Nayra enggan berbicara dengan Raka apalagi berdebat dengan pria itu, ia juga lebih memilih tinggal di kamar tamu agar bisa menghindari Raka. Namun, pria itu tak mau ambil pusing, bahkan dia tak mencoba membujuk Nayra ketika Nayra enggan sarapan atau makan malam bersama. Raka juga melarang kedua pelayannya mengantarkan makanan untuk Nayra karena ia ingin Nayra keluar dengan sendirinya, dan benar saja, wanita itu keluar ketika merasa lapar. Nayra juga tak mungkin menahan lapar karena ia takut membahayakan bayi dalam kandungannya.
Seperti pagi ini, Nayra makan dengan lahapnya di dapur setelah ia mengira Raka sudah pergi ke kantor, apalagi sekarang memang sudah jam 10.
Akan tetapi, pria yang sudah ia kira pergi itu ternyata sejak tadi berdiri di ambang pintu, bersandekap dada sambil memperhatikannya. Raka mengulum senyum saat melihat betapa lahapnya calon ibu dari anaknya itu saat makan.
"Enak, Sayang?" tanya Raka sambil berjalan mendekati Nayra, wanita itu langsung mengangkat wajahnya dan seketika dia langsung memasang wajah masam saat tatapannya bertemu dengan tatapan Raka.
Tanpa menjawab, Nayra melanjutkan makannya. Raka pun duduk di kursi yang ada di depan Nayra, ia menatap wanita itu secara terang-terangan membuat Nayra berdecak kesal.
"Aku mau kita segera menikah," kata Raka yang membuat Nayra langsung tersedak, dengan santainya Raka menyodorkan air pada Nayra, tetapi wanita itu enggan menerimanya.
"Kamu gila?" pekik Nayra.
"Aku sudah mengurus surat ceraiku dengan Naura bahkan sekarang mungkin Naura sudah menerimanya," tukas Raka dengan santainya yang membuat Nayra terperangah.
...🦋...
Naura yang saat ini sudah siap pergi ke butik seperti biasa dibuat terkejut karena tiba-tiba ada seorang kurir yang datang memberikannya sebuah paket, kedua alis Naura bertaut saat membaca surat itu dari pengadilan.
Dengan tergesa-gesa ia segera membuka map berwarna cokelat itu dan seketika tubuh Naura limbung, hampir saja dia terjerembab ke lantai tetapi ia berpegangan pada pintu. Darah Naura terasa membeku, detak jantungnya seolah berhenti saat ia membaca surat perceraian dari Raka.
Bu Irna yang melihat Naura langsung menghampirinya. "Ada apa, Nay?" tanya Bu Irna.
Naura menoleh dan Bu Irna langsung mengernyit bingung melihat putrinya itu tiba-tiba menangis histeris. "Mama?" jerit Naura dengan pilu.
"Nay, ada apa?" tanya Bu Irna sembari memegang pundak Naura, mengguncang tubuh wanita itu yang menangis histeris.
"Raka, Ma, dia ... dia ...." Naura tak sanggup berkata-kata, dia hanya bisa menangis sementara Bu Irna hanya bisa menatap Naura dengan bingung.
"Raka kenapa, Nay? Kamu bicara apa sih?" tanya Bu Irna. Naura menyerahkan surat cerai yang dikirim dari pengadilan untuknya, Bu Irna bingung karena surat itu untuk Naura tapi kenapa dikirim ke Nayra?
Bu Irna terbelalak saat membaca surat cerai yang bahkan sudah ditandatangani oleh oleh Raka, wanita paruh baya itu menatap Naura dan surat cerai itu secara bergantian, hingga akhirnya dia menyadari sesuatu.
"Naura?" panggilnya dengan suara gemetar.
"Iya, Ma, ini aku," lirih Naura sesegukan.
"Bagaiamana bisa?" gumam Bu Irna tak percaya, ia menatap Naura yang kini menangis tersedu-sedu. "Naura, kenapa kamu ada di sini?" Bu Irna mengguncang tubuh Naura, tatapannya begitu tajam menatap putrinya itu.
"Maafin aku, Ma, aku ... aku terpaksa bertukar peran sama Nayra," lirih Naura.
"Jadi selama ini?"
...🦋...
"Kamu gila, Raka! Kamu benar-benar gila!" teriak Nayra marah pada pria itu, dia sudah menangis, entah karena takut, merasa bersalah juga bingung.
"Ini adalah keputusan yang terbaik, Nayra!" seru Raka dengan tegas. Perdebatan mereka sudah berjalan sejak beberapa menit yang lalu, Nayra bahkan merasa kesulitan bernapas saat mendengar pengakuan Raka yang benar-benar sudah bertekad untuk menceraikan Naura.
"Terbaik apanya? Terbaik buat kamu, huh?" jerit Nayra histeris. Bi Jum dan Bi Siti sampai menjauh dari dapur karena pertengkaran Raka dan Nayra semakin menjadi. Mereka berdua juga terkejut sekaligus bingung karena Raka memanggil nama Nayra, bukan Naura.
"Aku punya kehidupan sendiri, Raka! Kenapa kamu benar-benar egois?" geramnya.
"Kehidupan yang mana, Nayra? Kehidupanmu bersama Bian? Apa menurutmu dia mau menerima kamu setelah kamu hamil anakku?" desis Raka yang seketika membuat Nayra bungkam. "Kamu yakin dia mau menerima kamu setelah dia tahu kamu sudah berselingkuh denganku? Kamu menipunya, Nayra!"
Air mata Nayra semakin deras mendengar kata-kata menohok Raka, dia menjerit frustasi hingga akhirnya terdengar suara keributan dari luar.
Rupanya Bu Irna dan Naura berusaha masuk ke dalam rumah tetapi Bi Jum berusaha mencegah karena Raka sedang bersitegang dengan istrinya.
"Non Nayra jangan masuk dulu, tuan Raka lagi ada masalah sama istrinya. Nggak enak, Non," kata Bi Jum.
"Istrinya?" geram Naura sambil mendorong Bi Jum hingga wanita paruh baya itu hampir saja terjungkal. "Aku istrinya, Bi. AKU NAURA!" teriak Naura histeris yang membuat Bi Jum terbelalak, mulut wanita yang sudah mulai keriput itu menganga lebar.
Naura pun segera masuk dengan diikuti oleh Bu Irna, bersaman dengan itu, Nayra dan Raka juga keluar dari dapur.
Wajah si kembar itu sama-sama basah karena air mata, tetapi tatapan mereka berbeda. Nayra terlihat sedih dan terluka, sementara Naura terlihat marah dan penuh dendam.
"Nayra, tega kamu merebut Raka dari aku!" teriak Naura sambil berjalan cepat, ia hendak menyerang wanita malang itu tetapi beruntung karena Raka dengan sigap memasang badan untuk Nayra.
"Jangan berani menyakitinya, Naura!" bentak Raka yang membuat hati Naura terasa diremas, dia menatap suaminya itu dengan nanar.
"Raka, Sayang," lirih Naura. "Kamu sudah tahu kalau dia Nayra?" cicitnya.
"Iya, aku sudah tahu, sejak awal aku sudah tahu bahwa yang bersamaku adalah Nayra," jawab Raka tanpa ragu.
"Jadi kalian selingkuh selama ini?" geram Bu Irna, dia menatap Nayra seolah ingin menghabisi putrinya itu. "Tega sekali kamu merebut suami Kakakmu sendiri, jahat kamu!" seru Bu Irna.
"Ma, ini nggak seperti yang mama fikirkan," ucap Nayra dengan suara yang gemetar.
"Nggak usah membela diri, Nayra!" seru Naura "Kamu adalah manusia terburuk yang ada di dunia ini, kami keji! Kamu merebut suamiku!" jerit Naura dengan emosi yang meluap. Tangis Nayra semakin pecah, dia hanya bisa menggeleng lemah mendengar tuduhan itu.
"Jaga bicara kamu, Naura!" sentak Raka dengan suara lantang.
"Kenapa harus Naura yang menjaga bicaranya?" sambung Bu Irna yang juga terbakar amarah dalam jiwanya. "Anakku yang malang," gumam Bu Irna sambil merangkul Naura.
"Kamu benar-benar jahat, Nayra!" kini tatapannya tertuju pada Nayra yang di rangkul oleh Raka.
"Mama?" Suara Nayra terdengar pilu dan bergetar, air mata berderai begitu deras, Nayra sungguh kehabisan kata-kata untuk membela diri.
"Kamu itu tak ubahnya seperti seorang pelacur yang merebut suami saudaramu sendiri, Mama menyesal telah melahirkan kamu, Nayra!" tangis Nayra semakin pecah mendengar makian dari sang ibu, hatinya sesak dan sakit, seperti ada ribuan tombak yang menghunus jantungnya berkali-kali.
Raka pun merasa sangat marah mendengar kata-kata yang begitu tajam dan tak pantas yang diucapkan oleh seorang ibu pada putri kandungnya sendiri, pria itu mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras.
"Jangan bicara sembarangan, Ma!" tegur Raka sambil merangkul tubuh Nayra yang bergetar karena tangis, wanita itu bahkan merasa sekarang mendengar ucapan sang ibu yang begitu menohok. Nayra ingin membantah segala tuduhan ibu dan saudaranya, tetapi ia tak mampu untuk bersuara. Untuk bernapas saja rasanya begitu sulit.
"Nayra adalah wanita terhormat dan dia sangat pantas dilahirkan ke dunia ini, karena bagiku dia adalah anugerah," desis Raka dengan tajam.
Hati Naura semakin sakit mendengar kata-kata manis Raka untuk Nayra, jiwanya semakin terbakar api cemburu dan amarah, begitu juga dengan Bu Irna yang semakin kecewa pada Nayra.
"Kamu wanita keji, Nayra!" seru Naura, ia sudah melangkah untuk menyerang Nayra kembali tetapi lagi-lagi dengan sigap Raka melindunginya. Bahkan, dia mendorong Naura hingga wanita itu hampir saja terjungkal tapi Bu Irna langsung menangkap tubuh Naura.
Tangis Nayra semakin menjadi, saat ini dia tak mampu berfikir. Yang bisa dia rasakan hanya sakit dan sakit di dadanya. "Raka?" geram Naura penuh kekecewaan karena sang suami lebih memilih membela Nayra.
"Kamu yang keji, Naura!" teriak Raka dengan lantang juga penuh emosi. "KAMU YANG MENGIRIM NAYRA PADAKU UNTUK MENGANDUNG ANAKKU KARENA KAMU SENDIRI NGGAK BISA HAMIL, IYA KAN!"
...🦋...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
sherly
OMG Raka... keren banget deh bela nay sampai kayak gt...
2023-08-08
0
Juan Sastra
raka aku padamu,,biarkan ibu irna menangis kejer dengan pwnyesalan yg teramat dalam setelah tau jika naura iblis berwujud manusia
2023-01-01
0
ayu_indrian
iihhh karyamu bagus thor.. suka sama karakter cowoknya gk menye2,, alurnya sat set sat set.. gk mbulet kyok mbako susorr😅😅 biasnya q baca di pertengahan kalau udah critanya bulet+ karakter pemeran ya lemah.. maless.. langsung kaborrrr,,sejauh ini karyamu to the best😘😘😘 semngat thor
2022-12-31
0