tanpa mempertanyakan apapun.

“Apakah ini adalah sisi dirimu yang lain? Apa dia yang kau panggil Daffa? Atau sebenarnya kau dan Daffa pun sama, memiliki hati yang sangat hangat. Hanya saja, kau enggan untuk menunjukkannya.” ujar Rhea membatin.

Hatinya terasa sakit. Ini adalah kali pertamanya ia mengenal sosok seorang pria selain ayah angkatnya. Ia juga lelaki pertama yang berani menyentuh tubuhnya, dan anehnya Rhea sama sekali tak merisaukannya.

Bukan karena ia haus akan sentuhan dan perlakuan manja. Hanya saja, mengingat posisinya sebagai istri ia yakin bahwa Devian sebenarnya berhak untuk melakukan lebih dari sekedar itu.  Ia memiliki hak atas dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Selama hidupnya Rhea selalu berharap bahwa sosok lelaki yang nantinya akan memenangkan hatinya adalah suaminya sendiri. Pria itu yang akan menjadi cinta pertamanya dan tempat perhentian terakhirnya. Tapi melihat perlakuan Devian kepadanya, harapannya seakan pupus hanya dalam hitungan detik.

“Syukurlah demammu sudah turun. Maafkan aku karena begitu keras kepadamu. Jujur, aku memiliki kesulitan untuk mengontrol emosi. Dan kau tahu pernikahan ini, perjodohan kita yang tiba-tiba. Aku tak bisa menerimanya begitu saja.”

Rhea terkejut dengan pengakuan tiba-tiba yang keluar dari mulut Devian. Namun mengingat kejadian yang ada dalam ingatan suaminya saat ini adalah perihal kekerasannya, Rhea paham bahwa itu adalah sisi jahat dari sang suami.

Rhea memutar kepalanya ke seisi ruangan hingga pandangan matanya berhenti di satu titik. ‘Obat’. Meskipun hanya dari kejauhan, tidak sulit bagi Rhea untuk mengenal obat itu sebagai obat penenang.

Pada suatu kondisi penderita Gangguan Kepribadian Ganda bisa bertingkah seolah ia adalah orang yang berbeda, dengan nama, sifat, dan bahkan jenis kelamin yang berbeda. Dan anehnya disaat alter ego itu mengambil alih diri mereka, mereka takkan mengingat apapun hal yang telah mereka lakukan.

Rhea bisa memahami bagaimana Devian yang tak mengingat sikap baiknya terhadap Rhea, dan bahkan terkadang ia bingung harus bersikap bagaimana terhadap Rhea.

Rhea tak memiliki ide lain. Dirinya pun bahkan turut merasa kacau. Di saat satu sisi dalam dirinya menginginkan untuk terbebas dari Devian. Sisi lainnya justru mengatakan bahwa ia harus terus mendampingi lelaki itu. Karena tak ada yang bisa menolong Devian dan memahami kondisinya selain dirinya.

Rhea tanpa sadar meneteskan air matanya dan menelusup masuk ke dalam dekapan Devian tanpa meminta persetujuan dari pria itu lebih dulu. Ia memilih untuk bersikap nekat dan tak memedulikan apapun pendapat Devian.

Lima menit…Sepuluh Menit…Lima Belas Menit….

Devian hanya diam saja. Rhea tak benar-benar merasa tak yakin dengan reaksi Devian saat ini. Ia mendongakkan kepalanya dan mendapati Devian tengah pulas dengan dirinya yang menopang tubuh Devian. Rhea membaringkan tubuh Devian perlahan di atas tempat tidur dan mengecek obat-obatan yang baru saja dikonsumsinya.

“Obat ini memiliki dosis yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi terus menerus akan memiliki efek samping mirip narkotika. Obat ini akan memicu halusinasi liar bagi orang yang mengonsumsinya, Ia juga langsung tertidur dan seakan tak sadar akan dirinya.”

“Obat ini secara tidak langsung digunakan untuk mengontrol pasien agar tidak terlalu banyak terlibat aktivitas dan membatasi interaksinya dengan orang lain. Ia mendapatkan obat yang salah, ini bukan obat yang tepat.” Gumam Rhea.

Rhea memutar otaknya untuk mencari cara agar Batasan Devian untuk berkomunikasi tidak terhalang. Pemuda itu harus memberanikan dirinya untuk melawan rasa takutnya sendiri. Hanya itulah caranya untuk bisa sembuh. Ia harus berjuang bukannya bertahan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!