Bagian 3 : Daffa

"Baiklah, aku akan mengurus kepulanganmu. Untuk sementara aku akan mendatangkan dokter ke rumah. Mau bagaimanapun kau harus tetap di rawat."

Devian bergegas mengurus prosedur pemulangan Rhea. Entah apa maksudnya yang sebenarnya. Entah karena ia memang takut jika perlakuannya terhadap Rhea akan terbongkar atau justru ada maksud lain, seperti memberikan gadis itu hukuman.

Keadaan Rhea yang begitu lemah, mengharuskan Devian untuk menggendongnya. Ia menggendong gadis itu dan memindahkannya ke kursi roda. Ia juga yang mendorong kursi roda Rhea hingga ke mobil. Semua berlanjut hingga mereka tiba di kediaman mereka seolah tak pernah terjadi apa-apa.

"Sudah tidak ada orang disini. Kau bisa menurunkanku sekarang." pinta Rhea lirih ketika keduanya sudah menghilang di balik pintu utama rumah mereka.

Devian tak menurutinya. Ia malah terus membawa gadis itu ke dalam kamar dan meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan lembut. Ia menyelimuti Rhea dan duduk di sisi tempat tidur di sampingnya.

"Siapa yang membuatmu seperti ini? Hatiku terasa sakit melihatnya." Devian mendekap tangan Rhea dan membuat gadis itu merasa kebingungan dengan sikapnya.

"Apa ia masih bersandiwara? Tapi untuk apa?" batin Rhea tak percaya.

Rhea hendak duduk untuk mengimbangi posisi Devian, namun Devian mencegahnya.

"Berbaringlah, kau harus beristirahat. Kondisimu sedang tidak baik."

Rhea menurut. Devian berjalan ke arah dapur dan mengambilkan segelas air untuk Rhea lengkap dengan obat-obatannya. Ia meminta Rhea untuk meminumnya, lalu menemani gadis itu beristirahat.

Jujur di dalam benak Rhea, ia merasa sangat takut. Perubahan tak biasa dalam diri Devian ini bisa saja merupakan pertanda buruk. Namun ia tetap memaksakan matanya untuk terpejam lantaran pengaruh obat yang membuatnya merasa mengantuk.

Di dalam lubuk hatinya, ia bahkan tak bisa memungkiri. Bahwa posisi tubuh Devian yang kini tengah mendekapnya terasa begitu hangat dan nyaman. Ini kali pertamanya di dalam hidup merasakan perasaan yang demikian.

"Maafkan aku karena masih harus belajar mencintaimu. Namun aku akan berusaha Rhea. Jangan pergi lagi, aku takut akan sebuah perpisahan." lirih Devian yang turut mengantar Rhea masuk ke dalam alam mimpinya.

Pukul 19.00 malam...

Rhea terbangun ketika tubuhnya dilempar kasar hingga melantun turun dari tempat tidur. Lagi-lagi sudut dahinya terbentur ke sisi nakas untuk yang kesekian kalinya.

Devian baru saja terjaga dari tidurnya yang lelap ketika ia tengah mendapati gadis itu berada di dalam dekapannya. Emosinya meledak, dan langsung mendorong tubuh Rhea dengan begitu keras.

"Ada apa ini? Ada apa dengannya?" batin Rhea sambil meringis.

"Apa yang kau lakukan? Berani-beraninya kau memelukku seperti itu, Hah!" bentak Devian seolah kesetanan.

Baru berselang tiga jam sejak perlakuan manisnya kepada diri Rhea. Namun sifatnya kini kembali kepada Devian yang bengis.

"Bukankah seharusnya kau masih berada di dalam kamar mandi? Berani-beraninya kau keluar dan memelukku seperti itu!"

Rhea memutar ingatan di dalam kepalanya , samar ia teringat akan ingatan yang terjadi di pagi hari tak selang setelah dirinya tak sadarkan diri di dalam kamar mandi.

Kala itu salah seorang maid datang dan berniat ingin membersihkan rumah, ketika ia menemukan Rhea tak sadarkan diri di dalam kamar mandi. Maid itu yang membawanya ke rumah sakit. Namun belum sampai di rumah sakit, ada seseorang yang memukulnya dari belakang hingga ia turut terjatuh bersama Rhea.

Posisi mereka kala itu tengah berada di taman bermain hendak menunggu taksi. Namun ia tak bisa ingat kejadian lainnya. Bagaimana bisa ia berada di rumah sakit sendirian? Kemana maid itu?

"Apa mungkin ia marah karena berfikir aku mencoba kabur?" batin Rhea tak percaya.

"Jangan bersikap bodoh! Dan kembali ke tempatmu!" lagi-lagi Devian menjambak rambutnya dan menyeretnya masuk ke dalam kamar mandi seperti sebelumnya.

"Apa-apaan ini? Lantas ada apa dengan sikapnya tadi? Kenapa aku merasa ia begitu tulus?" dialog Rhea sendiri setelah Devian meninggalkannya dan mengunci pintu kamar mandi.

Ia ingat betul betapa manisnya Devian sebelumnya. Bahkan Devian juga yang memindahkannya ke tempat tidur kemarin, saat ia tak sadarkan diri. Tapi kenapa sikapnya seperti ini? Seolah ia adalah dua orang berbeda di dalam satu raga.

Ponsel Rhea berdering. Ada nama kuasa hukum keluarganya tertera disana. Tanpa berfikir panjang lagi, Devian pun mengangkat telfon itu dan berlagak seakan sang istri tengah tertidur pulas.

"Saya hanya ingin memastikan Tuan untuk membantu Nona dengan obat-obatannya. Besok pagi ada konsul dengan dokter penyakit dalam pukul 09.00 pagi. Jika Tuan sibuk, izinkan saya yang menjemput Nona besok pagi."

"Rumah sakit? Sial!! Apa yang ia lakukan kali ini?" batin Devian mengumpat.

"Tidak, aku akan mengantarnya sendiri. Rhea baru saja mengonsumsi obatnya dan ia kini tengah tertidur." ujar Devian mencoba memberikan alasan yang masuk akal.

Devian menutup panggilannya stelah itu dan langsung berlarian ke arah kamar mandi untuk menemui Rhea. Gadis itu terlelap, tenaganya benar-benar habis ditambah lagi dengan kondisi tubuhnya yang tengah berada dalam keadaan tidak baik.

Ia mengguncang sedikit tubuh Rhea dengan kakinya, namun gadis itu sungguh tak bergeming. Devian akhirnya mengalah dan turun untuk bersimpuh tepat di sampingnya.

"Apa ia melakukannya lagi?" Devian menatapnya penuh makna. Entah apa yang ia maksud dengan melakukannya lagi?

"Sial, bahkan gadis ini benar-benar manis untukku sia-siakan." umpatnya sebelum akhirnya ia meraih tubuh Rhea masuk dalam gendongannya. Ia mengangkat tubuh Rhea menuju ke atas tempat tidur dan membaringkannya disana.

"Aku akan menanyainya besok. Sekarang istirahatlah!" lirihnya seolah tak pernah terjadi apapun diantara keduanya.

Ia memanglah Devian. Ia bahkan tak menyelimuti gadis itu sama sekali dan membiarkannya tidur dalam keadaan basah kuyup.

"Mau bagaimanapun aku masih memiliki rasa iba. Kau tidak boleh mati secepat itu, ayahmu masih harus menyaksikan penderitaan anaknya dari atas sana." seringai Devian licik.

Devian melangkah keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang bawah tanah rumahnya yang terlihat lebih mencekam dari tempat lain di rumah itu.

"Kau membantunya? Tidakkah kau terlalu baik Daffa?" Devian mengelus lembut puncak kepala seorang pemuda yang nampak lebih muda darinya. Seorang pemuda yang tengah berbaring tak berdaya di atas sebuah bangkar yang berada tepat di depannya.

Tubuhnya begitu pucat, dengan bau busuk menyengat yang mengundang serangga berkumpul disana. Devian memanggilnya dengan nama Daffa, sang kakak sulung yang telah meninggal beberapa bulan lalu akibat kecelakaan konstruksi yang menimpanya dalam proyek terakhirnya bersama Aziel, ayah kandung Rhea. Setidaknya begitulah yang ia ketahui, hingga memancing semua tindakannya kepada Rhea selama ini.

Devian sangat membenci Aziel karena itu. Namun karena Daffa bukanlah anak yang dipublikasikan oleh keluarga, ia tak bisa mengungkapkan kematiannya begitu saja.

Ia menyimpan jasad Daffa disana lengkap dengan seragam konstruksi favoritenya seakan ia tengah menatap pemuda itu tengah tertidur akibat kelelahan dan bukannya meninggal.

Devian divonis memiliki kepribadian ganda setelah kepergian Daffa. Ia seolah hidup sebagai dua orang sekaligus yaitu Daffa dan dirinya. Sisi putih dalam dirinya adalah Daffa sedangkan sisi gelapnya milik dirinya sendiri.

Ia bahkan tak mencampur ingatan keduanya dan berakhir linglung setelah pertukaran itu terjadi. Seolah-olah diri Daffalah yang tengah merasukinya dan mengambil alih tubuhnya selama ini.

"Hentikan Daffa! Berhenti mengasihani putrinya hanya karena tangannya tak melakukan apa-apa. Ia tetap harus menebus segala kesalahan ayahnya." dialog Devian seorang diri.

"Apa katamu? Aku sudah membunuh Aziel? Apa kau kira itu setara dengan pengkhianatannya terhadap ayah dan perlakuannya terhadapmu? Jangan hentikan aku jika kau tak ingin aku semakin menyiksanya."

Devian keluar dari gudang bawah tanah itu dengan membanting pintu dan kembali menguncinya dari luar. Diri Devian saat ini lebih nampak seperti orang gila dibanding orang yang memiliki ambisi untuk menghabisi musuhnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!