"Mulai sekarang kamu nggak boleh pergi tanpa izin dariku, Sayang," ujar Raka dengan tajam, seolah ia tak ingin permintaannya ini dibantah.
Saat ini mereka sudah dalam perjalanan pulang, Nayra asyik menikmati es krimnya tanpe memperdulikan ocehan Raka yang sejak tadi menggerutu karena Nayra pergi sendiri.
"Kamu dengar aku 'kan, Sayang?" tanya Raka kesal. Nayra justru mengulum senyum polos sambil mengangguk.
"Mulai sekarang kamu juga harus jaga jarak dari laki-laki, termasuk Bian." Nayra terperangah mendengar ucapan Raka yang tak pernah ia duga itu. "Aku cemburu setiap kali melihat ada laki-laki yang dekat sama kamu," ungkap Raka yang justru membuat Nayra kini merasa tersentuh.
"Kami cuma ngobrol, bukan berkencan," bantah Nayra dengan santai.
"Apapun alasannya, pokoknya nggak boleh," tekan Raka.
"Jangan terlalu posesif, nanti aku jengah loh," goda Nayra yang masih menikmati es krimnya.
"Apa salah kalau seorang suami posesif sama istrinya sendiri, hm?" Raka melirik Nayra sambil melempar senyum penuh kemenangan karena kini wanita itu tak bisa menjawab. "Aku posesif karena aku mencintaimu, Sayang, jadi kamu harus ngerti itu, okay?" Raka mengusap kepala Nayra lembut sementara Nayra hanya bisa mengangguk. Nayra begitu tersanjung karena dia bisa merasakan besarnya cinta Raka, tapi bagaimana dengan Bian? Tunangannya itu juga sangat mencintai Nayra dengan tulus.
🦋
Sementara itu, tanpa sengaja Bu Irna mendengar obrolan pembantu dan satpam rumahnya yang mengatakan pagi ini Nayra marah-marah karena Bibi tidak rapi menyetrika bajunya.
"Non Nayra makin hari makin galak, Pak, biasanya mah Non Nayra selalu sabar, jarang nyuruh-nyuruh saya sampai saya malu sendiri," kata Bibi.
"Aku juga merasa begitu, Bi. Kalau gerbangnya nggak langsung dibukain, dia meng-klakson mobilnya berkali-kali sampai jantungku neh berdebar saking lagetnya," ungkap Pak Satpam.
Bu Irna pun segera pergi ke kamar Nayra, dia memeriks semua isi kamar itu tapi tak ada yang aneh dari kamar anaknya itu. Masih selalu rapi, tapi entah kenapa dia juga bisa merasakan perbedaan sikap Nayra akhir-akhir ini. "Aku fikir cuma perasaanku aja, ternyata Bibi dan satpam juga merasakan hal yang sama, apa jangan-jangan mereka. ..."
Sempat terbersit dalam benak Bu Irna jika kemungkinan anak-anaknya itu bertukar peran seperti yang biasa mereka lakukan saat kecil. Akan tetapi Bu Irna juga merasa itu tidak mungkin, dulu mereka bertukar peran hanya dalam kecil dan dalam batas wajar.
"Sekarang mereka sudah dewasa, punya kehidupan dan pasangan, nggak mungkin mereka bertukar peran apalagi Naura sedang hamil," fikirnya.
🦋
Bian menjemput Naura seperti yang wanita itu mau. Meskipun kesal, Bian tetap berusaha tenang bahkan dia mengobrol seperti biasa.
"Oh ya, Sayang, kamu ingat nggak kapan terakhir kali aku menangis terus apa yang aku katakan saat itu? " tanya Bian sembari melirik Naura yang kini sibuk dengan ponselnya.
"Saat anjing kamu meninggal dan kamu bilang nggak akan merawat binatang lagi, karena kamu akan sedih saat pergi," jawab Naura dengan santai. Bian mengulum senyum mendengar jawaban itu.
"Aku fikir kamu lupa karena itu peristiwa yang sangat tidak penting," kekeh Bian. "Oh ya, apa kamu juga ingat kapan pertama kali aku mencium aku terus apa yang aku katakan saat itu?" tanya Bian lagi.
Naura langsung mengangkat wajahnya, dia menatap mata Bian kemudian berkata, "Di perpustakaan kampus, Sayang, waktu itu kamu bilang ingin selalu menciumku setiap saat. Dan saat kita menikah nanti, kamu benar-benar akan selalu menciumku setiap saat."
Bian terdiam sejenak, bukan tanpa alasan ia mengajukan pertanyaan itu karena hanya Nayra yang tahu jawabannya, dan saat ini Bian berfikir Nayra dan Nuara tertukar.
Saat anjing Bian meninggal, Bian menangis dan saat itu hanya ada Nayra dan di sisinya. Pertama kalinya Bian mencium Nayra memang di perpustakaan kampus itupan Bian mencuri cium saat Nayra sedang asyik pembaca buku.
Meskipun Naura bisa menjawab pertanyaan Bian dengan benar, tapi Kecurigaan Bian masih ada. "Terus kenapa kamu mau tidur sama aku, Nay?" tanya Bian kemudian yang membuat Naura tercengang. "Setiap kali aku hendak membawa kamu ke ranjang, kamu selalu bilang mau melakukannya setelah menikah, terus kenapa tiba-tiba kamu mau melakukannya?"
Naura terkejut mendengar pertanyaan Bian, ia segera memutar otak mencari jawaban dari pertanyaa itu apalagi Naura tidak pernah tahu ternyata Bian dan Naura belum pernah melakukan hubungan intim. "Oh Tuhan, itu artinya selama ini Bian dan Nayra nggak pernah melakukan apapun."
"Nayra?" panggil Bian karena wanita itu hanya diam.
"Ka-karena... Karena aku mencintaimu kamu, Bian. Aku ingin membuktikan bahwa aku mencintai kamu," jawab Nayra akhirnya.
Bian mengangguk mengerti, apalagi sebelum berpacaran dengan Bian, Nayra juga pernah punya pacar dan sudah pasti Nayra tidur dengan mantan pacarnya itu. Jadi bukan hal yang tidak mungkin jika Nayra juga mau pergi ke ranjang Bian yang notabane-nya adalah calon suami Nayra.
Tiba-tiba suasa terasa hening, hanya terdengar suara deru mobil di jalanan. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah orang tua Nayra, Naura segera turun dari mobil setelah dia mencium Bian dan mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, Sayang, maaf merepotkan," kata Naura hanya ditanggapi dengan senyum simpul oleh Bian.
Naura segera masuk ke dalam rumah, Naura menyadari Bian mungkin curiga padanya, untunglah Nayra sempat memberi tahu apa saja hal-hal yang hanya di ketahui dirinya tentang Bian, sama seperti Naura memberi tahu segala hal tentang Raka.
Naura segera bergegas ke kamarnya untuk menyegarkan diri dan menenangkan fikirannya yang semakin kacau, apalagi setelah ditodong dengan berbagai pertanyaan oleh Bian. "Aku fikir Bian dan Nayra sudah pernah tidur bersama, ternyata nggak pernah," gumam Naura.
Setelah mandi, Naura tertidur karena dia merasa begitu lelah. Ia terbangun saat waktunya makan malam.
"Kok tumben kamu tidur jam segini, Nay?" tanya sang ibu dengan raut wajah kesal.
"Ngantuk, Ma," jawab Naura singkat sembari mengambil beberapa lauk dan sayuran.
"Nggak makan nasi, Nay?" tanya ayahnya.
"Udah malam, Pa, nggak baik makan nasi," sahut Nayra. Kecurigaan Bu Irna kembali muncul saat mendengar jawaban Nayra, karena biasanya Nayra tak pernah takut makan nasi kapanpun.
"NAURA?" panggil Bu Irna.
"Iya, Ma?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Neng Yati
bukan tertukar sih lebih tepatnya ditukar 😁
2023-06-21
2
Juan Sastra
nah loh
2023-01-01
0
Fadilah Herbalis Nasa
nah kan terbongkar sudah, baru nyadar emak nya klau kedua anak nya bertukar tempat
2022-11-15
0