Degh!
Jantung Xena bedegub kencang dan terasa sakit mendengar Vano datang. Ia menghentikan pergerakan tangannya selama 2 detik, lalu ia mencoba menenangkan diri dan meneruskan masakannya yang sebentar lagi matang itu.
Baru juga ia menenangkan dirinya, suara berat itu mengagetkan dirinya saat ia tengah menuang masakan ke mangkuk besar.
Tubuh Xena menegang, untungnya wajan panas itu tidak terjatuh karenanya.
"Xe, boleh aku pinjam toilet di kamarmu? Soalnya toilet di bawah kata Tante lagi rusak dan baru di perbaiki besok, jadi tidak bisa di gunakan" ucap Vano.
Memang toilet di bawah sedang rusak, jadi hanya ada kamar mandi di kamarnya dan kamar orang tuanya saja yang bisa di gunakan. Dan tidak mungkin Vano memakai yang di kamar orang tuanya.
"Ya, boleh" ucap Xena datar dan singkat, bahkan ia sama sekali tidak menengok.
Vano semakin penasaran, kenapa sepertinya Xena terus menghindar darinya. Apa itu cuma perasaannya saja? Tapi ia tidak nyaman di buatnya.
"Terimakasih Xe" ucap Vano lembut
Sepeninggal Vano, Xena memegang dadanya. Ia bersandar di meja dapur. Ia memejamkan matanya sebentar, rasa di dadanya sangat sakit.
Bahkan hanya mendengar suara Vano saja, ia berkeringat dingin karena teringat saat ia di tendang dan di teriaki sebagai pembunuh. Ia seperti memiliki trauma sendiri dengan peristiwa kematiannya di kehidupannya dulu.
Rasa sakit di siksa sebelum kematiannya begitu nyata dan kadang terasa sampai ke tulang-tulang nya. Itu yang membuat ia sampai menggigil mengingat Vano.
Di akhir hidupnya, ia mendengar ucapan maaf, penyesalan dan ungkapan cinta Vano pada dirinya. Hal itu yang membuat nya sedikit sudah melupakan Vano.
Xena mengambil air minum dan menenggak habis satu gelas penuh. Ia mencoba mengatur nafasnya, mau tidak mau ia harus menghadapi Vano cepat atau lambat. Ia tidak mungkin selalu menghindar saat bertemu, dan ia harus bisa mengendalikan perasaan dan tubuhnya.
....
Vano terkejut menatap isi kamar Xena, bukan karena berantakan. Justru di sana sangat rapih, karena Xena tipe wanita yang suka kebersihan.
Bukan itu yang membuat Vano terkejut, tapi karena isi kamarnya sangat beda dengan tiga tahun yang lalu, saat ia pernah masuk ke kamar itu saat menggendong Xena yang tertidur saat acara wisata keluarga.
Dulu kamar itu penuh dengan photo Xena dengan dirinya ataupun bertiga dengan Olive. Bahkan ada photonya yang sendirian juga di pajang, Hadiah ulang tahun dari Vano berjejer di sebuah lemari yang tertata rapi seperti sebuah piagam penghargaan.
Boneka Teddy bear hadiah ulang tahun Untuk Xena saat ia ulang tahun ke 17, yang Vano kirim dari luar negeri. Boneka itu selalu ada di ranjangnya, boneka itu menjadi boneka kesayangan nya. Bahkan ada Sebuah Buku dengan nama di sampulnya Xena Dirgantara.
Ya, nama itu memakai marga keluarganya. Bukannya Vano tidak tahu dan tidak mengerti jika gadis itu menyukainya. Namun dirinya sendiri bingung dengan perasaan nya pada Xena.
Jadi ia sedikit menghindar agar ia bisa meyakinkan perasaannya sendiri, tanpa harus menyakiti Xena. Karena ia takut dirinya seperti memberikan harapan untuk gadis itu, saat ia masih ragu dengan perasaannya sendiri.
Namun sekarang semuanya sudah tidak ada, semuanya sudah tidak sama lagi. Kamar Xena saat ini, sangat polos. Hanya ada photo Xena sendiri, Photo bersama kedua orang tuanya, dan photonya berdua bersama dengan Olive. Tidak ada photo dirinya sama sekali yang menggantung atau di letakan di meja.
Bahkan Boneka yang biasanya setia di kamar Xena, tidak ada keberadaannya sama sekali. Terlebih ia melihat buku, namun bukan buku yang sama seperti dulu. Karena warna dan nama di depannya berbeda. Xena Yaksha, nama itu yang tertulis di sana.
Vano segera masuk ke kamar mandi, ia bergegas keluar setelahnya. Ia di kejutkan Olive yang ada di dalam kamar Xena saat ia keluar dari kamar mandi.
"Kakak heran ya, kenapa kamar Xena berubah?" tanya Olive, mewakili apa yang sedang di pikirkan Vano.
Tapi Vano hanya diam tidak merespon dan menunggu adiknya melanjutkan ucapannya.
"Aku juga pertama kali lihat, ya sangat kaget. Tapi, aku ingat Xena pernah bilang kalau dia sudah menyerah" ucap Olive menoleh dan menatap wajah terkejut kakaknya.
"Xena bilang, kalau ia menyerah mengejar cinta kakak. Ia bilang tidak ingin mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, dan ia juga sadar kalau kakak hanya menganggapnya seorang adik. Mungkin karena Xena saat itu pernah mendengar kakak bicara dengan temen-temen kakak, mengatakan kalau kakak hanya menganggapnya seorang adik. Aku juga mendengarnya, karena aku bersama Xena saat kakak mengatakan itu" ucap Olive lagi.
Nyuuttt!!!
Hati Vano terasa sangat sakit mendengar ucapan Olive, hati kecilnya tidak rela kehilangan sosok Olive yang selalu melekat padanya.
"Sudah, ayo kita turun! Makan malam sudah siap. Om Indra juga sudah pulang dan sedang mandi sebelum gabung makan malam" ucap Olive lagi.
Vano hanya mengangguk dan ikut turun ke lantai satu menuju meja makan. Dapat Vano lihat, wajah cantik Xena yang tengah menyiapkan makanan di atas meja dengan tangan putih mulusnya.
Olive yang sekarang terlihat lebih dewasa, cakap dan mandiri. Jantung Vano berdetak kencang saat tidak sengaja mata keduanya bertemu. Namun Xena langsung mengalihkan pandangannya, memutus kontak mata itu.
"Eh ada Nak Vano" ucap Indra yang baru keluar dari kamarnya.
"Halo om, apa kabar?" sapa Vano sambil menyalami Indra.
"Baik, baik. Kamu terlihat sangat gagah, seperti seorang prajurit saja." ucap Indra menepuk pundak Vano.
"Ayo-ayo makan, kita nikmati makanan ala chef Xena yang kelezatannya melebihi restoran bintang lima" ucap Indra bercanda.
Semuanya tertawa ringan hanya Xena yang diam mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Papah mau makan sama apa?" tanya Utari
"Apa saja mah, papah suka semuanya" ucap Indra
Utari pun mengambil makanan untuk sang suami secara acak. Karena suaminya bukan tipe pemilih.
"Xe, kamu ambilin gih buat Vano!" ucap Utari mendorong anaknya untuk mengambil hati Vano.
Utari sangat paham dan tahu jika putrinya menyukai putra dari sahabatnya itu. Tapi entah mengapa putrinya saat ini justru sangat pendiam.
"Tidak usah Tan, terima ka......" belum selesai ucapan Vano, suara Xena menginterupsi.
"Mau Oseng daging atau ayam suwir kak?" tanya Xena dengan nada se biasa mungkin. Tangannya terdapat piring dengan nasi yang memang porsinya Vano makan.
Vano terkejut karena lauk yang di tawarkan adalah makanan Favorit. Vano terlihat tersenyum saat Xena tahu seleranya, hati kecilnya merasa senang.
"Ayam suwir saja Xe, makasih" ucap Vano tersenyum manis ke arah Xena.
Xena sempat tertegun melihat senyum Vano. Senyum indah dan tulus yang tidak pernah ia lihat sejak ulang tahunnya yang ke 15 tahun. Bahkan saat Vano berpura-pura mencintainya untuk balas dendam, Vano tidak pernah senyum semanis ini.
...••••...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Ruby Jane
udah di sakitin bgtu aneh aja kko blm move on
2024-07-24
1
AK_Wiedhiyaa16
Kalau niatnya beneran nyerah ya jangan baperan lah Xe,,
Males nih kalau Xena baperan krna blm bisa move on
2023-02-18
6
Ida Blado
gk perlu baperlah xe,,, teguhkan hatimu untuk cinta yg lain,fokis ma dirimu dn keluargamu aja.gk usah peduliin olive jg kalau minta ini itu yg tujuannya jelas krn vano
2023-01-13
11