Kabar kecelakaan Nayra dan Naura sampai di telinga keluarga mereka, Raka yang saat ini ada di luar negeri juga mendengar kabar itu. Tanpa membuang waktu, Raka langsung terbang ke Indonesia untuk melihat keadaan sang istri.
Keluarga Raka juga langsung ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan menantu mereka, dan kesedihan tak bisa mereka bendung saat Dokter memberikan kabar bahwa kandungan Naura tak bisa diselamatkan.
Kabar buruk itu sudah sampai di telinga Nayra yang saat ini sudah sadarkan diri setelah pingsan lebih dari 6 jam. Nayra menangis, menyesali apa yang terjadi karena itu disebabkan olehnya. Bian yang menemani Nayra menghibur dan menguatkannya.
"Itu bukan salah kamu, Sayang. Mungkin rumah tangga Naura dan Raka memang sedang di uji," ucap Bian sembari mengusap pundak Nayra dengan lembut.
"Tapi itu salahku, Bi. Aku ngantuk, seharusnya aku bawa sopir, aku sudah membunuh calon keponakanku," lirih Nayra di tengah isak tangisnya.
"Sshhhtttt, jangan bicara begitu, Sayang. Itu nggak benar," bantah Bian sembari menarik Nayra ke pelukannya. Wanita itu pun menangis sejadi-jadinya di pelukan Bian hingga air mata membasahi kaos yang Bian kenakan.
Sementara di sisi lain, kedua orang tua Raka dan kedua orang tua Naura kini sedang menemani Naura yang lebih dulu sadar dari Naura. Wanita itu menangis saat tahu janin dalam kandungannya tak bisa diselamatkan, bahkan Naura mengadu pada para orang tua itu bahwa Nayra mengantuk saat menyetir. Terlihat jelas kekecewaan di raut wajah meraka pada Nayra, karena itulah mereka tak langsung menjenguk Nayra meskipun Nayra juga sudah sadar.
"Sabar, Nak, ini hanya sedikit ujian dalam rumah tangga kalian," tukas Nyonya Irna.
"Anakku, Ma, anakku ...." Naura berkeluh lirih sambil memegang perutnya.
"Sudah, Ra, jangan terlalu sedih, Sayang," ujar ibu mertuanya dengan lembut. "Kamu 'kan masih bisa hamil lagi nanti, jangan menangisi yang sudah pergi, ya?" Sebenarnya Nyonya Susmita juga sangat sedih karena kehilangan cucu yang selama ini ia nantikan, tapi yang terjadi sudah terjadi. Ditangisi pun takkan bisa kembali sehingga ia memilih tegar dan bersabar menunggu Naura akan hamil lagi nantinya.
...🦋...
Saat hari sudah malam dan Bian juga pulang untuk sebentar, Nayra yang merasa keadaannya sudah sedikit lebih baik meminta pada suster agar ia diantarkan ke ruang rawat Naura.
Nayra ingin tahu keadaan saudara kembarnya itu apalagi Nayra mendengar kalau orang tua mereka sudah pulang begitu juga dengan mertua Naura tapi mereka hanya menjenguk Nayra sebentar.
Saat ia sampai di depan ruang rawat Naura, Nayra mendengar Dokter membicarakan tentang pengangkatan rahim yang membuatnya shock.
Nayra pun masuk tanpa mengetuk pintu dan hal itu membuat Naura terperanjat, raut wajahnya juga terlihat panik. "Pengangkatan rahim apa maksudnya, Ra?" tanya Nayra dengan suara yang gemetar.
Naura tak bisa menjawab, lidahnya terasa kelu dan air mata kembali membanjiri pipinya. "Ra, kamu ...."
"Aku udah nggak mungkin punya anak lagi, Nay, hiks." Nayra seperti di sambar petir mendengar ucapan sang kakak. "Kecelakaan yang kamu sebabkan itu merenggut segalanya dariku, Nayra," lirih Naura di tengah isak tangisnya.
Nayra yang mendengar hal itu tak bisa berkata-kata, ia terperangah dan hanya bisa menangis. "Aku harus bilang sama Raka dan mertuaku? Oh Tuhan!" Naura terdengar begitu putus asa.
Dengan pelan, Nayra mendorong kursi rodanya mendekati ranjang sang Kakak. Tangannya yang gemetar menyentuh tangan Naura, berkali-kali ia menggumamkan kata maaf. Sepasang saudara kembar itu pun menangis tersedu-sedu hingga tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar.
"Raka?" gumam Naura saat melihat sang suami yang datang.
"Sayang," panggil Raka lirih, ia segera menghampiri Naura dan memeluknya dengan erat dan seketika tangis Naura semakin pecah. Raka mengecup kepala istrinya itu berkali-kali, berharap itu bisa sedikit menenangkan sang istri.
"Nggak apa-apa, Ra, mungkin Tuhan lebih sayang sama anak kita, makanya dia dipanggil lebih dulu," kata Raka dengan lembut, ia sudah mendapatkan kabar dari sang ibu bahwa Naura keguguran. "Ini bukan akhir dari hidup kita, Sayang. Masa depan kita masih panjang dan kita pasti akan dikaruniai anak-anak yang lucu dan pintar," tukasnya sembari menghapus air mata sang istri.
Naura melirik Nayra dan Dokter, ia menggeleng pelan, memberi isyarat agar tak memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hal itu membuat Nayra semakin bersalah, ia pun segera mendorong kursi rodanya keluar dari kamar Naura, Dokter pun mengikutinya dari belakang sehingga kini di ruangan itu hanya ada Naura dan suaminya.
Nayra tahu ini salahnya, tapi ia bisa apa? Semua sudah terjadi, waktu tak bisa diputar, yang hilang tak bisa dikembalikan.
...🦋...
4 bulan kemudian
Nayra yang saat ini sedang bersiap-siap kembali ke kampusnya tiba-tiba di datangi oleh Naura. Hal itu membuatnya cukup terkejut karena setelah tragedi malam itu Naura menjaga jarak dari Nayra, wanita itu seolah memusuhi Nayra karena menganggap hidupnya hancur karena Nayra. Sementara Nayra hanya bisa pasrah, apalagi sikap orang tuanya juga berubah setelah kecelakaan itu, seolah mereka masih sangat kecewa pada Nayra.
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, Nay," kata Naura.
"Silakan," sahut Nayra sembari memasukan beberapa bukunya ke dalam tas.
"Mertuaku selalu bertanya apakah aku sudah hamil atau nggak, mereka bahkan menyuruhku berkonsultasi ke Dokter kandungan kemudian melakukan program hamil."
Mendengar ungkapan kakaknya, Nayra langsung menghela napas berat kemudian berkata, "Maafin aku, Ra, aku tahu itu salahku tapi aku juga nggak bisa apa-apa."
"Sekarang kamu bisa menebus dosamu itu, Nay," ucap Naura yang seketika membuat kening Nayra berkerut dalam. "Asal kamu mau melakukan yang aku minta, aku akan maafin kamu," imbuhnya.
"Kamu mau aku melakukan apa, Ra?" Nayra bertanya dengan pasrah.
"Jadi istri Raka sampai kamu hamil dan melahirkan!"
Nayra terhenyak mendengar permintaan sang kakak, bahkan ia menahan napas selama berapa saat. Namun, kemudian Nayra tertawa kecil, menganggap Naura sedang bercanda. "Nggak lucu candaan mu, Ra," ujar Nayra.
"Kamu fikir aku bercanda, huh?" desis Naura tajam yang seketika membuat raut wajah Nayra kembali tegang. "Aku nggak mungkin bilang sama Raka dan mertuaku kalau aku nggak bisa hamil, Nay, apa kata mereka nanti?"
Nayra bergeming, mencoba mencerna apa yang sebenarnya diinginkan oleh Naura. "Aku mohon, Nay, kamu gantiin posisi aku sebagai istri Raka. Kita kembar identik, nggak akan ada yang tahu kalau kamu bukan aku. Saat kecil kita sering melakukan ini, kan?" desak Naura yang membuat Nayra semakin tercengang.
"Hanya sampai kamu punya anak, Nay, cuma satu anak," ucap Naura penuh penekanan.
"Kamu gila, Ra?" desis Nayra kemudian. "Ini nggak akan jadi bertukar peran seperti waktu kita masih kecil, Ra, ini berbeda. Dan bagaimana bisa kamu meminta adikmu ini pura-pura menjadi istri suami kamu?"
"Nggak ada jalan lain, Nayra! Aku nggak mau jadi istri yang nggak berguna, dan cuma kamu yang bisa membuat aku tetap sempurna di mata mereka!"
"Tapi apa harus dengan bertukar peran, Ra? Aku nggak mau dan aku nggak bisa!"
"JANGAN LUPA SIAPA YANG MEMBUAT HIDUPKU HANCUR, NAYRA!"
Tiba-tiba Naura berteriak, mengingatkan Nayra pada dosanya 4 bulan yang lalu. Seketika tubuh Nayra terjatuh lemas ke lantai, ia kembali mengingat tragedi yang membuat hidup suadara kembarnya hancur.
"Aku mohon, Nayra. Cuma kamu yang bisa bantu aku, kasihani aku, Dek," lirih Naura menurunkan nada bicaranya. "Kasihani Raka, dia anak tunggal, cuma dia yang bisa memberikan pewaris untuk keluarganya."
Nayra mengangkat wajahnya, ia menatap Naura yang kini berjongkok di depannya. "Okay, tapi dengan program bayi tabung," ucap Nayra dengan lirih tapi Naura menggeleng.
"Nggak, Ra. Aku mau kamu hamil normal, aku harus bilang apa sama Raka kalau kita harus program bayi tabung." Nayra semakin terhenyak mendengar penolakan Naura akan idenya.
"Kamu mau aku ... aku hamil dengan normal?" lirih Nayra tak percaya.
"Iya, harus! Semuanya harus terlihat normal, Ra. Itu akan membuat mereka bahagia!"
"Nggak mau, Naura! Aku nggak mau!" tolak Nayra mentah-mentah, ia sungguh tak habis pikir apa yang ada dalam otak kakaknya itu sampai menginginkan hal gila seperti ini.
Namun, tiba-tiba Naura memecahkan vas bunga kemudian ia mengambil pecahan vas itu dan mengarahkan ke lehernya sendiri yang membuat Nayra panik. "Naura! Jangan gila kamu!" seru Nayra.
"Lebih baik aku mati dari pada hidup tapi menjadi wanita yang nggak sempurna, Nayra!" Naura sudah menorehkan beling itu ke lehernya tapi dengan cepat Nayra merebut benda tajam itu.
"Okay, Naura! Akan aku lakukan yang kamu mau," ucap Nayra dengan begitu pasrah, hatinya terasa sesak dan sakit saat ia memberikan jawaban ini. Namun, mungkin inilah cara dia menebus dosanya pada Naura. Dengan mengorbankan dirinya sendiri.
...🦋...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Nesya Yanuar
gmn sih si naura ini, kl proses hamil scr alami, sdh tentu raka hrs bersetubuh sm nayra, dan dgn begitu apa raka gk malah curiga kl yg dia tiduri itu bkn istrinya, krn faktanya si nay masih perawan. raka jg pasti bkn org bodoh yg tdk bs membedakan rasa nya kan.
2025-03-15
1
Lilo Stitch
makanya klu lg hamil trs dilarang sama suami jgn keluar rumah ya di dengerin, jgn keras kepala. suami melarang pasti kek ada firasat.
2025-03-19
0
sherly
astaga ngk gt juga kali solusinya Naura, itu namanya egois nyuruh nay zinaa Ama Raka... Trus bian gimana, hrsnya bicara aja dgn Raka
2023-08-08
0