"Sayang, kamu sibuk nggak?" Raka bertanya sembari memperhatikan Nayra yang saat ini sedang membuat jus buah.
"Nggak kok, kenapa?" Nayra balik bertanya sembari menyodorkan satu gelas jus buah untuk Raka. "Jus buah itu sehat, kamu harus terbiasa meminum ini setiap pagi," kata Nayra yang membuat Raka tersenyum lembut.
"Terima kasih, Sayang," ucap Raka. "Oh ya, kalau kamu nggak sibuk dan nggak ada acara apapun, aku mau ngajak kamu ke rumah mama terus habis itu nanti kita makan siang bareng. Mumpung hari minggu dan aku lagi nggak sibuk, gimana?"
"Okay," jawab Nayra tanpa ragu.
Sejak malam kedua yang panas itu, Nayra mulai terbiasa dengan perannya sebagai istri Raka. Ia juga tak lagi terkejut jika tiba-tiba Raka memeluk atau menciumnya tanpa permisi. Tak hanya itu, Nayra baru tahu ternyata Raka tidak suka buah padahal buah itu sangat bagus untuk kesehatan. Alhasil, ia memberikan jus buah yang segar dan kakak iparnya itu tak menolak.
Tanpa sadar, semakin lama Nayra semakin memperlihatkan bahwa dia sangatlah berbeda dengan Naura. Selama ini Naura tidak memperhatikan hal kecil seperti ini selama suaminya masih sehat. Nayra tidak akan sadar dengan perbedaan itu karena Raka tak pernah membicarakan adanya perbedaan dalam istrinya. Justru Raka terlihat menikamati setiap perhatian kecil dari Nayra.
🦋
"Hai, Sayang." Bu Susmita menyapa Nayra yang ia kira menantunya itu dengan hangat, Nayra pun menyambut sapaan ibunya Raka itu dengan lembut. "Apa kabar, Ra? Mama harap kamu masih selalu sehat," ujar Bu Susmita.
"Sangat sehat, M-ma," jawab Nayra sedikit gugup, wanita yang selama ini ia panggil Tante kini tiba-tiba harus ia panggil Mama sebagai Mama mertuanya. "Mama sama papa juga apa kabar?" tanya Nayra berusaha bersikap tenang.
"Kami baik, tapi sekarang Papa lagi di luar kota. Untung aja kalian ke sini, jadi Mama nggak mati bosan," kekeh Bu Susmit, ia pun membawa putra dan menantunya itu masuk.
Raka merangkul Nayra dengan posesif kemudian ia berbisik di telinganya. "Kalau mama ngomong yang aneh-aneh, nggak usah didengerin." Nayra terkekeh kemudian mencubit pinggang Raka, membuat pria itu meringis.
"Aku 'kan cuma ingetin, Sayang, kok malah dicubit? Nanti kamu tersinggung sama omongan Mama, nangis-nangis, aku nggak akan rayu-rayu kamu biar berhenti nangis, ya," goda Raka yang membuat Nayra kembali terkekeh, ia baru tahu ternyata kakak iparnya ini bisa bercanda juga.
"Ya namanya orang tua, Rak, kadang-kadang memang begitu," sahut Nayra.
"Kamu mau minum apa, Ra? Biar Mama sendiri yang buatin, atau mau minuman seperti biasa?" tanya Bu Susmita kemudian. Nayra sedikit kebingungan harus menjawab apa karena Naura tidak memberi tahu minuman apa yang biasa disuguhkan ibu mertuanya jika Naura berkunjung ke sini.
"Nggak usah repot-repot, Ma, nanti aku ambil sendiri kalau mau minum atau apa," jawab Nayra akhirnya dari pada dia salah bicara. "Mending Mama duduk aja, ngobrol sama kita, apalagi katanya Raka kangen sama Mama," pungkas Nayra.
Ibu mertua Naura itu sedikit merasa bingung, karena biasanya Naura mau saja dijamu seperti tamu olehnya, tapi wanita yang kini datang bersama Raka ini tampak berbeda dan Bu Susmita menyukai itu.
Bu Susmita juga menyadari cara pakaian Nayra dan make up-nya yang tampak berbeda. "Kok tumben kamu pakai make tipis aja, Ra? Apa kalian buru-buru?" tanya Bu Susmita secara spontan.
"Kan cuma mau ke sini, Ma, make up begini aja udah cukup kok."
"Benar," sambung Raka. "Aku juga nggak bosan nunggu dia make up yang bisa berjam-jam itu," kekehnya.
"Namanya juga wanita, Raka, harap maklum, kami dandan cantik juga buat menyenangkan pasangan kami," tukas Nayra.
"Benar itu," sambung Bu Susmita. "Oh ya, Mama ganti baju dulu, kalian tunggu sebentar."
...🦋...
Beda halnya dengan Nayra yang mulai mendalami perannya, Naura justru tak bisa melakukan itu. Dia tidak bisa berubah menjadi Nayra, apalagi Bayang-bayang Nayra ada di ranjang suaminya membuat Naura hampir frutasi karena cemburu sehingga ia semakin sulit memerankan karakter Nayra yang tenang dan kalem.
Naura pun membuat hubungannya dengan Bian lebih intim sebagai pelampiasan cemburunya pada Nayra. Bahkan, Naura bersikap begitu agresif yang membuat Bian semakin bingung dengan segala perubahan tunangannya.
Seperti saat ini, Naura mengajak Bian berbelanja ke mall, wanita itu terus menempel pada Bian seolah Naura takut ada yang mengambil Bian darinya. Awalnya Bian senang dengan sikap Naura yang manja dan posesif padanya, tapi lama-lama Bian merasa sedikit risih karena ia merasa tunangannya ini bersikap berlebihan. Apalagi selama beberapa hari terkahir ini Naura selalu mengajaknya bertemu setiap hari.
"Sayang, habis ini kita makan malam, ya. Aku lapar," rengek Naura dengan sangat manja.
"Aku harus kembali bekerja, Nay," sahut Bian yang langsung membuat Naura cemberut.
"Tapi aku masih mau sama kamu, Bi, emangnya kamu nggak kangen sama aku?" rajuk Naura, ia bergelanyut manja di lengan Bian.
"Nay, setiap hari kita sudah ketemu dan menghabiskan waktu seperti ini loh," ujar Bian. "Hari ini aku lagi sibuk banget, Sayang, besok kita makan siang bersama, okay?" bujuk Bian.
"Janji?" tanya Naura penuh penekanan.
"Iya, Sayang, aku janji. Ya udah, sekarang kita pulang, okay?" Naura mengangguk pasrah.
Saat turun di escalator, Naura melihat Raka bersama Nayra dan Bu Susmita yang naik escalator. Rasa cemburu di hati Naura semakin menjadi, bukan hanya karena Raka tapi karena ibu mertuanya yang terlihat begitu dekat dengan Nayra. Wanita paruh baya itu bahkan merangkul Nayra, mereka mengobrol sambil tertawa, terlihat sangat bahagia.
Hati Naura semakin sesak, ia bertanya-tanya kenapa Nayra begitu mudah mengambil perannya di hidup suami dan mertuanya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Nanda Lelo
aduuuh Naura Naura,,
kasian y
2022-11-11
1
sitimusthoharoh
si nayra gk noleh ad perasaan ke raka tapi kamunya malah kegatelan ni m si bian
lanjut
2022-11-09
0
rien
km main api..akhirnya terbakar kan Ra? km yg akan hangus..km akan menyesali keputusan yg km buat..😐
2022-11-05
0