Bian mengerutkan keningnya saat ia membaca pesan dari nomor Naura, wanita itu ingin bertemu dengannya? Tentu saja Bian bingung, untuk apa saudara kembar tunangannya itu menemuinya.
Akhirnya Bian memutuskan untuk bertemu dengan wanita itu di salah satu cafe yang tak jauh dari rumahnya. Namun, ia semakin bingung saat tiba-tiba dia pesan dari Naura kembali masuk.
"Sebentar lagi aku sampai ke rumahmu, tunggu di sana."
Kerutan di kening Bian semakin dalam. "Apa ada hal yang sangat penting sampai Naura mau ke sini?" gumam Bian.
Sementara di sisi lain, Nayra sedang berada dalam taksi yang melaju menuju rumah Bian. Wanita itu terus saja menyeka air matanya meskipun dia tahu itu percuma saja, air mata yang tadi sempat terhenti kini kembali mengalir saat ia mengingat semua kata-kata yang dilontarkan oleh sang ibu dn tudingan-tudingan menyakitkan yang ditodongkan oleh sang Kakak, hati Nayra semakin sakit dan dadanya semakin sesak saat ia juga mengingat Bian.
Nayra keluar dari rumah Raka secara diam-diam saat pria itu sedang berada di ruang kerjanya dan kedua orang tua Raka juga sudah pergi.
Setelah ini, Nayra benar-benar ingin pergi dari semua orang.
"Berhenti, Pak!" seru Nayra saat ia sudah sampai di depan gedung apartemen Bian. Setelah membayar ongkos taksi, dia pun bergegas menuju apartemen tunangannya itu.
"Naura?" panggil Bian antara bingung dan terkejut melihat Nayra yang datang dengan wajah sembab.
"Boleh aku masuk?" tanya Nayra dengan suara yang serak. Bian mengangguk sembari membuka pintu lebih lebar, dia mempersilakan masuk.
"Ada apa, Ra? Apa kamu ada masalah?" tanya Bian penasaran.
Nayra menatap Bian kemudian berkata, "Nayra, Bian. Aku Nayra." Seketika Bian terbelalak mendengar pengakuan wanita itu.
"Ma-maksudnya?" tanya Bian.
"Aku adalah Nayra, tunangan kamu," cicit Nayra dan seketika air mata kembali mengalir di pipinya, tetapi dengan cepat Nayra menyekanya.
"Sa-sayang?" panggil Bian akhirnya. "Ada apa? Kenapa kamu nangis? Dan tadi Naura chat aku, katanya dia ... dia..."
"Itu aku, Bian. Aku yang chat kamu dari ponsel Naura."
"HAH?"
...🦋...
"Nayra?" gumam Raka saat dia melihat pintu kamarnya yang terbuka, dia langsung masuk untuk mencari Nayra tapi wanita itu sudah tak ada.
"Nayra!" panggil Raka dengan suara lantang, ia merasa panik karena Nayra tidak ada di kamarnya maupun di kamar mandi. Ia pun berlari ke bawah sambil terus memanggil nama Nayra dengan lantang, hingga menarik perhatian Bi Jum dan Bi Siti yang saat ini sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Ada apa, Tuan?" tanga Bi Jum menghampiri sang bos.
"Apa kalian melihat Nayra?" tanya Raka dengan panik.
"Tidak, Tuan, kami tidak melihatnya," jawab Bi Siti.
"Bukannya Nyo-eh ... Non Nayra tadi ada di kamar, Tuan?" cicit Bi Jum yang masih bingung dengan situasi dan kondisi rumah tangga sang bos.
"Dia nggak ada di kamar!" seru Raka penuh emosi. Seketika dia teringat dengan cctv di rumahnya, dia pun segera bergegas kembali ke ruang kerja, kemudian dia memeriksa cctv dari laptopnya.
Rekaman cctv menunjukan Nayra pergi dengan naik taksi, Raka ingin mengejar wanita itu. Namun, ia mengurungkan niatnya.
"Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri," gumam Raka.
...🦋...
Bian hanya bisa menahan napas saat mendengar Nayra bercerita tentang apa yang terjadi sambil sesegukan. Bian tidak tahu harus bereaksi seperti apa, bahkan dia tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Yang pasti, dadanya terasa sesak, perih, hingga dia merasa kesulitan bernapas. Detak jantungnya pun seolah berhenti, aliran darahnya seolah membeku.
Nayra-nya, kekasih hati yang sangat dia cintai kini tengah mengandung anak pria lain?
Tidak! Bian tidak ingin mempercayai informasi itu! Namun, ketika dia menatap mata Nayra yang berlinang air mata, seketika Bian juga menitikan air matanya dan hal itu membuat tangis Nayra semakin pecah.
"Maafin aku, Bi, aku ... aku benar-benar minta maaf," lirih Nayra di tengah isak tangisnya. "Aku terpaksa melakukan semua ini, Bi."
Bian tak mampu bersuara, dia hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sampai tangannya itu basah karena air mata.
Kedua insan kini itu sama-sama menangis pilu, air mata tak mau berhenti mengalir karena luka hati yang mereka rasakan begitu dalam. Yang satu telah dikhianati dengan begitu keji, sementara yang satu lagi menyesali pengkhianatan yang dilakukan.
Nayra menatap Bian, kemudian dia menyentuh pundak pria itu sambil berkata, "Maafkan, Bian. Aku tidak berdaya, aku tidak bisa melakukan apapun. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah berdo'a untukmu, semoga Tuhan memberikanmu kebahagiaan. Dan semoga Dia mengampuni dosaku karena telah mengkhianati mu."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Nayra beranjak dari tempat duduknya. Dia melangkah gontai menuju pintu keluar. Namun, seketika langkahnya terhenti saat dia merasakan pelukan yang begitu erat.
"Jangan pergi, Sayang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Juan Sastra
banyak bawang
2023-01-01
0
Nanda Lelo
aku gak akan pergi bian 😭😭😭
2022-11-12
0
sitimusthoharoh
tapi kok gak rela kalok si nay jadi m bian.
lanjut
2022-11-10
0