Raka menghampiri Nayra yang saat ini sedang berada di dapur, pria itu langsung memeluk Nayra bahkan mencium pundak Nayra berkali-kali membuat Nayra terperanjat.
"A-ada apa?" tanya Nayra gelagapan.
"Hari ini kamu mau ke butik, Sayang?" Raka membalik badan Nayra sehingga wanita itu kini menghadapinya.
"He'em," jawab Nayra hanya menggumam.
"Jangan dulu, kamu istirahat di rumah, okay? Hari ini aku juga nggak mau kerja, tapi aku harus menemui seseorang sebentar," tukas Raka. Lagi-lagi Nayra hanya mengangguk patuh, apalagi ia memang merasa tidak badan dan ingin istirahat, mungkin karena apa yang terjadi tadi malam.
"Ya udah, aku pergi dulu." Raka mencium kening dan kedua pipi Nayra dengan semangat, sementara Nayra hanya bisa mengulum senyum.
Sementara di sisi lain, Naura sedang bersiap-siap pergi ke butik, ia berdandan dan berpakaian seperti Nayra akan tak ada yang curiga padanya. Sebelum pergi, Naura menyalakan kembali ponselnya, ada satu pesan dari Nayra. Ia segera membukanya dan seketika air mata menetes begitu saja.
Nayra memberi tahu Naura dia sudah melakukan apa yang Naura mau. "Nggak apa-apa, nggak apa-apa," gumam Naura sembari menyeka air matanya, ia mencoba menguatkan hatinya yang seketika terasa begitu perih.
Naura pun segera menghubungi Nayra, tak butuh waktu lama panggilan pun sudah terjawab. Namun, tak ada suara. Naura pun tak tahu harus berkata apa pada sang adik. Selama beberapa saat, keduanya sama-sama diam seolah saling menunggu siapa yang akan bersuara lebih dulu. Hingga akhirnya Naura mengalah.
"Terima kasih, Nay," lirih Naura.
"Aku mau ketemu Bian, Ra." Suara Nayra terdengar bergetar.
"Okay, aku juga mau ketemu Raka. Apa dia sudah ke kantor sekarang?"
"Dia bilang nggak akan ke kantor hari ini, tapi sekarang dia pergi sebentar katanya, dia memintaku tetap di rumah."
"Baguslah."
🦋
Bian sedang fokus menggambar sebuah pemandangan yang sangat indah, sebuah danau yang tenang dan ada sebuah rumah di pinggir danau tersebut. Di halaman rumah, tergambar seorang gadis yang sedang merenung.
Saat asyik memainkan kuas di atas kanvas, tiba-tiba pintu ruang kerja Bian terbuka, membuat pria itu terkejut dan ia sudah bersiap memaki orang tersebut karena sudah mengacaukan konsentrasinya. Akan tetapi kemarahan Bian langsung berubah menjadi keceriaan saat ia melihat yang datang adalah Nayra.
"Sayang, kok tumben ke sini nggak bilang dulu," kata Bian sambil melempar senyum hangatnya. Yang datang memang Nayra, tunangan Bian. Wanita itu melangkah cepat dan lebar kemudian ia berhambur ke pelukan sang kekasih.
"Bian, aku kangen," rengek Nayra manja. "Aku sangat mencintai kamu, Bian. Sangat." Nayra berkata penuh penekanan yang membuat Bian justru mengernyit bingung.
"Aku juga mencintai kamu, Sayang." Bian membalas pelukan sang kekasih dengan erat. Meskipun hari ini Nayra terlihat berbeda, tapi Bian senang mendengar ungkapan cinta Nayra yang begitu dalam dan tulus.
Bian melerai pelukan mereka, ia membelai pipi Nayra dengan lembut kemudian mengecup kening wanitanya itu penuh cinta. "Dan aku juga kangen sama kamu meskipun baru kemarin kita bertemu," kata Bian kemudian.
"Kemarin?" tanya Nayra setengah menggumam, Naura tidak memberi tahunya bahwa kemarin Naura dan Bian bertemu. Padahal sebelumnya mereka sepakat untuk saling memberi kabar dan melaporkan apa saja yang mereka lakukan. "Emm ... iya," ucap Nayra kemudian. "Oh ya, apa aku ganggu pekerjaan kamu, Sayang? Boleh nggak kalau hari ini temani aku?" Kerutan di dahi Bian semakin dalam, ia memicingkan matanya pada Nayra hingga membuat gadis itu merasa salah tingkah.
"Boleh, apa sih yang nggak buat kamu," jawab Bian akhirnya yang membuat Nayra tersenyum sumringah. Bahkan ia kembali berhambur ke pelukan Bian sambil mengucapkan banyak terima kasih, membuat pria itu hanya bisa terkekeh.
Sementara itu, Naura pun juga sudah berada di rumah. Ia menunggu Raka pulang dengan sangat tidak sabar, dan saat suaminya itu pulang, Naura langsung menyambutnya dengan ciuman dan pelukan hangat.
"Kenapa? Kangen sama aku, hm?" goda Raka.
"Selalu," jawab Naura singkat, ia menggandeng tangan Raka dan membawanya ke kamar. "Kamu dari mana, Sayang?" tanya Naura.
"Mengurus sedikit masalah," jawab Raka dengan singkat.
Saat sampai di kamar, Raka langsung memeluk Naura dari belakang. Tentu saja wanita itu tak menolak, ia menikamati pelukan hangat sang suami.
"Sayang, aku nggak bisa lupa apa yang terjadi semalam," bisik Raka di telinga Naura dan seketika hati Naura bergemuruh. "Aku merindukanmu rasamu, Sayang, rasanya benar-benar manis dan indah. Aku ingin melakukannya lagi-lagi. Kamu benar-benar sempurna." Darah Naura terasa mendidih, hatinya sesak dan sakit, matanya sudah berkaca-kaca. Yang dibicarakan oleh Raka adalah Nayra, bukan dirinya.
Naura melepaskan tangan Raka yang melingkar di perutnya. "Nggak usah bahas yang tadi malam, Raka, aku malu," kata Naura untuk mengalihkan perhatian sang suami.
"Kenapa malu?" Raka menangkup pipi Naura, ia menatap mata istrinya itu dengan intens dan dalam. "Naura?" panggilnya kemudian dengan suara yang rendah.
"Ya malu aja, masa hal kayak gitu kamu ungkit." Naura mencoba menghindari tatapan tajam Raka.
"Okay, maaf," kata Raka sambil tersenyum tipis. "Tapi aku rasa nggak masalah 'kan kalau membicarakan tentang keromantisan kita sendiri?" Raka mengedipkan sebelah matanya pada Naura, menggoda istrinya itu yang justru tampak merengut.
"Sayang, aku mau ke rumah mama sebentar, ya." Raka langsung mengernyit mendengar permintaan tiba-tiba Naura itu.
"Lagi?" tanya Raka.
"Iya, sebentar aja kok," jawab Naura meyakinkan.
"Ya udah, terserah kamu aja," ujar Raka kemudian pasrah.
Tanpa membuang waktu, Naura langsung bergegas pergi dari rumahnya sendiri. Naura segera menghubungi Nayra dan meminta Nayra pulang ke rumah orang tua mereka karena Naura ingin berbicara sesuatu.
Nayra yang saat ini masih bersama Bian tentu saja merasa sangat kesal pada Naura, akan tetapi ia tetap tak mengindahkan permintaan Naura, Nayra masih ingin bersama Bian lebih lama lagi.
"Bi, kalau misalnya aku membuat satu kesalahan yang fatal dalam hubungan kita, kamu bakal ninggalin aku nggak?" tanya Nayra.
"Selama kesalahan itu bukan perselingkuhan, aku nggak akan pernah ninggalin kamu, Sayang," jawab Bian dengan tegas yang membuat hati Nayra mencelos.
"Itulah kesalahanku, Bi. Aku sudah selingkuh dengan Raka, maafin aku."
"Dan aku yakin kamu nggak akan melakukan hal itu, Nay," ujar Bian kemudian.
Nayra melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 3 sore, Nayra pun meminta Bian mengantarnya pulang. Sebelum berpisah, lagi-lagi Nayra memeluk Bian dengan erat serta mengungkapkan cintanya yang begitu dalam.
Setelah itu, Naura segera bergegas ke kamarnya di mana Naura sudah menunuggu sejak tadi.
"Kamu gila ya, Nay? Aku suruh kamu pulang tuh dari tadi!" seru Naura emosi.
"Aku masih kangen sama Bian, Ra, kenapa sih? Seharusnya hari ini kita kembali ke identitas masing-masing, kan? Kamu juga bisa seharian sama Raka," balas Nayra yang langsung membuat kakak kembarnya itu terdiam, tidak mungkin Naura memberi tahu adiknya apa yang membuat dia tidak ingin bersama Raka hari ini.
Nayra menukar tas serta ponselnya kembali dengan Naura, setelah itu ia pun hendak pergi tapi tiba-tiba Naura memanggilnya. "Apa lagi?" ketus Nayra.
"Jangan bawa perasaan dalam peranmu sebagai aku, Nay, karena Raka itu suamiku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Ika Riana
semua masalah berawal dari Naura sendiri, dari awal di ajk pulang awal gk mau sampai nayra ngatuk dan kecelakaan yg di salahin nayra😤
2022-11-26
0
Ambu Bagas😘😘😘
nenek lampir😬😬
2022-11-20
1
Sri Rahayu
oh Naura takut ya kl suami nya bakal lbh menyukai Neyra....rasain lo 🤪
2022-11-13
0