"Aku harap kamu nggak marah karena aku dan Bian juga udah tidur bareng."
Rahang Nayra mengetat saat mengingat apa yang dikatakan oleh Naura tadi malam saat di pesta, apa yang akan Bian fikirkan tentangnya nanti? Pastilah Bian berfikir Nayra sudah pernah berhubungan intim dengan mantan pacarnya dulu apalagi Naura sudah tidak perawan lagi.
Memikirkan semua itu membuat Nayra semakin marah pada Naura, api cemburu pun rasanya begitu membara dalam hati wanita itu. Namun, Nayra tak bisa melampiaskan kemarahan dan kecemburuannyan itu karena ia pun juga bercinta dengan suami Naura.
"Tapi Naura sendiri yang mau begini." Tiba-tiba Nayra menggeram sendiri. Karena terus memikirkan Naura dan Bian, Nayra yang saat ini sedang membuat teh tanpa sadar menyiram tangannya dengan air panas.
"Auh ,auh ...." Nayra merintih.
Raka yang baru saja masuk ke dapur langsung menghampiri Nayra dan menarik tangan Nayra ke wastefel. "Kamu ngapain sih, Sayang?" tegur Raka sembari menyiram tangan Nayra yang sudah memerah.
"Mau buat teh panas," cicit Nayra.
"Astaga, Sayang, itu ada Bi Jum, ada Bi Siti. Kalau kamu mau apa-apa, panggil aja mereka," seru Raka cemass sembari mengambil obat setelah itu ia membawa Nayra duduk di kursi.
"Mereka lagi sibuk tadi, Raka, Bi Jum bersihkan halaman, Bi siti lagi nyetrika," balas Nayra yang membuat Raka berdecak kesal.
"Jangan membantah, Sayang!" serunya kesal, hal itu justru membuat Nayra merasa gemas. Raja terlihat lucu saat marah-marah seperti ini.
"Aku bukan maksud membantah, Raka, aku cuma—"
"Shhttt! Diam!" Nayra pun langsung membungkam mulutnya sementara Raka kini mengobati punggung tangan Nayra sambil sesekali ia meniupnya.
Nayra menatap wajah Raka yang tampak serius, pria itu begitu penuh kasih sayang, perhatian dan selalu lembut. Bahkan, hari ini kehadiran Raka bisa membuat amarah dan kecemburuan Nayra pada Naura dan Bian menguap begitu saja.
"Pokoknya mulai sekarang kamu nggak boleh melakukan apapun, okay?" tegas Raka. "Aku nggak mau dibantah," tambahnya.
"Kalau cuma bikin teh kan aku bisa," sahut Nayra yang langsung membuat Raka mencubit pipinya dengan gemas, membuat Nayra langsung merengut.
"Sudah aku bilang jangan membantah tapi masih aja bantah," gerutu Raka. Setelah mengobati tangan Nayra, ia pun menyiapkan teh panas yang Nayra mau. "Ayo ke kamar," anaknya setelah teh siap.
"Biar aku yang bawa." Nayra hendak meminta gelas tehnya akan tetapi Raka langsung menjauhkannya dari Nayra.
"Nggak, nanti jatuh terus kena kaki kamu," tolak Raka, Nayra hanya bisa melongo dengan sikap super posesif Raka. Karena tak ingin berdebat, Nayra pun pasrah mengikuti Raka ke kamar.
Sesampainya di kamar, Nayra duduk di sofa yang ada di dekat jendela dan tiba-tiba Raka duduk berlutut di depannya yang membuat Nayra terkesiap. "Raka?" lirih Nayra.
Raka menggengam tangan Nayra, ia menatap mata wanita itu dengan intens kemudian berkata, "Aku pernah kehilangan satu kali dan aku nggak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya, jadi aku mohon jangan biarkan aku kehilangan lagi. Kamu harus jaga diri baik-baik, Okay?" Raka meminta dengan tulus dan penuh harap, membuat hati Nayra tersentuh.
Nayra mengerti Raka pasti trauma akan karena Naura pernah keguguran. "Aku janji akan menjaganya untukmu, Raka," balas Nayra yang membuat Raka langsung tersenyum, sekali lagi ia mengecup punggung tangan Nayra.
"Terima kasih, Sayang, aku mencintaimu." Hati Nayra berdesir setiap kali Raka mengungkapkan cinta seperti ini, bahkan terkadang itu membuat Nayra lupa bahwa dia sudah punya Bian dan Raka adalah suami Naura.
🦋
Sementara itu, Bian saat ini sedang menyaksikan Naura yang bersikap sedikit arogan pada seorang pelayan café hanya karena pelayan itu tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tasnya, Naura tampak sangat kesal bahkan dia marah-marah tanpa perduli ada banyak mata yang menyaksikannya.
"Sudahlah, Nay, dia sudah minta maaf," kata Bian.
"Maaf aja nggak cukup kali, Bi," gerutu Naura. "Makanya kalau kerja tuh yang benar, Mbak, langkahnya tuh harus diperhatikan!" seru Naura yang Bian berdecak kesal.
"Ya sudah, lebih baik kita pulang," ajak Bian kemudian apalagi ia juga merasa malu karena semua memperhatikan mereka.
"Loh, kita belum selesai makan, Bian," bantah Naura tapi Bian tak mengindahkannya, Bian segera meninggalkan tempat itu dengan raut wajah yang masam.
Semakin hari sikap Nayra semakin berubah, wanita itu mudah marah, gampang tersinggung bahkan terkesan perfeksionis dalam segala hal. Membuat Bian merasa jengah.
"Bian!" teriak Naura yang menyusul Bian.
"Kamu itu kenapa sih, huh?" desis Bian tepat di depan wajah Naura. "Kamu itu berubah, Nay, ada apa? Kamu lagi ada masalah?" tanya Bian dengan tajam yang membuat Naura hanya bisa diam. "Kalau kamu lagi ada masalah, bilang sama aku, jangan melampiaskan sama orang kayak gini. Malu tahu dilihatin orang!" seru Bian.
"Ma-maaf," cicit Naura akhirnya.
Bian hanya berdecak kesal kemudian ia segera masuk ke dalam mobilnya, Naura pun hanya bisa mengikuti pria itu dalam diam.
...🦋...
Untuk yang ke sekian kalinya, Raka kembali menyiapkan makan malam romantis bersama sang istri. Kejutan seperti ini sudah sering sekali diberikan oleh Raka, seolah ia sedang merayu Nayra untuk meyakinkan cintanya. Tentu saja Nayra tersentuh, meskipun hati kecilnya mengatakan sebenarnya kejutan-kejutan itu untuk Naura, bukan dirinya.
"Dalam rangka apa lagi ini, Raka?" kekeh Nayra saat Raka menarikan kursi untuknya, mempersilakan Nayra duduk layaknya ratu.
"Dalam rangka aku yang selalu jatuh cinta sama kamu." Jawaban Raka itu berhasil membuat Nayra tersipu, jika seperti ini terus selama 9 bulan, Nayra takut dia tidak bisa menjaga diri lagi. Ia takut ikut terbawa arus perasaan yang akhirnya akan menyakiti semua orang.
Raka berjalan ke belakang Nayra, ia memegang pundak Nayra kemudian mengecupnya dengan mesra. "Aku punya hadiah buat kamu, Sayang," kata Raka kemudian ia mengeluarkan sebuah liontin dari saku jasnya.
"Wow!" Nayra terlihat begitu takjub melihat liontin berbentuk bulan yang ditunjukan oleh Raka, tanpa permisi pria itu langsung memakaikan liontin itu di leher Nayra.
"Kamu seperti bulan untukku, Sayang, hanya ada satu dan akan menjadi satu-satunya." Hati Nayra terenyuh mendengar ungkapan perasaan Raka, sungguh besar cinta yang dimiliki pria itu untuk Naura.
Yeah, untuk Naura bukan Nayra. Menyadari hal itu, entah kenapa hati Nayra terasa perih dan sesak.
"Oh Tuhan, Raka memang milik Naura, aku hanya pengganti sementara, tolong jaga perasaan dan hatiku agar tak terbawa arus."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Juan Sastra
di sini pas selesai nanti yg jelas jd korban nayra,,di benci raka dan di buang bian. di hujat dua psg orang tua,, belum lagi masyarakat...😢😢
2023-01-01
0
Fauzana Rahma
akhirnya Naura akan menyesal dengan ide gilanya ini. Raka akan jatuh cinta pada Nayra karena kepribadian nya yang lembut. sedangkan Bian juga akan menjauh, karena tidak sanggup menghadapi kepribadian Naura yang arogan itu. malangnya nasibmu Naura. itu hanya menurut pendapat saya soal belum tau cerita sampai akhir.
2022-12-22
0
Nanda Lelo
bagaikan bulan yg sudah tak datang bulan y Raka 🤣🤣🤣🤣🤣
2022-11-12
0