"NAURA?" panggil Bu Irna.
"Iya, Ma?" sahut Naura. Pupil mata Naura melebar Saat ia menyadari ibunya memanggil nama Naura bukan Nayra.
"Itu loh, Ma, Naura sama ...." Naura segera melanjutkan " Naura sama Raka katanya mau ke sini, Naura kangen sama Mama. Tadi kami telfonan." Setelah mengucapkan kalimat itu, Naura meneguk air dari gelasnya untuk menutupi kegugupan yang sedang dia rasakan, hampir saja, fikir Naura.
Bu Irna sempat terkejut karena Naura menyahut saat dia memanggil nama Naura, tetapi rasa tidak percaya serta ia menilai tidak mungkin anak-anaknya bertukar peran dalam situasi dan kondisi yang seperti ini, rasanya sangat tidak masuk akal.
"Oh gitu, kapan mereka mau ke sini? Biar nanti sekalian Mama undang Mbak Mita," ujar Bu Irna kemudian, ia mencoba mengenyahkan segala prasangka pada putrinya, Bu Irna berfikir mungkin saja Nayra sedang lelah atau mungkin punya masalah lain sehingga ia bersikap sedikit emosional.
"Besok malam, Ma," jawab Naura kemudian ia kembali menikmati makan malamnya.
"Okay, kalau gitu kamu udang Bian juga, ya," seru Bu Irna yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Naura.
Setelah makan malam usai, Naura segera kembali ke kamarnya. Naura membuang napas dengan kasar, hari ini semua orang mulai menunjukan kecurigaan mereka dan itu membuatnya begitu cemas.
Sementara di sisi lain, Nayra dan Raka kini justru sibuk mencari pakaian bayi di online shop. Meskipun Nayra mengatakan ini terlalu cepat untuk memikirkan pakaian bayi, akan tetapi Raka tak perduli, dia sudah tidak sabar untuk berbelanja keperluan calon anaknya.
"Yang ini lucu ya, Sayang." Raka menunjukan sebuah topi yang memang sangat cantik dan lucu.
"Tapi ini topi cewek, Raka, bagaimana kalau ternyata anak kita cowok?" kekeh Nayra.
"Ya tinggal simpan, siapa tahu anak kedua kita nanti cewek," sahut Raka dengan santainya yang membuat Nayra terhenyak. Anak kedua? Tidak akan pernah ada kedua dalam hidup mereka karena Nayra hanya bersedia memberikan satu anak untuk Raka.
Nayra menatap mata Raka yang tampak berbinar saat melihat barang-barang bayi yang lucu-lucu, tanpa sadar Nayra mengulum senyum hingga tiba-tiba Raka menoleh dan tatapan mereka pun bertemu. "Kenapa kamu liat aku begitu, hm? Bangga ya punya suami ganteng kayak aku?" Raka menaik-turunkan alisnya sambil mengulum senyum, sementara Nayra langsung memalingkan wajahnya.
"Kenapa berpaling? Tatap aja sepuas hati, aku milikmu kok," goda Raka yang membuat Nayra tersipu.
"Apaan sih," gumamnya malu-malu. Raka langsung menarik Nayra dan ia mencium wajah wanita itu berkali-kali dengan gemas, membuat Nayra cekikikan dan lagi-lagi untuk sejenak dia melupakan segala fakta yang ada. Untuk sejenak, dia menikmati perannya sebagai pasangan Raka yang begitu dicintai dan disanjung.
"Kamu cantik banget kalau lagi tersipu, Sayang," puji Raka. "Saking cantiknya, semua pria pasti akan jatuh cinta dengan mudahnya sama kamu," tambahnya.
"Ah, masa?" balas Nayra. "Apa kamu juga semudah itu jatuh cinta sama aku?" tanyanya kemudian.
"Iya, hanya butuh satu kedipan mata aku sudah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sama kamu," jawab Raka yang membuat Nayra tertawa, merasa lucu dengan jawaban Raka. Akan tetapi pria itu justru menampilkan wajah seriusnya yang membuat Nayra langsung bungkam dan ia terlihat salah tingkah. Namun, tiba-tiba Raka juga tertawa dan langsung menggelitik Nayra.
Mereka berdua pun tertawa bersama dan terus bercanda sampai akhirnya mereka mengantuk dan tertidur.
🦋
Keesokah harinya, Naura segera menghubungi Nayra saat ia meyakini Raka sudah pergi ke kantor. Naura memberi tahu bahwa kemungkinan besar orang tua mereka juga Bian sudah mulai curiga. "Bian udah nanya yang aneh-aneh, terus tadi malam mama manggil nama aku, untung aja aku bisa ngelas," adu Naura.
"Pokoknya nanti malam kamu harus datang ke rumah ya, Nay, bilang sama mama kalau kamu kangen sama dia soalnya tadi malam aku bilang gitu," ujarnya.
"Bian dan mama curiga karena kamu nggak jaga sikap, Ra." Suara Nayra terdengar penuh kekecewaan pada Naura. "Kemarin aku ketemu Bian, dia curhat sama aku kalau Nayra itu berubah," imbuhnya.
"Kok aku yang salah sih, Nay? Aku sudah berusaha menjadi diri kamu, aku bahkan sudah menjawab pertanyaan Bian yang jawabannya cuma kamu yang tahu," sungut Naura yang juga tampak kesal.
"Tapi kata Bian kamu itu gampang emosi, coba belajar menahan emosi, Ra, ini juga demi kebaikan kamus sendiri," tekan Nayra. "Sekarang lihat apa yang terjadi kalau kamu bersikap seperti itu! Bian curiga, Mama curiga, sebentar lagi mereka benar-benar akan tahu kalau yang sama Raka itu Nayra sedangkan yang tinggal sama mama itu Naura. Aku berusaha sebaik mungkin untuk jadi istri dan menantu yang baik atas nama kamu, Ra, jadi aku mohon banget sama kamu, coba jadi pasangan yang baik untuk Bian."
Naura hanya bisa membisu saat mendengarkan ucapan panjang lebar Nayra yang penuh penekanan itu, Naura menyadari ini memang salahnya yang tak bisa mengontrol emosi.
"Maaf, Nay," cicit Naura kemudian. "Aku janji setelah ini aku akan berusaha lebih baik lagi untuk menjadi pasangan yang baik bagi Bian."
"Harus, Ra, jangan cuma berusaha tapi kamu harus paksakan, aku nggak mau hubunganku sama Bian hancur gara-gara sikap kamu sementara ini aku sudah mengorbankan hidup aku demi hubungan kamu dan Raka."
"Okay, aku janji akan memperbaiki semuanya."
🦋
Karena malam ini Bu Irna mengundang besan, menantu serta calon menantunya ke rumah, ia pun menyiapkan begitu banyak makanan. Naura pun membantu menyiapkan acara makan malam dan sesuai keinginan Nayra, ia berusaha bersikap seperti wanita itu.
Bahkan, malam ini Nayra berpakaian dan berdandan seperti Nayra. Naura menatap pantulan dirinya di cermin, memang sungguh tidak ada bedanya antara dirinya dan Nayra. Mereka benar-benar seperti pinang dibelah dua, yang membedakan hanya karakter mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 7, Bian datang lebih dulu dan ia disambut hangat oleh Bu Irna dan Pak Desta. Naura menemani Bian mengobrol sambil menunggu Raka dan yang lainnya.
Tak berselang lama, yang ditunggu pun datang. Mereka semua langsung di persilakan ke meja makan oleh Bu Irna.
"Duduk di sini, Sayang." Raka menarikan kursi untuk Nayra, mempersilakan wanitanya itu duduk dengan nyaman.
"Terima kasih," ucap Nayra sambil melempar senyum, Raka pun hanya membalas senyum Nayra sembari duduk di sisi Nayra dengan terus memegang tangan Nayra. Bian yang melihat kemesraan itu entah kenapa merasakan ada kecemburuan di hatinya, ini aneh, fikir Bian.
"Udah lama ya kita nggak makan bareng-bareng begini," kata Bu Susmita yang juga duduk di kursinya.
"Iya, Mbak, soalnya sibuk dengan urusan masing-masing," sahut Bu Irna sambil terkekeh.
"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Raka dengan lembut. "Aku mau makan sayuran aja sama em ... Ayam panggang dan sedikit nasi, banyakin ayamnya," pintar Nayra yang memang sudah terbiasa dimanja oleh Raka. Pria yang berstatus sebagai kakak iparnya itu pun mengambilkan makanan yang Nayra mau, pemandangan itu sungguh membuat hati Naura terbakar api cemburu tetapi ia mencoba menahannya.
Sambil makan malam, mereka semua mengobrol ringan, dari kehidupan pribadi hingga bisnis, mereka semua membahasnya.
Sementara Raka tak henti-hentinya menunjukan kemesraannya pada Nayra, hingga pada akhirnya hal itu membuat Naura tak bisa menahan dir dan dengan sengaja dia menyenggol gelas di sisinya hingga terjatuh dan pecah yang menarik perhatian semua orang.
🦋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Ambu Bagas😘😘😘
Huuhh Ada bau Gosong😬
Apakah Ada Yg terbakar?
2022-11-20
0
Nanda Lelo
panas y nau
2022-11-12
0
sitimusthoharoh
pasti entar ujung2e nyalahin ni nay ni
lanjut
2022-11-10
0