"Aku masih nggak bisa ke kantor hari ini, istriku lagi sakit jadi tolong Batalkan semua jadwalku hari ini dan jangan mengatur jadwal apapun lagi sampai istriku sehat. Satu hal lagi, jangan menggangguku karena aku sedang sibuk mengurus istriku!"
Nayra meringis mendengar perintah Raka pada sekretarisnya, pria itu tampak kesal pada sekretarisnya hanya bertanya apakah Raka akan ke kantor hari ini atau tidak. Sudah dua hari Raka tidak ke kantor karena Nayra memang sedang sakit tidak enak badan, wanita itu merasa lemas dan selalu merasa pusing akhir-akhir ini.
"Di rumah ada Bi Jum sama Bi Siti, Raka, kalau kamu mau ke kantor juga nggak apa-apa kok," tukas Nayra yang saat ini masih rebahan di ranjang. "Aku juga nggak sakit parah, cuma nggak enak badan aja," tambahnya.
"Tapi aku nggak tenang kalau ninggalin kamu dalam keadaan begini, Sayang, aku juga nggak akan bisa fokus sama pekerjaan aku," ungkap Raka sembari meletakkan punggung tangannya di kening Nayra, tadi malam Nayra memang panas karena itulah Raka tidak mau pergi bekerja hari ini.
"Aku udah merasa baikan, Raka." Nayra menarik tangan Raka kemudian menggenggamnya dengan lembut. Nayra begitu tersentuh dengan segala perhatian dan cinta yang ditunjukan oleh Raka selama ini.
Bahkan, tanpa terasa sudah satu bulan Nayra menjalani perannya sebagai istri Raka. Nayra sudah terbiasa dengan semua kebiasaan Raka yang sering sekali tiba-tiba memeluk atau menciumnya saat dia sedang memasang, sedang membersihkan ranjang atau bahkan saat ia sedang menggosok gigi.
Perlahan, sosok Bian dalam hatinya seolah terkikik dan tergantikan dengan sosok Raka yang tampil sebagai pasangan yang begitu sempurna. Namun, Nayra harus selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa Raka adalah suami dari kakaknya sendiri, peran yang sedang ia jalankan hanyalah peran pengganti dan sementara. Serta cinta dan perhatian yang diberikan padanya sebenarnya untuk Naura, bukan Naura.
"Kamu masih pucat, Sayang, kita ke Dokter, ya?" bujuk Raka dengan lembut akan tetapi Nayra menggeleng. "Ya udah, aku panggil Dokter ke sini. Aku nggak bisa tenang kalau kamu sakit begini," tukas Raka sembari mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.
Nayra menatap Raka yang kini sedang menghubungi Dokter keluarga, raut wajah pria itu tampak begitu cemas. betapa beruntungnya Naura yang dicintai dengan begitu sempurna oleh Raka, fikir Nayra.
"Sebentar lagi Dokter Erdi datang," kata Raka setelah berbicara dengan Dokter keluarganya yang bernama Dokter Erdi.
"Raka?" panggil Nayra dengan lembut. "Jangan terlalu cemas, aku cuma nggak enak badan, ini hal biasa kok," tambahnya.
"Aku tahu," sahut Raka dengan lirih, ia mengecup punggung tangan Nayra dengan mesra. "Tapi nggak tahu kenapa aku tetap cemas dan takut, Sayang." Tatapan Raka begitu dalam saat mengungkapkan ketakutannya itu, membuat hati Nayra terenyuh.
Tak butuh waktu lama, dr, Erdi pun datang dan ia langsung memeriksa keadaan Nayra semakin menanyakan beberapa hal perihal kesehatan wanita itu. "Aku nggak tahu kenapa akhir-akhir ini aku selalu lemas, pusing, selera makanku juga hilang dan aku begitu sensitif dengan aroma, Dok. Aku seperti mau pingsan kalau mencium aroma yang menyengat," ungkap Nayra dengan lemas.
"Hem begitu, apa kamu juga mual, Ra?" tanya dr, Erdi.
"Iya, aku juga mual dan sudah muntah beberapa kali." Raka semakin menggenggam tangan Nayra sementara tangan yang lain mengusap kepala Nayra dengan lembut.
"Hem, okay," kata Dokter Erdi sambil mengulum senyum. "Kalau begitu selamat ya, Ra, sepertinya ada malaikat kecil yang sedang tumbuh di rahim kamu," tukas dr, Erdi yang seketika membuat Nayra dan Raka terbelalak. Kedua orang itu menatap dr, Erdi dengan bola mata yang melotot sempurna dan raut wajah yang tampak tegang, membuat sang Dokter terkekeh.
"Untuk memastikan keadaan malaikat kecil kalian, sebaiknya kalian pergi ke dokter kandungan," tambah Dokter Erdi.
"Ma-maksudnya?" tanya Raka gelagapan, sementara Nayra masih tak mampu berkata-kata.
"Astaga, Raka, apa penjelasanku kurang jelas?" kekeh dr, Erdi. "Naura sedang hamil," imbuhnya yang seketika membuat Raka langsung menatap Nayra.
"Sayang?" lirih Raka sebelum akhirnya ia menghujani wajah Nayra dengan kecupan-kecupan mesra. "Terima kasih, Sayang, terima kasih banyak. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu," ujar Raka penuh haru.
Nayra masih mematung, rasanya sulit dipercaya kini dia benar-benar hamil seperti yang diinginkan Naura. "Aku akan memberi tahu mama dan papa kita, Sayang, mereka pasti sangat senang." Dengan semangat Raka segera menghubungi orang tuanya untuk mengabarkan kabar yang selama ini mereka tunggu. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah di Raka membuat Nayra juga merasa bahagia, bahkan tanpa sadar Nayra menyunggingkan senyum sumringahnya.
"Selamat atas kehamilanmu, Naura," ucap dr, Erdi yang seketika membuat senyum Nayra musnah. Yang hamil memang dirinya, tapi di mata semua orang yang hamil adalah Naura, yang akan mendapatkan ucapan selamat hanya Naura. Entah kenapa hati Nayra terasa sesak menyadari hal ini.
🦋
Sementara di sisi lain, orang tua Nayra langsung mengucapkan puji syukur setelah Raka mengabarkan bahwa istrinya sedang hamil.
Naura yang mendengar kabar itu hanya bisa tercengang, ia tidak tahu apakah dia harus bahagia karena misinya berhasil atau haruskah dia sedih karena yang hamil bukan dirinya.
Tanpa membuang waktu mereka langsung bergegas ke rumah Raka, selama dalam perjalanan Naura merasa begitu gugup. Apalagi setiap kali ia mendengar sang ibu yang terus berceloteh membicarakan Naura dengan semangat tanpa ia menyadari bahwa Naura sedang ada bersamanya.
Sesampainya di rumah Raka, mereka langsung di sambut dengan hangat apalagi ternyata kedua orang tua Raka sudah ada di sana. Naura menatap mertuanya dengan nanar, ia merindukan mereka tapi sayangnya Naura harus menjaga sikap karena di mata mereka, dirinya adalah Nayra.
"Di mana Naura, Mbak? Oh ya, apa kata Dokter?" tanya Bu Irna dengan semangat.
"Dokter cuma mengingatkan agar Naura banyak istirahat, nggak boleh lelah, apalagi dia pernah keguguran dulu," jawab Bu Susmita yang juga tak kalah semangatnya. Mereka semua segera bergegas menuju kamar Raka, sementara Naura hanya bisa mengekori mereka seperti orang bodoh.
"Naura sayang," panggil Bu Susmita dengan penuh kasih sayang. "Mama papa sama adik kamu datang," ujarnya.
Saat ini Naura duduk di tengah ranjang dengan Raka di sisinya dengan terus menggenggam tangan Nayra, sejak tadi pria itu enggan melepaskan tangan Nayra seolah ia takut Nayra pergi.
Nayra hanya bisa menatap Naura dengan nanar tanpa tahu harus berkata apa. "Sayang, selamat ya. Akhirnya kamu hamil juga," kata Bu Irna sembari memberikan ciuman hangat di pipi Nayra.
"Jaga kandunganmu baik-baik, Nak," kata Pak Desta yang juga memberikan kecupan penuh kasih untuk putrinya itu.
"Kami akan menjaganya bersama, Pa, kali ini aku nggak akan biarin apapun terjadi pada calon anakku," tukas Raka.
Naura masih terdiam, ia menyaksikan semua orang mengucapkan selamat dan berbahagia untuk kehamilan Nayra. Naura tahu seharusnya dia bahagia karena memang ini yang dia mau, meskipun Nayra yang hamil, tapi namanya yang selalu disebut. Akan tetapi, rupanya itu tak cukup untuk membuat Naura bahagia, hatinya semakin terasa panas terbakar api cemburu.
Nayra begitu sempurna sementara dirinya tidak. Nayra akan jadi ibu sementara dirinya tidak akan pernah jadi ibu. Tidak tahan menyaksikan kesempurnaan hidup sang adik, Naura pun memilih pergi. Dan saat dia pergi, tak ada yang mencegahnya atau sekedar the bertanya ke mana dia akan pergi.
Sekarang, nama Naura memang kembali sempurna di mata dua keluarga besar itu. Akan tetapi fakta tetap berbicara bahwa Naura tidaklah sempurna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Juan Sastra
jika ketahuan mereka tukar peran kasihan nayranya pasti di tuduh lagi yg ggak ggak..secara kan naura pintar fitnah
2023-01-01
1
Fitry Naura
masak org tuanya gak paham perbedaan anak anaknya
2022-11-29
1
Fadilah Herbalis Nasa
apa nggak bisa membedakan ya orang tua Naura sm nayra klau anak nya bertukar peran
2022-11-15
0