PYARRRRRR
Semua orang terperanjat saat mendengar suara gelas yang pecah, semua mata pun langsung tertuju pada Naura. Termasuk Raka juga Bian, kedua pria itu menatap Naura dengan tatapan yang tak biasa.
"Nay, kamu nggak apa-apa?" tanya Bian sembari melirik pecahan gelas yang berserakan di lantai.
"Nggak apa-apa kok, maaf ya, aku nggak sengaja nyenggol gelasnya," ucap Naura tetapi tatapan matanya tak menyiratkan dia benar-benar minta maaf. Naura pun turun dari kursinya, dia hendak membersihkan pecahan gelas itu tapi Bu Irna mencegahnya.
"Biar Bibi yang bersihkan, Nay, kamu lanjut makan," ujar Bu Irna, ia terlihat kesal dengan apa yang dilakukan Naura karena itu sudah mengganggu ketenangan makan malam mereka.
"Sekali lagi maaf, ya," ujar Naura lagi sambil beranjak dari kursinya, ia menatap Nayra yang saat ini juga menatapnya. "Ke kamar sebentar, ada yang mau aku bicarakan," tukasnya. Nayra langsung menoleh pada Raka yang saat ini justru menatap Naura dengan tatapan yang tak biasa.
Nayra pun beranjak dari kursinya, dia mengikuti Naura pergi ke kamar. Sesampainya di kamar, Naura langsung mengunci pintu setelah itu dia mengeluarkan unek-unek yang selama ini mengganjal dalam hatinya.
"Kamu bisa jaga sikap nggak sih kalau di depan aku, Nay? Nggak usah bermesraan sama Raka, kamu nggak mikirin perasaan aku? Aku tertekan karena setiap hari harus hati-hati saat berbicara sama papa, mama, Bian, bahkan sama pembantu dan satpam. Dan dengan santainya kamu selalu bermesraan dengan suamiku di depan mata kepalaku sendiri? Kamu punya hati nggak sih, Nay?"
Nayra tersenyum miring mendengar pertanyaan Naura yang mempertanyakan hati Nayra, ia menatap kakaknya itu dengan pandangan tak percaya kemudian berkata, "Kamu sendiri punya hati nggak saat nyuruh aku tidur sama suami kamu supaya aku hamil dan melahirkan anak untuk kamu?" Nayra mendesis tajam.
"Aku juga punya hati, Ra, hati yang mencintai tunanganku dan kamu memaksa aku buat mengkhianati dia." Nayra berkata dengan begitu tajam tepat di depan wajah Naura, kedua mata Nayra sudah memerah dan berkaca-kaca mengingat kembali hidupnya yang kini jungkir balik penuh kebohongan dan kepalsuan gara-gara Naura. Sekarang suadara kembarnya ini justru dengan sadisnya mempertanyakan tentang hatinya.
"Apa kamu juga punya hati saat dengan teganya kamu mengaku sudah tidur dengan Bian, eh? Aku tahu, aku juga tidur dengan Raka tapi itu permintaan kamu supaya aku hamil dan semua orang mengira kamu yang hamil. Sementara kamu? Apa tujuan kamu tidur sama Bian, Naura?" Nayra menggeram, dia juga sudah tidak tahan menyimpan segala gejolak dalam hatinya selama ini dan kali ini ia tak mau menahannya lagi.
Sementara Naura terhenyak mendengar kata-kata Nayra yang begitu menusuk hatinya, tatapan Nayra pun begitu tajam, tak lagi sayu seperti biasanya. Kini Nayra seperti seseorang yang sudah berada di ambang batas kesabarannya setelah menahan luka dan perih selama ini.
"Jangan lupa siapa yang melemparkan aku pada suami kamu, Ra! Itu kamu sendiri, kenapa kamu harus marah? Bukannya kamu mau menjadi istri dan menantu yang sempurna? Ini yang harus kamu bayar untuk kesempurnaan yang kamu mau!" Nayra mendesis dengan begitu tajam, setelah itu ia segera kembali turun menuju makan.
Nayra menarik napas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan, hal itu ia lakukan beberapa kali untuk menenangkan perasaannya yang bergemuruh.
"Ada apa, Sayang?" tanya Raka sembari menarikan kursi untuk Nayra seperti biasa.
"Nggak ada apa-apa," jawab Nayra sambil mengulum senyum. Tak berselang lama Naura pun menyusul, dia juga melempar senyum pada semua orang.
"Ada apa, Ra? Ada masalah?" bisik Bian pada Naura.
"Nggak," jawab Naura singkat.
Makan malam pun kembali berlanjut dengan suasana yang tampak tenang diselingi obrolan ringan yang terkadang membuat mereka tertawa bersama. Akan tetapi, hati Nayra dan Naura tak bisa tenang dan selera makan mereka hilang begitu saja.
"Oh ya, kapan kalian akan menikah?" tanya Pak Aditya pada Bian dan Naura.
"Secepatnya," jawab Bian semangat, sementara Naura hanya bisa melempar senyum tipis.
"Lebih cepat lebih baik, kecuali kalau mau nunggu Nayra selesai kuliah, tapi itu masih lama apalagi sekarang Nayra memilih cuti," kata Pak Desta. Sebagai seorang Ayah, tentu saja dia ingin anak perempuannya segera menikah dengan pria yang tepat.
"Sebenarnya saat ini kami belum membicarakan itu karena aku sedang punya proyek, tapi setelah proyekku selesai, aku aja segera memikirkan pernikahan kami," kata Bian sambil menatap Naura dengan lembut, lagi-lagi Naura hanya bisa menanggapi dengan senyum tipis. Dia hanya berharap Bian terus sibuk sampai Nayra melahirkan nanti sehingga mereka bisa kembali ke peran mereka yang asli.
"Kadang-kadang bisnis memang membuat kita terpaksa mengenyampingkan urusan pribadi," sahut Bu Susmita sambil terkekeh.
"Aku mengambil proyek ini karena bayarannya tinggi, Tante, aku butuh menabung uang yang banyak untuk masa depanku dan Nayra nanti," kata Bian percaya diri.
Nayra terenyuh mendengar pengakuan Bian, sejak dulu Bian memang selalu mengatakan apapun yang dia lakukan saat ini hanya untuk Nayra karena yang dia yang Bian miliki. Memang sudah yatim piatu sejak remaja, kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan.
Nayra semakin merasa bersalah pada Bian, pria bak malaikat itu telah dia khianati dengan begitu sadisnya padahal Bian selalu memberikan cinta yang tulus untuknua.
Sementara Raka dan Naura sejak tadi hanya menyimak obrolan mereka dalam diam.
Setelah makan malam selesai, mereka masih bersantai sambil menikmati makan menutup di ruang keluarga
🦋
Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari tetapi Nayra masih tak bisa memejamkan mata. Kata-kata Naura terus terngiang dalam benaknya, dadanya terasa sesak dan perih. Apalagi saat dia mengingat Bian-nya.
"Aku akan pergi, setelah melahirkan nanti aku akan pergi dari hidup Raka dan hidup Bian. Aku nggak pantas untuk Bian, aku udah nggak pantas untuk dia." Nayra hanya bisa menjerit dalam hati, dia merutuki hidupnya yang seperti kutukan.
Tanpa sadar air mata Nayra sudah banjir membasahi pipi hingga bantalnya, punggungnya bergetar dan isak tangis pun tak bisa lagi dia tahan.
Nayra bahkan lupa jika saat ini ada Raka yang juga tidur di sisinya, Nayra memeluk dirinya sambil terus menangis sesegukan. Hingga tiba-tiba dia merasakan pelukan hangat dari Raka, tangis Nayra semakin pecah. Ia hanya bisa menutup wajahnya tanpa berani berbalik dan menatap Raka.
"Hiks ... hiks ... hiks ...." Nayra menggigit bibirnya, ia mencoba menekan rasa sesak di dadanya setelah itu berkata, "Ma-maaf, Raka, kamu jadi bangun gara-gara aku."
Pelukan Raka terasa semakin erat, bahkan pria itu menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Nayra dan ia berbisik, "NAYRA."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Kireina
sdh bisa di duga klo sebenarnya udah tau dr awal..kan virgin gt loh
2023-10-14
0
aisyahara_ㅏㅣ샤 하라
lololo gak bahaya taa???
kok Raka tau...
2023-09-05
0
pipi gemoy
wow🌹
2023-03-24
0