Bian yang saat ini sedang ada di apartementnya dikejutkan dengan kehadiran Naura, apalagi wanita itu tampak kacau. "Ada apa, Sayang?" tanya Bian.
Bukannya menjawab pertanyaan tunangan adiknya itu, Naura justru berhambur ke pelukan Bian kemudian ia mencium pria itu dengan intens. Bian terpaku, serangan Naura terlalu tiba-tiba sehingga itu membuatnya tak berkutik. Namun, Naura yang terus melancarkan cumbuannya akhirnya membuat gairah Bian terpancing. Meskipun ada sedikit kebingungan dalam diri Bian akan tingkah agresif Naura, akan tetapi gairahnya yang sudah berada di ubun-ubun membuat Bian tak sanggup lagi berfikir jernih. Sebagai lelaki normal, Bian tak bisa menolak gairah yang menggebu seperti ini.
Bian membawa Naura ke kamarnya, tanpa berfikir dua kali ia memberikan kenikmatan surgawi pada wanita yang ia kira tunangannya itu. Sementara Naura pun begitu pasrah menyerahkan dirinya pada tunangan sang adik, ini adalah caranya melampiaskan rasa cemburu pada Nayra dan Raka.
🦋
Kehamilan istri Raka alias hadirnya sang calon pewaris keluarga Aditya sangat diharapkan, sehingga tak heran jika setelah kabar kehamilan itu Nayra dihujani dengan perhatian oleh Raka dan kedua orang tuanya. Cinta yang Raka tunjukkan semakin hari semakin besar, bahkan hal itu membuat hati Nayra mulai goyah.
Saat ini Nayra sedang berada di dalam kamar mandi, ia menatap pantulan dirinya di cermin sambil mengusap perutnya yang masih rata. Ia sungguh tak menyangka di rahimnya sedang tumbuh benih dari Kakak iparnya sendiri, jika ada yang bertanya bagaimana perasaan Nayra, maka wanita itu tidak akan pernah menjawab karena ia sendiri tidak tahu seperti apa perasaannya sekarang. Sedih, bahagia, terharu, tapi juga takut.
Raka menghampiri Nayra dan lagi-lagi pria itu langsung memeluk Nayra dari belakang, Nayra hanya tersenyum saat Raka mencium pundaknya kemudian mengusap perutnya dengan lembut. "Kamu mau anak cewek atau cowok, Sayang?" tanya Raka berbisik di telinga Nayra, membuat wanita itu meremang saat merasakan hembusan napas hangat Raka di telinganya.
"Apapun yang Tuhan kasih." Jawaban Nayra itu berhasil membuat Raka tersenyum.
"Mama ada di bawah, katanya dia bawa hadiah buat kamu." Raka memutar tubuh Nayra hingga menghadapnya.
"Hadiah apa lagi? Baru tadi pagi Mama ngirimin perhiasan," kata Nayra.
"Nggak tahu, ayo turun," ajak Raka. Nayra pun pasrah saat Raka menggandeng tangannya turun, menemui Bu Susmita yang sudah menunggu.
"Hai, Sayang," sapa Bu Susmita, ia memeluk dan mencium Nayra seperti biasa. "Kata Raka malam ini kalian mau ke pesta, jadi Mama bawakan gaun, tas sama sepatu yang matching banget sama perhiasan yang tadi Mama kasih," ujar Bu Susmita panjang lebar. Malam ini Raka dan Nayra memang diundang ke pesta ulang tahun perusahaan rekan kerja Raka yang bernama Pak Wibowo.
Sebenarnya Raka tak ingin datang karena Nayra masih mual-mual dan masih lemah, akan tetapi Pak Wibowo mengundangnya dengan khusus sehingga Nayra pun memaksa Raka untuk datang.
"Astga, Ma," gumam Nayra. "Padahal gaun di lemari itu masih banyak banget yang baru, apalagi sepatu," tambahnya.
"Ya nggak apa-apa dong beli lagi, menantu Mama harus selalu tampil sempurna." Raka yang mendengar ucapan ibunya itu hanya bisa mengulum senyum, beda halnya dengan Nayra yang justru meringis.
"Oh ya, kalian jangan pulang terlalu malam dari pesta, perhatikan juga apa yang kamu makan, okay?" Nayra hanya mengulum senyum sambil mengangguk pelan.
...🦋...
Raka menggandeng tangan Nayra memasuki ballroom hotel, mereka terlihat sangat serasi, tampan dan cantik. Apalagi gaun yang di kenakan oleh Nayra adalah gaun mahal yang tak bisa dibeli oleh semua orang, jangan lupakan juga perhiasannya yang membuat semua mata tertuju padanya.
Pak Wibowo menyambut mereka dengan hangat kemudian mempersilakan mereka bergabung dengan para tamu VIP lainnya. Nayra sangat terkejut melihat ada Bian juga Naura di pesta itu, sementara Naura tidak terlihat terkejut karena dia sudah tahu Raka pasti diundang.
Bian menyapa Raka dengan ramah seperti biasa, setelah itu Bian menyapa Nayra bahkan mengucapkan selamat atas kehamilannya. "Selamat ya, Ra, aku ikut senang saat mendengar kamu hamil," kata Bian dengan senyum tulusnya yang membuat hati Nayra mencelos.
Ia tak mampu berkata-apa, yang bisa ia lakukan ia hanya melempar senyum kaku pada tunangannya yang sudah ia khianati.
"Terima kasih, Bian," kata Raka. "Aku harap kalian segera menyusul," imbuhnya yang membuat Bian terkekeh. Ia merangkul Naura dan menatap wanita itu dengan lembut.
"Kami akan segera membicarakan pernikahan," ucap Bian apalagi ia dan Naura sudah tidur bersama, hal itu membuat Bian semakin tak sabar untuk segera menikahi tunangannya.
"Harus disegerakan," ujar Raka, dia merangkul pinggang Nayra dengan begitu posesif seolah Raka takut Nayra hilang.
Pemandangan itu membuat Naura semakin terbakar api cemburu, apalagi ketika tanpa ragu Raka mengecup pelipis Nayra di depan mereka semua. Nayra hanya bisa bisa menggigit bibirnya dan meremas gaunnya karena ia terlalu gugup, apalagi tatapan tajam Naura yang seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
Raka, Bian dan Pak Wibowo mengobrol tentang jalannya pekerjaan mereka masing-masing. Mereka juga memuji bakat melukis yang dimiliki oleh Bian, bahkan ada seorang kolektor dari luar negeri yang rela mengeluarkan jutaan dollar demi satu lukisan Bian yang memang sangat indah dan memukai.
Tatapan mata Naura tak bisa lepas dari tangan Raka yang terus bertengger di pinggang Nayra, membuat Nayra merasa tak nyaman.
"Raka, aku mau duduk," ujar Nayra kemudian untuk menjauh dar Bian dan Naura.
"Iya, Sayang," sahut Raka. Ia pun membawa Nayra ke sebuah kursi. "Maaf, aku lupa kalau kamu lagi hamil dan nggak boleh kelelahan," ringis Raka sambil mengecup punggung tangan Nayra dengan mesra.
"Nggak apa-apa kok," ucap Nayra sembari menarik tangannya dari Raka karena ia tahu Naura masih mengawasi mereka, akan tetapi Raka justru menarik kedua tangan Nayra kemudian mengecup kedua punggung tangannya itu bergantian. "Raka, malu dilihatin orang," tegur Nayra berbisik.
"Kenapa malu? Kamu kan istri aku," kekeh Raka yang membuat Nayra hanya bisa meringis.
"Em ... Aku mau ke belakang dulu," kata Nayra kemudian.
"Aku antar," seru Raka.
"Astaga, Raka," geram Nayra kesal. "Aku bisa sendiri, mending kamu temui Pak Wibowo tuh," tambahnya. Nayra pun segera bergegas ke toilet wanita.
Naura segera mengikuti Nayra ke toilet, hal itu membuat Nayra sedikit terkejut. "Ha-hai, Ra," sapa Nayra dengan begitu gugup.
Alih-alih menjawab sapaan sang adik, Naura memandangi penampilan Nayra dari atas hingga bawah. "Enak banget punya mama mertua seperti Mama Susmita ya, Nay," sinis Naura sambil tersenyum miring.
"Iya, kamu beruntung banget karena mereka semua sayang dan perduli sama kamu, Ra," jawab Nayra dengan senyum tulus karena ia memang merasa Naura sangat beruntung.
"Hem," sahut Naura dingin. "Oh ya, aku harap kamu nggak marah karena aku sama Bian juga udah tidur bareng."
"Apa?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
sherly
geser nih otak si naura
2023-08-08
0
Juan Sastra
jadi dua duanya zina,,
dan bian apa ggak tahu yg masih virgin atau ggak..kok ggak nanya gitu,,kan kalau nayra ggak mungkin kayak gitu.
2023-01-01
0
Ambu Bagas😘😘😘
Wahhh..Dah Saling Cicip saja😬😬😬
2022-11-20
0