“Kau sudah sadar?”
Daffa duduk di samping Rhea yang baru saja siuman. Ia hanya diam terbaring di atas bangkar rumah sakit setelah kejadian mengenaskannya bersama Devian dua hari yang lalu. Sesuai rencana, memory Rhea sudah di kuras habis. Dokter menyatakannya mengalami amnesia akibat luka di bagian kepalanya. Sekarang hanya tinggal kuasa hukumnya yang tengah berusaha meluruskan keadaan.
“Tuan Devian dinyatakan menghilang. Saya sudah memasukkannya ke dalam daftar buronan. Dan pernikahan Nona dengan Tuan Devian sudah dibatalkan secara hukum.” Jelas sang kuasa hukum kepada Daffa yang nampak menunjukkan raut wajah penuh kekhawatirannya.
“Bagaimana bisa beliau begitu kejam. Mereka bahkan belum genap satu minggu menikah dan nona kami sudah dalam keadaan yang begitu buruk seperti ini.” Sambungnya yang langsung dimengerti oleh Daffa.
“Pernikahan ini karena wasiat bukan?” tanya Daffa yang langsung membuat kuasa hukum Rhea tercengang.
“Ya? Oh iya benar Tuan.”
“Apa isi wasiatnya?”
“Itu.. anu..” Tuan Albert selaku kuasa hukum Rhea langsung bergegas mengeluarkan semua dokumen legal milik Rhea yang sebelumnya memang ia bawa untuk menjalani proses legal pangadilan.
“Mendiang tuan kami ingin agar nona menikahi putra dari sahabatnya untuk bisa mewarisi perusahaan keluarga.”
“Baiklah, kalua begitu biarkan aku yang menggantikannya.” Ujar Daffa yang langsung membuat sang pengacara tercengang.
“Ya tuan? Apa maksud Anda sebenarnya?” Albert tercengang.
“Saya atau Devian sama saja. Kami sama-sama pewaris dan penerus bisnis ini. Apalagi dengan keadaan kemarin, kuasa hukum keluarga kami telah menghapus Devian dari nama pewaris. Itu tandanya hanya aku yang tersisa. Bukankah itu adalah keputusan yang bagus?” nego Daffa yang tak lagi bisa ditolak oleh sang kuasa hukum.
“Selesaikan semuanya dengan baik. Aku ingin mengganti semua memori buruknya tentang pernikahan dengan kenangan yang baik dan juga menyenangkan.” titah Daffa.
Albert mengangguk dan langsung menjalankan semua perintah Daffa termasuk mengurus semua dokumen legalnya untuk menggantikan Devian di perusahaan.
Secara teknis Albert memang bukan hanya kuasa hukum Aziel saja. Ia juga adalah salah seorang dari bagian tim yang dipercaya oleh Ayah kandung Daffa dan Devian untuk menjalankan semua prosedur legal perusahaannya. Wajar memang jika Albert begitu takut dengan kehadiran Daffa yang terasa lebih kuat dibanding sang adik Devian.
“Wah, dia memang mewarisi seluruh sifat ayahnya.” Gumam Albert sambil melangkah keluar untuk melanjutkan semua titah tuan mudanya.
“Apa yang terjadi padaku? Siapa kau sebenarnya? Apa kau mengenalku?” lirih Rhea yang terdengar panik, namun masih dalam keadaan setengah sadar.
“Beristirahatlah dulu, kondisimu belum pulih. Kau masih dalam pengaruh obat-obatan. Wajar jika kau merasa matamu sangat berat. Buatlah istirahat, aku akan terus menemanimu disini.” Rhea tanpa sadar malah menurut dan kembali memejamkan matanya.
****
Tiga bulan kemudian…
Pesta pernikahan mewah pun diselenggarakan untuk merayakan peresmian hubungan antara Daffa dan juga Rhea. Berbeda dengan pestanya dengan Devian yang hanya dilakukan antara pihak keluarga dan kolega saja, pestanya dengan Daffa kali ini diselenggarakan semewah mungkin lengkap dengan siaran langsung dari beberapa media nasional.
Mereka menutup pernikahan Rhea dan Devian dengan kasus KDRT yang entah bagaimana berhasil menemukan titik terang berkat bukti konkret berupa rekaman kamera pengintai yang terlihat begitu jelas. Seakan kamera tersebut memang ditujukan untuk merekam semua kejadian itu.
Semua bukti perbuatannya juga terekspose ke media. Bukti pembunuhan dan kecurangannya di dalam perusahaan. Devian ditetapkan menjadi buronan nasional serta mancanegara berkat kebijakan ekstradisi yang selama ini diterapkan.
Semua kisah berubah hanya dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam dan menjadikan Devian sebagai penjahat kelas kakap yang tak pernah tertandingi.
“Aku turut merasa bersalah dengan semua sikap adikku kepadamu.” Ujar Daffa kepada mempelainya Rhea di malam pertama pernikahan mereka.
“Kau tak perlu meminta maaf. Aku bahkan tak bisa mengingat apapun dari pernikahan dengan adikmu.”
“Kau sungguh tak mengingat apapun? Padahal semua perkataanmu bisa saja menjadi bukti untuk memberatkan Devian di pengadilan nanti.” Rhea menggeleng lemah.
Daffa tak pernah menyangka jika kepergiannya selama sepuluh tahun terakhir bisa mendatangkan begitu banyak masalah di dalam keluarganya dan juga Devian. Kematian Aziel, dan munculnya Rhea saja sudah merupakan keanehan tersendiri. Apalagi dengan kehidupan pernikahan Devian yang baru saja terekspose ke publik.
"Sepuluh tahun?" semua orang merasa dibuat kebingungan oleh Daffa ketika ia menjelaskan tentang dirinya. Tak pernah ada yang bisa berkomunikasi dengan Daffa selama ini. Hanya seorang kepercayaan ayahnyalah yang selama ini bisa menghubunginya dan membantunya mengurus perusahaan.
"Aku sempat mendengar beberapa kali kalau Devian masih menghubungimu." sela sala satu dari mereka.
"Aku pergi setelah menyelesaikan kelulusan SMA ku. Aku tak pernah kembali lagi setelah itu, bahkan aku tak pernah diberitahu tentang kematian ayah." Daffa membuat semua orang tercengang dengan penuturannya.
"Tapi Devian mengatakan bahwa ia tinggal di rumah itu bersamamu." ujar salah seorang tetua. " Kau menghilang sejak itu."
"Iya benar, aku yang membelinya dari uang ibuku. Aku memintanya untuk menjaga rumah itu untukku jika aku kembali. Kalian bisa menemukan semua salinan aktanya berada atas namaku." Daffa menunjukkan semua bukti kepemilikannya terhadap tanah serta bangunan yang baru saja hancur itu.
Semua orang setuju untuk membangunnya kembali jika itu terbukti merupakan aset keluarga. Kemunculan Daffa yang tiba-tiba ini seakan memberikan sebuah lampu hijau bagi para tetua bahwa ia adalah orang yang selama ini mereka tunggu untuk meneruskan Adya Utama.
"Yang terpenting sekarang adalah kau bisa kembali dan melanjutkan warisan ayahmu Nak." sambung Adriana ibu kandung Daffa yang begitu ingin anaknya naik ke atas takhta.
Mengingat posisi Daffa yang merupakan anak kandung satu-satunya yang tersis dari Adya Utama atau AR Group. Adriana tahu persis bahwa tak ada yang bisa menggantikan posisi Daffa lagi saat ini. Apalagi Devian sang anak simpanan itu. "Ia bahkan sudah menghilang bersama bangunannya dan ditetapkan sebagai buronan internasional saat ini." Adriana berdecih.
"Hentikan ibu! Adikku bisa saja menjadi korban sama seperti Rhea. Kita tak bisa mengabaikan semua kemungkinannya." Adriana terdiam.
Daffa memang masih memiliki kuasa dan bahkan semua yang dipegangnya telah berkembang jauh lebih pesat dari apa yang dikembangkan oleh Devian selama ini.
****
“Maafkan aku sebelumnya, tapi aku pernah tak sengaja mengecek ponselmu ketika kau tak sadarkan diri. Ada yang mengatakan bahwa suamimu mengalami gangguan kejiwaan…” tanya Daffa ragu. Kini hanya tinggal mereka berdua di dalam kamar pengantin yang telah disiapkan oleh pihak WO untuk mereka.
“Maaf, tapi aku benar-benar tak bisa mengingat apapun. Aku hanya mengingat apa yang dikatakan Paman Albert kepadaku ketika di rumah sakit. Salah satunya adalah tentang kenyataanku sebagai pewaris yang baru saja terungkap setelah kematian ayah. Paman bahkan tak pernah membahas soal pernikahan sebelumnya.” Jelas Rhea merasa bersalah.
"Aku mengerti. Jika itu memang begitu buruk untukmu, maka lupakanlah! Tujuanku adalah untuk mengganti semua kenangan burukmu menjadi kebahagiaan." ujar Daffa tulus.
Semua kejadian berlanjut begitu normal. Semua terkesan seolah Daffa tak pernah terlibat dalam kejadian apapun. Tapi jika benar, lalu kenapa semua permasalahan itu bisa sangat berhubungan dengan dirinya. Dan mayat yang membusuk itu, entah apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana kronologi kejadiannya tak pernah ada titik terang yang mengarah kesana.
****
“Tetua ingin Anda kembali Tuan Muda. Anda sudah terlalu lama pergi, sudah saatnya Anda mengambil tempat Anda kembali.” Ujar Steve asistent pribadi Daffa yang selalu setia mendampinginya.
Daffa tengah duduk di salah satu bilik apartment miliknya dengan segelas wine di tangannya. Ia menatap ke langit-langit paris dimana ada keindahan Eiffel yang terpampang begitu nyata di balik jendela kamarnya.
“Menurutmu apa maksud mereka dengan menginginkanku kembali? Mereka tak pernah memperkenalkanku ke public, lantas apa yang terjadi sekarang? Tidakkah begitu aneh.”
“Ini adalah laporan kejadian yang telah saya rangkum semenjak kepergian Anda satu tahun yang lalu tuan.” Steve menyerahkan tablet miliknya dan memberikannya kepada Daffa.
“Adikku menderita gangguan jiwa? Bukankah itu adalah alasan yang terlalu klise untuk menyingkirkannya? Semua orang bahkan sudah mengetahuinya, ia mengalaminya sejak kami masih sangat kecil. Kenapa harus mengungkitnya kembali sekarang?” Daffa tersenyum sinis begitu melihat apa yang ada di tangannya.
Ia adalah keturunan inti dari salah satu perusahaan besar yang turut membesarkan AR Group milik ayahnya. Secara tidak langsung AR memang hanyalah anak perusahaan dari Media Naratama. Namun dibelakangnya AR telah disokong oleh sebuah perusahaan besar dan perusahaan itu adalah milik dari Kakek Daffa. ' Adya Utama'
“Kakek Anda ingin Anda mengambil alih AR dan menjadikannya bagian dari perusahaan keluarga.”
“Sudah ku duga, atau ia takkan mengotori tangannya untuk menyakiti Devian sejauh ini.” Ujar Daffa tersenyum sinis.
“Baiklah, mari kita lihat bagaimana Adya Utama bisa menjadi sesuatu yang besar di bawah kepemimpinanku.” Gumam Daffa penuh arti.
Sesuai instruksinya Steve pun langsung memesan penerbangan cepat menuju tanah air. Daffa sudah diberitahukan semua skenarionya selama perjalanan. Jadi tidaklah sulit baginya untuk terus melanjutkan dialognya begitu sampai di hadapan Rhea.
“Jadi gadis ini bernilah triliunan Dolar? Wajar saja jika mereka saling bersiteru untuk mendapatkannya. Kau begitu bodoh, karena telah menyia-nyiakannya saudaraku.” Daffa menatap foto Devian dengan tatapan tersirat yang penuh arti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments