Bertukar peran dengan saudara kembarnya itu bukan hal baru untuk Nayra, mereka sering melakukan ini saat mereka masih kecil. Tapi bertukar peran sebagai pasangan seseorang? Tak pernah terbersit sedikitpun dalam benak Nayra ia akan melakukan hal ini.
Nayra dan Naura sudah siap bertukar peran. Mereka sudah menyusun rencana dengan matang, Bahkan Nayra juga sudah mengajukan cuti ke kampusnya karena tak mungkin Naura menggantikan Nayra kuliah di kedokteran hewan, Nayra memilih cuti dengan alasan ingin membantu Naura di butik, dengan begitu keduanya masih sama-sama punya aktifitas. Selain itu, mereka juga menukar ponsel mereka.
Hari ini semuanya akan dimulai.
"Mama mertuaku itu cerewet banget, Nay, dia mau semuanya terlihat sempurna. Dia juga sering bertanya hal pribadi tentang rumah tangggaku, kamu jawab aja semuanya baik-baik aja," tukas Naura yang hanya ditanggapi oleh gumaman oleh Nayra. Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan ke rumah Raka.
"Kamu harus bersikap hati-hati sama mereka, jangan sampai membuat kesalahan yang akhirnya membongkar rahasia kita." Naura memperingatkan dengan tega, dia ingin semua rencananya berjalan lancar tanpa ada halangan sedikitpun.
Selain memberi tahu kebiasaan mertuanya, Naura juga memberi tahu kebiasaan Raka dan Putery karena itu yang paling penting. "Raka itu nggak suka dibantah, tapi kalau kamu tahu cara merayunya, dia akan melakukan apapun untukmu. Kalau hari minggu seperti sekarang, biasanya Raka hanya akan di rumah dan sebaiknya kamu temani dia, jangan keluyuran." Lagi-lagi Nayra hanya menggumam, pejalanan ke rumah Raka seperti pejalanan ke medan perang, sangat mendebarkan dan ia tak bisa memikirkan apapun lagi selain menerka apa saja yang akan terjadi nanti.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah Raka yang cukup besar, di rumah itu Raka hanya tinggal bersama Naura dan dua pelayannya.
"Ingat pesanku, Nay!" seru Naura mengingatkan sebelum Nayra turun.
"Iya." Akhirnya Nayra bersuara setelah itu masuk ke dalam rumah, sementara Naura pulang ke rumah orang tuanya menggunakan mobil Nayra juga dengan membawa barang-barang Nayra.
Nayra begitu gugup, apalagi saat ia melihat Raka yang baru turun dari kamarnya.
"Hey, Sayang, kamu sudah pulang," ucap Raka kemudian ia mengecup pelipis Nayra yang membuat wanita itu terkesiap. "Aku fikir kamu akan pulang sore," imbuhnya.
Pagi ini Naura meminta izin pulang ke rumah orang tuanya. Raka fikir Naura akan pulang sore nanti karena biasanya Naura akan seharian di rumah orang tuanya.
Nayra tak merespon ucapan Raka, ia terlalu gugup dan takut. Nayra juga merasa bersalah pada Raka dan Bian karena Nayra telah menipu mereka sementara kedua pria itu adalah orang-orang yang sangat baik.
"Kamu kenapa?" tanya Raka sembari membelai pipi Nayra, sontak gadis itu menghindar, membuat Raka mengernyit bingung. Akan tetapi Nayra langsung berusaha bersikap tenang saat ia menyadari peran sebagai Naura sudah dimulai.
"Nggak apa-apa," jawab Nayra sambil melempar senyum kaku.
"Benaran? Kamu nggak sakit, hm?" Raka menyentuh kening Nayra dengan lembut.
"Nggak kok," jawab Nayra sambil tersenyum. Ia "Aku ke kamar dulu," ujarnya kemudian.
"Sayang, kita makan di luar, yuk?" ajak Raka, Nayra yang sudah hendak naik ke kamarnya langsung menoleh saat mendengar ajakan Raka. "Kamu sudah makan belum?" tanya Raka.
"Belum," jawab Nayra.
"Ya udah, aku mandi dulu. Habis ini kita cari makan di luar," ujar Raka. Ia merangkul Nayra dan membawanya ke kamar, gadis itu menurut saja.
Saat sampai di kamar, Raka langsung bergegas ke kamar mandi. Sementara Nayra hanya duduk di tepi ranjang, ia mencoba mengatur perasaannya yang bergemuruh. Nayra mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, kamar itu tak asing karena beberapa kali Naura pernah membawa Nayra masuk.
"Sayang?" Nayra terperanjat saat tiba-tiba terdengar suara Raka, ia menoleh dan seketika Nayra kembali membuang muka saat melihat Raka hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Kira-kira kita mau makan di mana?" tanya Raka sembari mencari pakaiannya di lemari.
"Terserah kamu aja," jawab Nayra. "Oh ya, aku tunggu di bawah ya," ujarnya kemudian.
"Okay," jawab Raka santai. Sementara wajah Nayra sudah memerah dan ia melangkah cepat menuruni tangga. Nayra memegang dadanya yang berdebar kencang, ini baru hari pertama menjadi istri Raka. Bagaimana nanti?
...🦋...
Saat ini Nayra dan Raka sudah berada di jalan, Raka membicarakan tentang kedua orang tuanya yang terus mendesak Naura agar segera hamil. "Jangan ambil hati apa yang dikatakan mama, Ra, aku yakin suatu hari nanti kita akan punya anak lagi kok," ucap Raka.
"Iya, aku faham," sahut Nayra.
"Baguslah, jangan dibawa stres, yang ada nanti kamu malah sakit." Raka melirik Nayra yang sedikit lebih pendiam dari biasanya.
"Iya, Raka, terima kasih kamu sudah memahami keadaanku," ujar Nayra sambil tersenyum tulus, ia merasa Naura beruntung mendapatkan suami pengertian seperti Raka.
"Eh, Raka, berhenti!" seru Nayra yang membuat Raka harus menginjak rem dengan tiba-tiba.
"Ada apa, Ra?" tanyanya. Alih-alih menjawab pertanyaan Raka, Nayra justru turun dari mobil, ia menghampiri seekor kucing yang tampak tak sehat. Tanpa ragu Nayra menggendong kucing itu yang membuat Raka terkejut sekaligus bingung, sejak kapan Naura tak jijik pada kucing pinggir jalan? Raka berfikir ada yang aneh dengan istrinya itu.
"Raka, apa bisa kita pergi ke klinik sebentar? Kaki kucing ini patah, badannya juga lemas banget," papar Nayra terlihat cemas, hal itu membuat Raka semakin bingung karena baru kali ini Naura perduli pada binatang jalanan.
"Okay," jawab Raka. "Kok tumben kamu mau nolong kucing, Ra?" tanya Raka kemudian yang membuat Nayra terdiam sejenak, ia baru teringat bahwa Naura begitu jijik pada binatang pinggir jalan.
"Kasian aja, kalau kucing ini mati nanti gimana? Nayra pernah bilang, kalau kita harus perduli pada sesama makhluk di dunia ini. Biarkan semesta yang akan membalas kebaikan kita nanti, " tukas Naura berharap Raka percaya.
"Hem, benar juga," sahut Raka sambil tersenyum.
...🦋...
Sementara di sisi lain, Bian mengajak Nayra berkencan, ia sudah sangat merindukan tunangannya itu karena akhir-akhir ini keduanya sama-sama selalu sibuk jadi mereka jarang bertemu.
Saat Bian menjemput Nayra di rumahnya, ia mengernyit bingung karena Naura ber-make up cukup tebal. Bahkan, wanita itu juga memakai baju seksi.
"Hay," sapa Naura saat sudah masuk ke dalam mobil Bian.
"Kok tumben kamu dandan dan pakai baju begini, Sayang? Udah kayak Naura aja," ujar Bian yang membuat Naura tercengang. Ia lupa bahwa sekarang dirinya adakah Nayra, saudara kembarnya yang selalu berpenampilan sederhana dengan make up tipis.
"Emm ... iya, aku cuma mau nyoba pakai baju yang dibelikan Naura," jawab Naura sedikit gugup. "Gimana? Cocok nggak?" tanyanya untuk mencairkan suasana hatinya yang sedikit tegang.
"Cocok, seksi," goda Bian sambil mengedipkan sebelah matanya, sementara Naura hanya bisa melempar senyum kaku.
"Hampir saja," gumam Naura dalam hati sambil menghela napas lega.
...🦋...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Puji Rahayu
kl msh kecil tuker peran itu msh main2 kl dh gede itu dh bukan main2 nm nya.
2023-12-26
0
sherly
astaga tega banget sih naura ،kasian si nay... hrs jd istri dr Raka yg jls ngk ada ikatan apa2... situ sih enak hanya pacar bian lah nay hrs ngurusin Raka diranjang
2023-08-08
0
Annie Tandaua
iya betul kalo sampai melakukan itu kan jatuhnya jadi zina, apalagi sampai ada anak..
2022-11-25
0