Raka menatap mata Nayra dengan intens dan dalam kemudian berkata, "Aku mencintaimu dan akan aku buat kamu juga mencintaiku, Nayra."
Nayra tertawa sumbang melihat tekad di mata Raka, dia merasa terjebak di antara obsesi Naura yang ingin terlihat sempurna dan Raka yang tiba-tiba mengaku mencintainya.
"Raka, hidupku sudah kacau sejak kecelakaan itu. Sikap orang tuaku berubah seakan mereka juga menyalahkan aku atas keguguran Naura. Naura juga berubah, dia memusuhi aku. Dan sekarang kamu ingin membuat hidupku lebih kacau?" Nayra menatap mata Raka dengan nanar.
"Nggak, Sayang, aku nggak mau hidup kamu kacau karena itulah aku ingin menikahi kamu," ungkap Raka dengan tulus dan serius.
"Lalu bagaimana dengan Naura dan Bian?" desis Naura.
"Aku akan menceraikan Naura dan kamu harus membatalkan pertunanganmu dengan Bian," jawab Raka dengan lugas tanpa beban sedikitpun.
Nayra beranjak dari ranjang, dia menatap Raka dengan tajam sambil menggelengkan kepala. "Aku cuma perlu melahirkan satu anak untuk kalian setelah itu aku nggak mau punya hubungan apapun lagi dengan lain," tegas Nayra setelah itu dia keluar dari kamar Raka. Pria itu tak mencegahnya, dia justru menahan senyum sambil menatap kepergian Nayra. Sementara Nayra segera pergi ke kamar tamu dan dia tidur di sana.
🦋
Nayra tentu tak bisa memberi tahu kakaknya tentang apa yang dikatakan Raka, atau Naura bisa membunuhnya. Yang bisa Nayra lakukan saat ini adalah berusaha menghindari Raka, dia merasa malu karena sudah ketahuan menipu Raka sekaligus dia juga marah atas ungkapan cinta Raka.
Seperti pagi ini, dia enggan keluar dari kamar tamu karena dia tak mau bertemu dengan Raka, apalagi sekarang hari minggu dan pria itu takkan pergi ke mana-mana. Tapi entah kenapa Nayra justru merasa merindukan Raka yang pasti selalu memeluk dan menciumnya setiap pagi.
"Ck, pasti bawaan anaknya neh," gumam Nayra sambil memegang perutnya yang masih rata. Tiba-tiba Nayra juga ingin makan salad yang pernah dibelikan oleh Raka tetapi Nayra mencoba menahan keinginannya itu.
Sementara di luar, Bi Jum dan Bi Siti merasa aneh karena Nayra tak kunjung ke dapur sementara biasanya wanita itu sudah ada di dapur pagi-pagi, entah untuk membantu menyiapkan sarapan atau menyiapkan jus buah untuk Raka.
"Tuan, apa Nyonya Naura sakit?" tanya Bi Jum saat Raka turun dari kamarnya. "Tumben jam segini belum keluar dari kamar," tambahnya.
"Nggak kok, Bi. Nyonya lagi ngambek," jawab Raka sambil terkekeh. "Sekarang dia lagi ada di kamar tamu, tapi jangan antarkan makanan sampai dia keluar sendiri." Bi Jum melongo mendengar ucapan Raka tapi ia tetap patuh pada perintah bossnya itu. "Buatkan aku kopi ya, Bi," titah Raka kemudian sembari berjalan menuju ruang keluarga.
Raka melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Raka yakin sebentar lagi Nayra pasti keluar dari kamar tamu. Dan benar saja, tak lama kemudian wanita itu keluar, Nayra yang menyadari ada Raka di ruang keluarga, dia berjalan pelan-pelan menuju dapur seolah takut Raka menyadari kehadirannya.
"Bi, ada makanan apa?" tanya Nayra setengah berbisik sambil memegang perutnya yang sudah lapar.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Raka yang entah sejak kapan sudah ada di belakang Nayra, wanita itu terperanjat dan dia langsung menoleh. Raka langsung menyambutnya dengan senyum manis.
"Nggak, nggak lapar," ketus Nayra. Awalnya dia canggung saat Raka memanggilnya sayang, tetapi perlahan ia mulai terbiasa karena status Nayra di mata Raka adalah Naura. Akan tetapi, setelah Nayra tahu ternyata Raka sudah menyadari bahwa dia adalah Nayra, wanita itu menjadi kembali canggung dan salah tingkah.
"Oh ya? Kamu nggak ngidam sesuatu?" tanya Raka sembari berjalan mendekati Nayra, sontak wanita itu langsung melangkah mundur.
"Nggak," jawab Nayra yang tentu saja berbohong, saat ini dia benar-benar ingin makan salad buah yang pernah Raka belikan, tapi Nayra malu untuk bertanya di mana pria itu membelinya.
"Beneran? Orang hamil biasanya ngidam, Sayang," kata Raka yang masih mencoba mendekati Nayra.
"Aku mau mandi," ucap Nayra kemudian ia seger berjalan melewati Raka yang hanya terkekeh melihat tingkah Nayra yang seperti gadis remaja saat diganggu badboy di sekolah.
🦋
Satu-satunya cara untuk menghindari Raka hari ini adalah dengan pergi ke butik Naura, maka Nayra pun diam-diam pergi ke butik saat Raka sedang mandi.
Sesampainya di butik, Nayra langsung disambut dengan tatapan dingin Naura yang sudah ada di butik sejak tadi. Naura merasa sakit hati dengan apa yang dikatakan Nayra tadi malam, padahal Naura melakukan semua itu dengan sangat terpaksa.
Sementara Nayra justru merasa bersalah pada Naura apalagi setelah mengingat ungkapan cinta Raka padanya, dia tidak tega jika harus melihat Naura kehilangan suaminya setelah dia kehilangan anak bahkan rahimnya.
"Ra?" bisik Nayra sambil melirik pegawai butik yang sibuk melayani para pelanggan. "Aku mau bicara sesuatu," ucapnya.
"Apa? Mau menceramahi aku lagi?" sinis Naura yang membuat sang adik langsung menghela napas berat, Nayra pun menarik paksa Naura ke ruang kerjanya.
"Apa lagi, Nay?" desis Naura sembari menghempaskan tangan Nayra saat mereka sudah ada di ruang kerja Naura.
"Kamu jangan marah sama aku," ucap Nayra dengan lembut. "Aku minta maaf karena sudah membuat kamu tersinggung," imbuhnya dengan begitu rendah hati. "Aku cuma mau bilang kalau setelah melahirkan nanti aku akan pergi dari hidup kalian semua, jadi kamu nggak perlu mengkhawatirkan apapun." lanjutnya. Seketika pupil mata Naura melebar, dia menatap adik kembarnya itu dengan dalam.
"Benaran, Nay?" tanya Naura ingin memastikan, Nayra hanya bisa mengangguk dan seketika Naura memeluknya dengan erat. "Terima kasih, Nay," ucapnya sambil tersenyum.
Pergi? Entah kenapa hati Nayra terasa sakit membayangkan dia akan pergi meninggalkan Raka dan anak yang akan dia lahirkan nanti, tetapi Nayra yakin ini adalah yang terbaik untuk semuanya.
Sementara di sisi lain, Raka merasa kesal saat menyadari lagi-lagi Nayra pergi tanpa izinnya. Pria itu tahu Nayra pasti pergi ke butik, oleh karena itu Raka segera melajukan mobilnya ke sana untuk menjemput sang istri.
Sesampainya di butik, Raka langsung masuk ke ruang kerja Naura dan dia mendapati si kembar yang sedang mengobrol. Baik Naura apalagi Nayra merasa sangat terkejut melihat kedatangan Raka yang tiba-tiba, apalagi tatapan pria itu terlihat tajam.
"Ada apa?" tanya Naura. Namun, Raka enggan menjawab pertanyaan wanita yang sebenarnya adalah istrinya itu, ia justru menarik Nayra dengan paksa.
"Raka, ada apa?" tanya Nayra bingung.
"Pulang," jawab Raka singkat.
"Tapi—"
Raka masih menyeret paksa Nayra tanpa mau mendengarkan pertanyaan wanita itu, sementara Naura hanya bisa menatap suaminya itu dengan bingung. "Apa mereka bertengkar?" gumam Naura.
Raka memaksa Nayra masuk ke dalam mobil, setelah itu ia menyusul kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Ada apa sih? Kamu nggak liat aku lagi bantuin Naura di butik?" ketus Nayra kesal.
"Mulai sekarang kamu nggak boleh dekat-dekat sama Naura apalagi ngobrol berdua begitu," tukas Raka yang membuat Nayra terperangah.
"Kamu gila ya? Apa hak kamu melarang aku dekat sama saudara aku sendiri?" sinis Nayra.
"Pokoknya nggak boleh, Sayang, nanti Naura pasti menghasut kamu supaya kamu pergi ninggalin aku," seru Raka yang membuat Nayra menganga, ia tercengang sebelum akhirnya ia tertawa hambar.
"Raka, aku sudah memutuskan sendiri kalau aku akan pergi setelah melahirkan anak ini. Keputusan aku sudah bulat!" tegas Nayra.
"Nggak boleh, Nayra! Aku nggak mau kamu pergi, biar Naura yang pergi. Aku akan segera menceraikan dia!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Nila
posesif tapi lemah lembut
bisa mengendalikan emosi
mungkin ini yang nama nya dewasa
2022-11-23
3
Ambu Bagas😘😘😘
Simalakama
2022-11-20
0
Nanda Lelo
wes angel iki
2022-11-12
0