"NAYRA."
Nayra terbelalak saat dia mendengar Raka menyebutkan namanya, seluruh tubuhnya menegang, napasnya tertahan di tenggorokan bahkan darah Nayra seolah membuka. Nayra berharap dia hanya salah dengar, iya, dia pasti salah dengar.
Akan tetapi, pelukan Raka kembali lebih erat, dia mencium tengkuk Nayra dengan lembut kemudian berkata, "Aku mencintaimu, Nayra." Kedua bola mata Nayra melotot sempurna, dia hendak berbalik untuk mamastikan apakah Raka tertidur dan mengigau atau dia sadar dan mengucapkan kalimat itu dengan kesadaran penuh.
Namun, Raka tak membiarkan Nayra berbalik badan. Kedua mata Raka terbuka, dia sadar sesadar-sadarnya dengan apa yang dia ucapkan. "Aku jatuh cinta padamu, Nayra, aku mencintaimu. Aku nggak mau pergi," ucap Raka seolah dia tahu apa yang ada dalam benak Nayra.
"Raka?" lirih Nayra tidak percaya.
"Aku sudah curiga sejak awal kalau kamu bukan Naura, hanya Nayra yang perduli pada binatang jalanan dan Naura tidak akan melakukan itu dengan alasan apapun," tukas Raka dengan lugas yang membuat otak Nayra blank.
"Dan apa kamu pikir aku bodoh, Sayang? Apa nggak bodoh sehingga nggak bisa membedakan apakah aku bercinta dengan seorang gadis atau bukan, aku sudah tahu semuanya."
Air mata Nayra tumpah dengan deras, dia pikir dia telah membodohi Raka tapi ternyata yang terjadi sebaliknya. Nayra merasa malu, dia merasa tak lagi punya harga diri karena telah menyodorkan tubuhnya ke ranjang kakak iparnya sendiri.
Bibir Nayra bergetar, dia tidak mampu mengucapkan satu patah kata pun hingga Raka berkata, "Aku sudah tahu semuanya, aku sudah ke rumah sakit keesokan hari setelah kita bercinta untuk pertama kalinya, apa kamu ingat itu?" Nayra tentu takkan melupakan hari itu, hari terburuk dalam hidupnya.
"Aku bilang tidak akan bekerja, aku akan menemui seseorang. Yeah, aku menemui Dokter yang menangani Naura lima bulan yang lalu, aku ingin memastikan apa yang terjadi, kenapa kamu tiba-tiba menjadi Naura dan ada di ranjangku. Itu adalah hal gila dan tidak masuk akal, "ujar Raka penuh penekanan, seolah ia sendiri juga memang sulit percaya akan tindakan sepasang saudara kembar itu.
"Dan informasi yang aku dapatkan tidak membuatku terkejut karena aku sudah menduga itu," desis Raka kemudian.
"Aku sudah curiga sejak awal kalau ada yang tidak beres karena Naura tidak pernah mau jika diajak berkonsultasi ke Dokter kandungan, aku juga teringat kecelakaan yang terjadi menyebabkan hal yang sangat fatal pada Naura kaya Dokter, aku bertanya apa saja kemungkinan terburuknya. Dokter bilang kemungkinan terburuknya adalah Naura harus kehilangan rahimnya. Aku sudah curiga itu karena Naura tidak kunjung hamil, tapi aku nggak mau membahas tentang itu karena aku mau menjaga perasaan Naura."
Raka menghela napas panjang, sementara isak tangis Nayra semakin menjadi. Dia tidak pernah menduga ternyata sudah tahu semuanya bahkan sejak mereka sebelum bertukar peran.
"Dan hari itu ...." Raka melanjutkan. "Aku memang tidak mengizinkanmu keluar rumah karena aku tahu kamu pasti masih merasakan sakit saat berjalan karena itu kali pertama kamu bercinta."
Tangis Nayra semakin pecah mendengar pengakuan Raka, dia merasa menjadi perempuan yang begitu bodoh dan rendah. Naura menindas nya dengan menggunakan rasa bersalah Nayra, sementara Raka justru memanfaatkan itu.
"Kenapa ... kamu nggak bilang, Raka?" lirih Nayra pilu, dia meremas selimut yang menutupi tubuhnya dan Raka. "Apa kamu mau menghukummu karena berusaha menipumu? Aku minta maaf, ini memang salahku," ucap Nayra di tengah isak tangisnya.
Raka melonggarkan pelukannya, kemudian dia mencengkeram pipi Naura dengan lembut setelah itu ia memalingkan wajah wanita itu hingga kini berhadapan dengan wajahnya.
Nayra langsung menunduk, dia tidak sanggup lagi menatap mata Raka, dia merasa malu, bersalah juga marah. Dia memang menipu, dan ternyata juga ditipu.
"Aku minta maaf," bisik Nayra, rasa bersalah justru mendominasi dirinya, dia berfikir Raka sengaja mengikuti sandiwaranya untuk menghukum Nayra. Akan tetapi, Raka menggeleng pelan, dia mengangkat wajah wanita itu kemudian menyeka air matanya dengan sangat lembut.
"Aku sangat mengenal Naura, aku tahu pasti dia yang memaksamu, kan? Dia ingin hamil tapi dia tidak bisa, karena itu lah dia memaksamu untuk menjadi dirinya, apa aku benar?" tanya Raka penuh penekanan.
Nayra menggeleng lemah, akar masalah ini memang dirinya jadi dia tidak bisa menyalahkan Naura.
"Aku yang salah, aku yang menyebabkan kami kecelakaan sampai keponakanku tidak bisa dilahirkan, bahkan aku merenggut kesempurnaan Naura, aku yang salah." Raka masih setia menyeka air mata Nayra yang mengalir tanpa henti, bibir wanita itu bergetar dan matanya sudah sangat sembab
"Bukan, Sayang, ini sudah takdir," ujar Raka dengan lembut. "Semuanya sudah berjalan sesuai garis takdir yang seharusnya, dan aku sangat bersyukur akan hal itu," imbuhnya yang membuat Nayra tercengang, ia menatap manik mata Raka dengan bingung.
"Aku mencintai Nayra, wanita lemah lembut yang menyukai hewan, perduli pada semua orang. Aku jatuh cinta padamu dan aku ingin memilikimu sejak dulu, tapi aku terlambat karena saat itu aku sudah menikah dengan Naura," ungkap Raka yang membuat Nayra semakin bingung. Dia mencoba mencerna apa yang sebenarnya dimaksud oleh kakak iparnya ini.
"Aku selalu bertanya-tanya, kenapa aku harus bertemu dengan Naura lebih dulu kenapa bukan Nayra? Setiap kali kita bertemu, setiap itu juga aku merasa jatuh cinta padamu, Nayra. Aku berusaha menekan rasa cinta itu sebisaku karena kamu adalah adik iparku, tapi rasanya begitu sulit. Bahkan, terkadang sering sekali berandai-andai, seandainya aku bisa memilikimu, hidupku pasti akan sangat sempurna."
Nayra menahan napas saat mendengar pengakuan Raka yang tak pernah terbersit sedikitpun dalam benaknya, isak tangisnya bahkan terhenti meskipun bibirnya masih bergetar.
"Dan tiba-tiba kamu datang sebagai istriku, menyerahkan diri di atas ranjangku. Lalu bagaimana mungkin aku menolaknya sementara itu yang aku impikan selama ini?"
"Raka?" desis Nayra tak percaya.
"Aku pikir tidak mungkin aku bisa memilikimu, Sayang, tapi ternyata kehendak takdir sungguh indah. Aku bisa memilikimu, bahkan memiliki anak darimu. Aku ingin kita menikah dan memiliki banyak anak, bukan hanya satu."
"Raka, apa kamu gila?" Nayra kembali mendesis, rasanya ini lebih buruk dari mimpi buruk yang pernah dia alami.
"Kamu sudah punya Naura, Raka. Dan aku punya Bian, aku mencintai Bian," ujar Nayra. Akan tetapi Raka menggeleng sembari membelai pipi Nayra dengan lembut.
Raka menatap mata Nayra dengan intens dan dalam kemudian berkata, "Aku mencintaimu dan akan aku buat kamu juga mencintaimu, Nayra."
...🦋...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Lilik Juhariah
bagus banget karya author ini
2024-05-31
0
Arin
owh jadi critanya Kya gtu...😍
2022-12-09
0
Ambu Bagas😘😘😘
weehh Tuan Makan Senjata buat Naura
2022-11-20
0