"Jangan membawa perasaan dalam peran ini?" Nayra tersenyum miring saat mengingat apa yang dikatakan oleh suadara kembarnya itu.
"Tentu saja aku membawa perasan, perasaan yang teramat tertekan," gumamnya.
Sudah seminggu berlalu sejak ia menyerahkan mahkotanya pada kakak iparnya sendiri, dan sejak saat itu Nayra tak pernah bisa tidur dengan tenang. Ia bertanya-tanya, apakah Raka sungguh tidak menyadari bahwa dirinya masih perawan saat itu?
Tapi selama satu minggu ini juga sikap Raka begitu mesra padanya, bahkan terkadang membuat Nayra sampai tersentuh dan merasa tersanjung. Namun, kata-kata Naura kembali terngiang dalam benaknya, Nayra harus ingat bahwa perannya ini hanya pengganti dan hanya sementara. Raka milik Naura dan dirinya milik Bian.
Nayra menggelengkan kepalanya, mengusir pemikiran itu kemudian ia fokus menyiram bunga di halaman rumahnya, aktivitas baru yang ia tekuni setiap pagi dan sore. Saat Nayra sedang asyik menyiram bunga, ia dikejutkan dengan suara klakson mobil Raka.
"Dia sudah pulang lagi?" gumam Nayra, ia merasa sedikit bingung karena selama seminggu ini Raka selalu pulang sebelum jam 6 sore, padahal kata Naura biasanya Raka paling cepat pulang jam 7 atau bahkan jam 8.
Sementara itu, Raka tampak semangat keluar dari mobilnya dengan membawa sebuah paper bag, ia langsung menuju taman mini yang ada di halaman samping rumahnya karena Raka sudah tahu setiap pagi dan sore Nayra selalu menyiram bunga di sana.
"Hai, Sayang," panggil Raka sambil melempar senyum lebarnya.
"Sudah pulang?" Raka terkekeh mendengar apa yang dipertanyakan oleh sang istri.
"Belum, masih kerja," gurau Raka yang membuat Nayra tersenyum malu. "Oh ya, aku belikan salad buah neh buat kamu, makan yuk, mumpung masih segar," ujar Raka.
Nayra mengangguk patuh, ia mengekori Raka yang hendak masuk ke dalam rumah, tapi tiba-tiba Raka menarik wanita itu, merangkul pinggangnya dengan posesif seperti biasa.
"Bi Jum, tolong ambilkan sendok, ya," seru Raka pada pelayanannya, tak lama kemudian Bibi datang dengan membawa dua sendok bersih.
"Terima kasih," ucap Nayra sambil tersenyum lembut.
"Sama-sama, Nyonya, ada lagi?" tanya Bibi dengan sopan.
"Nggak, Bi. Bibi boleh kembali ke belakang," kata Nayra.
Bibi pun segera kembali ke dapur dengan kening yang berkerut dalam, ia merasa bingung dengan sikap Raka yang sangat berbeda akhir-akhir ini. Dia selalu pulang sore dan selalu membawa oleh-oleh setiap hari.
"Eh, Ti, Tuan Raka sekarang beda ya sikapnya sama Nyonya," kata Bi Jum pada Bi Siti yang saat ini sedang menyiapkan bahan-bahan untuk memasak menu makan malam.
"Beda kenapa?" tanya Bi Siti.
"Ya beda, akhir-akhir ini tuan Raka pulang sore, sebalum jam 6 udah ada di rumah, terus setiap pulang dari kantor juga selalu bawa oleh-oleh untuk Nyonya, yang roti lah, donat, sekarang bawa salad. Padahal kalau dulu kan nggak pernah," papar Bi Jum mengungkapkan keganjalan di hatinya akan perubahan sikap Raka.
"Aku juga bingung sih, Tuan Raka kaya orang baru jatuh cinta gitu, nempel terus sama Nyonya Naura," ucap Bi Siti.
"Benar, tapi itu bagus, ya. Siapa tahu dengan begini mereka jadi lebih cepat punya anak lagi, aku kasihan sama Nyonya Naura kalau Nyonya besar sudah datang terus nanyain kehamilan. Padahal kan hamil itu urusan yang maha kuasa, manusia mah cuma bisa berusaha."
Sementara di luar, Raka dan Nayra menikmati salad buah yang dibeli Raka, rasanya memang segar dan enak. "Kamu suka?" tanya Raka sembari mengelap bibir Nayra yang belepotan karena saos saladnya.
Hati Nayra terkesiap, bahkan jantungnya berdebar kencang saat jari Raka menyentuh bibirnya dengan lembut sementara tatapan mata Raka lurus menatap matanya.
"I-iya, aku suka," jawab Nayra gugup.
"Kalau kamu pengen sesuatu, kamu bilang aja sama aku, nanti aku akan belikan setiap pulang dari kantor," kata Raka sambil tersenyum, Nayra hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.
"Aa ... Sayang." Raka menyodorkan satu sendok salad ke mulut Nayra, wanita itu hendak menolak tapi tak enak karena Raka pasti sudah terbiasa menyuapi Naura. Alhasil, Nayra pun menerima suapan Raka.
"Terima kasih," ucap Nayra lirih dengan wajah yang bersemu.
"Aku suami kamu, Sayang, tidak perlu mengucapkan terima kasih untuk hal seperti ini," kekeh Raka yang hanya ditanggapi dengan senyuman lembut oleh Nayra.
...🦋...
Setelah makan malam, Raka pergi ke ruang kerjanya sementara Nayra segera bergegas ke kamarnya. Nayra duduk bersandar ke kepala ranjang sembari membaca sebuah buku milik Nayra. Akan tetapi tetapi tak ada yang menarik dari buku yang Naura koleksi. Nayra lebih suka membaca buku-buku kedokteran atau makalah yang memberinya pengetahuan, bukan cerita romansa seperti buku Naura.
Nayra melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 10, Nayra pun bergegas ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan setelah itu dia ingin segera tidur sebelum Raka kembali ke kamar.
Saat Nayra menggosok gigi di kamar mandi, tiba-tiba Raka datang dan memeluknya dari belakang. Wanita itu terperanjat, bahkan ia merasa mungkin jantungnya akan melompat dari tempatnya jika Raka selalu saja mengejutkannya seperti ini. "Raka, aku lagi gosok gigi," ucap Nayra karena kini Raka mulai mencumbu lehernya dengan mesra.
"Selesaikan, Sayang, aku menunggu," bisik Raka di telinga Nayra yang membuat tubuh wanita itu meremang. Tangan Raka tak tinggal diam, ia menyentuh tubuh Nayra dengan mesra membuat seluruh tubuhnya gemetar dan panas dingin.
"Raka," tegur Nayra. Ia segera berkumur, setelah itu ia berbalik dan menatap Raka dengan kesal. "Apa sih?" ketusnya. Namun, Alih-alih menjawab pertanyaan Nayra, Raka justru menggendong wanita itu membuat Nayra memekik.
Alarm dalam otak Nayra sudah berbunyi, sepertinya malam ini akan kembali terjadi sesuatu. "Raka?" lirih Nayra.
Raka menidurkan Nayra di ranjangnya, kemudian ia kembali mencumbu Nayra dengan begitu mesra nan lembut. Setelah itu ia berbisik di telinga Nayra. "Bayi tidak akan hadir jika hanya satu kali hubungan, Sayang." Seketika tubuh Nayra meremang, detak jantungnya semakin cepat dan tubuhnya semakin terasa panas.
"Tapi—"
"Shhttt ...." Raka meletakkan jarinya di bibir Nayra setelah itu ia memberikan kecupan kembut di bibir Nayra, menggoda dan membuainya. "Serahkan padaku, hm?"
Nayra pasrah, ia melakukan apa yang Raka minta, menyerahkan dirinya pada pria itu. Malam ini Nayra tak lagi menangis meski ia masih merasa tak terbiasa dengan penyatuan keduanya. Nayra masih tegang, dan sesekali ia merintih sakit akan tetapi itu justru menjadi melodi penyemangat bagi Raka.
Setelah menghabiskan dua jam lebih permainan di atas ranjang yang terasa begitu panas dan memabukan, Nayra justru tertidur karena ia merasa begitu lelah melayani Raka yang seolah tak ada lelahnya.
Raka menatap wajah tenang Nayra, ia menyingkirkan rambut yang berantakan di sekitar wajah wanita itu kemudian Raka mengecup keningnya dengan mesra. "Maaf aku membuatmu kelelahan, Sayang, lain kali aku akan lebih pelan-pelan." Raka menarik Nayra ke dalam dekapannya, setelah itu ia pun menyusul wanita itu menyelami dunia mimpi.
...🦋...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Nurmala
keren
2023-04-16
0
Elsa Yunita
kayak nya Raka tau dahhh😩
2022-12-03
1
Elsa Yunita
kayak nya Raka tau dahhh😩
2022-12-03
0