Jalwa Karima putri sulung dari dua bersaudara berusia 22 tahun, dia Memiliki adik laki - laki yang masih duduk di sekolah menengah atas. Sebelum Jalwa bekerja menggantikan Ibunya sebagai pengasuh Arkana Putra Darmendra putra dari seorang pengusaha muda yang cukup sukses sekaligus CEO Darmendra group.
Jalwa bekerja sebagai asisten chef di sebuah restoran yang cukup terkenal, dia sangat menyukai pekerjaannya itu hingga suatu hari Ibunya jatuh sakit dan dia terpaksa berhenti bekerja menggantikan Ibunya, dikarenakan keluarganya Memiliki cicilan hutang pada Arshaka Darmendra untuk biaya operasi ayahnya Dulu.
Walaupun sedikit tidak rela meninggalkan pekerjaan yang susah payah dia dapatkan,namun dia masih bisa menyalurkan hobi memasaknya di kediaman Arshaka Darmendra.
saat Pertama kali bekerja Jalwa cukup sulit beradaptasi karena sifat dan Sikap kedua atasannya hampir sama cuek dan irit bicara, namun Jalwa berusaha menarik perhatian mereka lewat hobi memasaknya.awalnya dia mendapat penolakan dan masakannya tidak pernah di sentuh.
Jalwa bukanlah orang yang mudah menyerah,dia terus mencoba dan berusaha mendekati Arkana. butuh usaha yang keras untuk bisa menghadapi kejailan serta kepintaran dari anak kecil itu .kini usahanya membuahkan hasil dia berhasil membuat Arkana menyukainya namun Jalwa tidak Tau jika Arshaka pun mulai menyukainya.
❄️❄️❄️
Arshaka duduk termenung di ruang kerja sambil menatap handphone yang ada di tangannya.Ada Potret dirinya bersama Arkana dan Jalwa yang sedang bermain di Ancol beberapa waktu yang lalu ,mereka terlihat seperti keluarga bahagia.
Arshaka terlalu gengsi untuk menunjukkan ketertarikannya pada wanita itu dan dia masih Memiliki rasa sakit terhadap masa lalunya walaupun Arshaka sadar seharusnya dia tidak boleh terbelenggu oleh masa lalu namun Dia tidak ingin kejadian yang Dulu pernah menimpanya terulang kembali.
Dia keluar dari ruang kerja yang ada di lantai satu dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai dua saat dia hendak menaiki tangga dia melihat Jalwa yang menuruni tangga.
"Mau kemana?" tanya Arshaka pada Jalwa yang sudah ada di hadapannya.
"Saya mau mengambil Air minum buat bos kecil tuan." Ucap Jalwa sambil menunjukkan gelas yang kosong.
"Bisakah kamu tidak memanggil saya tuan?" tanya Arshaka tiba - tiba.
Jalwa yang hendak berbalik terdiam "lalu saya harus memanggil anda apa?" dia balik bertanya.
"Kamu memanggil Reyhan dengan sebutan Mas dan padaku tuan.sedangkan umurku dan Reyhan tidak berbeda jauh." Ucap Arshaka.
Jalwa bingung dengan permintaan Bos besarnya itu "Maksud anda saya harus panggil Mas gitu?" tebaknya.
Arshaka pura - pura terbatuk, "ya" sambil menaiki tangga menuju kamarnya.
Jalwa langsung ke dapur dan tak bisa menahan tawanya lagi " Kesambet apa tuh DUTA pengen di panggil Mas.kelamaan ngeduda kali." Sambil menuangkan air ke dalam gelas.
Arshaka sendiri setelah masuk ke dalam kamarnya ,dia memegang dadanya yang berdebar tak karuan .
"Aku yakin saat ini Jalwa pun merasakan hal yang sama denganku" Ucapnya yakin padahal Jalwa saat ini sedang menerima telefon dari kekasihnya yang seorang Chef di tempat dia bekerja Dulu.
"Apa kabar De?"
"Alhamdulillah,aku baik Bang.Abang sendiri apa kabar?"
"Aku tidak baik - baik saja,De."
"Abang sakit?"tanya Dyfa khawatir.
"Hati aku sakit karena kangen sama kamu."
"Gombal," Jalwa beruntung karena mereka berjauhan,karena dia akan malu jika Randi Tau wajahnya kini Sudah seperti kepiting rebus.
"*Ka*mu kangen ga sama aku?."
"Banget."
"Kapan kamu libur?."
"Aku ga Tau bang."
"oh,,,tapi kalau libur kabari Abang ya."
"Ya,aku pasti kabari Abang."
Komunikasi antara Jalwa dan kekasihnya pun berlanjut hingga rasa kantuk menyerang keduanya.
Pukul 5 pagi, Jalwa terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak setelah semalam dia menerima telefon dari kekasihnya.setelah membersihkan diri dan menunaikan Shalat subuh, dia langsung ke dapur untuk mempersiapkan sarapan untuk kedua majikannya.
"Pagi Bi Surti." Sapa Jalwa pada Bi Surti yang baru selesai menyapu di lantai bawah.
"Pagi juga Mbak Jalwa." Jawab Bi Surti lalu mengambil kain pel dari lemari penyimpanan.
"Siap Tempur kita?" tanya Jalwa dengan semangat.
"Siap," sahut Bi Surti kemudian mereka pun tertawa karena kekonyolannya.
Selama 30 menit Jalwa berkutat di dapur untuk membuat sarapan dan juga untuk bekal kedua bosnya.selesai memasak Jalwapun membersihkan dapur terlebih dahulu lalu dia naik ke lantai dua untuk membangunkan Arshaka dan Arkana.
Pertama dia membangunkan Arshaka terlebih dahulu,dia pun mengetuk pintu kamar bos besarnya.
Tok...tok...tok...
"Tuan."
Pintu langsung terbuka dan Arshaka menatap tajam pada Jalwa, "Tuan lagi."
Jalwa hanya nyengir. "Maaf tuan eh Mas."
Arshaka tersenyum, "bagus." Diapun menutup pintu kamarnya kembali.
Jalwa terdiam di depan pintu kamar Arshaka, "senyum DuTa manis banget." Ucapnya lalu dia tersadar, "Astagfirullah." Dengan cepat dia berjalan ke kamar bos kecilnya.
Ternyata Arkana Sudah terbangun dan memasang wajah cemberut, "lama."
Jalwa menghampiri Arkana, "maafin mbak Jalwa ya."
"Ya," jawabnya ketus sambil beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi.
Jalwa hanya bisa menghela nafas, "punya atasan dua - duanya ambekkan." Diapun membuka gorden supaya cahaya matahari masuk ke dalam kamar lalu membereskan tempat tidur bos kecilnya.
Arshaka terlebih dahulu siap dengan pakaian kerjanya Sudah duduk di ruang makan dan menunggu anaknya sambil membaca koran.
"Tuan,mau di buatkan kopi?"tanya Bi Surti.
"Nanti saja Bi." Jawab Arshaka.
"Kalau begitu bibi ke dapur Dulu tuan,"kata Bi Surti Pamit.
"Ya."
Tak berapa lama Arkana turun bersama Jalwa yang mengikutinya dari belakang.
"Selamat pagi Ayah." Sapa Arkana kemudian dia duduk di tempatnya.
"Pagi." Jawab Arshaka sambil melirik kepada Jalwa yang sedang mengambil nasi goreng untuk Arkana.
"Mau pakai telur Mata sapi bos kecil?" tanya Jalwa pada Arkana.
"Mau Mbak." Jawab Arkana sambil tersenyum mengejek pada ayahnya.
"Ehemmm."Arshaka menyodorkan piringnya pada Jalwa, "apa kau hanya akan melayani bocah kecil itu?."
Jalwa mengambil piring yang di sodorkan Arshaka dan mengisinya dengan nasi goreng serta telur Mata sapi lalu menyimpannya di hadapan pria itu "Selamat menikmati tuan."
"Sepertinya aku harus selalu mengingatkan mu." Ucap Arshaka datar.
"Mas,selamat menikmati sarapannya MAS SHAKA,"ulang Jalwa sedikit kesal tapi apa daya dirinya hanyalah pengasuh anak dari bos arogan yang ada di hadapannya.
"Terima kasih "Jawab Arshaka senang apalagi melihat telur Mata sapinya berbentuk hati.
Arkana hanya bisa menatap tajam pada ayahnya yang selalu berebut perhatian dengannya padahal Jalwa adalah pengasuhnya bukan pengasuh ayahnya.
Arshaka yang sadar akan tatapan mengintimidasi dari anaknya tersenyum penuh kemenangan.
'Awas saja nanti,' ucap Arkana dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
LISA
Wah ayah & anak udh pd suka sm Jalwa nih
2022-11-28
1