Nayra menatap pantulan dirinya di cermin sembari memegang liontin yang diberikan Raka tadi malam, Nayra harus menyingkirkan kebahagiaan akan pemberian hadiah itu karena hadiah tersebut untuk Naura, bukan dirinya.
"Tapi sekarang yang ada di sisi Raka 'kan masih aku," gumam Nayra miris. "Ya Tuhan, 9 bulan rasanya lama banget," keluhnya. Seandainya bisa Nayra mempercepat waktu, dia sudah pasti akan melakukan itu agar tanggung jawabnya segera selesai dan dia bisa hidup sebagai Nayra, bukan Naura. Apalagi sekarang Raka tak mengizinkannya ke butik dengan alasan ia takut istrinya itu kelelahan, selain itu di butik sudah ada Naura.
Nayra pergi ke dapur dan ia mengobati-abrik kulkas yang sebenarnya penuh dengan berbagai macam makanan. "Cari apa, Nyonya?" tanya Bi Jum.
"Bi, aku pengen makan es krim. Apa di rumah nggak ada es krim?" tanya Nayra. Bi Jum sedikit terkejut mendengar pertanyaan Nayra karena mereka memang sangat jarang menyimpan es krim karena baik maupun Naura tak menyukai makanan itu.
"Tidak ada, Nyonya, 'kan Nyonya sama Tuan hampir tidak pernah makan es krim," tukas Bi Jum. "Apa Nyonya Naura mengidam es krim?"
"Iya," jawab Nayra "Ya sudah deh, biar aku belum sendiri, sama sekalian mau beli cemilan sama buah anggur," imbuhnya sambil tersenyum.
"Biar saya temani, Nyonya." Bi Jum menawarkan diri.
"Nggak usah, panggilkan sopir aja ya, Bi. Suruh siap-siap, aku mau ganti baju dulu."
"Baik, Nyonya."
...🦋...
Bian memilih beberapa barang yang ia butuhkan di rumah, dari tepung, minyak dan sebagainya karena Bian memang tinggal sendiri dan ia juga memasak jika ada waktu. Bian juga membeli beberapa bungkus makanan instan dan itu mengingatkannya pada Nayra, tunagangannya itu selalu mengingatkan agar Bian mengurangi mengkonsumsi makanan siap saji.
Saat Bian hendak membeli buah dia melihat Nayra yang dia fikir adalah Naura, Bian pun menyapanya. "Hai, Ra."
Nayra yang sedang memilih buah sedikit terperanjat saat tiba-tiba Bian menyapanya, reasksinya itu membuat Bian tertawa. "Maaf aku ngagetin kamu," kekehnya.
"Nggak apa-apa," jawab Nayra sambil tersenyum kaku.
"Kamu belanja sama siapa?" tanya Bian sembari memilih beberapa buah juga.
"Sendiri." Nayra menjawab dengan singkat.
"Hem, gitu." Bian menggumam, ia melirik Nayra yang masih fokus memilih buah. "Sejak hamil kamu berubah ya, Ra," ujar Bian kemudian.
"Heh?" Tentu saja Nayra merespon dengan sedikit bingung, ujung alisnya naik dan pupil matanya melebar.
"Dulu pakaian kamu itu selalu heboh meskipun cuma mau pergi belanja, dandan kamu juga dulu lumayan tebal meski di hari-hari biasa, tapi sejak hamil kayaknya kamu berpenampilan lebih simple," papar Bian yang hanya bisa ditanggapi dengan senyum samar oleh Nayra. "Oh ya, kamu juga keliatan makin cantik, aura keibuannya memancar sempurna," tambah Bian yang membuat hati Nayra terenyuh.
Andai Bian tahu yang ia puji cantik di masa kehamilannya ini adalah tunangannya sendiri, Nayra tak sanggup membayangkan seperti apa reaksi Bian.
"Terima kasih," ucap Nayra kemudian.
"Sama-sama, kamu pantas mendapatkan pujian seperti itu," sahut Bian.
Setelah mereka selesai mimilih buah, mereka pun lanjut membeli beberapa cemilan dan saat itulah Bian mengungkapkan perubahan pada diri tunangannya. "Aku nggak tahu apa yang salah sama Nayra, Ra, tapi akhir-akhir ini dia banyak berubah, bukan seperti Nayra-ku yang dulu," ungkap Bian dengan sorot mata yang terlihat sedih.
Nayra hanya bisa menatap Bian dengan nanar, dari sini dia juga sadar kalau Naura tidak bisa berperan seperti dirinya dan hal itu membuat Nayra kesal. Naura selalu mendesak Nayra agar menjadi istri Raka yang sempurna, tapi dia sendiri tidak bisa menjaga Bian.
"Mungkin ... Mungkin dia lagi ada masalah, Bi," kata Nayra dengan suara rendah.
"Mungkin aja, Kadang-kadang aku pusing dengan sikap dia itu, Ra. Semakin hari perubahannya semakin jauh," keluh Bian.
Nayra sudah membuka mulut hendak menjawab Bian akan tetapi tiba-tiba Raka datang yang membuat Nayra terkejut, pria itu bahkan masih dengan pakaian kerjanya. "Hey, Sayang." Raka langsung merangkul pinggang Nayra bahkan dia mengecup pelipis wanita itu begitu saja.
"Kok kamu tahu aku ada di sini?" tanya Nayra.
"Tadi aku pulang ke rumah, aku cariin kamu dan kamu nggak ada. Kata Bi Jum kamu mau belanja jadi aku susul," jawab Raka sambil melirik Bian sekilas. "Kenapa kamu belanja nggak bilang sama aku? Atau nggak minta temani sama Bibi, aku khawatir lho," ungkap Raka.
"Aku 'kan cuma sebentar," sahut Nayra.
"Sudah semua? Ada lagi? Kita pulang kalau sudah semua," kata Raka sembari membawa Nayra menjauh dari Bian.
"Beli es krim habis itu sudah." ujar Nayra. Raka pun langsung mengambilkan beberapa box es krim untuk wanita itu.
Sementara Bian hanya bisa memandangi mereka, Bian merasa ada yang aneh antara Nayra dan Naura. "Naura berubah kalem, mungkin karena dia hamil kali ya?" gumam Bian.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Bian segera menjawab panggilan dari tunangannnya itu. "Ada apa, Nay?" tanya Bian tanpa basa-basi.
"Bi, bisa jemput aku sekarang di butik? Ban mobil aku kempes," ujar Naura dari seberang telfon.
"Aku lagi belanja, Sayang, masih lama kalau harus ke sana. Kamu panggil taksi aja," saran Bian dengan lembut akan tetapi Naura justru marah-marah seperti biasa.
"Kamu itu sebenarnya perduli nggak sih sama aku, Bi? Masih cinta 'kan sama tunangan kamu ini? Ke sini paling juga cuma 15 menit, aku malas naik taksi." Bian hanya bisa melongo, jelas Nayra yang dulu ia kenal tidak akan melontarkan kata-kata seperti itu apalagi sampai mempertanyakan cinta Bian.
Bian kini memandangi Raka dan Nayra yang sedang berada di kasir, Bian memperhatikan gerak-gerik Nayra dengan seksama. "Ini nggak mungkin, Nayra bersikap seperti Naura dan Naura sekarang bersikap seperti Nayra."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Princess Alin
Hayooooo
2022-12-07
0
Ambu Bagas😘😘😘
Curiga khan??🥶🥶
2022-11-20
0
Nanda Lelo
bagaimana pun menyimpan bangkai rapat-rapat,,
pasti kecium juga
2022-11-12
0