Nayra tahu kali ini ia tak lagi bisa menolak permintaan Raka, apalagi saat ia mengingat desakan Naura tadi pagi.
Setelah selesai makan malam, Raka langsung membawanya pulang dan selama dalam perjalanan Raka terus menggengam tangan Nayra dengan erat. Bahkan ia sering mengecup tangan wanita itu dengan begitu mesra yang membuat darah Nayra semakin berdesir panas.
Sesampainya di rumah, Raka langsung menggendong Nayra ke kamar bak pengantin baru. Detak jantung Nayra berpacu cepat dengan napasnya yang memburu, tubuhnya terasa panas dingin saat Raka menatapnya dengan begitu intens.
"Ada apa, Sayang?" tanya Raka dengan suara yang mulai parau, wajah Nayra yang merona dan tatapannya yang sendu seolah semakin memancing gairah dalam jiwa Raka. "Kamu terlihat berbeda malam ini, Ra," ujar Raka sembari menidurkan Nayra di ranjang, ia melepaskan sepatu Nayra sementara tatapannya tetap lurus menatap iris mata wanita itu.
"Raka, aku—" Ucapan Nayra terhenti saat Raka meletakkan jarinya di bibir Nayra.
"Shhttt, aku merindukanmu, Sayang," lirih Raka kemudian ia mulai mencumbu Nayra dengan begitu lembut.
Nayra gugup, bibirnya bergetar bahkan matanya sudah berkaca-kaca sudah saat Raka mulai melepaskan gaunnya. Nayra ingin menjerit dan meminta Raka berhenti, tapi kata-kata Naura terus terngiang dalam benaknya.
"Sekarang kamu bisa menebus dosamu itu, Nay,"
"Aku mohon, Nay, kamu gantiin posisi aku sebagai istri Raka."
"Hanya sampai kamu punya anak, Nay, cuma satu anak."
"JANGAN LUPA SIAPA YANG MEMBUAT HIDUPKU HANCUR, NAYRA!"
Kini Nayra begitu pasrah berada di bawah kungkungan tubuh Raka yang entah sejak kapan sudah melepaskan seluruh pakaiannya. Pria itu menatapnya dengan begitu lembut, selembut sentuhannya di seluruh tubuh Nayra yang begitu sensitif.
Nayra memejamkan mata dan seketika bayangan Bian hadir dalam benaknya. "Maafin aku, Bian, aku terpaksa melakukan ini, Sayang. Aku mohon maafin aku."
"Buka matamu, Sayang!" pinta Raka dengan napas yang tersengal, perlahan Nayra membuka matanya dan saat itulah Raka memulai aksinya.
Nayra merintih kesakitan, tapi ia mencoba menahan diri. Raka pun terdiam sejenak, ia menelisik mata Nayra dengan intesn kemudian Raka mendaratkan ciuman mesra di bibir wanita itu. "Tenang, Sayang, jangan tegang," kata Raka.
Air mata sudah menumpuk di pelupuk mata Nayra, ia ingin menjerit karena rasanya sungguh sakit. Ia juga takut bagaimana jika Raka tahu bahwa dirinya masih perawan? Apa yang akan pria itu katakan nanti?
"Kita sudah lama tidak melakukannya, mungkin karena itulah sedikit susah," kekeh Raka yang kembali mencoba mencumbu Nayra agar lebih tenang, Nayra kini memang merasa lebih tenang setelah mendengar apa yang dikatakan Raka.
Tiba-tiba terdengar suara gerimis dari luar." Hujan, semesta pun mendukung kemesraan kita ini," kata Raka sembari membelai pipi Nayra.
"Pelan-pelan," pinta Nayra akhirnya. Raka menanggapinya dengan senyum lembut dan bersamaan dengan itu ia pun memberikan satu serangan keras nan cepat yang membuat Nayra menjerit. Air mata tak bisa lagi ia bendung, rasanya sangat sakit seolah seseorang sedang membelah tubuhnya.
Dan bersamaan itu pula lampu tiba-tiba mati, suara petir menyambar di mana-mana seolah mengguncang jiwa Nayra, secara spontan Nayra mendekap Raka dengan erat. Napasnya terputus-putus, jantungnya berdetak sangat cepat.
Kini langkah Nayra sudah terlalu jauh, takkan lagi ada jalan kembali.
Sementara Raka, pria itu terdiam sejenak. Ia bisa merasakan ada yang tak biasa dari sang itu, apalagi isak tangis Nayra terdengar lirih di telinganya. "Ada apa, Sayang? Kenapa menangis?" tanya Raka sembari menyeka air mata Nayra. Kilatan petir yang menyambar memberikan cahaya yang membuat Raka bisa melihat wajah Nayra yang benar-benar terlihat berbeda.
"Aku ... hiks ...." Nayra mencoba menggigit bibirnya. "Aku cuma ingat apa yang sudah hilang," ucapnya dengan suara tercekat.
Raka terdiam sejenak kemudian berkata, "Anak kita sudah ada di Surga, Sayang, aku yakin Tuhan akan segera menggantinya dengan anak yang lain."
"Sekarang, bolehkah aku bergerak, Sayang?" tanya Raka. Nayra hanya bisa mengangguk lemah dan pasrah.
Hujan turun semakin deras, petir pun masih menyambar dengan bebas. Nayra tidak tahu, apakah semesta sedang sedih karena hidupnya hancur, ataukah semesta sedang marah karena Nayra sudah menipu dua pria baik hati dalam waktu yang bersamaan.
...🦋...
Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, Nayra berusaha tidur setelah ia selesai melayani Raka. Namun, matanya tak mau terpejam, pikirannya pun berkelana ke mana-mana. Nayra melirik Raka yang kini sudah terlelap dengan tubuh yang hanya ditutupi selimut.
Hujan sudah berhenti, lampu juga sudah menyala beberapa menit yang lalu, suara petir sesekali masih terdengar tapi jauh entah di mana. Nayra sangat bersyukur karena tadi mati lampu, dengan begitu Raka takkan tahu bahwa dirinya berdarah.
Nayra merangkak turun dari ranjang, ia memungut kemeja Raka kemudian memakainya. Setelah itu Nyara pergi keluar kamar dengan langkah yang tertatih, ia duduk di ujung tangga dan seketika tangisnya pun pecah.
"Maafin aku, Bian, maaf," lirih Nayra dengan suara yang tercekat, bibirnya bergetar, air mata mengalir deras di pipinya tanpa henti.
Nayra terus menangis sampai ia merasa lelah sendiri, air matanya bahkan berhenti mengalir dengan sendirinya seolah sudah kering. Setelah merasa keadaannya lebih baik, Nayra kembali naik ke kamar.
Nayra melihat Noda darah di seprei, ia menutupinya dengan selimut. Setelah itu pun berusaha tidur dengan memunggungi Raka.
Saat hari sudah pagi, Nayra bangun lebih dulu dari Raka, karena memang tidurnya tidak nyenyak. "Raka?" Nayra mengguncang pundak pria itu. "Bangun, sudah pagi," kata Nayra sembari memastikan noda darahnya masih tertutupi.
Raka menggeliat malas, perlahan ia membuka matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Nayra yang sembab. "Selamat pagi, Sayang," sapa Raka dengan suara seraknya.
"Mandi gih!" seru Nayra, ia berusaha menghindari tatapan Raka.
"Mandi bareng, yuk!" ajak Raka tapi Nayra langsung menolaknya.
"Nggak, kamu mau mandi duluan," tolaknya. Raka menguap lebar, sekali lagi ia menggeliat sebelum akhirnya Raka bergegas ke kamar mandi.
Kesempatan itu Nayra gunakan untuk mengganti sepreinya dengan seprei yang baru, bahkan Nayra segera pergi untuk mencuci seprei yang ternoda itu.
Nayra kembali menangis saat mencuci seprei yang menjadi saksi bisu hubungan terlarangnya dengan Raka. "Puas kamu, Naura!" geram Nayra di tengah isak tangisnya yang terdengar pilu.
...🦋...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
sherly
nay juga salah ngapain juga mau disuruh Ama Naura, kamu gadis Lo dijadiin tumbal gt .. astaga
2023-08-08
1
Juan Sastra
zina,, saudari laknut naura
2023-01-01
0
Hepi ervina
jadinya zina dg ipar dong thor,
2022-12-06
1