#Flashback 1 Minggu yang lalu.
Vano terbangun dari mimpinya, ia terengah-engah saat ia bangun dari mimpi buruknya.
Di mimpi itu, ia membunuh seorang wanita yang tak lain adalah istrinya. Namun saat wanita itu hampir meregang nyawa, ia di kejutkan dengan kenyataan yang sebenarnya. Bahwa wanita yang menjadi istrinya itu tidak bersalah dan semua itu hanya salah paham.
Saat ia menyesali dan membawanya ke rumah sakit, wanita itu justru meninggal karena kesalahan yang ia perbuat.
Awalnya Vano mengabaikan mimpi itu. Namun mimpi itu terus berulang, bahkan wajah wanita yang menjadi istri di mimpinya itu terlihat semakin jelas tepat malam sebelum ia pulang ke negaranya.
Xena!!!
Ya wanita itu adalah Xena, wanita yang seminggu ini selalu hadir dalam mimpi mengerikan yang selalu berulang.
Namun masih ada bagian dari mimpinya yang tidak bisa ia ingat, yaitu tentang orang yang membunuh Olive dan juga kata terakhir yang di ucapkan Xena sebelum meninggal.
#Flasback Off
...
Vano menatap wajah Xena yang justru mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Vano mengerutkan keningnya, jelas ia yakin jika wanita yang seminggu ini selalu hadir di mimpinya itu sangat menempel padanya sejak dulu.
Namun entah mengapa Vano melihat Xena kini justru enggan untuk melihat dirinya. Hati Vano merasakan sakit karena hal itu.
"Xena..."
"Kenapa hatiku sakit melihatnya begitu acuh padaku? Pandangannya saat menatapku sekilas begitu dingin. Apa karena mimpi itu, aku jadi terbawa rasa sakit saat melihatnya? Tapi, kenapa ia mengabaikanku? Apa ada yang aku lewatkan selama dua tahun belakangan ini?" Vano bertanya-tanya dalam hatinya.
Vano jelas sangat mengetahui, jika sahabat dari adiknya itu menyukai dirinya. Vano juga memiliki kasih sayang pada Xena, meskipun ia tidak tahu perasaannya pada Xena apakah cinta atau sebatas menganggapnya adik. Apalagi mereka berteman sejak mereka kecil.
Meskipun demikian, ia tetap bersikap baik padanya. Ia tidak ingin menyakiti Xena dan ia juga sedikit menjaga jarak sebelum ia yakin dengan pasti apa yang sebenarnya ia rasakan. Apakah cinta atau sayang sebagai adik semata.
"Kak..." sapa Olive memeluk kakaknya
"Hai princess kakak yang paling cantik" balas Vano, ia memeluk balik adiknya itu.
Namun matanya menatap Xena yang hanya diam tanpa ekspresi menatapnya. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan Xena yang dulu.
Dulu, gadis cantik itu tidak segan langsung menghamburkan diri ke pelukannya. Bahkan enggan melepasnya ketika Vano memintanya lepas. Tapi sekarang?
Jangankan memeluk, senyum pun tidak ada di wajah cantiknya yang dulu selalu Xena berikan padanya.
Apa yang salah? Begitu yang di fikirkan Vano.
"Hai Xena, terimakasih sudah menjemputku. Kau terlihat semakin cantik setelah sekian lama tidak bertemu" sapa Vano mengambil inisiatif menyapanya terlebih dulu dengan senyum manis di wajahnya, yang entah mengapa jantungnya berdegup kencang saat menyapa gadis di depannya itu.
Tentu saja ia mengatakan apa adanya, entah mengapa setelah dua tahun. Meskipun dulu ia cantik tapi sekarang Xena terlihat lebih cantik dan menarik di matanya.
Xena terdiam sejenak, ia sekuat tenaga menahan tubuhnya yang bergetar dan berdiri tenang seolah tidak ada apa-apa. Ia juga terkejut, karena tidak biasanya Vano menyapanya lebih dulu.
"Hai Kak, aku hanya mengantar Olive menjemput kalian. Dan terimakasih atas pujiannya" ucap Xena dengan datar dan masih tanpa ekspresi.
Bukan hanya Vano yang terkejut melihat dan mendengar itu, tapi juga Olive. Keduanya heran kenapa sikap Xena berubah saat ini, tidak seperti dulu yang begitu ceria.
Terlebih saat ia melihat Vano, ia akan bersikap manis dan juga berpenampilan seperti orang dewasa yang anggun, tapi saat ini hanya dingin dan datar.
"Hai Xe, wow, kau sungguh banyak berubah. Kau makin terlihat manis dan cantik" sapa Bram, pria tampan dan tinggi itu dengan kulitnya yang sawo matang.
"Hai, Kak Bram, terimakasih pujiannya" ucap Xena sama datarnya
"Hai Xena" sapa Yani.
"Hmm" jawab Xena malas, karena ia tidak ingin meledakan emosinya sekarang saat melihat wajah Yani.
Yani tersenyum kecut, saat sapaannya tidak di balas dengan benar.
"Van, apa kita diam berdiri saja di sini? Apa kita tidak segera pulang untuk beristirahat? Tubuhku sangat lelah" ucap Yani.
"Cih, kalau kau mau pergi ya tinggal pergi saja. Repot amat" ucap Olive mencibir.
"Olive, jaga bicaramu! Kau tidak sopan" tegur Vano.
Olive hanya berdecih memutar matanya, ia sangat tidak menyukai Yani entah mengapa. Ia merasa Yani adalah sosok rubah yang menjelma menjadi kelinci yang tertindas.
Xena hanya diam, ia sangat membenci orang di depannya jadi ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan tidak menyimak apa yang mereka bicarakan.
"Ayo kita pulang" ucap Vano mengajak mereka pulang.
"Ya" ucap Yani tersenyum ke arah Vano dan ikut melangkah pergi.
"Eiittss, kamu mau kemana?" ucap Olive
"Pulang" jawab Yani
"Oh ya sudah pulang sendiri sana! tidak ada tempat untukmu di sini!" ucap Olive ketus.
"Olive!" ucap Vano sedikit keras.
"Terserah kakak mau marah padaku atau tidak. Yang aku katakan benar adanya. Mobilku hanya muat untuk empat orang, aku, Xena, kakak dan kak Bram. Jadi aku harap nona Yani sadar diri dan pulang naik taksi. Masih punya uang untuk pulang kan? Atau mau aku pinjamkan ongkos taksi?" ucap Olive.
Ia tidak menutupi rasa tidak sukanya sama sekali pada Yani. Yani hanya tersenyum palsu sedangkan diam-diam tangannya mengepal erat karena menahan amarahnya, tapi ia tidak bisa meledakan amarahnya karena ada Vano di sana.
"Kalau begitu kalian berempat pulanglah lebih dulu, Liv. Biar aku saja yang pulang naik taksi, ada hal penting yang harus aku lakukan sekarang. Maaf aku tidak bisa pulang bersama kalian" ucap Xena.
Hal itu membuat Olive dan Vano terkejut. Saat Olive ingin mengatakan sesuatu, Xena justru sudah pergi meninggalkan mereka dengan tergesa-gesa.
"Heeiii.... Xe!!! Xenaa!!!!" Olive berteriak memanggilnya, namun Xena dengan mantap meninggalkan mereka berempat.
Ada perasaan kesal di dalam hati Vano karena terlihat Xena tengah menghindar darinya. Vano merasa jika Xena sangat berbeda dari Xena yang dulu ia kenal. Bukan hanya penampilan yang berubah, tapi juga sikapnya terutama sikap kepadanya yang saat ini sangat acuh.
....
Beberapa saat yang lalu.
Meskipun memang Xena ingin pergi dari sana, namun ia mencoba bertahan karena merasa tidak enak dengan Olive. Tapi saat matanya tidak sengaja melihat seseorang, ia tidak bisa mengabaikannya.
Galang!!
Ya, dia melihat Galang! Ia berjalan bersama seorang pria yang memakai topi dan juga masker.
Setelah mengatakan pada Olive, Xena langsung berlari menghampiri adik dari Vierra itu. Tanpa mempedulikan teriakan sahabatnya yang memanggil.
"Tunggu!!!" teriak Xena.
Galang dan pria di sampingnya berhenti melangkah dan menoleh ke arah Xena yang menghampirinya. Galang dan Pria di sampingnya terdiam seperti terhipnotis melihat kecantikan Xena yang begitu alami dan begitu memikat.
Sangat cantik!
Saat Xena sudah berada di depan mereka, pria bertopi itu mengucapkan sesuatu dengan suara beratnya yang se*si namun di interupsi oleh Xena.
"Nona, anda mengejarku karena mengenaliku, bukan? Ah, Baiklah, aku bisa memberimu...."
"Galang..." ucap Xena sembari tersenyum pada Galang, mengabaikan ucapan pria tadi.
Seketika baik Galang maupun pria itu terpesona melihat senyum manis Xena. Namun sedetik kemudian pria itu sadar dan merasa kesal. Karena Xena datang bukan untuk dirinya dan membuatnya malu karena salah mengira.
Entah mengapa ini seperti bukan dirinya, yang biasanya mengabaikan orang lain. Namun melihat Xena ia langsung berinisiatif berbicara terlebih dulu.
"Kau mengenalku?" tanya Galang terkejut, karena ia sama sekali tidak mengenal Xena jadi ia bertanya.
"Ya, boleh aku meminta waktumu sebentar? Ini terkait dengan kakakmu" ucap Xena.
"Kakak?" tanya Galang terkejut. Karena setahu dirinya, tidak ada yang mengenal ia dan keluarganya di kota T, apalagi ibu kota. Karenanya ia sedikit ragu tentang kebenaran nya, atau hanya modus untuk mendekatinya demi pria di sebelahnya.
"Ya, ah aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Xena, aku salah satu teman Vierra. Jika kau tidak sibuk, ada yang ingin aku bicarakan denganmu dan aku ingin memberikan titipan Vierra untukmu dan keluargamu" ucap Xena serius.
"Ah ya salam kenal nona Xena, tapi maaf saat ini aku sedang bekerja" jawab Galang Mendengar nama kakaknya di sebut, Galang terkejut bukan main.
Ia juga merasa tidak enak menolak saat mengetahui jika gadis cantik di depannya adalah teman mendiang kakaknya.
"Tidak masalah, aku bisa menunggu waktu luang mu. Ini kartu Namaku, aku harap kamu menghubungiku saat kau memiliki sedikit waktu" ucap Xena menyodorkan kartu nama miliknya, setelah itu Xena pamit pergi.
"Kau kenal gadis itu?" tanya pria itu pada Galang.
"Tidak, tapi seperti yang di katakannya barusan. Dia mungkin teman mendiang kakakku" ucap Galang jujur
"Tapi Ray, tumben kamu berinisiatif untuk berbicara terlebih dulu pada orang lain. Aaahhh jangan-jangan kau jatuh cinta padanya pada pandangan pertama ya, waahhh apa sekarang matahari hari ini terbit dari barat???" ucap Galang meledek pria yang di panggil Ray itu.
"K-kau, jangan ngawur! Ngaco kamu!! Sudah ayo kita pergi, bukankah jadwal syuting ku sebentar lagi akan mulai, kita tidak memiliki waktu banyak" ucap Ray bergegas pergi dengan wajahnya yang memerah.
"Hei, Ray!!! Tunggu aku!!!" ucap Galang yang mengejar langkah kaki Ray.
...•••••...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Erna Masliana
masih kuliah punya kartu nama.. keren 👍
2025-03-21
0
Choco
seru banget
2023-06-14
1
@ꪶꫝ༄Cherry🍒Chubby༄💕🇵🇸
wih wih saingan vano nih kayak nya
2023-03-22
1