"Apa alasanmu menikahiku?"
Deg! Daffa belum menyiapkan alasan apapun untuk pertanyaan Rhea kali ini. Ia menjadi terlalu pendiam untuk seorang lelaki yang memutuskan untuk menikahi wanitanya.
"Aku tak tahu. Yang pasti kau aman jika menjauh kan diri dari mereka." jawab Daffa sekenanya.
Ia meninggalkan Rhea sedirian di dalam apartment yang baru saja dibelikannya untuk wanita itu ketika sampai di Paris. Kamar apartment yang bersebelahan dengan dirinya. Bukan bersebelahan kamar melainkan bersebelahan unit alias bertetangga.
Rumah tangga mereka benar-benar telah berada dalam krisis. Mereka tak hanya pisah ranjang maupun pisah kamar. Mereka bahkan sudah pisah rumah dan Daffa memutuskan untuk memberikan kebebasan sepenuhnya bagi Rhea.
"Tuan bilang bahwa Anda memiliki mimpi untuk menjadi model ketika Anda masih muda Nona. Karena itu aku sendirilah yang akan membantu Anda dan menjadi manager Anda." jelas Steve yang sudah bergantian masuk dengan Daffa ke dalam unit apartment Rhea.
"Cihh..." Rhea berdecih.
"Entah siapa yang akan menjadi apa? Sejak kapan ia begitu memperhatikanku?" Steve hanya menggeleng pasrah.
"Dimana dia?" tanya Rhea ketus.
"Tuan berada di unit sebelah. Saya akan tinggal bersama beliau dan membantu Anda untuk melaporkan kegiatannya kepada Anda. Anda tak perlu sungkan dan Anda bisa memanfaatkan saya sesuka hati Anda Nona." jelas Steve yang lagi-lagi membuat Rhea mendecih.
"Aku tak butuh mata-mata. Aku istrinya, aku bisa berbuat sesukaku atas dirinya. Dia kira hanya dia yang bisa berbuat sesuka hati. Aku juga bisa, bahkan jika aku ingin mengontrolnya lebih jauh." ujar Rhea yang sebenarnya sangat jauh dari kesan angkuh. Setidaknya di telinga Steve.
"Pasangan ini benar-benar unik." batinnya
****
Tiga tahun telah berlalu,
Rhea telah menanjak cukup jauh dalam karier modelnya. Sebagai pendatang baru, ia terbilang sangat sukses dan berhasil mencapai puncak kariernya dalam sekejap mata. Ditambah lagi dengan dukungan seorang yang sangat kompeten seperti Steve sebagai managernya.
"Tuan muda ingin mengajak Anda untuk pulang kembali ke tanah air besok lusa. Tuan ingin saya untuk memberikan tiket ini kepada Anda." Rhea tak bereaksi.
"Apa saya perlu menyampaikan sesuatu kepada tuan muda, Nona?" Rhea melemparkan majalah fashion edisi terbaru dengan foto wajahnya yang menghiasi sampul ke sembarang arah.
"Menarik." Rhea menyilangkan kedua kakinya dengan anggun dan mendongak menatap Steve yang masih berdiri dengan sangat kaku di sampingnya.
"Aku mau gaun edisi terbatas yang kugunakan di pemotretan sebelumnya. Minta designer pribadiku untuk merancang beberapa gaun lain yang terlihat lebih terbuka, namun cocok untuk pakaian sehari-hari. Minta juga beberapa gaun untuk acara formal dan beberapa gaun malam yang sexy. Pastikan itu adalah warna-warna kesukaan Daffa."
"Apa maksudnya Nona?" tanya Steve bingung. Ia masih sibuk menerka apa maksud dari nona mudanya itu. Apakah itu berarti bahwa dirinya menolak untuk pulang ke tanah air atau justru sebaliknya. Ia memilih untuk ikut pulang sambil terus memprovokasi.
"Ia ingin aku pulang untuk menemani kakek yang sedang sekarat bukan? Aku hanya bersiap untuk menjadi pewaris kalau-kalau kakek menyerahkan segalanya untukku dan juga Daffa nantinya." ujar Rhea terdengar lebih angkuh dari biasanya.
"Lalu bagaimana dengan karier Anda disini Nona?" Rhea menatap Steve dengan sedikit mengintimidasi.
"Maksudku jika Anda menyiapkan begitu banyak, bukankah itu berarti bahwa Anda sedang bersiap untuk kembali selamanya?"
"Tepat sekali!"
"Kau tahu Kak, aku rasa berlenggak-lenggok di atas catwalk bukanlah fashionku yang sebenarnya. Mungkinkah aku harus menyiapkan beberapa setelan jas? Kalau-kalau aku akan ditunjuk menjadi presdir nantinya."
Steve hanya bisa bertindak dan menuruti semua kemauan Nona mudanya. Ia pun pamit dan bergegas untuk menyiapkan semua hal yang Rhea minta sebelumnya. Hanya satu hal yang telah ia persiapkan tanpa pernah Rhea minta. Set pakaian lingerie dengan warna menyala.
Bahkan seorang Steve yang kaku pun bisa bertindak sejauh itu untuk sang Nona muda yang sudah mirip dengan adik baginya itu.
"Ia takkan bisa lari kali ini." gumam Rhea membatin.
****
Sesuai rencana mereka berangkat keesokan malamnya, agar bisa menginjakkan kaki di tanah hari tepat pada keesokan lusa. Rhea benar-benar tak habis fikir dengan Daffa yang bisa-bisanya masih memikirkan schedule dan juga jadwal dalam keberangkatan mereka. Apalagi karena alasan kepulangan mereka adalah penyakit kakeknya yang memburuk.
Satu jam Sebelum Mendarat....
"Cihhh...Harus sampai tepat esok lusa?" cemooh Rhea dengan mengulang kembali kalimat yang ia dengar sehari sebelumnya.
"Aku bahkan tak yakin jika sudah berada disini selama berjam-jam denganmu. Duduk berdampingan, berdua, dan tak ada orang lain selain kita di kabin ini." Rhea mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya yang hanya dipenuhi oleh kursi yang kosong.
"Aku sengaja membooking seisi kabin agar tidak ada media yang menyoroti kehadiranmu." jelas Daffa tanpa melirik sedikitpun ke arah Rhea.
"Lalu bagaimana dengan Kak Steve? Dia adalah managerku. Dan kemana semua bodyguard itu? Bukankah itu adalah tugas mereka untuk menjagaku dan bukannya kau." sanggah Rhea tak terima.
"Hei ingatlah, Aku ini adalah Shana Riggle, model kelas atas dunia. Lagi pula wajar jika aku diperlakukan seperti itu." ujarnya angkuh.
"Kalau begitu, keluarlah sana dan umumkan di pengeras suara bahwa kau adalah Shana Riggle. Agar para penumpang bisa bertumpuk di depan dan membuat pesawat ini kehilangan keseimbangannya." karang Daffa mengada-ada. Rhea lagi-lagi mendecih.
"Omong-omong..." Rhea mengalihkan wajahnya untuk menatap Daffa dalam jarak yang sangat dekat.
"Apa jika nyawa kakekmu hanya tinggal hitungan menit, kau akan tetap berangkat sesuai jadwal?" sindir Rhea lagi, kali ini dengan wajahnya yang sudah berada tepat lima senti meter di hadapan wajah Daffa.
Begitu dekat hingga ia bisa dengan jelas menghirup aroma nafas Daffa yang berbau mint, masih sama seperti kali terakhir ia tak sengaja menciumnya tiga tahun yang lalu. Disaat ia tak sengaja menginjak gaun pengantinnya pada waktu menjelang resepsi pernikahan mereka berlangsung.
"Hidupmu itu benar-benar konyol." ujarnya terdengar gugup.
Rhea langsung memalingkan wajahnya seketika dan menjaga jarak dari Daffa yang juga terlihat cukup gugup dan kehilangan ketenangannya seketika.
"Bersikaplah layaknya seorang istri mulai sekarang. Kau akan kembali sebagai nona muda Naratama dan juga menantu dari AR Group nantinya."
Seperti biasa, Daffa sama sekali tak tertarik dengan karier Rhea. Ia selama ini hanya membantu untuk menjadi penyokong bagi gadis itu dalam meraih mimpinya. Ia tak ikut campur terlalu banyak.
Dan Keputusannya mungkin memang tepat. Apalagi karena ia tahu jika semua rencana jahat yang ditujukan kepada Rhea selama ini adalah ulah dari kakeknya sendiri dan juga ibu tiri Rhea yang sudah mulai bertindak di luar batas.
Namun ia tak pernah memberi tahu Rhea tentang semua alasannya. Ia tak pernah mengatakan apapun selain janji suci pernikahan yang ia lantunkan bak pembacaan janji siswa di pagi hari menjelang kelas dimulai. 'Tak ada artinya' Bahkan sekalipun kau mengucapkannya berulang kali dan dengan suara lantang, pada kenyataannya janji itu akan terus dilanggar dan juga tak dihiraukan.
"Bukannya kau tak pernah tertarik dengan perusahaan keluarga selama ini." Daffa tak menghiraukannya. Ia masih mengacuhkannya dalam sekian menit sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan semua hal kembali ke topik yang sebelumnya.
"Aku harus menyelesaikan semua serah terima pekerjaan dengan karyawanku di Company Star sebelum kembali mengambil Adya Utama dan Naratama sesuai perintah kakek. Butuh waktu sekitar dua hari untuk itu."
"Lagi pula aku takkan pernah menyia-nyiakan usahaku disana sebelum kembali. Aku memulainya sendiri dari nol. Bahkan jika perlu aku akan menyerahkan semua kuasa atas Naratama dan juga Adya Utama kepada orang terpercaya dan terus menetap di Paris selama mungkin."
"Lalu kenapa memilih kembali?" Daffa diam.
"Kau tak pernah menjawabnya." Daffa masih tak menggubrisnya.
"Apa jika aku menanyakannya kembali, kau akan tetap diam? Apa alasanmu menikahiku?" Daffa masih diam, namun ia nampak cukup terusik kali ini.
"Kenapa kau terus-terusan bersikap seakan aku bukan apa-apa untukmu. Apa aku hanya boneka yang bisa dengan mudahnya untuk kau dan adikmu permainkan?" Suara Rhea sudah sedikit bergetar. Butuh keberanian besar untuk mengutarakannya, namun Daffa masih tak bisa menjawab.
"Tetap di sisiku." jawabannya begitu singkat namun berhasil membuat suasana berubah canggung.
"Maksudku setelah kita kembali. Aku tak mau repot jika sampai kau berbuat masalah nantinya." Rhea menghembuskan nafasnya kasar, seakan tak percaya dengan apa yang saat ini ia dengar.
"Tetap di sisiku dan jangan beri aku alasan untuk mengurungmu selama disana. Jangan buat aku repot dan jadilah gadis baik yang penurut." Daffa berlalu pergi menuju ke arah pintu keluar sesuai aba-aba dari para pramugari yang memberi tanda bahwa mereka sudah mendarat dengan selamat.
"Dasar suami brengsek!" umpatnya sebelum mengekori Daffa keluar dari dalam pesawat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments