Semua orang kini sudah bersiap hendak masuk ke mobil. Ray juga sudah siap dengan mobil sedan BMW miliknya.
Ray memakai topi dan kaca mata hitam, agar tidak orang-orang tidak mengenalinya sebagai seorang entertainer.
"Xe, kamu ikut mobilku aja. akan di sana sudah banyak orang" ucap Ray.
"Nggak! Xena ikut mobil kita" ucap Vano menimpali dan memberikan tatapan tajam ke arah Ray.
"Bagaimana Xe?" tanya Ray mengabaikan tatapan Vano dan bertanya ke Xena.
"Aku ikut di mobil Ray saja, Liv kamu ikut aku juga yuk" ucap Xena.
Ray tersenyum mendengar jawaban Xena. Ia tidak masalah jika Xena mengajak Olive ikut juga.
Olive diam bingung menjawab apa, yang satu temannya, yang satu kakaknya. Ia melirik ke arah Vano yang menatapnya tajam, seolah menyuruh nya untuk tidak setuju.
"Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa kamu ikut mobil kak Vano saja, tapi aku tetep ikut Ray" ucap Xena.
"Aku ikut kamu deh" ucap Olive mengambil keputusan, ia memandang kakaknya seolah minta maaf.
Vano menghela nafas kesal, padahal ia hanya ingin dekat dengan Xena. Ia butuh bicara berdua dengan Xena dan menanyakan kenapa ia menghindarinya. Karena hatinya merasa tidak tenang saat melihat Xena mengabaikannya.
....
Sesampainya di pasar malam, semuanya berbaur menikmati suasana di sana. Mereka juga berwisata kuliner.
Xena menikmati wahana yang murah meriah itu. Bahkan Ray mengabadikannya dengan foto yang bahkan tidak di sadari oleh Xena.
"Xe, kita photo bareng yuk!" ajak Ray memberanikan diri.
"Boleh" ucap Xena tidak masalah.
Galang menjadi juru foto mereka berdua, Xena meminta gantian dan photo bersama Galang dan Olive bergantian. Ia juga memfoto Galang dan Ray berdua. Kemudian keempatnya Selfi bersama.
"Van, ayo kita foto berdua" ajak Yani.
"Aku tidak ingin, kamu foto dengan yang lain saja" tolak Vano, hal itu membuat Yani merasa sedih
Vano mengabaikannya, ia terus menatap mereka berempat yang berbahagia saling foto satu sama lain. Ia ingat jika dulu Ia, Xena dan Olive sangat dekat. Bahkan Xena sangat manja padanya, namun entah mengapa semuanya menghilang begitu saja dalam sekejap.
...
"Aku ke toilet bentar ya" ucap Xena
"Perlu aku antar, Xe?" tanya Olive
"Nggak perlu, kalian tunggu di sini saja" ucap Xena.
Xena bergegas ke kamar mandi karena sudah kebelet. ia merasa lega setelah berhasil membuangnya. Ia lalu beranjak ke tempat Ray dan yang lainnya berada.
Namun sebuah tangan menariknya ke samping rumah hantu. Xena berteriak, namun sia-sia karena mulutnya di bekap.
"Tenanglah Xe, ini aku" ucap Vano
"Vano!" ucap Xena terkejut, bahkan ia langsung memanggil nama Vano tanpa embel-embel kak. Dan menjauh darinya.
"Kenapa kakak bawa aku kesini?" ucap Xena datar.
"Aku ingin bicara sama kamu Xe" ucap Vano lembut.
"Tapi kan nggak usah dengan cara kaya gini juga" ucap Xena kesal
"Maaf, tapi tidak ada cara lain. Untuk ngomong berdua saja sangat susah" ucap Vano mengeluh, Xena hanya diam dan mengalihkan pandangannya.
"Xe, kenapa kau menghindariku? Apa aku punya salah denganmu?" tanya Vano
"Tidak, aku biasa aja tuh. Cuma perasaan kakak saja kali. Jadi aku di seret ke sini cuma mau ngomong ini doang? kalau gitu biarin aku kembali sekarang!" ucap Xena
"Apa ini cara kamu untuk membuatku tertarik?" tanya Vano, membuat Xena menghentikan langkahnya, ia tidak mengerti dan alisnya terangkat bingung.
"Jika memang begitu, kamu berhasil Xe. Aku mulai tertarik padamu" ucap Vano.
"Ngomong apa sih? Aku nggak ngerti!" ucap Xena memutar matanya.
Ia tidak menyangka jika Vano punya rasa narsisme yang tinggi. Ia kira dirinya menghindar karena ingin membuatnya tertarik, Xena malas mendengar alasan klasik itu.
"Xe, bagaimana kalau aku kasih kesempatan buat kamu mengejarku? Aku tidak akan mengacuhkanmu di masa depan, dan aku akan membuka hatimu untukmu sepenuhnya" ucap Vano dengan senyum manis di wajahnya.
"Ini orang otaknya kemasukan debu apa ya? atau kebentur jadinya geser atau otaknya belum di upgrade? Kenapa jadi tidak bisa berpikir logis dan tidak tahu malu?" gumam Xena jijik.
"Kamu terlalu narsis Vano, Mengijinkan aku mengejarmu, kamu bilang? Kamu salah minum obat ya, makanya jadi ngelantur? Dengar, aku tidak butuh izinmu. Aku juga sudah tidak tertarik lagi, jadi cukup menganggu ku sampai di sini saja. Aku sudah lelah, jadi biarkan aku pergi!" ucap Xena dengan tegas, ia sudah tidak peduli sopan santunnya pada Vano yang lebih tua, lalu melangkah pergi.
Namun tangannya di cekal oleh Vano, Vano membalik badan Xena dan memeluknya erat. Xena memberontak namun gagal karena Vano memeluknya sangat erat.
"Lepas!" teriak Xena
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan kamu Xe" ucap Vano.
GREP!!! Bugh!!!
Tiba-tiba pelukan Vano terlepas dan sebuah Bogeman keras menghantam pipinya. Pelakunya tak lain adalah Ray, yang mengikutinya sejak tadi.
"Kau tidak dengar kalau Xena minta kamu melepaskannya, hah?!" teriak Ray.
"Si*l, ini bukan urusanmu, bajingan!!!" teriak Vano melepaskan pukulan ke arah Ray, namun tangan itu berhenti seketika sebelum mengenai Ray.
Xena telah berdiri di depan Ray, membuat Vano dan Ray terkejut di buatnya. Ray menahan tangannya, satu senti lagi Bogeman itu hampir mengenai wajah cantiknya. Namun Xena tidak mengedipkan mata sekalipun, ia justru menatap tajam ke arah Vano.
"Pukul aku jika kau mau! Aku tidak takut, karena aku sudah pernah merasakannya" ucap Xena dengan dingin, matanya meneteskan setetes air mata.
Mendengar dan melihat air mata itu Vano memegang dadanya yang terasa sakit, hatinya merasakan sakit yang luar biasa. Ia jatuh terduduk, air matanya tiba-tiba jatuh. Sebuah bayangan mimpi yang terus menghantuinya sepanjang malam terbayang, di mana ia memukuli Xena, dan membuatnya meninggal.
Ia bertanya-tanya mengapa Xena mengatakan hal itu, padahal selama ia hidup, ia tidak pernah menyakiti apalagi memukul Xena. Kalaupun ia lakukan itu, itu hanya ada dalam sebuah mimpi.
Ray yang mendengar kata-kata Xena merasakan sakit yang teramat, hatinya terluka untuk Xena.
"Apakah Xena pernah mengalami kekerasan?" gumamnya dalam hati.
Ia sangat terkejut dan sakit, Ray sangat yakin, mendengar dari nada suara dan tekanan dalam kata-kata Xena. Dalam ilmu psikologis, hal itu mengisyaratkan pernah terjadi padanya.
Ray mengetahuinya karena ia pernah mendalami ilmu psikologi. Tanpa pikir lagi, Ray menarik Xena yang berdiri terpaku ke dalam pelukannya.
Xena memberontak saat di pelukan Ray, bahkan Xena memukuli dadanya dan ia biarkan Cena memukulinya. Ray mengelus kepala Xena pelan.
"Xena, tidak terjadi apa-apa, tenanglah! Jangan takut, ada aku di sini! Ini aku, Ray" ucap Ray pelan. Ia mengatakannya setidaknya tiga kali.
Seketika pukulan Xena berhenti, ia kemudian memegang kepalanya yang terasa sakit, Xena kini menangis dalam pelukan Ray.
"Tidak apa-apa, ada aku. Kita pulang hmm?" ucap Ray, Xena hanya mengangguk lemah.
Ray menggendong Xena ala bridal style, Xena menyusupkan kepalanya ke dada Ray. Ray membawanya ke mobil, tak lupa ia mengabari Galang untuk kembali ke mobil segera dan memberi tahu Olive kalau Xena akan pulang lebih dulu.
Vano terdiam menatap kepergian Xena, hatinya masih terasa sakit dan di liputi bayangan kematian Xena di dalam mimpinya. Ia tidak bisa mencegah Xena di bawa pergi oleh Ray.
...••••...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Erna Masliana
bagus Xen
2025-03-21
0
Erna Masliana
najis
2025-03-21
0
lily
mampus loh 😏
2024-10-07
1